
"Kenapa nggak kamu kasih dia hape? Pelit amat jadi suami. Bukannya kamu pengusaha toko hape, ya?"
"Bukan pelit, tapi aku lupa. Kemarin itu 'kan hape Citra nggak ada pas diculik Ali sama Aldi." Steven mendengkus kesal.
Setelah lift itu turun di lantai dasar dan terbuka, keduanya pun keluar. Banyak beberapa orang di sana yang tengah membereskan dekorasi pesta yang telah usai.
"Pak Jarwo lihat Citra nggak?" Steven menghampiri Jarwo yang baru saja masuk ke gedung hotel.
Jarwo menggeleng. "Nggak, Pak. Saya baru saja datang."
"Di mana Bejo?" Steven bertanya sendiri.
Lantas dia pun menoleh ke kanan dan kiri. Namun bukannya melihat keberadaan pria itu, pandangnya justru tertuju pada Angga. Pria tua itu sedang duduk di kursi sambil menyeruput kopi yang masih beruap di tangannya.
Matanya melotot seketika. Entahlah, Steven justru sebal melihat Papanya itu tengah sarapan. Segera dia pun menghampirinya, lalu mengenggam pergelangan tangannya.
"Papa kok tega sama aku. Malah enak-enak ngopi. Kan aku minta tolong bantuin cari Citra!" protes Steven marah.
"Dedek Gemes pasti sama Mama, Stev. Dan Papa laper banget, pengen ngopi." Angga menyeruputnya lagi. Kemudian mengambil sandwich di atas piring. Belum berhasil dia gigit, apa lagi dikunyah. Namun tubuhnya berhasil Steven tarik hingga berdiri.
"Iya kalau sama Mama. Kalau sama Kumis Lele bagaimana? Aku nggak mau Citra dibawa kabur dia lagi, Pa."
"Siapa Kumis Lele, Stev?"
Tubuh Angga kembali ditarik oleh Steven, kini anaknya itu membawanya keluar dari gedung hotel menuju parkiran.
"Si Gugun. Siapa lagi."
"Sendal Papa lepas, Stev!" seru Angga seraya memutar kepalanya ke belakang. Sendal jepit mahalnya itu terlepas sepasang, tetapi Steven tak memberikannya waktu untuk mengambil.
Setelah menemukan mobil Jarwo, Steven pun mengajaknya masuk ke dalam. Jarwo mengikuti mereka dan dialah yang membukakan pintu. Lantas setelah itu, dia langsung ikut masuk dan duduk di kursi kemudi. Kemudian menyalakan mesin mobil.
"Sekarang Papa telepon Bejo," titah Steven.
"Ngapain telepon Bejo?"
"Dih, Papa banyak bertanya. Nyebelin banget." Sudah kelabakan karena Citra yang tiba-tiba menghilang, sekarang dia merasa jengkel pada Angga. Pria tua itu begitu banyak bertanya, padahal Steven sudah memintanya untuk ikut membantu.
Merasa sudah tak sabar, akhirnya Steven nekat meraba semua kantong yang ada dipakaian Angga. Mencari-cari ponsel. Setelah ketemu ternyata ada di kantong celana, dia pun langsung mengambil. Kemudian menghubungi Bejo.
__ADS_1
"Bejo, kamu tahu Citra ada di mana, nggak?" tanya Steven cepat. Padahal panggilan itu belum tersambung sama sekali.
"Halo, Pak," ucap Bejo saat panggilan itu baru saja dia angkat dari seberang sana.
"Kamu lihat Citra nggak?" tanya Steven lagi.
"Lihat, Pak."
"Di mana dia dan sama siapa?"
"Dia ada di taman Kalijodo, lagi duduk sendirian."
"Taman Kalijodo itu di mana? Dan kenapa dia sendirian?"
"Masa Bapak nggak tahu, itu ada di—" Ucapan Bejo terputus kala Steven dengan cepat mematikan sambungan telepon.
"Pak Jarwo tahu Kalijodo nggak?" tanya Steven pada Jarwo seraya mengantongi ponsel Angga di celananya.
"Tahu, Pak."
"Kita ke sana. Citra ada di sana, Pak!" titah Steven.
Sementara itu di taman Kalijodo, Citra tengah duduk dikursi taman sembari mengusap keringat pada dahinya.
Dia sedang istirahat sembari menunggu Sindi yang pergi membelikan air minum.
Pagi-pagi sekali Mama mertuanya itu memencet bel kamar, niat awal Sindi adalah ingin mengambil pakaian. Tetapi dia malah mengajak Citra olahraga di taman itu.
Hanya berjalan-jalan saja dan itu juga pelan, namun yang terpenting menantunya mendapatkan sinar matahari. Sebab menurut Sindi, itu sangat bagus apa lagi Citra sedang hamil sekarang.
