
"Ya itu kamu!" seru Sofyan sambil tertawa. Ekspresi yang ditunjukkan Steven mengundang rasa lucu menurutnya. "Kamu itu memang menolak tua, ya, padahal memang aslinya sudah tua," tambahnya yang makin keras tertawa.
'Ada apa denganku? Kenapa dari semenjak bangun dan tahu-tahu sudah ada di rumah sakit ... semuanya seperti berbeda dan sudah banyak berubah,' batin Steven penuh bingung.
Dari awal dia membuka mata, wajah pertama yang dia lihat adalah Citra. Tapi sama sekali, dia tak merasa familiar dengan wajahnya.
Dokter sudah memberitahu, alasan Steven ada di rumah sakit. Berawal karena jatuh dari pohon mangga lalu terkena batu, mengalami gagar otak, meninggal dunia, lalu hidup kembali dan sampai dirinya amnesia.
Sayangnya, semua yang dikatakan dokter sama sekali tak mampu dia bayangkan. Bahkan tak ada dalam angannya sama sekali.
Terasa aneh, tapi memang nyata.
"Aaww!" ringis Steven tiba-tiba, saat merasakan kepalanya berdenyut sakit.
"Kamu kenapa, Stev?" tanya Angga yang tampak panik. Segera, dia dan Sofyan membantu pria itu kembali berbaring, lalu meletakkan laptop di atas nakas.
"Biar aku panggilkan Dokter, A," ucap Citra yang langsung berdiri.
"Nggak usah! Aku nggak apa-apa!" tolak Steven yang mana membuat langkah kakinya terhenti. Padahal baru saja Citra menurunkan handle pintu.
"Serius, kamu nggak apa-apa? Apanya yang sakit?" tanya Angga. Dia ikut meraih kepala Steven yang sejak tadi terus dipegangi.
"Hanya sedikit, Pa, tapi nggak apa-apa. Dan boleh nggak, kalian semua keluar dari sini? Aku ingin istirahat," pinta Steven pelan.
"Ya sudah, kami semua keluar kalau gitu," ucap Angga, kemudian mengajak Sofyan, Jordan dan Citra untuk keluar.
Namun sebelum itu, Citra melangkah menghampiri Steven terlebih dahulu. Kemudian menaruh piring yang berisi potongan buah mangga di atas nakas.
"Nanti mangganya dimakan, A. Aa jangan banyak pikiran, aku mencintai Aa," ucapnya sambil tersenyum, lalu mengelus pipi kanan Steven dengan lembut.
Setelah itu, dia melangkah keluar menyusul yang lain. Tapi tanpa sadar, Citra sudah meninggalkan rasa panas dipipi Steven yang membuatnya merona.
'Masa sih, aku dan Citra sudah menikah?' batin Steven. Matanya menyorot pada pintu yang kini tertutup rapat. 'Apa alasannya? Jelas-jelas pacarku Imel, dan aku sangat mencintainya. Tapi kok sejak kemarin ... Imel nggak datang menjengukku, ya? Ke mana dia? Apa dia nggak tau aku masuk rumah sakit?' Isi otak Steven begitu banyak tanda tanya, tapi sama sekali dia tak mampu menemukan jawabannya.
***
Di sebuah gedung hotel berbintang lima, ada Steven, Citra, Angga, Sindi, Sofyan, Maya, Jordan, Rizky, Nella, Jihan dan Johan tengah duduk di salah satu meja yang berada di restorannya.
Berhubungan Steven dan Sindi sudah dibolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, jadi Angga berencana ingin mengajak mereka semua buka puasa bersama.
__ADS_1
"Holee!! Makanannya datang!" Jordan menyeru sambil menggerakkan tangannya naik turun, ketika beberapa pelayan datang membawa beberapa menu dan menyajikannya di atas meja.
"Makannya nanti, ya, Dan! Tunggu adzan Maghrib!" tegur Sofyan.
"Memangnya napa, Pa? Joldan 'kan ngga puasa," sahut bocah itu.
"Nggak puasa juga harus menghargai yang lainnya," bisik Sofyan.
"Kak Juna mana, Om?" tanya Johan yang duduk di samping Jordan. Usia mereka sama, bahkan lahir dihari yang sama. Hanya saja—status Jordan adalah adiknya Nella, jadi baik Johan maupun Jihan, keduanya memanggil Jordan dengan sebutan Om.
"Main dia sama Cilvi."
"Cilvi sapa?" tanya Johan lagi.
"Ngga tau." Jordan menggelengkan kepalanya. "Mungkin olang gila," tambahnya kemudian tertawa. Dan Johan pun ikutan tertawa.
