Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
127. Citra pingsan


__ADS_3

"Kamu bisa nyuruh Jarwo, Bejo atau asistenmu." Bola mata Angga langsung berkeliling dan tak lama pandangannya terjatuh pada sebuah kursi yang berada dipojok. Ada Jarwo dan Bejo di sana. Mulut kedua pria itu terlihat penuh dengan makanan. "Itu, mereka sedang nganggur. Suruh mereka saja," ucapnya sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.


Steven menggeleng cepat. "Nggak mau, aku maunya Papa yang belikan."


"Tapi masalahnya Papa 'kan lagi menyambut para tamu, Stev." Angga menyalami beberapa rekan bisnisnya sebelum dia pensiun, dia juga tersenyum sambil menyapanya untuk makan. Steven yang berdiri di sana melakukan hal yang sama. Tidak mungkin juga dia hanya diam.


"Biar aku yang menyambut. Ada Kak Sofyan, Rizky dan Pak Guntur juga, Pa." Steven menatap orang-orang yang namanya dia sebutkan tadi. Tiga pria itu berada di depannya. Ikut menyalami tamu yang datang.


"Tapi Papa nggak mau membelikannya. Males, dan lagian Papa nggak tahu rujak cingur itu apa."


"Ini, seperti ini." Steven memperlihatkan sebuah foto pada layar ponselnya. Foto yang dia ambil dari google.



"Makanan apaan itu? Kayaknya nggak enak." Angga menatap sebentar, lalu melengos.


"Namanya rujak cingur."


"Kamu pernah makan rujak itu?"


"Belum pernah." Steven menggeleng cepat. "Tadi aku nggak sengaja lihat rujak ini digoogle pas nyari racun burung dan aku kepengen."


"Racun burung?" Kening Angga mengerenyit, lalu menoleh ke arah Steven. "Ngapain kamu nyari racun burung? Jangan bilang kamu mau ngeracun si Kevin?"


Steven menggeleng cepat. "Nggak."


"Ah bohong kamu. Awas kamu, ya! Kalau berani-berani ngeracun Kevin!" Angga menunjuk wajah Steven dengan mata melotot.


"Lagian, kenapa sih dia ada di sini dan tahu dari mana? Pasti Papa yang membawanya, kan?" Rahang Steven tampak mengeras. Jelas, dia seperti marah karena adanya burung itu.


"Iya, Papa yang membawanya. Pas sebelum berangkat ke sini, Papa ketemu dia di mobil. Katanya dia mau bertemu Om Tua. Ya Papa ajak dia ke sini."


Semalam, Kevin memang ikut sampai Steven pulang. Tetapi paginya dia pindah mobil saat melihat Angga masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Steven mengepalkan kedua tangannya, lalu menatap sengit ke arah pelaminan. Ada Citra di sana, tengah mengobrol dengan Rosa dan Lusi. Tetapi sejak tadi gadis itu terus mengelus jambul Kevin yang memang dia ada di sana juga. Sedang berdiri di pangkuannya. Dan menurut Steven, burung itu seperti mencuri-curi kesempatan sebab sejak tadi terus memeluk perut Citra.


Benar juga apa yang dikatakan Angga, Steven memang punya niat meracun burung itu.


"Pokoknya aku mau rujak cingur dan Papa yang beli! Kalau nggak dibelikan aku mau ngambek!" gerutu Steven marah. Setelah itu, dia pun lantas berlalu pergi menuju toilet.


Angga melambaikan tangannya ke arah Bejo. Asistennya itu langsung menghampirinya. Berlari cepat.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" tanya Bejo.


"Belikan rujak cingur."


"Bapak ngidam?"


"Aku minta dibelikan rujak cingur, bukan ngidam."


"Tapi Bapak 'kan nggak suka rujak."


"Si Steven yang mau."


"Oh. Pak Steven. Mau berapa? Satu dua?"


"Belikan dua, satunya buat Dedek Gemes. Takutnya dia juga mau."


"Oke." Bejo mengangguk cepat. Kemudian, dia pun melangkah keluar gedung hotel itu.


*


"Citra, aku dan Lusi pulang dulu, ya? Nanti kita kapan-kapan main bareng lagi," kata Rosa seraya berdiri. Dia datang bersama Lusi memang diundang oleh Citra. Tetapi mereka berdua datang tak membawa kado sama sekali.


Sebenarnya, bukan mereka berdua saja yang diundang, tetapi Udin, Arya, David dan Sisil. Hanya saja baru mereka berdua yang datang dan sejujurnya, yang Citra tunggu-tunggu adalah kehadiran Sisil.


