
"Buru-buru amat?"
"Nggak buru-buru. Kan ada istilah, lebih cepat lebih baik. Ada baiknya disegerakan. Toh, Nissa dan Rama juga sama-sama single, kan?"
"Iya sih. Tapi nanti aku coba tanya dulu ke Nissanya, mau apa nggak. Soalnya terakhir kali dia bilang, dia nggak mau menikah lagi, Ya," jawab Angga.
Mbah Yahya mengangguk. "Iya, coba tanyakan."
*
*
Seusai makan siang bersama, mereka pun pulang berpencar. Angga langsung pulang ke rumahnya. Sedangkan Mbah Yahya memilih pergi ke sebuah apartemen, yang sudah dia cari tahu itu adalah tempat tinggal dari Gisel, gurunya Juna.
Mbah Yahya bisa saja langsung memberinya pelajaran dengan cara halus. Atau dalam istilah membunuh tanpa menyentuh.
Namun, Mbah Yahya masih punya adab. Dia akan memberikannya teguran secara lisan terlebih dahulu. Kalau dari lisan perempuan itu masih ngeyel, barulah kesaktiannya akan dia gunakan.
Kaki Mbah Yahya sudah berhenti di depan kamar nomor 100. Lantai nomor 2. Sesuai dengan alamat yang dia lihat pada ponselnya. Segera dia pun memencet bel yang menempel di pintu.
Ting ... tong.
Ceklek~
Tak menunggu waktu yang lama pintu itu dibuka oleh seorang gadis. Tapi gadis itu bukan Gisel, melainkan Sisil.
"Opa siapa?" tanya Sisil heran. Dia menatap asing Mbah Yahya dari ujung kaki hingga kepala. Pria tua itu memakai celana jeans berwarna putih dan kemeja hitam, wajahnya tampak sangar sekali.
"Opa Opa, aku bukan Opamu! Namaku Yahya! Aku Daddynya Rama." Mbah Yahya memperhatikan wajah gadis di depannya. 'Masih muda, cantik, dan imut-imut. Tapi bibirnya lemes ngalahin ibu-ibu kompleks,' batinnya kesal.
"Rama?" Kening Sisil mengerenyit. "Rama siapa?"
"Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu!" berang Mbah Yahya sambil mengangkat dagu. "Anggap ini sebuah peringatan pertama dan terakhir dariku! Jangan pernah kamu coba-coba menyebarkan gosip miring tentang Rama anakku, kalau kamu masih berbuat nekat ... kamu akan terima akibatnya!" ancamnya sambil melotot.
"Gosip apa maksud Opa? Aku juga nggak kenal yang namanya Rama." Sisil tampak bingung.
"Masih saja kamu mengelak, ya?" Mbah Yahya berkacak pinggang. "Kalau Rama kamu nggak kenal, tapi Juna kamu kenal, kan?" tekannya.
"Nggak." Sisil menggeleng.
"Dasar guru gila kamu, Sel!" sentaknya murka. "Sama anak murid sendiri bilang nggak kenal! Dan berpura-pura nggak tahu. Aku masih baik, ya, bicara denganmu. Tapi kalau ke depannya kamu berulah dan mengatakan burung anakku nggak berdiri kepada orang-orang ...." Jari telunjuk Mbah Yahya menodong ke wajah Sisil. "Aku akan membuatmu jauh dari jodoh! Kamu nggak akan menikah seumur hidup sampai jadi perawan tua!" tegasnya. Mbah Yahya pun langsung melangkah pergi sembari mencebik bibirnya.
__ADS_1
"Siapa, Sil?" tanya Citra seraya menghampiri Sisil yang baru saja menutup pintu. Gadis itu berada di sana sebab sepulang kuliah ada tugas, dan mereka belajar bersama di apartemen Sisil.
"Nggak tahu, Cit. Kayaknya orang gila." Sisil menggeleng heran, lalu mengajak Citra untuk duduk kembali di sofa.
"Kok gila? Maksudnya bagaimana?"
"Dia bilang aku nyebarin gosip tentang anaknya yang bernama Rama. Sedangkan aku sendiri nggak tahu Rama itu siapa."
"Salah orang mungkin. Tapi gosip apa katanya?" tanya Citra.
"Burungnya Rama nggak bisa berdiri."
"Pincang kakinya?" Yang Citra maksud mungkin seekor burung. Bukan burung yang ada di celana.
"Mungkin. Sudah ah nggak usah dibahas. Nggak penting. Kita lanjutkan saja, tadi sampai mana?" Sisil mengambil kembali laptopnya yang berada di atas meja, lalu meletakkannya pada kedua paha.
