
"Pa!" pekik Steven.
"Om ...." Citra langsung menyentuh lengan kiri suaminya dan membuat Steven menoleh. "Bukannya tadi Om bilang Papa nggak boleh ngomong, ya? Apa Om lupa?" Citra mengingatkan. Dia juga merasa kasihan pada Angga.
"Ah iya, aku lupa." Steven membuang napasnya dengan kasar.
'Beda banget, ya, Dedek Gemes sama Steven. Dia mah lembut dan penyayang, nggak kayak Steven. Mirip siapa sih si Steven itu? Jauh banget kayak aku. Apa jangan-jangan dia bukan anak kandungku, ya?' Angga menerka dalam hati dengan bibir yang mengerucut.
"Papa boleh deh ngomong sekarang, kecuali sama Citra," ujar Steven. Sebab dia merasa penasaran dengan alasan Angga tentang kolor.
"Pa, jawab dong." Steven masih menunggu jawaban, suaranya sudah tak lagi tinggi. Agak lembut.
Namun, Angga memilih mengabaikannya. Dia tak menjawab dan diam saja.
'Sekalinya boleh ngomong tapi sama dia doang. Ah males amat, mending aku puasa saja!' gerutu Angga. Netranya beralih menatap Citra dikaca, gadis itu tengah membaca buku. 'Tapi lumayan juga bisa lihat wajah Dedek Gemes. Dia makin cantik saja saat hamil, semoga cucuku laki-laki. Biar si Steven nambah saingan,' batinnya kemudian tersenyum menyeringai.
Steven berdecak sebal mengetahui Angga tak menanggapinya. 'Nyebelin banget Papa, awas saja. Kolornya nggak akan aku pakai.'
Tak lama mobil baru Steven berhenti di depan mini market.
Citra segera menaruh bukunya di dalam tas, kemudian turun. Steven juga cepat-cepat menyusul. Takut jika nantinya Angga merangkul bahu istrinya. Sebab pria itu turun berbarengan dengan Citra.
*
"Papa mau rasa apa?" tanya Citra saat Steven membuka etalase freezer es krim. Mereka bertiga sudah masuk ke dalam mini market.
Angga menunjuk es krim cone rasa strawberry. Persis es krim yang sama saat pertama kali dia dan Citra makan. Merek es krim itu juga tak ada kacang di dalamnya.
"Kok cuma Papa doang yang ditanyain aku nggak?" ujar Steven merengut.
"Memangnya Om suka es krim?" Citra menoleh ke arah Steven sambil tersenyum.
"Suka."
"Ya sudah, ayok pilih yang mana?" Citra mengambil dua es krim rasa strawberry untuknya dan Angga.
"Aku pengen makannya barengan sama kamu."
"Iya, nanti kita makan bareng. Sekarang Om pilih yang mana?"
"Maksudnya barengan satu es krim sama kamu, Cit."
__ADS_1
"Memangnya Om nggak jijik? Katanya nggak boleh makan bekas orang."
"Itu bukan bekas, kan barengan. Sudah ayok. Kita bayar, nanti keburu meleleh." Steven menarik lengan Citra, mengajaknya menuju kasir. Angga mengekori mereka sampai keluar dari mini market.
"Jangan naik mobil dulu, Om. Makan dulu di sini." Citra menahan tubuhnya saat Steven mengajaknya masuk ke dalam mobil. Lantas dia pun menunjuk teras mini market itu. Dan kemudian langsung duduk di sana. Ada tiga kursi yang kosong dan di tengahnya meja bundar. "Ayok, Pa."
Steven dan Angga langsung menurut, mereka pun duduk di sana.
"Kita foto dulu, yuk!" Citra mengambil ponselnya, lalu melakukan foto selvi. Steven dan Angga terlihat menurut lagi, mereka pun akhirnya foto bertiga. "Sayangnya Mama nggak ikut ya, Om, Pa. Jadi kurang lengkap."
Angga mengangguk seraya tersenyum, kemudian dia pun lantas berdiri. Dia merasa ingin membuang air kecil.
"Papa mau ke mana? Jangan pulang dulu. Kita makan es krim di sini," pinta Citra.
Angga mengangguk, lalu menunjuk ke dalam mini market.
"Papa mau apa?" tanya Steven. Namun papanya itu tak menjawab, dia langsung masuk ke dalam sana. Steven yang merasa penasaran segera menyusul.
Angga menghampiri seorang karyawan pria mini market.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pria berbaju merah tersebut. Dia memegang gagang sapu.
