Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
279. Anak kesayangan Papi


__ADS_3

Keesokan harinya.


Tian dan Juna tengah mandi bersama di kamar mandi. Sejujurnya dari lubuk hati terdalam, Tian merasa malu bugil di depan Juna.


Meskipun dia sudah menganggap sebagai anaknya dan sama-sama laki-laki, tetapi tetap saja Tian malu. Sebab sejak dulu, Tian hanya berani bugil jika di depan pasangan. Selain itu tidak pernah.


"Kamu hari ini sekolah nggak, Jun?" tanya Tian yang tengah merasakan sentuhan spons mandi dari Juna.


Kemauan Juna sendiri, yang mau menyabuni Tian. Sekarang bocah itu berdiri di belakang Tian yang saat ini tengah berjongkok. Punggung lebarnya dipenuhi busa sabun.


"Sebenarnya sekolah, tapi Juna males, Pi. Pengen nggak masuk."


"Lho kenapa? Sekolah nggak boleh males. Katanya kamu mau pinter."


"Iya, sih. Ya sudah deh, Juna sekolah. Tapi Papi yang antar, ya?"


"Iya, Papi antar." Tian mengangguk. Kemudian berdiri di atas shower untuk membilas tubuhnya.


"Oh ya, Pi, minggu depan Juna ulang tahun lho, yang ke 7. Juna mau Papi kasih Juna hadiah," pinta Juna.


"Mau Papi kadoin apa kamu minta sesuatu."


"Minta sesuatu saja."


"Minta apa?"


"Liburan, tapi berdua saja."


"Mami nggak diajak?"


Juna menggeleng. "Nggak dulu, kan Juna mau berdua."


"Liburan ke mana memangnya? Tapi kasihan Mami lho, kalau nggak diajak. Nanti dia nangis."


"Juna udah ngomong kok sama Mami kemarin. Kata Mami nggak apa-apa. Juna juga pengen liburannya di Indonesia, nggak sampai ke luar negeri, Pi."


"Oh gitu. Ya sudah ayok, tapi di mana tempatnya?"


"Di kota tua."


"Kota tua Jakarta?"


"Iya." Juna mengangguk.


"Itu dekat, Jun. Tapi mau ngapain ke sana? Lihat museum kamu?"


"Nggak."


"Terus ngapain?"


"Juna mau kita berdua jadi manusia silver, Pi. Terus ngamen."

__ADS_1


"Ngamen?" Kening Tian mengerenyit. "Tapi manusia silver itu kayak gimana? Seperti superhero bukan?" Tampaknya Tian tak tahu.


"Dih, masa manusia silver saja Papi nggak tahu. Aneh," ocehnya.


"Memang Papi nggak tahu kok."


"Nanti deh Juna kasih tahu. Tapi Papi mau, kan? Turuti permintaan Juna?" Juna mendongakkan wajahnya menatap Tian penuh harap.


"Mau. Tapi kenapa musti ngamen segala?"


"Biar seru aja. Juna kepengen sejak dulu soalnya."


"Tapi nanti kita nyanyi apa gimana? Papi nggak bisa nyanyi soalnya, Jun."


"Soal itu mah gampang, Pi. Yang penting kita jadi manusia silver dulu saja."


"Oke deh." Meskipun Tian belum tahu jelas, tetapi dia dengan enteng menganggukkan kepalanya. Menyetujui permintaan Juna.


***


"Assalamualaikum," ucap Juna saat setelah mencium punggung tangan Nissa dan Tian bergantian. Mobil hitam Tian sudah terparkir di depan gedung sekolahan.


Rencana Tian, setelah mengantar Juna ke sekolah, barulah mereka pulang ke rumah. Sebab penginapan hotel yang Tian pesan hanya semalam.


Ingin menambah pun sepertinya tidak perlu, karena bercinta di hotel agak susah. Juna susah ditinggal.


"Walaikum salam." Tian menjawab bersamaan dengan Nissa. "Sekolah yang pintar ya, Jun. Nanti pulangnya Papi jemput." Mendekat, lalu mencium puncak rambutnya.


"Memang Papi tahu Juna pulang sekolah jam berapa?" Juna membuka pintu mobil, lalu turun.


"Setengah 11 atau jam 11, Pi."


"Cepet juga, ya. Ya sudah, nanti Papi jemput jam segitu."


"Jemputnya jam 10. Takutnya Juna keburu pulang, pokoknya Papi sudah standby. Kan Papi nggak ke kantor hari ini."


Tian mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Ya sudah sana masuk."


"Papi dan Mami hati-hati. Juna sayang kalian berdua. Bye!" Juna melambaikan tangannya, lalu berlari mengejar Atta yang sudah hampir masuk ke dalam kelas.