***
"Opa ...!" teriak Juna seraya menghamburkan pelukan. Dia baru saja sampai rumah, dan melihat Angga tengah duduk di pos satpam dengan Bejo sambil ngopi.
Angga membalas pelukan, lalu mencium keningnya. "Kamu baru pulang? Tapi kalian habis dari mana?" Menatap Juna, lalu beralih menatap Nissa. "Ini sudah sore, lho."
"Tadi Juna sama Mami habis menjengkuk Om Tian," jawabnya jujur.
"Kemarin kurang, jadi sekarang nambah."
Angga menyesap kopi, lantas berdiri dan mengandeng tangan cucunya. Nissa pun melangkah mengekori mereka yang masuk ke dalam rumah.
"Besok-besok kamu jangan jenguk dan bertemu dia lagi, ya?" pinta Angga.
"Dih, kenapa? Juna nggak mau," tolaknya sambil menggelengkan kepala. "Malah Juna rencananya mau mengajak Om Tian jalan-jalan setelah dia sembuh."
"Kan kamu tahu, Opa sama Om Steven nggak suka padanya. Dia juga bukan pria baik, Jun," tegur Angga. Mereka bertiga pun berhenti di ruang keluarga. Angga dan Juna duduk di sofa, tetapi Nissa memilih menuju kamar untuk mandi.
"Om Tian baik, Opa. Malah sangat baik." Juna membuka sepatu dan kaos kakinya, lalu menjatuhkannya asal. Setelah itu dia duduk di atas pangkuan Angga. "Kan Opa sendiri tahu, kalau Om Tian yang menolong Juna. Dan Opa pernah bilang, kalau orang yang suka menolong ... itu tandanya dia orang baik. Iya, kan?"
"Iya. Tapi bisa saja apa yang Om Tian lakukan karena punya maksud tertentu."
"Punya maksud tertentu apa?" Juna menyandarkan punggungnya di dada Angga, lalu mengenggam kedua tangan sang Opa.
"Ya mau deketin Mamimu. Kan bisa saja lewat kamu dulu."
__ADS_1
"Ya terus masalahnya di mana? Nggak apa-apa kok."
"Kamu setuju memangnya Om Tian dekat sama Mamimu?"
"Setuju. Juna malah mau Om Tian jadi Papi baru Juna, Opa."
Mata Angga sontak terbelalak. Terkejut dengan apa yang cucunya itu katakan. "Apa kamu nggak salah ngomong kayak gitu?" Membalik tubuh Juna untuk duduk saling berhadapan, lalu menatap bola matanya. "Bukannya kamu dulu bilang Om Tian bukan pria baik-baik, ya? Kamu nggak suka padanya."
"Itu 'kan dulu, sekarang beda lagi," elak Juna.
"Ah tapi Opa nggak setuju." Angga menggeleng cepat.
"Kenapa?"
"Opa nggak suka sama dia. Oh ya, katanya kamu sudah ketemu sama Om Rama. Bagaimana orangnya?" Angga mengalihkan topik pembicaraan, malas rasanya membicarakan Tian. "Ganteng, kan, dia?"
"Om Rama anaknya Kakek Yahya?"
"Iya."
"Ganteng."
"Baik nggak?"
"Juna nggak tahu baik nggaknya, kan Juna nggak kenal."
"Bagaimana kalau Om Rama saja yang jadi Papi barumu? Kamu setuju, kan?" Menurut Angga, demi membujuk Nissa yang mau menikah lagi, harus ada perantaranya. Yakni Juna. Dia yakin—kalau Juna menyetujui, lama-lama Nissa pasti luluh.
Juna langsung menggeleng cepat. "Juna nggak mau, masa Papi Juna nggak normal, sih, Opa."
"Katanya kamu sudah ketemu sama Om Rama. Masa kamu bilang dia nggak normal? Dia normal, Jun."
"Memangnya Opa sudah pernah lihat burungnya?"
"Burung?" Kening Angga mengerenyit. Dia tampak bingung. "Apa hubungannya dengan burung?"
"Burung Om Rama nggak bisa berdiri. Mending sama Om Tian, burungnya bisa berdiri. Udah gitu besar dan panjang lagi."
...Ternyata Om Tian ada kelebihannya, ya, Jun 🤣...
...Oya, btw ini visual Juna, ya, Guys. Ganteng dan gemesin, kan? 😍...
__ADS_1
...(Arjuna Abimana Prasetyo)...