
Setelah Tian dan Juna siap. Mereka pun menaiki sebuah mobil, yang mengemudi adalah Jarwo sebab Angga yang memintanya.
Atta dan Baim juga ikut, mereka duduk di kursi belakang.
Selain itu, Juna juga membawa speaker bluetooth berukuran kecil yang di belinya kemarin saat ke mall. Speaker itu juga terhubung dengan sebuah mic supaya bisa sekalian karaokean.
Juna sejak tadi tak ada henti-hentinya tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putihnya. Belum juga beraksi, tapi dia sudah girang duluan.
"Mau berhenti di lampu merah mana, Pak?" tanya Jarwo sambil menoleh sebentar ke arah Tian.
"Yang mana saja, asal sepi, Pak."
"Kok sepi? Nanti yang ada kita nggak dapat duit dong, Pi. Kan kita mau ngamen?" tanya Juna tak setuju.
"Tapi kalau terlalu ramai bahaya, Jun. Kan banyak pengendara motor dan mobil. Kamu dan kawan-kawanmu itu masih kecil, Papi takut tertabrak."
"Kan namanya juga lampu merah. Kita jogetnya pas lampu merah, jadi pengendara pada berhenti."
"Oh ya sudah, tapi Papi nggak bisa nyanyi. Suara Papi juga jelek."
"Nggak usah nyanyi, kita putar musik sambil joget saja. Tapi aku mau Papi umumin ke semua orang kalau aku ulang tahun."
"Oke." Tian mengusap rambut silver Juna. Tak lama kemudian mobil yang mereka tunggani itu berhenti di salah satu lampu merah yang ada di kota Jakarta Utara.
Tian membuka pintu mobil, lalu turun. Begitu pun dengan Baim dan Atta. Jika Baim sudah memegang ponselnya, Atta justru memegang kardus. Dia diminta Juna untuk menariki uang jika mereka sedang joget.
__ADS_1
"Mana hape Papi? Ayok putar musik dan hubungkan ke sini." Juna menepuk speaker yang ada di perutnya. Benda itu dikaitkan dengan tali rapia supaya bisa dia kalungkan ke leher.
"Mau lagu apa kamunya, Jun?" Tian langsung mengetik-ngetik layar ponsel. Benda itu sudah dia pegang sejak tadi. Tian menyambungkan bluetooth dan membuka aplikasi musik yang dia punya.
"Lagu keramat, Pi," jawab Juna.
"Lagunya Rhoma Irama?"
"Iya." Juna mengangguk cepat.
"Masa ngamen lagunya keramat?"
"Kenapa memangnya?"
"Lagu no comment saja, Jun," usul Baim. "Itu lagi viral, pasti banyak yang tahu dan ikutan nyanyi."
"Penyanyinya siapa?"
"Nggak tahu." Baim menggeleng. "Tapi Papaku suka nonton livenya. Aku denger sih namanya Bunda-bunda gitu."
"Berarti cewek, ya? Aku nggak mau cewek ah." Juna menggeleng. "Pengennya cowok."
"Lagu Ojo Di Bandingke saja, Jun." Sekarang Atta yang memberikan saran. "Penyanyinya anak kecil dan dia pernah nyanyi di istana merdeka, di depan presiden kita."
"Enak lagunya?"
__ADS_1
"Enak. Cocok sambil joget-joget." Atta menggerakkan kedua tangannya.
"Ya sudah, Pi. Putar lagu itu." Juna menatap Tian. Papinya itu mengangguk dan menuruti permintaannya.
Saat lagu diputar dan Juna memperbesar volume, itu bertepatan sekali dengan beberapa pengendara yang berhenti di dekat mereka. Motor dan mobil sedan begitu banyak. Juna langsung memberikan mic-nya kepada Tian, bersiap untuk memulai atraksi mereka.
"Selamat sore Bapak Ibu, mohon maaf kalau menganggu. Aku Tian Siregar bersama anakku Arjuna ingin mengamen," ucap Tian sambil merangkul bahu kecil Juna. Dia berbicara lewat mic dan membuat beberapa orang di sana menoleh. "Karena ini permintaannya di hari ulang tahunnya. Semoga lagu dan jogetan kami dapat menghibur," tambahnya.
Tian mengajak bocah itu ke tengah-tengah jalan. Lalu dialah yang lebih dulu berjoget. Kemudian disusul oleh Juna.
Namun, goyangan mereka terbilang aneh. Juna sendiri malah sibuk lompat-lompat sambil menggerakkan tangannya yang seolah-olah menjadi sayap, ingin terbang.
Sedangkan Tian sendiri malah menggerakkan tubuhnya dengan gaya-gaya silat. Sebelumnya dia sudah belajar gaya tersebut, saat sehari Juna memintanya untuk mengamen di hari ulang tahun. Alih-alih ingin belajar bergoyang, Tian justru belajar gaya silat.
Menurutnya, bergoyang itu hanya dilakukan untuk wanita saja. Jadi Tian tidak mau menghilangkan wibawanya sebagai Papinya Juna, akan aneh nanti jika dia goyang ngebor. Ya kecuali kalau bergoyang di atas ranjang bersama Nissa. Itu tentu beda lagi konsepnya.
Beruntung, apa yang dilakukan Tian itu sukses membuat Juna terbahak-bahak. Begitu pun dengan kedua temannya dan beberapa orang yang menonton aksi konyolnya itu.
Sangking hebohnya menggerakkan gaya silat, Tian sampai tak sadar jika celana dibagian bokongnya robek. Kantong menyannya yang berwarna kuning keemasan itu terlihat jelas. Akan tetapi itu makin membuat daya tarik tersendiri.
"Ayok kasih seikhlasnya. Semoga rezeki Bapak dan Ibu lancar," ucap Atta. Dia berkeliling pada pengendara motor dan mobil untuk meminta uang. Semuanya hampir memberikan sebagian rezekinya. Bahkan banyak juga yang memberikan lembaran seratus ribuan. "Terima kasih, do'akan juga untuk Arjuna dan Papinya. Semoga mereka sehat dan panjang umur."
Namun, tiba-tiba ada dua orang polisi dengan satu motor berhenti di lampu merah itu. Polisi yang membonceng turun kemudian melangkah menghampiri Tian dan Juna.
...Wah, mau disawer polisi tuh, Jun 🤣...
__ADS_1