"Iya, terima kasih kalian udah dateng ya, Guys," jawab Citra sambil tersenyum.


"Kira-kira kamu akan balik lagi kuliah di kampus kita nggak ya, Cit?" tanya Lusi.


Citra menggeleng. "Aku nggak tahu. Nanti aku tanya Om Ganteng dulu."


"Oke. Semoga kamu dan Om Ganteng bahagia selalu, ya?" Lusi tersenyum.


"Amin." Citra pun menatap kedua temannya yang berlalu pergi hingga keluar dari gerbang hotel itu. 'Kok Sisil belum datang? Apa undangannya nggak sampai, ya?' batinnya sedih.


Citra lantas menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan Steven. Tetapi pria tampan itu tak ada di mana-mana.


"Nona cantik cari siapa?" tanya Kevin.


"Om Ganteng. Kamu tahu nggak dia ke mana?"


"Om Ganteng itu siapa?"

__ADS_1


"Om Steven, suamiku."


"Oh. Tidak tahu." Kevin menggelengkan kepalanya.


Tak lama, Sindi datang menghampirinya dengan beberapa wanita, masing-masing dari mereka membawa seorang anak. Laki-laki dan perempuan. Cepat-cepat Citra pun berdiri, lalu meletakkan Kevin di sofa.


"Citra, kenalkan ini Nissa, Mbaknya Steven." Sindi mengenalkan seorang wanita cantik yang usianya tak jauh beda dengan Steven, tetapi wajahnya mirip Sindi.


"Halo, Tant ... eh, Mbak," ralat Citra seraya mengulurkan tangannya. Mengajak wanita itu berkenalan. Meskipun memang umurnya tak jauh beda dengan Steven, tetapi memanggil sebutan Mbak karena kakak dari suaminya mungkin jauh lebih pantas.


"Halo Citra, kamu cantik dan unyu-unyu banget. Panggil Tante juga nggak apa-apa deh kayaknya." Nissa tersenyum manis. Dia bukan hanya membalas uluran tangan, tetapi juga memeluk Citra.


"Dan ini Maya, Kakak Iparmu." Sindi mengenalkan wanita cantik yang mengendong bayi laki-laki. Usianya 26 tahun.


"Halo Mbak Maya, aku Citra."


"Halo juga, Cit." Maya tersenyum dan memeluk tubuh Citra.


"Dan yang terakhir ini, dia Nella. Cucu perempuan satu-satunya Mama." Sindi mengenalkan wanita yang terakhir. Tak kalah cantik, dia mengendong bayi laki-laki juga. Usia Nella 25 tahun, sama seperti Fira.


"Aku kok bingung manggilnya, Oma." Nella terkekeh, lalu memeluk tubuh Citra. Citra mengulum senyum, dia begitu bahagia sekali bisa berkenalan dengan keluarga Steven. Mereka juga tampak baik dan menerimanya. "Dia ini Tanteku, tapi umurnya lebih tua aku. Dan sangat unyu-unyu," tambah Nella.


"Kalau dia nggak dipanggil Tante, nanti Ommu marah, Nell," kata Sindi.


"Iya juga, ya, kemarin-kemarin Mas Rizky juga disuruh manggilnya Tante Citra."


"Oh ya, itu kado untuk kamu dan Steven, Cit." Sindi menunjuk seorang pelayan yang tengah membawa troli besar berisi beberapa kado di atasnya.


"Banyak banget, Ma. Dari Mama semua?" tanya Citra yang menatap takjub. Matanya berbinar.


"Dari Mama juga ada, tapi nggak semua. Ada dari mereka ...." Sindi menatap ketiga wanita itu. "Ada dari beberapa tamu juga. Nanti kamu bisa bukanya bersama Steven dan ada namanya kok."


"Terima kasih, Ma. Aku ... aaakkkkhhh!" Tiba-tiba, Citra merasakan kepalanya berdenyut. Sangat sakit sekali. Dia pun menyentuh kepalanya dan pandangan matanya seketika buram.


"Eh, kamu kenapa?" tanya Sindi yang tampak panik. Segera dia pun merangkul bahu Citra saat melihat tubuh gadis itu hendak oleng. Dan tak lama gadis itu pun jatuh pingsan.


"Pa! Citra pingsan!" pekik Nissa memanggil Angga.


Seseorang dari kejauhan langsung berlari menghampiri mereka, kemudian dengan cepat mengendong tubuh Citra.


"Apa yang kalian lakukan sama Citra?" tanyanya yang tiba-tiba saja marah. "Kenapa dia pingsan?"

__ADS_1


...Ada yang bisa nebak nggak siapa yang gendong Citra? 🤔...


__ADS_2