
^^^Kata Tante Sindi, Pak Steven suka bolu brownies pandan. Kebetulan saya baru pertama kali mencoba membuat dan memang sengaja untuk Pak Steven. Semoga Bapak suka dengan bolu buatan saya, untuk teman Bapak ngeteh dan ngopi itu sangat cocok, Pak.^^^
^^^~Safira^^^
"Safira? Siapa Safira? Dan Tante Sindi juga siapa?" Monolog Citra, dadanya mendadak terasa panas setelah membaca isi kartu itu. Kemudian dia pun menatap ke arah Ajis. "Yang mengirim ini secara langsung siapa, Om?" tanyanya penasaran.
"Kurir, Nona."
"Apa Om tahu nomor hape kurirnya?"
"Nggak." Ajis menggeleng cepat. "Untuk apa juga saya punya nomor kurir. Saya nggak mengenalnya."
Citra menatap kembali kartu ucapan itu dengan kesal, lalu perlahan meremmasnya kuat-kuat. 'Siapa Safira? Kok dia sampai buatkan bolu untuk Om segala?'
Citra langsung masuk ke dalam apartemen begitu saja sambil membawa bolu pandan itu, meninggalkan temannya diluar sana.
Dia pun mencoba menghubungi Steven, menelepon pria itu. Tetapi sayangnya tidak diangkat.
"Kenapa nggak diangkat? Apa Om Ganteng sedang menyetir? Tapi dia pergi ke mana kira-kira? Apa menemui Safira?" gumamnya. Entah mengapa Citra jadi gelisah seperti ini. Dia juga mendadak merasa takut jika orang yang bernama Safira itu akan mengambil Steven darinya.
"Ah, nggak!" Citra menggeleng cepat. "Om Ganteng hanya milikku. Siapa perempuan itu? Aku harus beri dia perhitungan supaya nggak mengganggu Om Gantengku!"
Citra langsung melepaskan dressnya, lalu berganti pakaian dengan celana jeans dan kemeja. Tetapi sebelum itu dia pun mengolesi miliknya terlebih dahulu dengan salep, supaya tak terasa nyeri saat berjalan.
"Nona mau pergi ke mana?" tanya Ajis saat melihat Citra yang baru saja keluar dari apartemen. Bahu kirinya menenteng tali tas selempang berwarna putih.
"Aku mau menyusul Om Ganteng, Om." Citra mengunci apartemennya.
"Menyusul ke mana? Kata Pak Steven Nona di apartemen saja."
"Tapi ini penting, ini menyangkut rumah tanggaku." Citra langsung berlari begitu saja masuk ke dalam lift, tetapi justru Ajis ikut masuk.
"Menyangkut rumah tangga bagaimana maksudnya?" tanyanya penasaran.
"Om nggak perlu tahu, ini privasi. Aku mau pergi dulu sebentar." Citra bergegas pergi saat lift itu tiba di lantai dasar, dia berlari menuju jalan raya dan menstopkan taksi yang baru saja lewat.
Entah mengapa kecepatan berlari Citra sangatlah cepat bagai kilat, hingga Ajis pun ketinggalan dan tak berhasil mengejarnya.
"Ah Nona Citra ini kebiasaan! Nanti kalau ada apa-apa pasti aku yang dimarahi!" gerutu Ajis kesal. Lantas, dia pun mengambil ponselnya di dalam kantong celana kemudian menghubungi Steven.
Dan, sama seperti Citra tadi, panggilannya tidak diangkat. Ajis pun memutuskan untuk mengirim pesan saja, pasti kalau pria tampan itu membuka ponsel, dia akan membacanya.
__ADS_1
*
*
Tiga puluh menit akhirnya Citra tiba disebuah restoran bintang lima, restoran yang sama saat dimana dia makan siang serta kencannya untuk pertama kali.
Jujur, dia sendiri tak tahu di mana keberadaan pria itu sekarang. Tetapi entah mengapa Citra merasa kalau Steven pasti datang ke sini.
Suasana tempat itu sangat ramai sekali, bahkan tidak ada meja yang kosong. Mata Citra terus menyapu pada setiap sudut ruangan. Dia juga mengingat-ngingat suaminya memakai baju warna apa hari ini.
"Citra," panggil seseorang yang baru saja menghampirinya, lalu membuat Citra menoleh.
"Om Tian?"
Kemarin Tegar, sekarang Tian. Jujur saja Citra merasa malas bertemu dua orang itu. Entah karena apa, tetapi yang jelas jika berdekatan dengan mereka, dia merasa tak nyaman.
Padahal jika dilihat dari wajahnya, baik Tian atau pun Tegar, sekilas mereka sangat mirip dengan Danu. Tetapi tetap saja Citra tak pernah melihat ada sosok ayah yang ada pada diri mereka berdua.
Pria berjas abu-abu itu tersenyum manis padanya, kemudian langsung mendekat dan memeluknya sebentar. Setelah itu dia pun mengecup kening Citra.
