
"Masa cacingan? Ini Juna seneng Opa!" Juna mengerucutkan bibirnya. Lompatan itu sudah dia hentikan lalu segera memeluk tubuh Angga. "Ayok panggil Bapak Penghulu, Mami sama Om Tian mau nikah sekarang, Opa."
"Maaf, Pak." Tian membuka suara. "Ada hal yang ingin aku obrolkan dengan Bapak dan Bu Sindi."
"Ya sudah. Ayo masuk," ajak Angga. Pelukan Juna dia lepaskan, lalu berdiri dan merangkul bahu sang cucu. Mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Langkah mereka berempat pun berhenti di ruang keluarga, ada Sindi yang tengah berbaring di sofa sambil nonton televisi. Tetapi wanita itu tampak menangis sesenggukan.
"Mama kenapa? Kok nangis?" tanya Angga heran seraya mengelus dahi Sindi. Sang istri menoleh, menatap Angga dan yang lain. Kemudian dia segera menarik tubuhnya untuk duduk lalu menyeka air mata di pipi.
"Ini Mama nonton film India, Shahrukh Khan meninggal, Pa." Sindi menunjuk ke arah tv.
"Ah Mama, nontonin mulu India. Lagian si Shahrukh Khan juga, main film kok mati mulu. Apa nggak panas dia dibakar terus?" Angga mendengkus kesal, lalu duduk di samping Sindi.
Tian dan Nissa pun ikut duduk di sofa panjang di samping mereka. Sedangkan Juna lebih memilih duduk di pangkuan Tian.
"Nggak semua film dia mati kok, Pa."
"Tapi nggak pernah bahagia 'kan dia kalau main film? Mama mending nggak usah nonton India deh. Nonton tuh film yang lucu, yang bisa bikin ketawa, jangan bikin nangis," tegur Angga seraya mematikan TV.
"Nggak semua film India sedih, ada lucunya juga. Mama sampai ngompol malah. Dan film Shahrukh Khan juga ada senengnya kok dia. Tanya Nissa kalau nggak percaya." Sindi menatap ke arah Nissa.
"Masa?" Angga melirik sebentar ke arah anaknya. "Tapi Papa lihat Mama nangis mulu kalau nonton India."
"Ya itu adegannya lagi sedih. Kalau lagi bagian seneng ya ketawa."
"Ah lagian juga, film India tuh kebanyakan goyang pusar. Nggak seru."
"Justru itu yang seru. Coba Papa lihat pusar Mama. Bagus nggak tuh. Malah mirip kayak Kajol sih kata Mama." Sindi hendak menarik kaosnya ke atas, ingin memamerkan pusar bolongnya. Tetapi langsung ditahan oleh Angga. Sebab dia ingat ada Tian.
"Siapa Kajol?" tanya Angga.
"Lawan mainnya Shahrukh Khan. Masa Papa nggak tahu."
"Dia main film 'kan banyak, lawan main ceweknya juga banyak. Itu dia punya bini nggak, sih, Ma?"
"Siapa? Shahrukh Khan?"
__ADS_1
"Iya." Angga mengangguk.
Tian hanya bisa menghela napas, mendengar obrolan tidak penting calon mertuanya itu. Ingin langsung berbicara tentang niatnya datang sebenarnya, tetapi tak enak menyela perbincangan mereka. Takut dikira tidak sopan.
"Punya, dia juga sudah punya anak. Tiga kalau nggak salah. Cowok dua, cewek satu. Sama kaya kita," jawab Sindi.
"Itu bininya nggak cemburu? Si Shahrukh Khan kalau main film 'kan sering cium-cium cewek."
"Cium cewek juga 'kan cuma akting. Aslinya nggak beneran itu, Pa," kilah Sindi.
"Mana ada akting. Orang cium beneran, nempel kok kelihatan."
"Sok tahu Papa, kan Papa nggak pernah nonton India." Sindi mengangkat sudut bibirnya sebelum.
"Kan Papa sering lihat Mama nonton, ya Papa ikutan nonton lah."
"Kapan? Nggak pernah deh perasaan." Bibir Sindi mengeriting.
"Dih, Mama nggak ingat? Yang pas—"
"Pa, Ma," sela Nissa cepat. Lama-lama telinganya berdengung mendengar perdebatan tidak jelas mereka. Terpaksa akhirnya dia akhiri sekarang. "Ada hal yang ingin Tian katakan, udahan bahas Indianya," ucapnya dengan lembut. Kedua orang tuanya pun langsung menatap ke arah Tian sembari melipat bibirnya masing-masing.
Sindi dan Angga melayangkan pandangan sebentar.
"Kamu sudah tanda tangan surat yang Steven kasih?" tanya Angga seraya menatap kembali ke arah Tian.
"Sudah." Tian mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau Nissa?"
"Belum. Sebentar, aku ambil suratnya dulu." Tian mengangkat tubuh Juna. Dia mengendongnya untuk pergi menuju mobil. Mengambil surat perjanjian pranikah.
