Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
53. Sama-sama pipis


__ADS_3

"Eh, Citra ... Om Steven," ujar Lusi. Dia dan Rosa tampak terkejut melihat Citra sedang digendong oleh Steven. Terkesan begitu romantis sekali. Pria tampan itu pun mendudukkan bokong Citra pada kursi dan tampak jelas kedua pipi gadis itu bersemu merah.


Jangan tanya apakah dia senang, atau tidak. Tentu jawabannya pasti sangat senang. Jantungnya saja seperti ingin lompat rasanya.


"Kok Citra digendong, Om?" tanya Rosa.


"Iya, dia bilang selangk*ngannya ada bisul," jawab Steven yang mana membuat kedua teman Citra bergelak tawa. Tetapi Citra terlihat marah, wajahnya pun cemberut.


"Siapa yang bisulan? Aku nggak bisulan, Om!"


Steven sengaja mengatakan hal itu supaya teman-teman Citra tak menganggapnya sesuatu yang berlebihan.


"Sudah, jangan marah. Kamu dan temanmu ngobrol saja di sini. Nanti aku pesankan minuman." Steven tak menanggapi kemarahan Citra. Lantas dia pun berlalu masuk ke dalam.


"Kalian berhenti tertawa! Aku nggak bisulan!" teriak Citra marah, dia menatap tajam dua temannya yang baru saja duduk di depanku. Seketika dua gadis itu langsung menghentikan tawa dan melipat bibirnya rapat.


"Maaf, Cit. Ternyata Om Steven suka bercanda orangnya, ya?" tanya Lusi.


"Nggak!" ketus Citra yang terlihat masih kesal. "Terus kalian mau apa ke sini?"


"Biasa aja dong, sensi amat." Lusi mengerucutkan bibirnya. "Kita ke sini tadinya mau ngajak kamu jalan-jalan ke mall. Tapi kalau kamu sakit kita ngobrol saja di sini."


"Aku nggak sakit, cuma ...."


"Oh ya, Cit," sela Rosa cepat. "Aku dengar dari orang tuanya Udin, katanya Udin masuk rumah sakit gara-gara dicekik sama ditonjok Om Steven. Itu bener apa nggak?"


Citra mengangguk. "Iya, semalam Om Ganteng cemburu dan salah paham. Dia mengira aku pergi sama Udin, padahal sama Om Tegar."


Lusi dan Rosa langsung membulatkan matanya secara bersamaan.


"Sadis banget Om Steven," kata Lusi sambil meringis.


"Ternyata sangar ya kalau marah, padahal wajahnya kayak kalem dan penyayang," kata Rosa menambahkan.


"Namanya juga cemburu, itu berarti cinta Om Ganteng padaku sangat besar, Gays," ujar Citra dengan bangga sembari menangkup kedua pipinya yang kembali merona. Dadanya terasa hangat, dia sungguh senang sebab baginya dia telah berhasil membuat Steven jatuh cinta.


Rosa dan Lusi saling memandang, lalu memutar bola matanya dengan malas. Mereka seakan sebal dengan sikap Citra yang menurutnya lebay itu.


"Oh ya, Cit. Aku lupa kasih ini ke kamu." Rosa memberikan surat undangan pada Citra yang diambil dari tasnya.


"Apa ini?" Citra membukanya dan ternyata itu adalah undangan pesta ulang tahu. "Kamu ulang tahun, Ros?"


"Iya, besok 'kan hari ulang tahunku. Jadi besok sore Papaku mau buat acara di hotel. Kamu jangan lupa datang dan beli kado untukku, ya?"

__ADS_1


"Lho, kok kamu nangis sih, Cit?" tanya Lusi yang tampak heran pada Citra, sebab tiba-tiba gadis itu menangis. Air matanya mengalir membasahi pipi.


"Aku cuma tiba-tiba kangen Ayah, pas ulang tahun dia orang yang pertama mengucapkan. Tapi sekarang Ayah sudah nggak ada." Citra menatap lurus ke depan dengan wajah sedih, perlahan dia pun menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Ceklek~


Pintu apartemen itu kembali dibuka oleh Steven, pria tampan itu memakai kacamata hitam dan langsung menghampiri Citra.


"Kamu kenapa, Cit?" tanya Steven lalu menatap kedua teman Citra. "Kalian membuat Citra nangis?"


Lusi dan Rosa langsung menggeleng cepat.


"Nggak, Om," jawabnya secara bersamaan.


Citra langsung memeluk tubuh Steven lalu mengusap kedua pipinya sendiri. "Aku cuma kangen Ayah kok, Om. Aku nggak apa-apa."


"Nanti kita ziarah, ya. Kalau kangen." Steven mengusap rambut kepala Citra dengan lembut. "Oh ya, aku pergi dulu ada urusan. Kamu di sini saja tapi jangan pergi ke mana-mana, ya!"


