Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
288. Kapan nih kita bikin anak lagi?


__ADS_3

Juna menghentikan langkahnya tatkala melihat kamar Tian terbuka lebar dan begitu bising seperti ada beberapa orang di dalam sana.


"Dek Juna pasti mencari Papi sama Mami, ya?" tebak Bibi pembantu yang berjalan setengah berlari menghampiri Juna.


"Iya." Juna mengangguk. "Di mana Mami sama Papi memangnya? Dan di dalam sana ada apa, Bi? Kok rame?" Menunjuk ke arah kamar Tian.


"Itu orang yang lagi dekorasi kamar mandi, Dek. Papi Tian bilang ingin menambah kloset lagi."


"Menambah?" Kening Juna mengerenyit. "Berarti jadi dua, dong?"


"Iya." Bibi pembantu mengangguk, kemudian merangkul bahu Juna. "Ayok Bibi antar, Mami dan Papi Adek ada di kamar tamu." Melangkah bersama, mengajaknya menuju kamar tamu.


'Pasti Papi buat dua kloset supaya mempermudah acara kita yang berak bareng. Ah Papi Tian ini so sweet banget, dia sangat baik,' batin Juna sambil tersenyum manis. 'Sayangnya tadi aku sudah berak di sekolah, semoga saja nanti sore atau malam mules lagi. Jadi bisa langsung berak bareng.'


Setelah Bibi pembantu berlalu meninggalkannya, Juna langsung mengetuk pintu itu sebentar, kemudian menurunkan handle pintu.


"Papi! Mami!" seru Juna seraya melebarkan pintu. Nissa yang masih menyusui suaminya itu lantas terperangah, begitu pun dengan suaminya.


Aktivitas mengenakan itu segera mereka akhiri. Cepat-cepat Nissa menarik dadanya dan membereskan kemeja. Beruntung, posisi Juna berada di punggung Nissa, kemungkinan bocah itu tak dapat melihat apa yang telah terjadi.


"Eh, Jun!" seru Nissa panik dan langsung menoleh. Anaknya itu langsung berlari dan memeluk tubuhnya.


"Mami sama Papi lagi apa? Dan kenapa wajah Mami sangat merah?" Juna menatap lekat wajah Nissa. Merahnya diwajah wanita itu lantaran kabut gairah. Dia tak memungkiri, jika apa yang dilakukan Tian tadi membuat birahinya menggebu. Dan seperti menginginkan lebih dari itu.


"Ini Mami lagi gerah aja, kok," jawab Nissa beralasan.


Juna pun beralih menatap ke arah Tian. Wajah pria itu sama merahnya, tetapi karena lebam, jadi tidak terlalu kelihatan. Hanya bibirnya saja yang basah.


"Ada apa, Sayang?" tanya Tian.


"Ini, temen Juna mau beli ikan lele Papi. Tapi mau sekalian digoreng dan makan di sini katanya," ucap Juna seraya memberikan uang yang dia pegang kepada Tian. Tetapi pria itu belum menerima sebab merasa bingung.


"Kok beli? Kan Papi sudah izinkan, boleh kalau mereka mau. Nggak perlu beli, Jun."


"Mereka maunya masing-masing dua, Pi. Yang satunya digoreng, yang satunya dibawa pulang."


"Oh. Ya sudah nggak apa-apa. Makan saja di sini, nanti suruh Bibi yang masakin. Nggak perlu bayar, kasih lagi uangnya ke mereka."

__ADS_1


"Jangan ah, nanti lele Papi rugi. Kan mereka ngambil empat jadinya." Juna memamerkan empat jari tangan kanannya ke arah Tian.


"Cuma empat mah nggak bakal rugi, lele Papi 'kan banyak."


"Tapi mereka mau beli, masa dikasihin lagi duitnya? Kalau begitu mah mending buat Juna saja duitnya, buat beli layangan."


"Enggak apa-apa, kasih saja." Tian menggeleng. "Nanti kalau kamu mau beli layangan biar Papi yang beliin. Butuh duit berapa memang kamunya?" Merogoh kantong celananya, lalu mengambil dompet. Baru saja dia hendak mengambil dua lembar uang ratusan ribu, tetapi anaknya itu langsung menahannya.


"Nggak usah, nanti saja belinya, nggak sekarang. Tapi Papi kok baik banget, apa nggak rugi nantinya?" Juna masih ragu, jika mengembalikan uang tersebut. Rasanya sayang saja sebab sudah ada ditangan.


