
Mobil yang ditunggangi Nissa dengan sopirnya itu berhenti di depan gerbang universitas. Segera, dia pun menurunkan kaca mobilnya, lalu menatap seorang satpam yang berdiri di depan.
"Pak, apa Citra sudah pulang?" tanya Nissa pada sang satpam. Dan kebetulan pria itu juga menoleh ke arahnya.
"Nona Citra hari ini nggak masuk, Bu, kata suaminya izin mau ke dokter kandungan."
"Oh begitu. Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
"Pak kita langsung ke Rumah Sakit Harapan saja," titah Nissa kepada sang sopir. Pria itu mengangguk patuh.
"Baik, Bu."
Mobil Nissa melaju pergi dari sana, dan diperjalanan itu dia menelepon Steven. Sebab dia sendiri tak punya nomor Citra.
"Halo, Mbak," ucap Steven dari seberang sana.
"Stev, kamu lagi sama Citra?"
"Nggak. Aku lagi di jalan mau ke kantor."
"Oh. Mbak minta nomor Citra dong, Stev."
"Buat apa, Mbak?"
"Ya kakak ipar nggak masalah dong punya nomor adik iparnya. Kan enak kalau sudah punya." Nissa sengaja beralasan, sebab kalau jujur pasti Steven akan bertanya hingga ke akar-akarnya.
"Oh oke. Tapi jangan pernah ajak Citra jalan-jalan untuk ketemu cowok ya, Mbak," tegur Steven mode cemburu.
"Iya. Mbak juga ngerti kali, Stev. Kan dia sudah punya kamu."
"Ya sudah, aku kirim nomornya ke Mbak. Jangan disebar, awas!" ancamnya.
"Iya. Bawel amat."
Setelah mendapatkan nomor Citra, Nissa langsung meneleponnya. Sayangnya, sudah hampir tiga kali tidak ada respon.
"Ke mana si Citra? Kok nggak angkat teleponku?" gumamnya. Nissa beralih menelepon Sindi, mungkin saja Mamanya itu sedang bersama Citra.
"Halo, Ma," ucap Nissa saat sambungan telepon itu diangkat oleh seberang sana.
"Ya, Nis."
"Mama lagi sama Citra nggak?"
"Nggak, Mama lagi nonton India. Oh ya, Nis. Shahrukh Khan meninggal."
"Innalilahi. Serius, Ma?" Nissa tentu tahu siapa itu Shahrukh Khan. Dan mungkin bukan hanya dia, tapi seluruh Indonesia. Dia adalah aktor nomor satu di India dan Mamanya begitu menyukainya. Apalagi film-filmnya.
"Iya, ini juga Mama lagi nangis di depan tv. Hiks, hiks, hiks." Isakan tangis Sindi mampu Nissa dengar.
__ADS_1
"Meninggalnya karena apa?"
"Bunuh diri. Noh sekarang dia lagi dibakar."
"Bukannya Shahrukh Khan orang Islam, ya? Kok dibakar?" Kening Nissa mengerenyit heran.
"Ini difilmnya dia nggak jadi orang Islam, Nis."
"Maksudnya Mama nonton film?"
"Iya. Difilmnya Shahrukh Khan dia meninggal."
Nissa menghela napasnya dengan berat. Rupanya hanya film. Sindi terlalu menghayati. "Ya ampun, ternyata cuma difilm? Aku kira beneran."
"Tapi sedih tahu, Nis, dia meninggal gara-gara bunuh diri. Soalnya wanita yang dia cintai menikah dengan orang lain. Dijodohkan sama Papanya. Mentang-mentang si Shahrukh Khannya dulunya orang jahat," jelas Sindi panjang lebar. "Tapi Shahrukh Khan udah tobat. Sayangnya nggak ada yang percaya, hiks," tambah Sindi dengan masih terisak.
"Memangnya ada film yang dimainkan Shahrukh Khan ceritanya begitu, Ma? Aku baru dengar."
"Mangkanya kamu nonton filmnya di tv sekarang. Cepat, Nis, sekarang lagi adegan ceweknya nangis."
"Eh, tapi, Ma. Aku telepon Mama karena nanyain Citra, bukan mau nonton film India." Nissa langsung ingat, tujuan dirinya menelepon.
"Citra ada di kamar, lagi tidur siang."
"Dibangunin bisa nggak, Ma?"
"Mau apa memangnya? Jangan deh, Nis, kasihan. Dia capek kayaknya."
"Lho, kenapa? Ada apa dengan Juna?" Suara Sindi mendadak nyaring ditelinga. Sepertinya dia cemas.
"Aku kurang tahu, dia cuma bilang antara hidup dan mati. Tapi sambil bawa-bawa nama Tian, Ma."
"Ya sudah, biar Mama saja yang datang. Kamu ada di mana sekarang?"
Nissa menatap sekitar, mobilnya ernyata sudah sampai parkiran rumah sakit. "Rumah sakit."
"Mama nyusul, ya."
"Iya, Ma, hati-hati."
Seusai menelepon Sindi, Nissa pun turun dari mobilnya lalu melangkah masuk ke dalam sana.
Ting~
Terdengar bunyi notifikasi pesan masuk, sebuah nomor baru yang Juna pakai untuk menghubunginya tadi.
