Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
139. Dosa tahu


__ADS_3

"Tapi kalau begitu namanya bohong dong. Bisa-bisa kalau Dedek Gemes nggak ada di hotel ... makin ngamuk lagi dia." Angga tak ingin mengambil resiko. Bisa-bisa semua barang di hotel hancur kalau Steven emosi. Dia juga yang rugi nanti, karena pasti pihak hotel meminta biaya tambahan.


"Semoga saja ada, Pak. Atau Bapak coba telepon Bejo lagi."


"Hapeku ada sama Steven. Kamu saja coba."


Jarwo mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu segera menghubungi Bejo.


Setelah panggilan itu diangkat, dia pun memberikan ponselnya ke tangan Angga. Pria tua itu langsung menempelkan ke telinga kanan.


"Halo Bejo, aku Angga," ucap Angga.


"Bapak berubah jadi Jarwo?"


"Enak saja. Nggaklah. Masih gantengan aku ke mana-mana. Aku hanya pinjam hapenya."


"Oh. Ada apa, ya, Pak? Bapak kangen saya?"


"Idih! Nggak usah geer!" seru Angga. "Ini, katanya kamu lihat Dedek Gemes di taman. Tapi dari pagi kok aku nggak lihat dia, Jo."


"Memang Bapak ada di mana sekarang?"


"Di taman sama Steven. Nyari dia. Eh, kamu juga lihat Sindi apa nggak? Dia juga nggak tahu ke mana. Kalau ilang aku mau cari istri baru."


"Bapak nggak usah mimpi cari istri lagi, karena itu nggak akan terjadi." Bejo terkekeh. Suara ketawanya terdengar jahat. "Bu Sindi dan Nona Citra baru saja sampai ke hotel. Saya barusan mengantarnya."


"Lho, kenapa nggak bilang? Nggak ada gunanya dong aku di sini sama Steven lama-lama." Angga mendengkus kesal seraya mematikan panggilan. Dia pun memberikan kembali benda pipih itu ke tangan Jarwo.


Lantas, setelah menghabiskan mie ayam dan es teh manis—Angga berjalan cepat menghampiri Steven. Anaknya itu sibuk mencabut rumput. Benar-benar seperti tak ada kerjaan.


Akan tetapi, apa yang dia lakukan adalah bentuk rasa frustasinya.


"Stev, ayok pulang. Kata Bejo Dedek Gemes ada di hotel," ajak Angga seraya menarik lengan Steven. Anaknya itu langsung mendongakkan wajahnya, menatap Angga dengan kening yang mengerenyit.


"Mana buktinya?" tanya Steven.


Sontak—Angga membulatkan matanya kala melihat wajah Steven merah dan kusam. Mungkin itu disebabkan karena terik matahari. Di rambutnya juga banyak sekali rumput dan bahkan ada kupu-kupu yang hinggap. Setelan kaosnya yang berwarna putih itu sudah tak terlihat putih lagi karena sangking kotornya.


Perasaan, Steven baru duduk. Tetapi sudah dekil begitu—pikir Angga.


"Astaga. Apa kamu anakku? Kok jelek sekali." Angga langsung berlari meninggalkan Steven, lalu menuju kios. Steven segera bangkit kemudian menyusulnya.


"Papa, mana buktinya Citra sudah ada di hotel?" tanya Steven yang tampak tak percaya. Tetapi dia penasaran.


"Bejo yang bilang, tadi Papa telepon dia menggunakan hapenya Jarwo."

__ADS_1


Steven mengambil ponsel di dalam kantong celana, lalu menghubungi Bejo untuk memastikannya.


Setelah mendengar kalau memang Citra ada di hotel—Steven pun langsung berlari meninggalkan taman itu.


Angga cepat-cepat membayar apa yang dia makan dan minum tadi, beserta milik Jarwo juga. Kemudian menyusul Steven dan Jarwo, yang lebih dulu pergi.


*


Mobil hitam Jarwo melintasi jalan raya Jakarta, dia yang menyetir sedangkan Angga dan Steven sudah duduk di kursi belakang.


"Kamu mau makan siang dulu nggak? Dari pagi kamu belum makan," tawar Angga kepada Steven. Mendengar Citra sudah ada di hotel rasanya dia lega.


Namun, tidak dengan anaknya. Dia justru terlihat tak sabar sekali. Sejak tadi sibuk menatap jendela, ingin memastikan sudah sampai atau belum.


"Aku makannya bareng Citra saja, Pa."


"Oh ya, Stev. Obat yang waktu itu Papa berikan ... kamu minum apa nggak?"


"Obat apa?" Steven menoleh.


"Yang pas kamu hampir tertabrak mobil dan dibawa ke rumah sakit."


"Oh. Vitamin?"


Angga memang mengatakan obat itu adalah vitamin. Sebab takutnya kalau jujur, Steven justru tak mau meminumnya. Dia akan menyangkal kalau dirinya tidak gila.


Sebentar lagi Steven akan menjadi ayah. Kasihan anaknya kalau dia lahir dan mempunyai ayah gila. Begitulah kira-kira apa yang dipikirkan Angga.