"Heh! Kalau ngomong!" tegur Sofyan sambil mencubit pipi kanan anaknya. "Silvi itu adiknya Juna, kan Om Tian sudah memberitahumu tadi."
"Tapi, Pa, kan—"
"Alhamdulillah!" Angga, dan seluruh orang-orang yang berada di dalam restoran itu langsung mengucapkan syukur, sebab sudah tiba waktunya berbuka puasa.
"Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa'ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin."
Setelah itu, mereka pun langsung menyantap sup buah terlebih dahulu. Mendahulukan yang manis-manis.
"Apa sup buah punya milik Aa manis, rasanya?" tanya Citra yang duduk di samping Steven. Dia hanya basa basi, demi mengajak suaminya mengobrol. Sebab semenjak sampai, Steven hampir tak berbicara.
"Ya," jawab Steven singkat sambil menganggukkan kepalanya.
"Boleh aku mencobanya?" pinta Citra, dengan tangan yang sudah memegang sendok lalu terulur pada mangkuk sup yang saat ini Steven konsumsi.
Steven langsung menoleh kepadanya dengan kening yang mengerenyit. Dan yang lainnya hanya ikut memperhatikannya saja. "Bukannya rasanya sama saja, ya?"
"Iya, memang sama. Tapi aku mau mencoba punya Aa. Tapi kalau nggak boleh ... ya nggak apa-apa," jawab Citra dengan santai.
"Beri icip sedikit nggak apa-apa, Stev," sahut Angga. "Biasanya juga kamu dan Citra makan sepiring berdua."
"Ini." Steven mendorong pelan mangkuknya ke arah Citra. "Ambil aja, semua untukmu."
__ADS_1
"Kok semua?" Citra menatap Steven dengan raut bingung.
"Iya. Aku udahan makan sup buahnya."
"Kok udahan? Aa marah sama aku?" tanya Citra tak enak hati.
"Bukan marah. Hanya saja aku nggak suka, makan bekas orang lain. Jadi kalau kamu menginginkannya, ambil saja untukmu, karena aku nggak mau makan bekasmu," jelas Steven. Suaranya terdengar begitu datar.
"Tapi aku 'kan bukan orang lain, A. Aku istri Aa, kita juga sering ...." Citra mendorong kembali mangkuk itu ke arah Steven. Berusaha dia menahan air mata yang hendak jatuh, sebab merasa sedih mendengar jawaban dari suaminya. "Eemm ... aku nggak jadi deh mintanya. Aku permisi mau pipis dulu." Citra gegas berdiri, kemudian membungkuk sedikit dan melangkah pergi dari sana.
"Stev, kamu kok seperti itu? Kasihan Citra tau," tegur Sindi yang merasa tak enak hati pada menantunya.
"Seperti itu gimana, Ma? Orang aku nggak ngapa-ngapain dia?" balas Steven menatap Sindi.
"Ucapanmu itu lho, sama suaramu. Sangat cuek didengernya." Sofyan menyahuti.
"Iya, Om Even. Halusnya ... Ante Citla disuapi! Sama kayak Joldan yang disuapi Mama. Aaa ...." Jordan ikut-ikutan menimpali, sambil membuka mulutnya untuk mendapatkan suapan dari Maya.
Steven tak menanggapi, dia memilih mengambil nasi lalu meletakkannya di atas piring.
"Setelah kita semua selesai buka puasa ... kamu sama Citra bermalam di sini, ya, Stev. Papa juga sudah pesan kamar untuk kalian," perintah Angga sambil mengunyah potongan buah melon di mulutnya.
"Maksud Papa, aku dan Citra menginap di hotel?" tanya Steven.
"Bermalam sama menginapkan sama saja intinya," balas Angga sambil memutar bola matanya.
"Tapi kenapa aku dan Citra musti menginap? Mau ngapain?"
"Kok ngapain sih, Om?" Rizky menyahuti. "Ah Om sok polos. Kalau nggak goyang ngebor terus mau ngapain, coba?" tambahnya sambil terkekeh.
"Rizky! Ngomongnya!" tegur Sofyan yang langsung mencubit kecil perut menantunya, sehingga membuat Rizky memekik kesakitan.
"Aaww! Saki, Pa!"
"Apa yang Rizky katakan itu benar, Stev," ucap Angga, lalu mendekat ke arah telinga kanan Steven seraya berbisik. "Papa mau, kamu dan Citra bercinta sambil melihat bintang"
"Apa?!" Steven sontak terbelalak, merasa terkejut mendengar apa yang diucapkan Angga. "Parah banget, Papa. Omes! Mana bisa aku bercinta? Aku 'kan masih perjaka, Pa."
...Apanya yang masih perjaka, Om? 🤣...
__ADS_1