"Pak, kalau anak TK sudah pulang, jangan izinkan mereka keluar dari gerbang sebelum pihak keluarga datang menjemputnya, ya," pinta Tian berbicara dengan satpam yang berdiri di depan gerbang. Dia mengingatkan, supaya kejadian penculikan yang dulu dialami Juna tidak terulang. Apalagi dialami anak lain.


"Baik, Pak. Selamat pagi."


"Pagi." Tian tersenyum dan mengangguk kecil, lalu mengemudikan mobilnya berlalu pergi dari gedung sekolah.


"Hari ini kamu ke kantor, Yang?" tanya Nissa. "Kalau kamu ke kantor, aku anterin saja ke restoran sekalian."


"Aku ambil cuti hari ini, Yang. Kita langsung pulang saja ke rumah. Aku mau mengajakmu bercinta."


"Kapan?"

__ADS_1


"Sekarang. Pas sudah sampai."


"Tapi ini 'kan masih pagi, Yang."


"Terus kenapa?" Tian mengulurkan tangannya menyentuh punggung tangan Nissa. Lalu menarik dan mengecupnya.


"Masa pagi-pagi bercinta?" Kening Nissa mengerenyit.


"Lha, kenapa memangnya? Bercinta mah kapan saja boleh. Kan kita sudah sah. Lagian, mumpung Juna sekolah. Ada waktu sekitar ...." Tian menatap arlojinya yang menunjukkan pukul setengah 8. "Dua atau tiga jamman. Lumayan durasinya agak lama."


"Tapi aku belum pernah bercinta saat pagi, kayaknya aneh."


"Nggak ada yang aneh. Yang ada enak." Tian mendekat, lalu mengecup bibir Nissa sambil menarik tubuhnya. Belum apa-apa miliknya sudah mengeras saja di dalam celana.


"Berarti kamu musti minum obat kuat dulu, Yang," saran Nissa.


"Nggak musti. Aku tahan lama kok."


"Semalam kok cepat keluar?"


"Itu karena genting, dan memang aku sudah menahannya dari pas ketahuan sama Juna. Jadi daripada puyeng ... mending cepat keluar saja. Tapi semalam enak, kan? Besar 'kan milikku, Yang?"


"Apaan, sih." Nissa memalingkan wajahnya. Tetapi tampak jelas tadi dia merona. Sepertinya dia malu.


"Bilang iya saja susah banget kamu." Tian terkekeh, lalu mengelus paha Nissa. Wanita itu memakai dress panjang selutut berwarna hijau tosca.


***


Di kelas TK B.


Seluruh anak-anak tengah mengerjakan soal matematika, pada buku tulisnya masing-masing. Kemudian tak lama pintu kelas itu diketuk oleh seseorang dari luar.


Tok ... tok ... tok.


Gisel sang guru langsung berdiri dari kursi, lantas melangkah untuk membuka pintu.


"Selamat pagi, Bu," sapa Gisel. Orang yang mengetuk pintu itu tadi adalah kepala sekolah. Seorang wanita berhijab berumur 50 tahun.


"Pagi. Tolong panggilkan Juna. Ada Papinya di ruang guru, mau ketemu dia," pintanya.


Gisel mengangguk, lalu menatap ke arah depan. Juna tengah fokus dengan buku tulisnya. "Jun! Sini Sayang!" serunya.


Juna mengangkat wajah. Lalu berdiri sembari melepaskan pensil di atas meja. Dia pun melangkah menghampiri Gisel yang melambaikan tangan. "Ada apa, Bu?"


"Ada Papimu di ruang guru, Jun. Ayok ikut Ibu," ucap Ibu kepala sekolah.


"Papi?" Kening Juna mengerenyit. "Oh, ya sudah, ayok." Yang dipikirkan Juna, mungkin Tian melupakan sesuatu, mangkanya datang lagi.


Sekarang Juna melangkah bersama Ibu kepala sekolah yang menggandeng tangannya. Langkahnya terlihat berjingkrak-jingkrak. Tetapi, keceriaan di wajahnya seketika memudar kala kepala sekolah itu membuka pintu ruangannya.


Di kursi yang berada di depan meja kepala sekolah, ada seorang pria tampan nan rupawan berusia 40 tahun yang duduk di sana. Jelas, dia bukanlah Tian. Melainkan Abimana Malik—mantan suami Nissa.

__ADS_1


"Arjuna anak kesayangan Papi, bagaimana kabarmu, Sayang?" tanyanya seraya berdiri, lalu melangkah menghampiri Juna.


...Waktu itu ada yang nanyain Papi kandungnya Juna, sekarang udah dimunculin ya, Guys 😁...


__ADS_2