Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
300. Panti asuhan


__ADS_3

"Mana Arjuna? Kok belum datang juga, sih?" tanya Abi dengan kesal sembari menatap istrinya yang tengah sibuk bermain ponsel.


Sebenarnya, pihak rumah sakit sudah memperbolehkannya pulang sekarang juga. Tetapi Abi memilih untuk bertahan sebelum Juna datang menjenguk. Dia ingin sekali merebut hati bocah itu kembali, supaya bisa dekat lagi dengannya dan mau tinggal bersama.


"Sabar dong, Mas. Mungkin sebentar lagi Juna akan datang," jawab Aulia dengan santai tanpa menatap wajah suaminya.


"Tapi kamu beneran menghubungi Nissa, kan? Dapat nomor dari mana kamu?"


"Aku pergi ke restorannya kemarin, terus minta sama pelayan di sana. Ternyata restoran mantan istrimu besar juga ya, Mas. Aku mau deh, punya restoran kayak begitu." Aulia menatap ke arah Abi dan meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kerjalah sana. Terus kumpulin duit buat modal!" omel Abi yang tiba-tiba marah. "Jangan kumpulin baju, tas dan sepatu mulu. Itu buang-buang duit!"


"Ya harusnya Mas kasih aku modal dong diawal. Masa iya, aku musti kerja? Lagian aku juga hanya lulusan SD. Siapa yang mau menerimaku?"


"Jadi kupu-kupu malam saja sana. Itu tanpa ijazah!"


"Dih Mas gila, ya?!" Aulia mendengkus. Sorotan matanya begitu tajam ke arah Abi. "Masa Mas membiarkan istrinya jual diri?! Memangnya Mas nggak kasihan sama aku? Ya minimal cemburu gitu, kalau aku main sama pria lain."


"Halah, ngapain aku cemburu segala. Kalau kamu mau sama orang lain juga silahkan. Lagian, siapa juga yang mau bersama wanita mandul? Aku saja nggak sudi!" gerutu Abi dengan penuh emosi. Tangannya itu menunjuk-nunjuk wajah Aulia.


Ceklek~


Tiba-tiba pintu kamar inapnya itu dibuka dari luar. Abi langsung membulatkan matanya sebab melihat wajah Angga.


Cepat-cepat Abi berusaha menghilangkan amarah di dalam dada. Apalagi setelah tahu jika kedatangan Angga bersama Juna yang ada dalam gendongannya.


Tadi bocah itu sempat merengek minta pulang, dan tak mau masuk. Tetapi Angga memaksa. Dia juga merasa penasaran dengan kondisi mantan menantunya yang kurang ajar itu.


"Arjuna anak Papi. Akhirnya kamu jenguk Papi, Sayang," ucap Abi dengan lembut. Tubuhnya yang berbaring di atas ranjang itu dibuat seolah-olah lemah. Padahal untuk berlari dan melompat dia sudah bisa.


"Iyalah Juna jenguk Papi. Memang Papi, nggak pernah jenguk Juna kalau sakit!" sindir Juna sambil cemberut.


Angga mendekat, lalu menarik kursi kecil di samping ranjang. Kemudian duduk bersama Juna yang dia dudukkan di atas pangkuan.


"Masih hidup ternyata kamu, aku kira kemarin pas dengar kamu kritis, kamu sudah menjadi almarhum," celetuk Angga sambil tersenyum miring.


Abi perlahan menarik tubuhnya untuk duduk. Aulia juga mencoba membantu meskipun apa yang mereka lakukan hanya akting semata.

__ADS_1


"Kok Papa malah bilang seperti itu? Kan nggak baik," ujar Abi.


"Papa Papa. Aku bukan Papamu!" balas Angga marah.


"Aku permisi dulu ya, Pak Angga. Bapak sama Juna pasti haus. Aku akan membelikan minuman," ucap Aulia sambil tersenyum. Kemudian melangkah keluar dari sana.


"Jun, lusa 'kan hari ulang tahunmu. Bagaimana besok kita pergi untuk membeli perlengkapan, nanti Papi jemput kamu, ya?" pinta Abi.


"Mau ngapain beli perlengkapan? Juna nggak mau buat pesta di rumah Papi." Juna menggeleng cepat. "Papi Tian mau buat pesta, mau mengundang semua teman-teman Juna untuk makan bareng. Terus besoknya lagi Juna dan Papi Tian mau menghabiskan waktu berdua, kita mau jadi manusia silver."


"Kamu 'kan hampir setiap hari bareng sama Papi barumu. Ya sekali-sekali bareng Papi dong, Jun. Papi 'kan juga kangen sama kamu," pinta Abi dengan wajah yang dibuat memelas.


