Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
368. Takut jatuh


__ADS_3

"Aku nggak tau, Pa," sahut Sofyan dengan gelengan kepala.


"Kok nggak tau, Yan?" tanya Angga heran.


"Maya bilang dia sudah 2 bulan nggak haid, Pa. Udah dicek pakai tespeck tapi hasilnya negatif, jadi aku mau mengajaknya ke dokter kandungan. Mengeceknya secara langsung," jelas Sofyan.


"Oh begitu." Angga bernapas sedikit lega. Setidaknya dia masih bisa berharap jika Maya tidak hamil.


Bukan maksud tidak mau menginginkan cucu baru, hanya saja rasanya Angga merasa ikut pusing. Jika semuanya ikut hamil.


"Ya mudah-mudahan sih Maya nggak hamil, Pa," ucap Sofyan. "Bukan menolak rezeki, tapi Jordan masih kecil kayaknya. Dia malah baru disapih."


"Semoga saja ya, Yan." Angga tersenyum, lalu mengusap bahu kanan Sofyan. "Papa akan berdo'a yang baik-baik untuk keluarga kita semua."


Sofyan mengangguk. "Ya sudah, ya, Pa, aku pulang dulu." Dia kembali pamit dan mencium punggung tangan Angga, setelah itu masuk ke dalam mobil.


"Kalian masuk saja ke dalam, ada Citra, Mama dan si Kembar di dalam," titah Angga. Berbicara kepada Nissa dan Tian.


"Iya, Pa." Nissa mengangguk, kemudian menggandeng lengan Tian dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Angga, dia memilih masuk ke dalam mobil Steven. Tapi duduk di kursi belakang sebab di depan sudah ada Juna dan Jordan.


Steven langsung mengemudikan mobilnya, dan mobil itu pun melaju pergi. "Kita cari keliling apa gimana ini, Pa?" tanya Steven yang baru saja membuka suara.


"Iya, Stev. Biar di jalan Papa yang lihat-lihat," sahut Angga.


"Di depan sekolah SD juga ada pohon mangga, Om, cari di sana saja," saran Juna menatap Steven.


"Sekolah SD mana?" tanya Steven.


"Nanti Juna kasih tau. Sekarang lurus saja dulu." Menunjuk ke arah depan.


"Oke." Steven hanya mengangguk dan meneruskan laju kendaraannya.


"Juna, Joldan unya mainan balu, lho, pecawat telbang," ucap Jordan dengan cadel. Bocah berumur dua tahun setengah itu berada di samping Juna.


"Ih kamu, Dan! Kan aku sudah bilang, untuk panggil Kakak! Kenapa Juna terus?" Juna tampak mendengus kesal.


"Tapi Papa ngga nyuluh manggil Juna engan cebutan Kaka? Imana itu?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Kan Juna yang suruh, jadi mulai sekarang panggil Juna Kakak!" Juna menepuk dadanya. "Awas kalau nggak, nanti Juna sunat kamu, Dan!" tambahnya mengancam. Jordan dengan refleks menyentuh inti tubuhnya.


"Elum lama Joldan disunat. Maca disunat lagi?"


"Ya biarin, biar dua kali," balas Juna.


"Nggak apa-apa kalau Jordan memanggilmu nama, Jun." Angga yang berada di belakang menyahut. Tentunya dia mendengar percakapan para bocil itu. Yang memang terkadang sering berantem. "Dia 'kan anaknya Pakde Sofyan, sedangkan Pakde itu Kakaknya Mamimu," jelasnya kemudian.


"Tapi dari segi umur 'kan beda Opa!" protes Juna. Dia memutar kepalanya ke arah Angga. Meskipun Jordan anak dari Pakdenya, tapi dilihat dari umur dia jauh di atasnya, jadi kurang sopan menurut Juna. "Nggak sopanlah!"


Angga hanya menghela napas, lalu geleng-geleng kepala.


*


*


*


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai ke sebuah gedung sekolah yang terdapat buah mangga pada halamannya.


"Maaf, Bapak dan Adek mau apa, ya?" tanya seorang satpam yang berdiri di dalam gerbang besi, saat keempat laki-laki berbeda generasi itu turun dari mobil kemudian menghampirinya.


"Pohon mangga ini milik siapa, ya, Pak?" tanya Angga seraya menunjuk ke arah yang dimaksud. "Apa boleh, aku membeli beberapa buah mangganya untuk dipetik?"