"Papa mau apa, sih? Ayok duduk lagi diluar. Citra nungguin. Cepat makan es krim, aku banyak kerjaan di kantor." Steven menarik lengan Angga, tetapi pria itu menahan kakinya. Dia menggeleng cepat dan menepis tangan Steven dengan kasar. "Papa jangan kayak anak kecil deh."
Angga melangkah, kali ini menemui kasir. Namun lagi-lagi Steven mencekal lengannya.
"Papa mau apa sebenarnya?" Steven masih penasaran sebab papanya itu belum memberikan jawaban. Angga berbalik badan, lalu menunjuk inti tubuhnya.
'Papa mau kencing, Stev! Kenapa kamu menghalangi terus? Papa mau numpang ke toilet!' Angga menyeru dalam hati.
Kening Steven mengerenyit, tak paham dengan apa yang dimaksud.
"Papa mau beli k*ndom? Apa sempaak?" tebak Steven.
Angga mengepalkan kedua tangannya. Geram pada Steven yang tak mengerti maksudnya. Lantas, segera Angga pun berlari keluar dari mini market.
"Pa! Kok pergi?" Steven ikut berlari keluar mengejarnya.
Angga berlari dengan kepala yang menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari toilet umum. Pandangan matanya seketika tertuju pada musholla yang kebetulan letaknya tak jauh dari mini market itu dan tak perlu menyebrang jalan. Gegas dia pun berlari menuju ke sana.
Steven yang sejak tadi mengikuti, sekarang ikut juga ke sana. Dia penasaran bercampur bingung dengan apa yang mau Angga lakukan.
__ADS_1
"Mau ngapain Papa ke musholla? Apa mau sholat? Tapi sholat apa? Apa Dhuha?" gumam Steven.
Melihat Angga menuju toilet di samping musholla itu, segera Steven pun menghampiri. Sampai akhirnya dia ikut masuk ke dalam.
"Papa mau ngapain sih sebenarnya sampai lari-lari? Pakai masuk ke toilet segala?" tanya Steven sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Capek rasanya lari-lari.
Kembali, Angga tak menjawab pertanyaan. Dia juga tak peduli dengan kehadiran Steven. Yang terpenting sekarang dia bisa kencing.
Perlahan Angga memasukkan tangan kanannya ke dalam celana, lalu menyembulkan seekor burung berkerut dari dalam sana. Tak lama kemudian, air mancurnya keluar dan mengarah pada lubang kloset.
Steven membulatkan matanya dengan lebar. Terkejut dengan apa yang Angga lakukan. Juga dengan penampakan burung berbulu itu. Cepat-cepat dia pun berlari keluar dan toilet sambil menggerutu.
"Nggak jelas banget Papa! Ternyata dia mau kencing? Terus untuk apa aku mengikutinya? Nggak penting banget." Steven memutuskan untuk kembali lagi ke mini market, menemui Citra.
Dilihat gadis itu baru saja berdiri. Kedua tangannya masih memegang es krim.
"Om habis dari mana dan mana Papa?"
"Papa kencing. Ayok kita ke kampus sekarang." Steven merangkul pinggang Citra, lalu mengajaknya masuk ke dalam.
"Papa bagaimana dan ini es krimnya?"
"Papa nanti dijemput Bejo. Itu es krimnya makan saja bareng denganku. Nanti Papa tinggal beli lagi, nggak usah mikirin dia."
Citra mengangguk, perlahan membuka kemasan es krim itu.
*
*
"Pagi Citra!" sapa Lusi, Rosa dan David saat melihat Citra baru saja turun dari mobil bersama Steven.
"Pagi juga," jawab Citra sambil tersenyum. Lusi dan Rosa langsung memeluk tubuh gadis itu, menyambutnya yang baru saja kembali untuk kuliah.
Dari kejauhan, Steven menatap silauan cahaya yang memantul dari matahari. Dia memicingkan matanya, lalu menghalangi wajahnya dengan telapak tangan.
Namun, cahaya itu makin lama makin dekat. Dan kedekatannya membuat Steven mencium aroma tidak sedap.
"Pagi Citra, Om Ganteng," sapa Udin. Rupanya, silauan itu berasal dari giginya yang saat ini dia sedang nyengir kuda. Dia sudah sembuh sejak beberapa Minggu yang lalu. Gigi Udin juga sudah berganti emas dan berkawat berlian. Begitu menakjubkan sekali lelaki itu, hasil renovasi dokter dan modal dari Steven tentunya. "Bagaimana, Om, pasti Om iri sama aku, ya? Karena aku jauh lebih ganteng sekarang," tambahnya dengan pede.
...Siapa nih yang kangen si Udin? 🙈 Kemarin ada yang nanyain. Semoga seneng ya 🤣...
__ADS_1