"Maaf lama, tadi Mama sekalian pipis," ucap Sindi yang baru saja datang. Dia memberikan plastik ke arah Citra yang isinya adalah sebotol air mineral, roti dan tissue.
"Nggak apa-apa, Ma. Padahal aku juga bisa beli sendiri." Citra merasa tak enak. Padahal memang Sindilah yang memaksa untuk menunggu.
"Nggak apa-apa. Mama juga sekalian pipis. Kamu mau pipis nggak?" Sindi duduk di samping Citra, dia pun membuka plastik roti lalu memberikan kepada Citra yang baru saja selesai minum.
"Nggak, Ma." Citra menggeleng, lalu mengigit roti dari Sindi dan mengunyahnya pelan-pelan. "Ma, kita balik ke hotel, yuk. Takutnya Om Ganteng nyariin."
"Dia pasti masih tidur, Cit. Nggak usah memikirkan dia, kan ada Papa." Sindi menghirup oksigen dalam-dalam, lalu perlahan membuangnya. Rasanya segar, dia memang sering sekali berolahraga di taman. Mungkin hampir setiap hari.
__ADS_1
Biasanya bersama Angga, tetapi kali ini dia ingin bersama Citra. Dan jujur saja Sindi baru pertama kali ke Kalijodo. Dia memang sering berolahraga diberbagai taman, sekedar mencari suasana baru.
Disekitar mereka banyak orang yang lewat, mereka juga berolahraga.
"Tapi kita nggak pamit dulu, Ma." Citra merasa tak tenang, takut Steven mencarinya. Memang iya, dia tak pamit sebab Sindinya memaksa. Apa yang dilakukan wanita itu karena ingin membalas perbuatan Steven semalam.
"Kamu nggak seneng, ya? Pergi sama Mama?" tanya Sindi dengan ekspresi serius, menatap bola mata Citra.
"Seneng, banget malah. Cuma kita pergi sudah cukup lama. Takutnya Om Ganteng nyariin." Citra menatap jam pada pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 07.30. Mereka berangkat saat jam 05.30, mungkin sudah 2 jam, waktu yang mereka lalui bersama. Tak lupa Sindi juga sempat mengabadikan momen kebersamaan mereka.
"Ah yasudah deh, ayok kita pulang." Sindi mengerucutkan bibirnya. Akhirnya dia pasrah. Padahal aslinya dia masih ingin bersama Citra tanpa gangguan Steven dan Angga, dua mahluk yang menurutnya alay. Tetapi tak tega juga dan tak enak kalau memaksa, takut Citra tak nyaman.
Lantas, Sindi pun berdiri sembari merangkul bahu Citra, gadis itu langsung berdiri. Kemudian, keduanya berjalan sama-sama.
"Kamu mau beli apa sebelum pulang? Eh, itu boneka lucu. Kamu kepengen nggak?" Sindi menunjuk penjual boneka yang mereka lewati dan langkah kakinya seketika terhenti.
"Nggak mau, Ma." Citra menggeleng cepat. "Aku nggak seneng boneka."
"Kok nggak seneng? Biasanya cewek suka boneka. Bang! Beli satu boneka yang panda! Itu yang besar!" Sindi berbicara pada penjual boneka itu sembari menunjuk sebuah boneka panda besar yang terbungkus plastik. Meskipun Citra menolak, tetapi tetap dia belikan.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil Bejo, lalu mobil itu pun melaju pergi.
Tak lama mereka pergi, mobil Jarwo tiba di lokasi. Steven langsung turun dari mobil dan disusul oleh Angga. Kedua mata pria berbeda generasi itu lantas mengelilingi taman. Mencari-cari keberadaan Citra dan Sindi sembari melangkahkan kaki.
"Di mana Citra? Kok nggak ada dia?" tanya Steven.
"Ini bukan tamannya? Salah kali," kata Angga. Dia sibuk mengunyah buah apel di mulutnya.
Angga terlihat santai, tetapi berbanding terbalik dengan Steven yang seperti cacing kepanasan. Manik matanya sejak tadi gencar melirik ke sana ke mari.
"Bener kok, Pak. Ini taman Kalijodo." Jarwo menyahut. Juga sambil menunjuk dekorasi tulisan yang bernama Kalijodo diarea taman itu. Dia berjalan mengikuti mereka dari belakang.
"Tapi kok Dedek Gemes nggak ada, Wo?" Angga bertanya lagi.
"Pokoknya kita harus mencari Citra sampai ketemu, Pa. Kalau belum ketemu kita jangan pulang!" titah Steven. Kemudian, dia pun berlari menuju kerumunan yang ada di sana.
__ADS_1
...Iya, Om. Cari sampai malam, ya 😆...