"Kamu kok ada di sini? Mau apa? Makan siang?" tanya Tian dengan ramah.
"Aku mencari Om Ganteng, Om." Mata Citra masih berkeliling lalu memanggil seorang pelayan wanita. Dia pelayan yang sama saat di mana mengantarkannya untuk menemui Steven saat pertama kali bertemu. "Apa Mbak lihat Om Ganteng makan di sini?" tanya Citra sambil tersenyum manis.
"Maksudku Om Steven Prasetyo."
"Pak Steven nggak makan di sini, Nona."
"Oh begitu, ya sudah terima kasih, Mbak," jawab Citra dengan wajah kecewa.
"Sama-sama." Pelayan itu membungkuk sopan, kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Om, aku duluan, ya? Aku mau pulang."
"Tunggu dulu sebentar!" Tian mencekal pergelangan tangan Citra saat gadis itu hendak melangkah pergi.
"Aku masih ada urusan, Om." Citra mencoba melepaskan tangan itu, tetapi tampak susah sebab begitu kuat.
"Citra, apa kamu bisa menolong Om?" pinta Tian yang entah mengapa tiba-tiba dia berekspresi sedih.
"Tolong apa, Om?"
__ADS_1
"Om butuh uang, Cit. Bisa Om pinjam uang padamu?" pinta Tian seraya menarik tangan Citra hingga membawanya duduk di kursi, kebetulan meja itu juga baru saja kosong sebab pengunjungnya sudah membayar dan pergi.
"Pinjam uang untuk apa?"
"Untuk ...." Tian terdiam beberapa saat sambil menggaruk rambut kepalanya, lalu beberapa detik kemudian dia pun berkata, "Untuk operasi mata."
"Operasi mata? Memang mata Om kenapa?" Citra menatap manik mata Tian yang berwarna hitam dengan serius. Dari penglihatannya tidak ada yang bermasalah. "Mata Om baik-baik saja kok."
"Hanya kelihatannya saja, tapi aslinya Om punya minus. Dan minus Om parah harus segera dioperasi," jelas Tian dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
"Tapi kalau Om minus ... kenapa nggak dari dulu Om pakai kacamata? Atau softlens? Aku nggak pernah lihat Om pakai itu."
"Om pakai softlens kok, tapi hari ini saja yang nggak pakai. Biasanya mah pakai." Perlahan Tian mengulurkan tangannya, lalu mengenggam tangan Citra yang berada di atas meja. "Mau, ya, Cit. Tolong Om. Om hanya pinjam kok, nanti Om kembalikan dan itu hanya untuk tambahan supaya Om bisa operasi Minggu depan," pintanya dengan nada memohon.
"Memang berapa?"
"Nggak banyak, cuma 100 juta saja."
Mata Citra sontak terbelalak. Kaget mendengar nominal itu. Bukan karena dia belum pernah memegang uang segitu, hanya saja dia heran sebab Tian bilang tidak banyak. Citra kira paling sekitar 10 jutaan. "100 juta mah gede, Om. Aku nggak ada uang segitu."
"Ah bohong kalau nggak ada. Uangmu pasti banyak, kan dari peninggalan ayahmu."
"Tapi uang ayah dipegang sama Om Ganteng."
"Kenapa dia yang pegang? Pasti akan habis, Cit. Kenapa nggak kamu saja yang pegang?" tanyanya dengan gemas. Rahang Tian terlihat mengeras.
"Waktu itu Om pengacara yang bilang kalau untuk sementara waktu harta ayah dipegang sama Om Ganteng. Dan Om Ganteng memintaku untuk memakai uangnya saja untuk kebutuhan sehari-hari."
Tian berdecak kesal, lalu memijat dahinya yang mendadak terasa pening. Tidak! Rasanya dia sekarang sangat butuh uang, Tian mau Citra membantunya. Tetapi setelah tahu semua miliknya dipegang Steven—tentu hal tersebut akan menyulitkannya. "Eemm ... ya sudah begini saja. Kamu nanti minta uang 100 juta sama Steven. Tapi jangan bilang untuk membantu, Om, ya?"
"Kenapa memangnya?"
"Ya nanti Steven pasti melarang, kan kamu tahu sendiri dia seperti nggak suka sama Om. Kamu nanti bilang saja kalau uang itu untuk kebutuhan kuliahmu atau apa gitu."
"Kalau begitu namanya bohong dong. Bohong nggak boleh, Om. Dosa."
"Tapi ini demi kebaikan, kan untuk menolong Om." Tian menyentuh dadanya dengan wajah meyakinkan. "Berbohong demi kebaikan itu malah dapat pahala, Cit. Bisa masuk surga juga nanti."
...Memang iya, ini demi kebaikan?🤔😒...
...###...
__ADS_1
Seperti biasa, Author mau promo novel temen Author nih. Genre romantis dan banyak misterinya. Yuk mampir, sudah tamat di Noveltoon~