"Juna nggak mau. Papi Tian jauh lebih asik orangnya daripada Papi. Dia juga bisa membagi waktu. Mana waktu kerja, mana waktu main sama Juna. Nggak seperti Papi yang sok sibuk," celetuknya dengan bibir yang mengeriting. Lalu menatap ke arah Angga. "Ayok pergi dari sini, Opa. Juna mau bantuin Om Dono cari Dedek bayi yang manis."


"Ya sudah ya, Bi. Aku dan Juna mau pulang." Angga berdiri sambil menggendong Juna. "Mending kamu dan istrimu lebih semangat lagi bikin anak. Biar nggak sok peduli sama Juna. Toh, dari kemarin-kemarin kamu juga nggak peduli sama dia, kan?"


"Tapi, Pa, aku ...." Ucapan Abi terhenti saat Angga dan Juna menghilang dari balik pintu. Seketika dadanya itu terasa bergemuruh dan kembali dia merasa emosi. 'Bikin anak emang gampang, tapi masalah jadi atau nggaknya itu yang nggak tahu kapan. Apalagi kalau bikin anak sama istri yang nggak subur. Sia-sia saja kayaknya aku goyang,' batinnya kesal.


*


*


"Sebelum ke panti asuhan, boleh nggak saya sekalian jemput istri saya, Pak? Nggak tega kayaknya kalau dia pergi duluan ke panti naik ojeg," ucap Dono.


"Boleh dong, Don. Memang 'kan kita perginya bareng," jawab Angga.


"Rumah Om Dono memangnya di mana? Jauh nggak?" tanya Juna.


"Deket kok, Jun, masih sama-sama Jakarta."


*


*


Setelah menempuh waktu 30 menit dan menjemput Della, istri Dono, mereka berempat akhirnya sampai juga pada tujuan.


Rumah panti itu cukup besar dan bersih, hanya saja terlihat begitu sepi sekali.

__ADS_1


Akan tetapi pintu rumah itu terbuka lebar.


Juna lah yang lebih dulu turun dari mobil, kemudian disusul Angga, Della dan Dono. Mereka pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana, kecuali Dono yang terakhir sebab dia ingin mengambil satu karung buah apel merah di dalam bagasi mobil, yang sengaja Angga belikan untuk seluruh anak panti.


"Assalamualaikum," ucap Angga di ambang pintu.


"Walaikum salam. Masuk, Pak!" seorang wanita yang memakai baju gamis merah langsung menyahut. Dia bernama Wiwik, pengurus panti. Dia duduk pada sofa ruang tamu dan melihat kedatangan Angga.


Akan tetapi Angga merasa heran, sebab di dalam sana Wikwik bersama Nurul.


"Eh, Pak Angga, Juna. Selamat pagi, Pak," sapa Nurul yang baru saja berdiri bersama Wiwik. Dia mengulas senyum.


"Kamu ngapain ada di sini? Mau mengadopsi anak?" tanya Angga. Kakinya melangkah bersama Juna dan Della, kemudian mereka duduk di sofa panjang yang kosong.


"Aku mau melamar kerja di sini, Pak. Kebetulan panti di sini lagi butuh orang untuk membantu bersih-bersih," jawab Nurul sambil tersenyum canggung.


Apa yang dia katakan memang jujur.


Sebelum Angga datang dia lebih dulu datang, karena sempat diberitahu tetangga kontrakannya perihal lowongan kerja. Dia mengatakan kalau panti asuhan itu membutuhkan orang untuk membantu bersih-bersih.


"Oohh ...."


"Pak Angga ada perlu apa datang ke sini? Apa mau mengundang anak panti?" tanya Wiwik penasaran. Dia duduk kembali di sofa, begitu pun dengan Nurul.


"Aku ingin mengantar Dono dan Della." Angga menoleh ke arah mereka berdua yang duduk berdampingan di sofa.


"Kami ingin mengadopsi bayi, Bu," ucap Dono menatap Wiwik.


"Alhamdulillah. Tapi bayi di sini hanya ada satu dan itu juga perempuan. Apa nggak apa-apa?" tanya Wiwik.


"Nggak masalah, Bu." Yang menjawab Della. "Boleh, saya dan suami saya melihatnya dulu sebelum mengadopsinya?"


"Boleh." Wiwik mengangguk cepat. Lalu berdiri. "Mari Ibu dan Bapak ikut saya, kebetulan dia baru saja tidur habis minum susu," ajaknya sambil menunjuk sebuah kamar.


Dono dan Della langsung berdiri dan mengangguk. Kemudian melangkah mengikutinya. Juna juga langsung turun dari sofa dan berlari ikut, dia bukan hanya sekedar ingin melihat, tetapi ingin mencicipi pipinya juga.


'Pasti Dedek bayi perempuan jauh lebih manis, kan? Aku harus mencobanya,' batin Juna.

__ADS_1


__ADS_2