Citra melepaskan pelukan itu, lalu mendongakkan wajahnya ke arah Steven dan menatapnya dengan lekat. "Urusan apa? Tapi kok Om sampai pakai kacamata segala? Keren dan tambah ganteng saja."


"Aku 'kan memang suka pakai kacamata."


"Terus mau pergi ke mana?"


"Aku ikut."


"Kan aku sudah bilang mau makan siang sama rekanku. Kamu jangan ikutlah."


"Masa aku sendirian di sini? Aku 'kan mau makan siang juga sama Om."


"Ada Rosa sama Lusi, kamu nggak sendirian." Steven kembali menatap kedua teman Citra. "Kalian main di sini saja, ya? Temani Citra sebentar. Kalau mau masuk nggak apa-apa. Asal yang sopan."


"Iya, Om." Lusi dan Rosa mengangguk secara bersamaan.


"Sudah, ya. Nggak enak ditungguin orang." Steven melepaskan lingkaran lengan Citra, dia baru melangkah tetapi tangannya dicekal oleh gadis itu.


"Cium dulu lah, Om," pintanya sembari menunjuk bibirnya sendiri.


"Udah deh, Cit. nggak usah aneh-an ...." Ucapan Steven mengantung kala Citra sudah berdiri dan dengan cepat meraih tengkuknya lalu menarik hingga bibir mereka bertemu.


Cup~


Sontak—kedua teman Citra langsung terbelalak lantaran kaget melihat adegan yang muncul tiba-tiba itu. Mereka pun saling memandang, lalu geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Nah begini baru benar. Om itu malu-malu, musti diduluin dulu," kata Citra seraya melepaskan bibirnya dan perlahan menjauhkan dari wajah Steven.


Steven menghirup aroma tubuh gadis itu sebentar dan tiba-tiba tubuhnya langsung meremang tak karuan.


Padahal hanya bibir saja yang menempel dan hanya sekilas, tetapi Steven sudah dapat merasakan miliknya tegang. Sensitif sekali dia.


Steven berdecak kesal, kemudian buru-buru melangkah masuk ke dalam pintu lift yang baru saja terbuka.


'Sial! Baru nempel bibir doang sudah tegang! Dasar lemah!' Steven menggerutuki dirinya sendiri sembari mengusap kasar wajahnya. Bisa-bisanya imannya gampang sekali tergoda oleh Citra, padahal kemarin-kemarin dia berusaha mati-matian menahannya.


"Citra, memang kamu dan Om Steven sering ciuman?" tanya Rosa penasaran.


"Iya, hampir setiap hari." Citra mengangguk sambil tersenyum manis. "Semalam saja kita ciuman sampai aku pipis."


"Pipis?" Lusi mengerutkan keningnya. "Kok bisa sampai pipis?"


"Iya, soalnya Om Ganteng masukkin jari tengahnya ke dalam milikku."


"Milikmu yang mana?" Lusi bertanya lagi, tetapi wajahnya tampak begitu penasaran.


"Kem*luan."


"Untuk apa Om Steven masukkin jarinya ke dalam sana? Apa nggak bau pesing?" tanya Rosa yang ikut-ikutan penasaran.


"Enak saja bau pesing! Aku wangi, ya!" tukas Citra marah.


"Mana ada wangi, di mana-mana itu mah bau pesing, Cit. Kan tempat untuk pipis. Kamu juga katanya tadi pipis sambil ciuman," kata Rosa.


"Bukan pipis sambil ciuman. Tapi ciuman sampai pipis!"


"Sama saja, sama-sama pipis." Lusi menyahut.


"Tapi ini beda pipisnya, rasanya enak sampai merem melek."


"Maaf menganggu, Nona," ujar Ajis yang baru saja datang menghampiri. Dia menenteng dua kantong yang berwarna merah dan pink, lalu menaruhnya ke atas meja.


"Yang kantong merah, Itu pesanan Pak Steven untuk Nona dan teman-teman," kata Ajis sambil menunjuk apa yang dimaksud. "Dan yang berwarna pink itu kiriman dari orang untuk Pak Steven, nanti Nona berikan padanya, ya?"


"Untuk Om Ganteng? Apa itu? Dan dari siapa?" Citra yang terlihat penasaran itu langsung membuka isi di dalam kantong berwarna pink itu. Dan ternyata adalah sebuah bolu brownies pandan dengan taburan seres yang begitu penuh mengelilingi bolu tersebut.


"Nona jangan dibuka harusnya. Itu 'kan untuk Pak Steven," tegur Ajis. Dia tak mau jika tindakan Citra akan membuatnya dimarahi.


"Aku cuma penasaran kok, mau lihat isinya. Eh, apa ini?" Citra menemukan sebuah kartu ucapan berbentuk hati di dalam kantong itu. Dia pun langsung mengambil dan membukanya.

__ADS_1


...Kira-kira apa ya isi kartunya? 🤔...


__ADS_2