
"Ya biar Pak Angga tahu." Bukan hanya itu, aslinya Dika tak setuju dan tak mau jika Steven harus pensiun dini. Dia masih mau bekerja di bawah Steven meskipun pria itu suka marah-marah tidak jelas.
"Ah ngapain izin. Ini 'kan kantorku. Bukan kantor Papa." Steven memutar bola matanya malas. "Pokoknya besok kamu buat lowongan pekerjaan untuk CEO. Lebih cepat lebih baik."
"Terus masalah sekertaris bagaimana? Besok kata Pak Sofyan sudah ada. Apa Bapak nggak akan kerja lagi mulai besok?"
"Aku tetap kerja, sambil nunggu penggantiku. Besok orangnya suruh langsung ketemu aku. Sekarang kamu keluar, pekerjaanku nggak selesai-selesai jadinya!" Steven mendengkus kesal ketika salah ketik. Tangannya mengibas, mengusir Dika.
"Saya tunggu diluar kalau begitu, nanti Bapak panggil saya kalau sudah selesai."
Steven diam saja, tak menanggapi.
Dika membungkuk sedikit, kemudian melangkah keluar ruangan dan menutup pintu dengan rapat.
'Semoga saja nggak ada yang mau jadi CEO. Bukannya aku jahat, tapi aku nggak mau Bapak pensiun dulu. Bapak pensiunnya nanti saja kalau seusia Pak Angga,' batin Dika. Dia berdiri di depan ruangan Steven sambil menempelkan punggung pada tembok. 'Dan lagian, hari gini mana ada orang yang jujur, Pak. Nanti yang ada perusahaan Bapak bangkrut kalau salah dipegang sama orang.'
*
*
"Bagaimana di kampus, Pak?" tanya Steven saat baru saja duduk di kursi mobil. Jarwo menjemputnya untuk pulang.
"Semuanya aman," jawab Jarwo yang tengah mengemudi.
"Si Udin dan Arya nggak mendekati Citra? Ada nggak mereka ketemu gitu? Pas istirahat?" tanyanya yang masih belum percaya.
"Nggak, Pak." Jarwo menggeleng. "Pas di kampus Nona Citra hanya mengobrol dengan teman perempuannya. Tapi tadi saya sempat bertemu Gugun."
Mata Steven langsung melolot. "Gugun? Si Kumis Lele maksudmu?"
"Iya."
"Ngapain dia ke kampusnya Citra? Apa dia datang ingin menggoda Citra?"
"Dia datang karena menjemput seorang gadis."
"Seorang gadis? Siapa?"
"Temannya Nona Citra, Pak."
'Apa si Gugun dekatin Lusi atau Rosa? Tapi buat apa? Apa itu cuma alasan supaya dia bertemu dengan Citra? Besok aku akan buat perhitungan padanya!' Steven menyeru dalam hati.
***
Di rumah Angga.
__ADS_1
"Eh, Om Ganteng sudah pulang," ujar Citra dengan mimik ceria melihat kehadiran Steven yang membawa wajah capek.
Dia yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil menonton televisi lantas berdiri. Gegas menghamburkan pelukan dan mencium Dada bidangnya.
Steven mengecup puncak rambut Citra, wangi sekali. Aroma mawar seperti biasa. Dia mengenakan baju tidur polos lengan panjang, berwarna merah.
"Apa kamu kangen sama aku, Cit?" tanya Steven seraya menatap sekitar. Ruangan itu tampak sepi sekali, hanya ada Citra saja tadi.
"Kangen, Om. Aku nungguin Om terus dari tadi." Citra melepaskan pelukan. Kemudian Steven mengecup bibirnya dan merangkulnya. Mereka pun melangkah. "Om mau mandi dulu apa makan dulu?"
"Makan dulu deh, aku laper." Steven menyentuh perutnya yang tiba-tiba berbunyi. Keduanya pun menuju ruang makan.
"Sebentar ya, Om. Aku ambil nasi sama lauknya dan sekalian dipanasin lagi."
"Memangnya semua orang sudah makan?" Steven menatap meja makan yang tak ada menu makan malam. Hanya ada tissue, teko yang berisi air dan gelas.
Citra yang baru saja hendak melangkah menuju dapur langsung urung, dia pun berbalik badan.
"Sudah Om."
"Kok nggak nungguin aku? Tega banget. Terus Mama dan Papa ke mana?"
"Papa sama Mama pergi ke rumah Mbak Nissa, katanya mau main sebentar."
"Terus kamu ditinggalin sendiri di sini?"
"Si Kevin masih ada di sini?" Steven tampak syok mendengar nama terakhir yang disebut oleh Citra. Sekilas dia mengingat tentang Tian yang datang ke kantornya.