Tak berselang lama, mereka kembali. Tian sudah membawa map coklat dan memberikan kepada Nissa beserta pulpennya.
"Kenapa pakai surat perjanjian pranikah segala, Pa?" tanya Nissa bingung seraya membuka map di tangannya. Sontak kedua matanya membulat kala melihat isi perjanjian tersebut. Wajahnya langsung bergidik. "Apa-apaan ini? Pemotongan burung? Apa nggak terdengar sadis ya, Pa?" Menatap Angga tak percaya. "Papa mau motong burung Tian?"
Sindi langsung terbelalak. Dia yang tidak tahu apa-apa sama terkejutnya. "Sadis amat, Pa." Memukul paha kiri Angga. "Papa 'kan sama-sama punya burung, jangan begitu lah."
__ADS_1
"Nggak masalah Bu Sindi, Nissa," ucap Tian. Mencoba mencairkan suasana yang mendadak menjadi panas. "Memang, isi perjanjian itu terlihat berat. Tapi aku sendiri nggak sama sekali keberatan. Karena niatku menikah dengan Nissa bukan untuk menyakitinya, tapi membahagiakannya."
Untaian kata itu seketika membuat dada Nissa terasa hangat. Jantungnya pun seketika berdebar kencang.
"Ih, Om Tian so sweet! Juna makin sayang deh." Juna merasa meleleh mendengar apa yang Tian katakan, dia pun langsung memeluk erat tubuh pria itu.
Baginya, terlepas dari apa pun yang telah terjadi di hidup Tian, Juna anggap pria itu adalah pria yang sempurna sebagai sosok pengganti ayah.
"Tuh denger, Tian aja nggak masalah kok," tukas Angga dengan memanyunkan bibirnya. "Udah tanda tangan dulu, Nis. Lagian, surat perjanjian pranikah itu bukan semua dari Papa kok, dari Steven juga. Tapi apa yang kami lakukan adalah bentuk tanda sayang kepadamu. Papa dan Steven nggak mau, kalau Tian menyakitimu. Papa mau kamu dan Juna bahagia," jelasnya dengan tulus.
Nissa mengangguk. Apa yang Angga katakan masuk akal juga. Lantas dia pun menandatangani surat tersebut di atas meja.
"Sebelum membahas masalah nikah, aku dengar dari Steven ... kalau kamu itu dulunya sudah duda, sebelum bersama Fira. Jadi aku wajib tahu, berapa kali kamu menikah sebenarnya, Ti?"
Itu memang sebuah masa lalu, tetapi ketika ingin memulai kehidupan baru dengan berumah tangga bersama anaknya, Angga tentu harus tahu. Supaya nantinya tidak ada hal-hal yang membuat kesalahpahaman di antara Nissa dan Tian.
Angga juga yakin, jika Nissa pasti belum tahu mengenai hal ini.
"Lima kali, Pak," jawab Tian jujur.
Bukan hanya Angga yang kaget, Nissa dan Sindi pun sama. Ketiganya membulatkan matanya.
"Buset, banyak bener. Doyan kawin atau gimana itu, Ti?" tanya Angga sambil geleng-geleng kepala. Merasa tak percaya dan tak habis pikir.
"Mantan istrimu banyak dong, Ti?" tebak Nissa. "Tapi kata kamu, kamu belum punya anak. Sama istrimu yang terakhir juga keguguran."
"Sebenarnya bukan nggak punya. Lebih tepatnya mereka meninggal dalam kandungan. Istriku yang pertama juga sedang mengandung saat itu, tapi dia meninggal dunia karena kesetrum," jelas Tian memberitahu.
"Kesetrum? Kok bisa?" tanya Nissa. "Bagaimana ceritanya?"
"Kejadiannya aku nggak tahu pasti, soalnya saat itu aku lagi kerja. Aku tahunya dari Bibi yang bekerja di rumahku, dia bilang pas masuk kamar lihat istriku sudah terbujur kaku dengan keadaan gosong. Tapi tangannya memegang hair dryer," jelas Tian apa adanya.
"Oh, mungkin kesetrum pas nyalain hair dryer kali," tebak Sindi.
Tian menoleh ke arahnya sambil mengangguk. "Kemungkinan sih begitu, Bu. Tapi sayangnya di rumahku nggak pasang CCTV saat itu, jadi nggak ketahuan penyebab jelasnya karena apa."
"Terus, kata Citra ada istrimu yang terkena kutil sampai meninggal. Itu istri keberapa dan kok bisa kutil mematikan?" tanya Angga penasaran. Semalam, Steven sempat menelepon dan menceritakan apa yang dia dan Citra obrolkan. Sebab menurutnya, Angga wajib tahu akan hal itu.
__ADS_1
...Kok Om Tian berasa lagi di interogasi 🤣 kapan nikahnya ey...