[Mami kok lama? Cepat ke sini, Juna ada di ruang operasi.]
Membaca pesan itu, Nissa langsung berlari begitu saja menuju ruang operasi. Merasa cemas, takut jika anaknya kenapa-kenapa.
Langkah kakinya berhenti saat sudah tiba. Dilihat Juna tengah makan dengan lahap sambil duduk di kursi, di atas pahanya ada sebuah nasi bungkus dan dia makan menggunakan tangan.
__ADS_1
"Jun, kamu makan nasi dari siapa?" tanya Nissa seraya mendekat, lalu mengambil sebungkus nasi itu.
Juna cepat-cepat menelan kunyahannya. "Dari Om Polisi, Mi, Juna laper dan minta dibeliin nasi padang."
"Maaf, jadi Ibu adalah Maminya Juna?" tanya pria berseragam yang baru saja datang dengan membawa sebotol air mineral pesanan Juna tadi. Nissa menoleh, lalu mengambil sebotol air yang polisi itu berikan. "Ini air minum untuk Juna, Bu."
"Terima kasih, tapi bagaimana maksudnya ini? Dan Bapak kenapa bawa anakku ke rumah sakit?" Nissa tampak kebingungan.
"Dari pengakuan anak Ibu, Juna ...." Polisi itu menatap sebentar ke arah Juna yang melanjutkan makan. "Pas pulang sekolah ... ada dua orang pria yang nggak dikenal, dia membawa Juna secara paksa masuk ke dalam mobil," jelas Pak polisi yang mana membuat mata Nissa sontak terbelalak karena sangking terkejutnya.
"Apa mereka penculik, Pak?" tebak Nissa.
"Sepertinya begitu, tapi Ibu tenang saja. Mereka berdua sudah diamankan di kantor polisi. Sekarang mungkin sedang diintrogasi."
"Oh syukurlah." Nissa mengelus dadanya, menghela napasnya dengan lega. "Terima kasih banyak, ya, Pak, Bapak telah menolong Juna anakku."
"Mami juga harus berterima kasih sama Om Tian." Juna yang telah selesai makan itu langsung menyahut. Sang Mami menoleh.
"Kenapa bawa-bawa Om Tian?"
"Saat ditengah jalan anak Ibu diculik ...." Polisi itu melanjutkan penjelasannya. "Ada seorang pria yang bernama Tian yang mencoba menyelamatkan anak Ibu. Dia menghalangi mobil untuk berhenti. Sang penculik dan Pak Tian sempat berantem, saling adu jotos. Hanya saja, ada salah satu dari mereka yang tiba-tiba menusukkan pisau pada perut Pak Tian."
"Alhasil, Pak Tian terjatuh dan langsung tak sadarkan diri, Bu." Mendengar apa yang dikatakan Polisi, tubuh Nissa mendadak terasa lemas. Dia tak bisa membayangkan jika dirinya diposisi Tian. Pasti begitu sakit.
Jari tak sengaja kena pisau saat memotong bawang saja terasa perih dan sakit, apalagi jika pisau itu menghantam perut? Pastinya sangat ngilu.
Nissa juga ingat, saat Steven mengalami pembegalan. Pria itu sempat kekurangan darah dan mengalami koma. Syukurnya, Steven bisa selamat meskipun lukanya cukup dalam.
"Terus, bagaimana keadaan Tian, Pak?" tanya Nissa.
"Beliau sedang dioperasi, Bu," jawab Pak Polisi. "Oh ya, Ibu kok nggak datang bersama Citra Tantenya Juna? Lalu, yang ngurus biaya operasinya siapa, Bu?"
"Biar aku yang mengurusnya, Pak."
Polisi itu pun mengangguk, lalu mengantar Nissa untuk ke resepsionis. Membayar semua tagihan biaya operasi bahkan sampai Tian keluar dari rumah sakit.
Setelah itu, dia pamit pergi.
"Kamu Nissa, kan?" tanya seorang pria paruh baya yang baru saja datang. Nissa pun menoleh lalu menatap wajahnya.
"Bapak siapa?"
"Aku Yahya, temannya Angga." Ya, pria itu adalah Mbah Yahya. Dia baru saja mengantar Angga pulang dan sekarang balik lagi. Sebab alasannya ada di rumah sakit yaitu karena Rama sedang dirawat. "Om baru saja mengantar Angga pulang tadi. Ngomong-ngomong kamu ngapain di rumah sakit? Kamu sakit?"
Nissa lupa wajah Mbah Yahya. Wajar juga, sebab itu sudah lama sekali. Namun meski begitu dia tetap menghargai untuk menjawab pertanyaan dengan senyuman ramah.
"Temanku sedang dioperasi, Om. Aku ingin menjenguknya."
"Oh, kalau begitu sekalian jenguk anak Om dong, Nis. Dia juga sedang dirawat. Kena tipes." Ini kesempatan emas menurut Mbah Yahya, supaya bisa mempertemukan Nissa dengan Rama untuk pertama kalinya.
...Guys, kalau senggang kalian bisa mampir di novelnya temen Author yang satu ini π Romantis komedi. Seru pokoknya. jangan lupa mampir, ya βΊοΈπ€...
__ADS_1