"Masih, kan kata Mama dia mau Papa pelihara."
"Memangnya Om Tian nggak datang mengambilnya?"
"Kapan Om Tian ke sini? Aku nggak tahu." Citra menggeleng, lantas berlalu pergi menuju dapur.
"Apa maksudnya ini? Apa jangan-jangan Papa membeli Kevin?" Monolog Steven. Dia segera merogoh kantong celana untuk mengambil ponselnya, kemudian menelepon Angga sembari melangkah keluar rumah.
"Pa, Papa membeli Kevin?" tanya Steven marah saat panggilan itu di angkat oleh seberang sana.
"Orang telepon kok langsung marah-marah? Basa basi kek dulu. Tanya Papa lagi apa, sudah makan belum."
"Itu nggak penting." Steven mendudukkan bokongnya di kursi teras. "Jawab dulu, benar atau nggak, Papa membeli Kevin?"
"Iya, mulai sekarang dia jadi adikmu, Stev. Dia sudah Papa suruh memanggilmu dengan sebutan Kakak, biar kalian makin akrab."
"Ngapain sih beli Kevin? Buang-buang duit tahu nggak!" omel Steven. Emosinya tiba-tiba mendidih. "Terus apa maksudnya bilang dia jadi adikku? Papa setres? Aku nggak sudi punya adik seekor burung! Aku itu anak bungsunya Papa!"
__ADS_1
"Bukan duit Papa kok. Itu duitnya Mama. Mama yang belikan untuk Papa." Angga hanya menjawab pertanyaan Steven yang pertama.
"Di mana Mama? Aku mau bicara dengannya."
Hening sesaat, kemudian tak lama terdengar suara Sindi.
"Ada apa, Stev? Oh ya, Mama mau ngasih tahu kalau Papa dan Mama mau menginap di rumah Mbakmu. Si Arjuna sakit."
Arjuna adalah anak semata wayangnya Nissa.
"Sakit apa Juna? Dan apa aku dan Citra ikut menginap juga?" tanya Steven yang mendadak cemas.
"Nggak perlu, besok juga Papa dan Mama pulang. Dia hanya sakit demam kok, katanya kangen sama Mama dan Papa, jadi kami ke sana."
"Oh, semoga cepat sembuh. Besok pagi-pagi aku ke sana sama Citra. Nengokin dia."
"Iya, ya sudah, ya."
"Eh, tunggu dulu!" tekan Steven sebelum panggilannya diputuskan oleh Sindi.
"Apa lagi?"
"Itu Kevin bagaimana? Apa alasan Mama membelinya? Aku nggak setuju!"
"Mama nggak niat beli awalnya. Tapi Kevinnya yang nggak mau diajak pulang sama Tian. Dia juga merengek minta tinggal sama Papa, Stev," jelas Sindi. "Jadi Mama kasihan."
"Hanya karena itu? Kok Mama tega, sih? Kan Mama tahu aku benci sama dia. Dia genit, Ma! Suka godain Citra!"
"Dih, kamu nggak boleh benci sama dia atau ke siapa pun. Citra 'kan lagi hamil. Bilang amit-amit sekarang!" titah Sindi.
"Amit-amit. Memangnya kenapa? Kenapa aku nggak boleh benci sama Kevin? Kan aku sudah cerita kalau dia songgong dan genit."
"Pamali. Mau kamu anaknya mirip Kevin?"
"Enak saja Mama kalau ngomong!" protes Steven marah. "Nggak mau! Dia 'kan burung. Masa anakku jadi burung! Mama ngasal aja kalau bicara."
"Mangkanya jangan terlalu membencinya. Mama sudah ngomong sama Papa untuk mengajari Kevin supaya sopan sama kamu. Kamu tenang saja."
"Ah tapi ...." Steven belum selesai bicara, namun panggilannya langsung dimatikan begitu saja.
Dari kejauhan, mata Steven menyorot tajam ke arah Kevin yang berada di dalam sangkar besar berbahan emas. Sangkar itu menggantung di pos satpam. Steven sendiri baru sadar jika mahluk itu ada di sana. Kevin juga tidak berkicau saat dia pulang sampai sekarang.
'Kau kira ini rumahmu? Sampai merengek mau tinggal di sini? Jangan harap, Vin! Aku nggak akan membiarkanmu tinggal di sini,' batinnya penuh dendam. Steven tersenyum menyeringai, kemudian menempelkan benda pipih di telinga kanan. Menelepon Dika.
"Halo, Dik. Besok pagi-pagi sekali kamu ke rumah Papa, ya, tapi sebelum itu ... tolong belikan racun burung," titahnya saat panggilan itu baru saja diangkat oleh seberang sana.
__ADS_1
...Racun burung? Burung siapa yang mau Om racun?😱...