Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
386. Memancingku untuk bercinta


__ADS_3

"Parah banget, Papa. Omes! Mana bisa aku bercinta? Aku 'kan masih perjaka, Pa."


"Perjaka apanya sih, Stev?" Angga mendengkus saat mendengar jawaban dari anaknya. "Mana ada kamu perjaka, terus si kembar anak siapa?"


"Udah turuti saja permintaan Papa, Stev." Sofyan menimpali, demi membujuk adiknya supaya setuju. "Mungkin dengan begitu, kamu akan sedikit demi sedikit mengingat pernikahan kalian."


Steven menatap kakaknya, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau, Kak. Lagian aku juga capek, kan baru keluar dari rumah sakit. Nggak ada tenaga juga, aku mau cepat istirahat saja."


Ingatan Steven tidak sampai kepada momen dimana dia pernah bercinta dengan Citra. Jelas, kepada Citranya saja dia tidak ingat, apalagi dengan momennya, iya, kan?


'Lagian aku nggak yakin ... kalau aku bisa bercinta sama Citra. Secara aku 'kan nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Hatiku masih untuk Imel,' batin Steven.


"Tapi, Stev, si Citra ...." Ucapan Angga seketika terhenti saat Sindi langsung menyentuh punggung tangannya, dan membuat pria tua itu menoleh.


"Kalau memang Steven masih sakit, nggak jadi juga nggak apa-apa, Pa." Sindi menyetujui permintaan Steven sebab dia merasa percaya dengan apa yang anaknya itu katakan.


Kalau memang tubuh Steven belum fit kemudian dipaksa—itu justru akan memengaruhi kondisinya. Dan bisa-bisa ingatannya tidak cepat pulih.


Sindi pun perlahan mendekat, lalu berbisik ke telinga kanan suaminya. "Masih ada lain waktu, Pa. Toh ... meskipun Steven dan Citra nggak menghabiskan malam di hotel, di rumah juga bisa," tambahnya memberikan saran.


"Tapi si Steven 'kan dari dulu memang sangat suka bercinta sambil melihat bintang, Ma. Papa pikir dengan begitu ... ingatannya akan cepat pulih." Tampaknya Angga belum setuju.


"Ya tapi Papa 'kan dengar sendiri tadi ... Steven bilang dia nggak ada tenaga. Orang lemes mana bisa bercinta, Pa."


"Kan ada obat kuat, Ma. Nanti Papa kasih dia obat kuat."


"Belum tentu Stevennya mau. Udah mending turuti saja dulu kemauan Steven, Kita juga 'kan nggak bisa memaksa ...." Ucapan Sindi seketika terhenti saat melihat Citra telah datang. Dia dan suaminya itu langsung menatap ke arah Citra dan mengerutkan keningnya, sebab wajah dan mata gadis itu terlihat merah.


"Maaf kalau lama," kata Citra sambil tersenyum, kemudian menarik kursinya dan duduk kembali.

__ADS_1


"Kamu habis ngapain, Dek?" tanya Angga penasaran.


"Habis pipis, Pa," jawab Citra menatap Angga dan masih mengulas senyum.


"Kok matamu merah? Jangan bilang kamu habis nangis?"


"Enggak," bantah Citra dengan gelengan kepala. "Ngapain juga aku nangis, Pa, memangnya apa yang perlu aku tangisi?" Matanya melirik ke arah Steven, dilihat suaminya itu masih fokus makan, tanpa memerdulikan sekitar.


"Oh ya sudah. Sekarang lanjutkan makan, terus kita pulang sama-sama," ajak Angga sambil tersenyum.


"Pulang sama-sama?" Kening Citra tampak mengernyit. Dia menatap heran Angga, sebab dia tentu ingat—jika mertuanya itu mengusulkan untuk menghabiskan malam di hotel.


"Iya, Dek. Kamu dan Steven bermalam di hotelnya nanti saja, ya? Soalnya tadi Steven bilang ... dia masih lemes." Jujur saja Angga tidak enak mengatakan hal itu, sebab pastinya akan membuat Citra kecewa. Hanya saja kali ini—dia memang tak bisa memaksa Steven, khawatir dengan kondisinya.


