Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
138. Ada gangguan jiwa


__ADS_3

"Dia hamil, Bu," jawab Aldi.


Sontak—mata Sindi terbelalak. Dia tampak kaget. "Hamil?" Sindi terdiam beberapa saat. "Tapi kenapa kalian meminta Pak Angga untuk datang? Atau jangan-jangan ...." Sindi kembali terkejut dan refleks menutup mulutnya yang menganga.


'Apa jangan-jangan Papa yang menghamili Fira? Ah, tapi nggak mungkin.' Entah pikiran negatif dari mana, tetapi dengan cepat Sindi menepisnya. Dia yakin Angga adalah pria yang setia meski memang suka genit ke perempuan lain.


"Kenapa kalian meminta Pak Angga untuk datang? Apa alasan ...." Sindi ingin melontarkan pertanyaannya lagi kepada dua pria di depannya. Namun tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, lalu keluarlah Fira dan Tian.


"Tante Sindi? Kok Tante ada di sini?" tanya Fira yang mendadak merasa panik. Sebab di sampingnya ada Tian. Cepat-cepat dia pun menepis lengan pacarnya yang sejak tadi merangkul bahunya, kemudian melangkah mendekati Sindi.


"Tante nggak sengaja lewat. Oh, selamat atas pernikahan kalian." Sindi langsung mengulurkan tangannya. Dia memberikan ucapan selamat lantaran melihat mereka berdua memakai pakaian pengantin.


"Jadi Om Tian pacarnya Safira?" Sejak tadi Citra diam saja. Tetapi tiba-tiba pertanyaan itu lolos sebab melihat kehadiran Tian.


"Kami nggak—"


"Iya, itu benar," sergah Tian cepat. Menyela ucapan Fira. Kemudian dirinya membalas uluran tangan Sindi yang diberikan oleh Fira, sebab tak kunjung mendapatkan balasan. "Terima kasih, Bu. Kalau begitu kami permisi dulu, ya?" Tian tersenyum, lalu merangkul bahu Fira. Sedikit menekannya supaya gadis itu melangkah bersamanya.


"Tante Sindi, aku ...." Lidah Fira lagi-lagi kelu. Susah untuk berbicara bebas. Dia memutar kepalanya menatap Sindi di belakang yang kini tengah merangkul bahu Citra. Air matanya seketika lolos. Hatinya hancur bak tertusuk-tusuk melihat Sindi yang terlihat sudah dekat dan bahkan sepertinya sayang kepada Citra.


Dia tadi sempat berkelit, berbohong tentang pernah bercinta dengan orang lain dan anak yang dikandungnya bukan darah daging Tian.


Namun, Tian yang tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi membuatnya yakin kalau Fira hanya berbohong. Mungkin gadis itu sengaja mengatakannya supaya tak mau menikah dengannya. Itu saja yang terpikirkan oleh benak Tian.


'Si*lan! Ini semua gara-gara gadis bau kencur itu! Aku nggak akan membiarkan hidupmu bahagia di atas penderitaanku. Tunggu pembalasanku, Cit!' serunya dalam hati. Matanya melototi Citra dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Dilihat gadis itu juga melototinya dan bahkan tersenyum miring.


Ada rasa kepuasan tersendiri di dalam hati Citra saat tahu Fira hamil. Citra tak peduli kalau memang Fira akan menjadi Tantenya, yang terpenting sekarang—Steven sudah memilihnya.


"Sekarang kita bagaimana, Di?" tanya Ali kepada temannya. Dia bingung untuk bertindak apa lagi.


"Kita pulang saja dulu, tunggu kabar dari Pak Angga, Al."


"Ya sudah, ayok." Ali mengangguk. Keduanya pun tersenyum menatap Citra dan Sindi, kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


*


*


"Mama kok kelihatan sedih? Mama sedih, ya, gara-gara Safira hamil?" tanya Citra seraya menatap Sindi dari samping. Mereka tengah melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter.


Hatinya mendadak keruh melihat ekspresi sang mertua. Memang dia tahu jika Sindi terlihat menyayangi Fira. Tetapi rasanya Citra tak suka. Bahkan sangat.


Sindi menggeleng cepat. Wajah sendunya langsung berubah saat dirinya menarik sudut bibir. "Mama nggak sedih. Cuma kecewa saja."


"Kecewa kenapa?" tanya Citra makin penasaran. "Apa karena Safira nggak jadi menantu Mama?"


Sindi langsung menghentikan langkahnya, lalu menangkup kedua pipi menantunya. Bola mata gadis itu tampak berkaca-kaca, seperti hendak menangis.


