
"Nggak apa-apa kalau Papi Abi mau ikut, Jun, jangan dilarang," ucap Tian.
Dia disini berusaha untuk menghargai, dan tidak melupakan Abi yang adalah Papi kandung anaknya. Mungkin saja pria itu memang rindu dan menginginkan waktu bersama sang anak. Jadi sebagai Papi tiri yang baik dia tak boleh egois.
"Memangnya kalian mau ke mana, sih? Apa Mami juga diajak?" tanya Nissa yang ikut-ikutan jadi penasaran.
"Awalnya sih aku mau ngajak Juna beli anting, buat Silvi. Terus habis itu ke panti asuhan. Kan waktu itu kami nggak jadi, Yang," jawab Tian memberitahu.
"Terus?"
"Juna bilang dia Minggu depan sudah mau masuk SD, terus minta dibelikan seragam. Jadi nanti pas di Mall sekalian aku belikan, Yang," tambah Tian.
"Oh iya, aku sampai lupa belum belikan Juna seragam." Nissa mengusap rambut anaknya.
"Nanti Juna sekolah SD di sekolahan yang dekat sama rumahku saja, Nis. Kebetulan 'kan ada sekolah negeri yang deket tuh, biar pulangnya enak langsung ke rumahku, jadi nggak musti kalian jemput." Abi mencari-cari kesempatan lagi.
"Juna sekolah SD-nya nggak pindah, tetap di tempat yang sama. Kan selain TK di sana juga ada SD negerinya, Mas," sahut Nissa.
Selain dari Junanya yang tak mau pindah, lokasi sekolah itu juga memang dekat dengan kantor Tian. Dan Nissa sendiri tak akan bisa bernapas lega jika Juna dipindahkan ke sekolah yang letaknya lebih dekat dengan rumah Abi.
__ADS_1
Bukan maksud berburuk sangka, hanya saja dia merasa ada yang janggal dengan sikap Abi yang mendadak menjadi manis terhadap Juna.
Tian memperhatikan sang istri. Mendengar sebutan "Mas" yang wanita itu lontarkan, entah mengapa membuat dadanya terasa sesak.
Tidak masalah sebenarnya, itu hanya sebuah panggilan. Tapi Tian merasa tak nyaman mendengarnya.
"Ayok kita pulang sekarang, Yang," ajaknya seraya mengecup kening Nissa. "Tapi kamu mah nggak perlu ikut, di rumah saja istirahat."
"Kok begitu? Kan aku juga mau mengantar Juna beli seragam, Yang," ujar Nissa dengan raut kecewa.
"Tapi 'kan sudah aku kasih tau tadi, hari ini banyak yang aku dan Juna lakukan. Kata Dokter kamu musti banyak istirahat, jadi lebih baik kamu nggak usah ikut. Dan katanya Mama dan Papa juga mau main ke rumah kita, Yang." Tian berusaha membujuk.
"Eemm ... ya sudah deh," sahut Nissa menurut, meskipun sejujurnya dia merasa kecewa tak diizinkan ikut.
Setelah itu, mereka pun keluar dari rumah sakit secara bersama. Sedangkan Steven dan Citra memilih untuk tetap di sana sebab ingin menemui dokter kandungan.
*
*
__ADS_1
Tian mengantar Nissa pulang ke rumah terlebih dahulu dengan ditemani sang sopir. Setelah itu barulah dia, Juna dan Abi pergi bersama. Mereka akan menghabiskan waktu bertiga.
"Pi, memangnya nggak apa-apa kita mengajak Papi Abi juga? Kayaknya waktu kita nggak akan seru deh nanti." Juna berbisik di telinga Tian. Saat ini posisinya duduk berada di tengah-tengah antara Abi dan Tian.
Mereka naik dalam satu mobil tapi ditemani sopir Nissa yang mengemudi di depan.
"Nggak apa-apa, Sayang," sahut Tian sambil tersenyum, lalu mengusap rambut Juna.
"Kamu ini apaan sih, Jun, masa Papi ikut dibilang nggak seru?!" ketus Abi yang tampak kesal. Rupanya dia mendengar apa yang Juna katakan, padahal bocah itu berbicara sudah sepelan mungkin.
"Ya Papi 'kan orangnya emosian. Nggak kayak Papi Tian yang baik hati, lemah lembut dan sayang sama Juna." Ditegur begitu Juna justru menjadi lebih menempel kepada Tian. Bahkan sekarang sudah duduk di pangkuannya.
"Kata siapa emosian?! Papi nggak emosian kok!" bantah Abi sambil menggeleng. Berkali-kali dia membuang napasnya, mencoba menghilangkan rasa kesal di dada. "Papi juga orangnya baik hati dan lemah lembut, sayang juga sama kamu, Jun." Mengulurkan tangannya, lalu mengusap puncak rambut Juna.
"Iya, iya." Juna memutar bola matanya dengan malas. Lalu memeluk tubuh Tian. Dia pun terdiam beberapa saat dan memikirkan sebuah ide untuk membuat Abi tidak betah untuk ikut dengannya. 'Kayaknya seru kalau ngerjain mantan Papi yang sok baik ini,' batinnya sambil tersenyum miring.
'Sabar Abi ... aku harus bisa terlihat jauh baik dari Tian di mata Juna. Biar dia luluh dan mau hidup sama aku,' batinnya sambil mengelus dada.
...Ayok buktikan, Om 🙂 aku jadi penonton ya, di sini 😗...
__ADS_1