Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
103. M*sum sekali si Steven


__ADS_3

Perlahan, sesuatu di atas kepala gadis itu terjatuh dan kedua pria itu pun langsung menurunkan pandangan. Mata mereka seketika membulat kala sesuatu yang jatuh itu adalah sebuah wig. Dan kini rambut gadis itu langsung terurai panjang.


"Lho, ternyata dia pakai wig?" seru keduanya sembari menelan ludah. Tubuh keduanya langsung bergetar, sebab mereka takut akan ancaman Steven kalau mereka gagal menculik Sisil.


"Berarti kita salah culik dong? Bagaimana ini, Di?" tanya Ali dengan mimik takut menatap temannya.


"Aku nggak—" Aldi hendak menjawab, tetapi tak jadi sebab Sindi sudah menyela.


"Cepat bawa dia masuk! Tuli banget sih kalian!" Sindi kembali berteriak, dia tampak geram melihat sikap keduanya yang tak kunjung mendengarkan perintahnya.


Aldi dan Ali pun mengangguk, kemudian mereka melangkah mengekori Sindi.


Sindi melebarkan pintu kamar Steven, lalu mereka pun masuk dan perlahan Aldi membaringkan tubuh Citra.


"Pak Steven dan Pak Angga mana, ya, Bu?" tanya Ali, sejak datang tadi mereka memang tak melihat dua pria itu.


"Mereka sedang mencari Citra," jawab Sindi sembari menarik selimut untuk Citra sampai di atas dada.


"Kok mencari Citra? Bukannya mereka mau Sisil yang diculik?" tanya Ali lagi. Dia dan temannya terlihat bingung.


"Kalian ini ngomongin Sisil mulu dari tadi, nggak penting banget. Yang Steven cari itu Citra. Dia orangnya." Sindi mengerakkan dagunya ke arah Citra. "Apa yang kalian lakukan sampai Citra pingsan begini? Dan kenapa nggak bawa dia ke rumah sakit?" Sindi menyentuh dahi Citra dengan punggung tangannya.


"Dia pingsan karena sempat kami bius, Bu."


"Kamu yang bius, Al," sela Aldi cepat.


"Tapi kamu yang nyuruh lho," ujar Ali.


"Ya aku kira dia Sisil, mangakanya aku menyuruhmu."


"Lagian kamu nggak bisa bedain orang, jadi salah, kan?"


"Kok kamu malah nyalahin aku?" Aldi menunjuk wajahnya sendiri, matanya terlihat melolot. "Kamu juga sama saja enggak—"


"Kenapa kalian malah berdebat?!" sergah Sindi marah. Ocehan mereka cukup nyaring dan mengusik indera pendengarannya. "Steven hanya mencari Citra, bukan Sisil! Sekarang kalian pergi dari sini!" berangnya sambil menunjuk pintu.


"Tapi kami belum mendapatkan uang dari Pak Steven, Bu. Apa kami boleh tunggu di ruang tamu dulu sambil ngopi?" pinta Ali.


"Kami juga belum makan dan tadi sarapan hanya sedikit." Aldi menambahkan sembari mengusap perutnya yang tiba-tiba terdengar bunyi cacing. "Boleh dong kami numpang makan juga di sini?"


"Enak saja numpang makan dan ngopi. Memang kalian tamu?" Sindi menarik sudut bibirnya ke atas, lalu dia pun merogoh ponsel pada kantong celananya. "Kalian dibayar berapa sama Steven untuk menculik? Aku yang akan bayar."


Dari pada telinganya sakit, Sindi lebih baik memberikan mereka uang saja, supaya keduanya cepat-cepat pulang.

__ADS_1


Mata keduanya pun langsung berbinar kala mendengar itu, lantas mereka pun berucap secara bersamaan, tetapi tidak sejalan.


"50 juta," ucap Aldi.


"100 juta," ucap Ali.


"Yang benar yang mana?" tanya Sindi bingung.


"100 juta perorang, Bu. Jadi totalnya 200 juta." Yang menjawab Ali.


"Berapa nomor rekening kalian?"


Mereka berdua langsung menyebutkan. Tetapi Sindi hanya mengirimkan satu juta perorang.


"Sudah dikirim, ya. Sekarang kalian pulang."


"Oke, terima kasih, Bu." Aldi mengangguk semangat sambil tersenyum dengan pipi merona. Kemudian, mereka pun melangkah pergi meninggalkan rumah mewah itu.


"Kamu sengaja, ya, bilang 100 juta perorang tadi?" tanya Aldi pada temannya. Padahal, mereka biasanya membandrol 50 juta setiap rencana yang sudah berhasil dijalankan.


"Iya," jawab Ali sambil terkekeh. "Sengaja aku mau ngerjain Bu Sindi. Tapi lumayan juga 'kan kita dapat untung."


Aldi ikut terkekeh. "Bagus juga sih, aku mau beli motor baru deh habis ini."


...(Flashback Off)...