"Nggak, Sayang." Lengan Tian terulur, lalu mengelus rambut kepala Juna dengan penuh kasih sayang. "Manusia 'kan harus berbagi. Apa yang Papi miliki adalah milikmu dan Mami juga. Baim dan Atta adalah teman-temanmu. Pasti ada saatnya kamu butuh sama mereka dan mereka juga akan berbuat baik sama kamu. Jadi berikan saja uang itu, terus kamu minta Bibi masakin ikan lele."


Juna langsung memeluk tubuh Tian, rasanya begitu terharu mendengar apa yang pria itu katakan. Dadanya terasa hangat. "Papi memang yang terbaik. Juna sayang Papi."


"Papi juga sayang sama kamu."


"Ya sudah, Juna juga mau makan sama lele goreng. Juna ngomong dulu sama teman-teman Juna ya, Pi. Mereka pasti ngasih Papi bintang lima!" Juna merelai pelukan, kemudian berlari keluar dari kamar dengan girang.


"Bintang lima itu apa maksudnya?" gumam Tian yang bingung sendiri mendengar celotehan anaknya. Nissa justru terkekeh.


"Tanya apa?"


"Aku dari pas jadi janda sampai sekarang udah nggak pakai KB. Kalau misalkan aku hamil, nggak apa-apa?"


"Lho, ya nggak apa-apa. Malah itu bagus. Aku juga mau punya anak denganmu, Yang. Hasil cinta kita." Tian tersenyum manis. "Tapi, Juna nggak apa-apa 'kan kalau punya adik? Umur dia juga udah mau 7 tahun. Udah pantes 'kan, Yang, kalau punya adik?"


"Kayaknya sih nggak apa-apa. Aku lihat dia juga seneng main sama sepupunya yang masih bayi, apalagi sama si kembar."


"Iya sih. Ah jadi kapan nih kita bikin anak lagi, Yang? Kepengen aku."


"Masih banyak waktu, Yang. Sabar saja." Nissa tersenyum. Lantas berdiri dan melangkah pergi keluar kamar. Dia ingin membawakan makan siang untuk Tian.


***


Keesokan harinya di rumah sakit.


"Ibu sudah dibolehkan pulang, tapi saya harap tolong jaga kondisi Ibu, ya? Apalagi jantung Ibu. Takut jika sewaktu-waktu kumat lagi," ujar seorang dokter pria berkacamata. Dia baru selesai memeriksa keadaan Nurul.

__ADS_1


"Baik, Dok. Tapi ... di mana Fira anak saya?" Meskipun kemarin dia sudah tahu jika Fira ditangkap polisi, tetapi setidaknya dia bisa tahu di kantor polisi mana Fira ditahan.


"Saya tidak tahu, Bu." Dokter itu menggelengkan kepalanya. "Sejak kemarin sore saya tidak melihat anak Ibu."


*


*


Setelah berganti pakaian dan menebus obat, Nurul melangkah menuju resepsionis depan.


"Permisi, Bu. Saya mau membayar biaya rumah sakit," kata Nurul yang berbicara pada penjaga resepsionis. Dia seorang wanita dewasa berambut pendek.


"Atas nama siapa, Bu?"


"Nurul Ayunda."


"Sebentar, ya." Wanita itu menatap layar komputer, lalu mengetik nama Nurul pada pencarian pasien rumah sakit. "Atas nama Nurul Ayunda sudah dibayar, Bu. Ibu bisa langsung pulang saja," katanya sambil menatap kembali pada Nurul.


"Siapa yang membayarnya, Bu?"


"Yang membayar atas namanya Anggara Prasetyo."


"Oh, ya sudah, Bu, terima kasih. Kalau begitu saya permisi, selamat pagi."


"Sama-sama. Selamat pagi." Wanita itu tersenyum dan mengangguk kecil. Nurul pun membalas senyuman itu kemudian melangkah pelan keluar dari rumah sakit.


'Ternyata Pak Angga masih baik, meskipun dia sudah melaporkan Fira ke penjara. Tapi kira-kira ... di penjara mana Fira berada?' batinnya. Nurul merogoh tas jinjing untuk mengambil ponsel, lalu menelepon Angga.


"Halo, Pak, selamat pagi," sapanya dengan ramah saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.


"Pagi. Di mana Fira bersembunyi?" Suara Angga terdengar dingin.


"Bersembunyi?" Kening Nurul mengerenyit. "Maksudnya gimana? Saya menelepon Bapak karena ingin tanya Fira di penjara di mana?"


"Nggak usah pura-pura kamu, Nur. Aku tahu pasti kamu menyembunyikan anakmu yang gila itu. Nggak masalah kalau dia kabur saat ini, tapi akan kupastikan hukuman dia akan bertambah berat!" ancam Angga marah.


...Tenang Opa, biar Author yang ngasih dia hukuman 😎...

__ADS_1


__ADS_2