"Nggak apa-apa. Memang sengaja cari yang muda."


"Oh, pasti menantunya sedang hamil, ya? Silahkan masuk kalau begitu." Pria berseragam hitam itu lantas membukakan pintu gerbang besi, kemudian melebarkannya. Keempat laki-laki itu langsung melangkah masuk. Juna dan Jordan segera berlari.


"Kamu yang metik ya, Stev, jangan nyuruh Papa," tegur Angga. Dia mendongakkan wajahnya menatap ke atas, beberapa buah mangga itu terlihat begitu banyak dan bergelayut manja pada ketinggian.


"Iya. Tapi Papa carikan galah atau tangga."


"Oke." Angga mengangguk, kemudian melangkah sembari menarik tangan cucu-cucu. "Kalian ikut bantu cari galah dan tangga, ya!"


"Galah itu apa, Opa?" tanya Jordan bingung.


"Dasar bocil! Masa galah aja nggak tau!" celoteh Juna sambil memanyunkan bibirnya, meledek Jordan.


"Emang ngga tau, Jun," sahut Jordan.

__ADS_1


"Ih panggil Kakak Juna!" omelnya marah.


"Galah itu semacam kayu, Dan. Udah, kalian nggak perlu berantem!" tegur Angga menengahi.


Ketiganya pun melangkah mengitari pohon dan halaman sekolah itu, mencari-cari dua benda yang diminta Steven. Sayangnya, sudah cukup lama mencari tapi tak kunjung ketemu.


Alhasil, mereka pun kembali menghampiri Steven lagi, yang tengah berkacak pinggang sambil mendongakkan kepalanya menatap mangga.


"Galah sama tangganya nggak ada, Stev, sudah dicari tetap nggak ada," ucap Angga.


"Lho, terus gimana kita ngambil mangganya, Pa?" tanya Steven bingung seraya menoleh.


"Panjat saja, Om," saran Juna.


"Gila aja kamu, Jun! Masa Om manjat?" Steven menunjuk wajahnya sendiri. Lantas menggelengkan kepala. "Nggak mau lah."


"Kalau begitu kita coba lempar saja mangganya dengan batu. Seperti ini, Om!" Juna membungkukkan badannya untuk mengambil sebuah batu yang cukup besar. Setelah itu dia lempar ke salah satu buah mangga. Sayangnya, bukannya buah itu jatuh, tapi batu itu justru mengenai kepala Steven.


Puk!


"Aaww!" jerit Steven sambil mengusap puncak rambutnya. Terasa sakit dan perih, saat diraba pun seperti benjol. "Kau ini! Sakit tau!" omelnya marah. Mata Steven sudah melotot dengan wajah yang merah karena emosi.


"Jangan lempar sembarangan, Jun! Itu berbahaya!" tegur Angga. Cepat-cepat dia menarik tubuh Juna untuk berdiri di belakangnya, khawatir kalau sampai Steven mengomelinya dengan ucapan kasar.


"Maaf Opa! Om!" seru Juna dengan menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat menyesal sekaligus takut dimarahi.


"Terus ngambil mangganya gimana sekarang, Pa? Kalau suruh manjat aku nggak mau ah!" tolak Steven dengan gelengan kepala.


"Kan Papa sudah nyuruh kamu saat di rumah untuk manjat pohon, Stev. Manjatlah sekarang."


"Aku juga udah bilang kalau nggak bisa, Pa!" tegas Steven.


"Bisa, masa nggak bisa? Papa setua ini saja masih bisa. Masa kamu kalah." Angga menepuk dadanya.


"Kalau aku jatuh bagaimana nanti? Masa si kembar jadi yatim? Citra juga terlalu muda untuk jadi janda, Pa." Sudah lama sekali Steven tidak memanjat pohon, dan rasanya dia takut kalau sampai nanti terjatuh.


"Lebay banget sih kamu, Stev. Masa jatuh dari pohon bisa buat orang mati? Nggak mungkinlah," kilah Angga. Dia geleng-geleng kepala.


"Bisa saja. Kan nggak tau, Pa."

__ADS_1


"Ya kamunya hati-hati," saran Angga. "Tapi Papa 'kan ada di sini, nanti Papa tangkep kamu dari bawah, kalau sampai kamu jatuh."


...Padahal rencananya mau up laginya bulan depan 🤣 tapi ga tega sama kalian karena terus ditagih 🙈...


__ADS_2