Angga yang baru saja datang ke rumah sakit langsung berlari menuju ruang UGD, dia pun bertemu dengan Jarwo yang tengah duduk di kursi panjang. Pria berwajah sangar itu langsung berdiri saat melihat kedatangannya.


"Steven kenapa lagi? Dibegal?" tanyanya sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


"Dia ...." Belum sempat Jarwo menerus ucapannya, tetapi sudah terhenti lantaran ada seorang dokter yang keluar dari pintu ruang UGD. Seorang dokter berkacamata dan dia menghampiri mereka berdua.


"Apa Anda Ayahnya Pak Steven Prasetyo?" tanya dokter itu seraya menatap wajah Angga dan pria itu langsung mengangguk cepat.


"Iya, saya Papanya. Steven kenapa, ya, Dok?"


"Boleh kita bicara sebentar? Bapak ikut saya ke ruangan saya."


"Oke." Angga mengangguk. Lantas, segera dia mengekori langkah kaki dokter yang masuk ke sebuah ruangan. Kemudian duduk di kursi di depan yang terhalang meja dengan sang dokter.


"Apa selama ini Pak Steven mengalami stress karena banyak pikiran?" tanya Dokter.


"Iya, kok Dokter tahu? Dokter dukun, ya?"

__ADS_1


Dokter itu langsung terkekeh. "Saya Dokter, Pak. Bukan dukun."


"Aku hanya bercanda." Angga terkekeh. "Eemm ... Steven memang akhir-akhir ini banyak pikiran, aku juga sama sih, memang kenapa ya, Dok?"


"Beliau mengalami gejala Psikosis, Pak."


"Psikosis itu apa, Dok?"


"Psikosis adalah penyakit mental yang menyebabkan pengidapnya mengalami gangguan dalam membedakan antara imajinasi dengan realita. Gangguan munculnya gejala halusinasi dan waham atau delusi," jelas Dokter itu.


Mata Angga seketika terbelalak, kaget sekaligus tak menyangka dengan apa yang dokter itu sampaikan. "Jadi ini artinya Steven gila, Dok?"


"Pak Steven belum gila, tapi bisa gila kalau penyakit itu tidak segera dicegah."


"Caranya?"


"Saya akan memberikan obat antipsikotik untuk membantu meringankan gejala utama, yaitu delusi dan halusinasinya. Nanti Pak Steven akan meminum sesuai anjuran dari saya. Kalau nggak ada perubahan Pak Steven baru ke psikiater. Tapi sebelum itu, maaf ... apa saya boleh tahu siapa itu Citra?"


"Dokter kenal Citra juga?"


"Bukan saya kenal, tapi sejak tadi saya priksa keadaan Pak Steven ... dia terus mengoceh nama Citra, Pak. Dia mengatakan kalau dia mencintai Citra, dia ingin mencium, memeluk, menyusu dan bercinta," jelas dokter itu memberitahu.


Sontak—Angga pun tersendak ludahnya sendiri karena sangking kagetnya. "Uhuk! Uhuk! Serius, Steven ngomong kayak gitu, Dok?"


Dokter mengangguk. "Iya, saya sampai ingat. Karena dia mengoceh cukup keras."


"Mesum sekali si Steven." Angga bergidik ngeri sambil geleng-geleng kepala.


"Jadi Citra itu siapanya Pak Steven, Pak?"


"Pacar, tapi saat ini dia sedang dibawa kabur seseorang. Kebetulan aku dan Steven memang sedang mencarinya, Dok." Bola mata Angga seketika berkaca-kaca kala kembali mengingat Citra yang tak kunjung ditemukan.


"Semoga perempuan yang bernama Citra cepat bertemu dengan Pak Steven, ya, Pak. Karena mungkin saja dia menjadi obatnya."


"Amin, Dok." Angga mengangguk.


"Sekarang Pak Steven sudah boleh pulang. Bapak silahkan ambil obat ini di apotek rumah sakit." Dokter itu menyodorkan selembar kertas yang bertuliskan resep obat ke arah Angga. "Bapak juga harus mengingatkan Pak Steven untuk mengontrol emosi kalau dia sedang marah, karena itu juga bisa membahayakan mentalnya."


"Baik, Dok. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi." Angga berdiri, dia pun tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu sembari memegang resep obat.


'Semoga saja aku nggak mengalami hal seperti Steven karena sangking rindunya dengan Dedek Gemes.' Angga perlahan membuang napasnya dengan kasar. 'Kasihan juga lihat Steven, dan semoga saja saat pulang nanti ... dipinggir jalan kita bertemu Dedek Gemes.'


'Eh tapi, kok Steven mengocehnya mesum banget, ya? Apa jangan-jangan mereka pacaran sudah sampai ..? Ah nggak mungkin.' Angga menggeleng cepat. 'Steven nggak mungkin melakukan hal seperti itu dan Dedek Gemes juga pasti menolaknya. Iya, aku yakin itu.' Angga manggut-manggut.

__ADS_1


...Yakin, Om Ganteng nggak melakukannya? Jangan nangis entar ya, Opa😂🤭...


__ADS_2