"Iya." Angga mengangguk cepat.


"Oh. Nggak, Pa. Aku lupa."


"Ada di mana sekarang obatnya?"


"Di rumah."


"Nanti Papa akan suruh orang untuk membawanya. Nanti kamu minum, ya?"


"Tapi aku nggak butuh vitamin, Pa. Kan sudah ada Citra. Dia vitamin buatku." Steven langsung membayangkan agar-agar istrinya sambil senyum-senyum sendiri. Dan tak lama kemudian dia pun menelan ludah.


Angga berdecak. "Iya, sih. Tapi nggak apa-apa, buat tambah vitamin."


"Ya sudah, bawa saja. Nanti aku minum. Oh ya, Pa, beli borgol di mana kira-kira? Papa tahu nggak?"


Alis mata Angga bertaut. Bener, kan, Steven mulai tidak jelas lagi.

__ADS_1


"Ngapain beli borgol? Kamu mau jadi polisi?"


"Buat borgol Citra kalau malem. Biar besoknya dia nggak ilang lagi."


"Nggak usah mengada-ngada deh. Itu lebay namanya."


"Biarin aja lebay. Emang aku nggak mau kok Citra ilang lagi. Aku nggak bisa hidup tanpa Citra, Pa." Steven mengerucutkan bibirnya, lalu memutar bola matanya dengan malas. Dia kesal mendengar jawaban Angga yang mengatakan dirinya lebay. Padahal menurutnya tidak sama sekali. 'Mending aku pesan online saja deh.'


***


Steven yang sudah berdiri di depan kamar pengantin bersama Angga kini langsung memencet bel.


Tiga kali bel itu berdenting sampai akhirnya seseorang yang berada di dalam itu membuka pintu.


Ceklek~


"Citra ... ke mana saja kamu? Kenapa ilang-ilangan mulu?!"


Sebenarnya Steven ingin marah rasanya, tetapi melihat Citra hanya memakai handuk kimono dengan rambut basah—seketika amarahnya meredup. Justru nafsunya yang menggebu dibarengi si Elang yang tiba-tiba bangun.


Cepat-cepat Steven memonyongkan bibirnya, meraih tubuh kecil istrinya dan tak lama adegan ciuman itu dimulai.


Angga terbelalak. Dia yang tampak begitu syok langsung menutup mata dan berlalu pergi dari sana. Adegan itu terlihat begitu cepat dan mendebarkan jantung. Sungguh tidak sehat untuk kondisi hatinya.


'Dasar Steven gila dan nggak sopan! Masa ciuman dengan Dedek Gemes di depan mantan gebetannya? Apa dia nggak mikirin perasaanku?' gerutu Angga dalam hati.


Steven mengangkat kedua paha Citra, lalu menaruhnya di pinggang. Dia mengendongnya dengan saling berhadapan.


Steven melangkah masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu dan menguncinya. Kemudian membawa gadis itu menuju kamar mandi tanpa melepaskan ciuman.


Diturunkan Citra di bawah shower, lalu menguyur tubuh keduanya saat saluran air di atas sana Steven nyalakan. Alhasil tubuh keduanya basah dengan masih berbalut kain.


Citra mendorong dada Steven yang begitu menghimpitnya. Punggungnya sudah menempel tembok, dadanya terasa sesak sekali.


"Dih, Cit. Kamu kebiasaan deh. Suka ngelepas ciuman. Memangnya nggak enak, ya, rasanya?" keluh Steven sedih.


"Bukan nggak enak, Om." Citra menggeleng cepat. "Cuma Om dateng-dateng langsung nyosor. Akunya kaget dan tadi juga ada Papa. Malu." Citra mengatur napasnya yang tersendat. Wajahnya tampak merah.


"Maaf ...." Steven langsung memeluk tubuh Citra, lalu perlahan melepas handuk kimono istrinya hingga jatuh ke bawah. "Aku melakukan hal itu karena sangking senangnya ketemu denganmu, aku kangen. Jadi lupa melihat sekitar."


Setelah istrinya itu sudah berhasil polos, Steven dengan cepat menjulurkan lidah ke arah bahu seraya menjilatinya. Citra tercium begitu wangi, sepertinya dia memang baru selesai mandi.


"Memang Om dari mana?"


"Dih. Kok kamu nanya aku dari mana?" Steven menghentikan aktivitas lidahnya. Kemudian kedua tangannya meremmas agar-agar dengan gerakan memutar. "Kamu sendiri yang ilang kok. Kenapa pergi nggak bilang dulu? Dosa tahu, pergi tanpa izin suami."

__ADS_1


"Aahhh ... maaf, Om." Citra mendessah kala Steven sudah memilin puncak dadanya. Cepat-cepat dia pun menahan tangan suaminya. Sebab dia susah menjawab jika terus diberi sentuhan seperti itu. "Aku pergi karena Mama meminta aku menemaninya berolahraga."


...Nanya nanya, Om. Tapi nggak usah sambil ngeraba-raba. Nakal bener jadi laki 🙈...


__ADS_2