"Bukan!" bantah Sindi sambil menggelengkan kepala.


Jujur, memang dulu dia kecewa saat tahu Steven dan Fira tak jadi menikah dikarenakan Steven sudah menikah dengan Citra.


Sindi memang belum kenal dekat dengan Citra, tetapi dia sedang berusaha. Dia juga belum tahu apa kelebihannya. Namun biarkan waktu yang menjawab. Yang terpenting sekarang—Sindi mencoba menerima dan menyayangi Citra. Dia juga melihat Steven, karena pria itu sangat mencintai Citra.


"Mama kecewa karena dulu sempat mikir kalau Fira perempuan yang sempurna. Dan tentunya perempuan baik-baik. Tapi ternyata dia murahan," imbuh Sindi. "Mama nggak nyangka kalau dia bisa hamil diluar nikah. Berzinah, bagi Mama itu adalah hal yang menjijikkan."


Citra hanya diam, tetapi hatinya terasa hangat mendengar apa yang Sindi katakan.


"Eemm ... sudah ayok kita lanjutkan jalannya. Nggak usah ngomongin Fira lagi. Dia nggak penting." Sindi mengusap kedua kelopak mata Citra, lalu merangkul bahunya lagi.


Kaki keduanya melangkah hingga terhenti di depan ruang kandungan. Kening Citra seketika mengerenyit. Dia tampak bingung.


"Kok kita ke dokter kandungan, Ma? Mama hamil?" tanya Citra.


"Kok Mama? Memangnya Steven semalam nggak bilang sama kamu?" Sindi menuju tempat pendaftaran, lalu mendaftarkan nama Citra.


"Bilang apa? Om Ganteng nggak ngomong apa-apa perasaan." Citra mengingat-ngingat kejadian semalam. Apa saja yang pria itu katakan, tetapi sepertinya ucapan Steven hanya kalimat-kalimat cinta saja.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti juga tahu sendiri kok."


Selesai mendaftar, mereka langsung masuk. Sebab tak ada yang mengantre sama sekali. Citra diminta oleh dokter untuk berbaring.


Gadis itu langsung menurut, berbaring di atas tempat tidur.


Mendadak, jantung Citra terasa berdebar kencang kala Dokter perempuan berambut pendek itu hendak menyingkap kaosnya. Dia akan melakukan pemeriksaan USG.


'Apa jangan-jangan aku hamil? Tapi bagaimana kuliahku nanti?' batin Citra sembari menelan ludahnya dengan kasar. Dia menatap monitor USG dengan wajah cemas. 'Dan Om Ganteng juga nggak mau aku hamil, kan?'


"Bagaimana kandungan, Dok?" tanya Sindi dengan senyuman manis. Dia sejak tadi fokus menatap monitor.


"Semuanya bagus dan normal. Tapi saya sarankan Nona Citra untuk mengkonsumsi susu ibu hamil setiap hari ya, Bu. Jaga kondisinya juga supaya jangan terlalu capek," jelas Dokter itu.


***


Sementara itu di taman.


Matahari sudah berada di atas kepala. Menunjukkan bahwa ini sudah tengah hari. Begitu panas dan membuat gerah.


Angga tengah makan mie ayam dengan lahap di sebuah kios kecil. Minumnya es teh manis. Dia betul-betul haus dan lapar karena telah membantu Steven mencari Citra. Namun sayangnya, semua usaha mereka tak berhasil.


"Bapak nggak kasihan sama Pak Steven?" tanya Jarwo yang ada di sana. Duduk di depan Angga dan menyantap menu yang sama.


Mata Jarwo tertuju pada Steven. Pria itu tengah duduk di rumput sambil menatap sekitar. Dia sudah diajak Angga untuk pulang, atau setidaknya berteduh sebentar sambil istirahat dan makan.


Akan tetapi pria itu menolak. Dia malah bersikukuh duduk kepanasan di sana dan masih mencari keberadaan Citra sambil melirik ke sana kemari.


"Kasihanilah, masa nggak. Tapi kamu 'kan tahu si Steven ada gangguan jiwa. Jadi begitu dia kadang-kadang. Susah diatur."


"Oh, jadi Pak Steven ada gangguan jiwa?" Jarwo sendiri baru tahu. "Tapi, Pak. Bagaimana kita bujuk dia pulang dengan alasan Nona Citra sudah ada di hotel saja?" saran Jarwo.


...Iya, noh. Om Jarwo sarannya bener. Kasihan Om Ganteng kepanasan. Nanti gosong lagi lama-lama 😆...

__ADS_1


__ADS_2