"Tunggu beberapa harian lagi, ya, Cit." Sindi ikut menimpali.


"Oh ya sudah nggak apa-apa." Meskipun memang kecewa dan sedih, tapi nyatanya Citra masih bisa tersenyum. Demi menutupi segalanya. "Nggak masalah juga, lagian aku dan Aa 'kan bukan pengantin baru lagi, Ma, Pa," tambahnya.


***


"Sekarang kalian berdua istirahatlah, si Kembar biar tidurnya sama Papa dan Mama," ucap Angga ketika dia, Sindi, Steven dan Citra berdiri di kamar Steven.


"Aku tidur bersama Citra, Pa?" tanya Steven menatap Papanya.


"Iyalah," balas Angga. "Kali ini kamu nggak boleh membantah lagi. Kan diajak ke hotel kamu nggak mau."


"Ah ya sudah deh." Steven melangkah lesu, kemudian masuk lebih dulu ke dalam sana.


Perlahan Angga meraih tangan kanan Citra, lalu mengusapnya dengan lembut. "Dek, Papa minta tolong terima keadaan Steven, ya?" pinta Angga yang entah sudah berapa kali mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


"Iya, Papa tenang saja." Citra tersenyum dengan anggukan kepala. "Aku juga yakin ... kalau ingatan Aa akan pulih. Hanya saja aku musti banyak bersabar."


"Iya. Terima kasih ya, Dek." Angga menyentuh puncak rambut Citra, lalu mengelusnya dengan lembut.


"Sama-sama. Selamat malam, Pa, Ma."


"Malam." Angga dan Sindi menjawab secara bersamaan.


Setelah itu, Citra masuk ke dalam kamar, kemudian menutup pintu serta menguncinya. Dilihat Steven sedang duduk selonjoran di atas sofa sambil bermain ponsel.


"Kok Aa nggak tiduran di kasur?" tanya Citra yang melangkah menuju lemari untuk mengambil baju tidur.


"Aku lagi kepengen duduk di sofa," jawabnya yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Ooh. Terus ... Aa nggak mau ganti baju? Mau sekalian aku ambilkan baju ganti buat tidur nggak?" tawarnya dengan penuh perhatian.


"Nggak usah," tolaknya, lalu mengusap kaos yang dia pakai di area dada. "Aku mau pakai baju ini."


"Oh ya sudah." Setelah mengambil baju ganti, Citra pun menaruhnya di atas kasur, kemudian mulai membuka baju yang dia pakai.


Steven yang tak sengaja melihat, sontak membulatkan mata. Kemudian langsung dia mengalihkan pandangan ke arah lain, saat gadis itu hendak membuka bra berwarna merahnya. "Yang benar saja kamu, Cit, ganti baju di sini," gerutu Steven, kedua pipinya itu langsung merona. Merasa malu sendiri sebab sempat melihat belahan dada.


"Lho, kenapa memangnya? Aa juga sering ganti baju di depanku. Masa aku nggak boleh."


"Mana pernah aku begitu."


"Ya mungkin Aa lupa. Jadi wajar saja." Setelah sudah memakai baju ganti, Citra pun berjalan menuju kamar mandi sambil membawa baju yang dia lepaskan itu.


Steven langsung meliriknya, dan melihat tubuh Citra dari belakang. Namun sontak, dia kembali membulatkan mata, lantaran terkejut sebab baju ganti yang Citra pakai ini adalah lingerie berwarna hitam dan begitu transparan. Belahan bo*kongnya saja terekspos dengan jelas tadi.

__ADS_1


'Gila sih ini, nggak Papa nggak Citra, mereka seperti memancingku untuk bercinta. Padahal, kan aku nggak ada pengalaman apa-apa,' batinnya dengan bersusah payah menelan ludah. 'Tapi ngomong-ngomong ... bagaimana caranya si Citra bisa hamil si Kembar, kalau mereka adalah anakku? Ini sungguh aneh. Bahkan rasanya pun aku nggak mengingatnya, apakah enak atau nggak.


...Ya mangkanya dicoba, Om, siapa tau ketagihan nanti 🤣...


__ADS_2