
Setelah permasalahan di kantor polisi itu selesai, mereka pun langsung pulang ke apartemen.
Namun, sejak sampai apartemen wajah Steven tampak cemberut. Dia hanya fokus makan nasi goreng dua bungkus di atas piring pada meja makan.
Citra keluar dari kamarnya saat selesai mencuci muka, gosok gigi dan berganti baju tidur lengan pendek. Kemudian dia berjalan menghampiri Steven sambil melihat ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Sejujurnya Citra sudah mengantuk, tetapi rasanya tidak enak kalau meninggalkan Steven tidur disaat pria itu masih marah.
"Om masih ngambek sama aku?" tanya Citra seraya menarik kursi dan duduk di depan Steven. Pria tampan itu makan dengan lahap, pipinya sampai penuh tetapi tak menanggapi ucapan istrinya.
"Aku akan telepon Om Tegar supaya Om percaya, ya?" Citra tersenyum menatap Steven, tetapi pria itu sama sekali tak menatap ke arahnya.
Sekarang, Citra mulai mengaktifkan ponsel lamanya yang dia ambil di lemari tadi. Mungkin sudah lama ponsel itu tidak dipakai dan memang sengaja dimatikan supaya tak ada yang menghubungi.
Setelah panggilan itu terhubung, tak lama langsung diangkat oleh seberang saja. Citra segera menglospeaker panggilan itu supaya Steven dapat mendengarnya.
"Om."
"Citra! Di mana kamu bodoh?! Om sejak tadi menunggumu!" teriak Tegar. Suaranya tampak nyaring hingga membuat telinga Steven berdengung mendengarnya. Wajah pria tampan itu tampak merah padam.
__ADS_1
"Aku ...."
Belum sempat Citra menyelesaikan ucapannya, tetapi dengan cepat Steven mematikan sambungan telepon itu dan mengambil benda pipih itu dari tangannya.
"Lho, Om. Kok dimatiin hapenya?" Citra tampak bingung, mengapa suaminya itu malah mematikan ponselnya.
"Sudah sana tidur, ini sudah malam," katanya dengan ketus seraya berdiri. Steven mengantongi ponsel itu ke dalam kantong celana seraya berjalan menuju dapur. Tangannya membawa piring dan gelas kotor.
Di depan wastafel saat dirinya mencuci tangan, Citra tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dari belakang hingga membuat Steven terperangah.
Gadis itu pun perlahan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Steven. Meskipun tubuhnya kini berkeringat, tetapi nyatanya Citra terlihat sangat menyukainya. Aroma Steven begitu menggoda hingga membuatnya mabuk kepayang.
"Maaf kalau aku punya salah sama Om. Om jangan marah padaku, ya?" pinta Citra yang tak ada sahutan sama sekali. Steven serius mencuci tangan hingga bersih dan setelah selesai menyekanya dengan serbet.
Steven melepaskan pelukan. Tetapi setelah terlepas tangannya justru ditarik oleh Citra hingga membuat tubuhnya duduk di kursi. Cepat-cepat Citra naik ke atas pangkuannya dengan sekali hentakkan keras, hingga Steven dapat merasakan miliknya yang mengeras itu terhantam bokong Citra.
"Citra, apa yang kamu la ... eemmppp!" Bibir Steven langsung dibungkam oleh Citra, kemudian dilummat secara kasar. Kedua pipinya sudah ditangkup oleh kedua telapak tangan Citra hingga membuat dia susah bergerak. Citra sengaja melakukan hal itu sebab merasakan kalau Steven akan mencoba melepaskan ciumannya.
'Apa yang Citra lakukan? Kenapa dia nyosor lagi?' batin Steven. Dia pun menyentuh pinggang Citra, mungkin baru saja hendak dia dorong, tetapi sudah keduluan oleh Citra yang mendorong tubuhnya hingga tubuh keduanya menempel.
__ADS_1
Gadis itu memperdalam ciumannya dan menekan kepala Steven sampai wajah pria itu mendongak ke atas menatap cahaya lampu.
Steven kebingungan sendiri, permainan Citra memang sangat kaku dan amatir. Tetapi tak dipungkiri jika saat ini gadis itu sangat ganas melakukannya. Lidahnya sudah begitu lincah masuk ke dalam rongga mulut, tetapi arah tujuannya tidak tahu. Hanya memutar-mutar saja.
Semakin lama bibirnya dihisap, tentu membuat Steven terpancing. Steven langsung membalas ciuman itu dan meremmas bokong sintal istrinya.
Perlahan Citra melepaskan ciumannya, lalu menarik baju tidurnya ke atas. Tidak hanya itu saja, dia juga melepaskan bra lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Kedua benda kenyal yang menyembul itu terlihat begitu menantang, Steven tampak terkesima sesaat, lalu menggeleng cepat.
"Citra, kamu mau ap ... eemmppp!" Perkataan Steven mengantung kala kepalanya sudah Citra tarik lalu menjepit wajahnya pada belahan dada.
Citra langsung mendusel-dusel buah dadanya pada wajah Steven. Dia sendiri tak mengerti maksud mengapa melakukan hal itu, tetapi yang jelas rasanya enak dan sangat menyukai jika Steven bermain pada asetnya.
'Duh, Citra ngapain ini? Enak banget, kenyal kayak agar-agar.'
...Sok sok'an nolak, padahal enak 🤣🤣...
__ADS_1
...Yang pada baca kemana, nih? Kok nggak ada jejak like? 🥲...
...walau ga kasih hadiah atau komen, minimal like gitu kek 🤧...