
Seusai melakukan tes DNA serta membuat surat perjanjian dan menandatanganinya, Tian pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit tempat di mana Nissa dirawat.
Sebenarnya tadi, dia sempat meminta Della untuk mengizinkannya membawa Silvi. Akan tetapi wanita itu melarang, karena hasil tes tentang bukti Silvi adalah anak Tian belum keluar.
Kalau memang sudah terbukti, Della akan memberikannya izin karena dalam surat perjanjian mereka juga tertera di sana.
"Mas, siapa yang sakit?"
Pertanyaan dari seorang perempuan yang tak sengaja berpapasan dengannya membuat langkah Tian terhenti. Dia pun menatap ke arah depan dan ternyata perempuan itu adalah Aulia.
"Nissa yang sakit." Tian menjawab seadanya. Kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam sana.
Namun, Aulia justru berlari mengejarnya. "Sakit apa Nissa, Mas?" tanyanya lagi.
"Dia nggak sakit, cuma kelelahan karena hamil muda."
Degh!
Dada Aulia sontak ngilu sekali mendengarnya. Dia ingin cepat hamil, tapi justru kalah cepat oleh Nissa.
"Hamil? Perasaan kalian menikah belum ada sebulan, kan?" Aulia masih melangkah di samping Tian.
"Terus kenapa memangnya?" Tian menatapnya sebentar dengan sinis.
"Harusnya ya aku dulu dong yang hamil. Jangan Nissa. Kan aku sama Mas Abi yang kepengen banget punya anak," sahut Aulia yang tampak tak terima.
"Lho, yang kasih anak 'kan Allah. Mangkanya kamu minta yang benar dan berusaha, biar cepat punya anak."
"Tunggu dulu, Mas!" Aulia mencekal lengan Tian, menghentikan langkah kaki pria itu. Padahal sedikit lagi dia hampir sampai ke kamar inap Nissa.
"Kenapa dan mau apa?" Tian menoleh dan menepis tangan perempuan itu dengan kasar.
"Biasa aja kali, Mas, kenapa, sih, kayak emosi gitu sama aku?"
"Ya jelaslah aku emosi. Memangnya kamu pikir ... aku bisa lupa dengan kelakuanmu dulu padaku?!" Tian menunjuk wajahnya sendiri. Tidak ada dendam sebenarnya, hanya saja luka penghianatan itu sulit untuk sembuh dan tidak bisa rasanya Tian bersikap biasa saja kepada Aulia. "Cepat katakan apa yang mau kamu katakan, aku ingin ketemu Nissa. Kangen aku sama dia."
"Aku dan Mas Abi mau Juna tinggal bersama kami. Tolong Mas bujuk Juna dan Nissa."
__ADS_1
Tian langsung terkekeh mendengarnya, lalu geleng-geleng kepala. "Kamu pikir kamu siapa? Enak saja menyuruhku sembarangan. Dan tentang Juna, jangan harap kalian mau ambil dia dariku dan Nissa. Dia sudah menjadi anakku dan bagian dari hidupku!" tegasnya. Kemudian melangkah cepat meninggalkan Aulia.
"Nggak adil banget sih ini, kan aku yang menikah lebih dulu dengan Mas Abi. Tapi kenapa justru mereka dulu yang dikasih anak?! Padahal yang sedang membutuhkan anak itu kami berdua, bukan mereka!" geram Aulia.
Kedatangannya di rumah sakit adalah untuk mengecek perkembangan rahimnya. Namun, tidak ada kemajuan apa-apa meskipun dia sudah melakukan promil. Tipis sekali kemungkinan dia bisa hamil, apalagi sudah divonis mandul.
***
30 menit kemudian, mobil putih Steven akhirnya terparkir di halaman rumah Angga. Dia pun lantas turun dari mobil bersama Citra.
Ceklek~
Pintu rumah mewah itu terbuka, keluarlah Suster Dira yang mendorong troli bayi berisi si kembar yang tengah tertidur pulas. Mereka terlihat sudah mandi dan segar, memakai baju berwarna biru bergambar Doraemon.
Di sampingnya ada bibi pembantu, dia baru saja keluar dengsn mendorong dua koper di tangannya.
"Masukkan ke dalam sini, Bi," titah Steven seraya membuka bagasi belakang mobilnya.
Bibi pembantu mengangguk, kemudian menaruhnya ke dalam sana dengan dibantu oleh Bejo yang baru saja berlari mendekati mereka.
"Pak Steven mau ke mana? Kok pakai bawa koper segala?" tanya Bejo penasaran.
Kevin dan Janet yang tengah makan buah apel di meja dekat pos satpam langsung terbang menghampiri. Keduanya merasa penasaran sebab terlihat sekali Steven begitu sibuk.
"Kakak Steven mau ke mana?" tanya Kevin lalu mendarat di atas bahu Steven. Pria itu sibuk melipat troli bayi yang si kembar pakai, lalu menaruhnya ke dalam bagasi.
Citra sudah menggendong Vano, sedangkan Suster Dira menggendong Varo.
"Kita mau pindah ke apartemen, Vin." Yang menjawab Citra. Sebab dilihat dari wajah Steven yang masam, pria itu pasti tak akan menjawabnya. Sampai sekarang pun, Steven memang kadang kala tak pernah akur dengan burung itu.
"Apartemen itu apa, Nona?" Kevin menatap ke arah Citra.
"Mirip seperti hotel. Tapi isi di dalamnya lengkap seperti rumah. Kamu tau hotel, kan, Vin?"
"Tahu. Tapi kenapa harus pindah Nona Cantik? Saya 'kan tidak mau jauh dari Nona," ucapnya dengan sedih.
"Karena aku punya adik!" sahut Steven dengan lantang dan penuh amarah.
__ADS_1
"Kita 'kan memang Adik Kakak, terus kenapa?" Kevin kembali bertanya. Sepertinya ia tak paham maksud Steven.
"Maksudnya Mama Sindi sekarang sedang hamil, Vin," jawab Citra.
Suster Dira, Bejo dan Bibi pembantu sontak terkejut. Mereka membulatkan matanya dengan lebar secara bersamaan.
"Nona serius? Masa, sih, Bu Sindi hamil?" tanya Bejo yang tampak tak percaya.
"Serius, Om. Memang itu kenyataannya."
"Ayok masuk ke dalam sama Vano, Cit!" perintah Steven lalu membuka pintu depan. Citra mengangguk dan langsung masuk ke dalam.
"Suster Dira dibelakang, sama Varo," titah Steven menatap wanita berseragam putih di depannya. "Suster juga ikut tinggal bersama kami, supaya ikut membantu Citra mengurus si kembar."
"Baik, Pak." Suster Dira mengangguk lalu masuk dan duduk di belakang bersama Varo yang dia gendong.
"Saya, Janet, Luna dan Luki ikut ya, Kak?" pinta Kevin. Sejak tadi dia masih berada di pundak kanan Steven, lalu mengibaskan sayapnya seraya menatap kedua anaknya yang tengah bermain bola. "Luna! Luki! Ke sini!"
Mereka berdua langsung menoleh, dan mulai mengibaskan sayapnya lalu terbang ke arah Kevin. Keduanya sudah bisa terbang sekarang, meskipun belum bisa terlalu tinggi.
"Ada apa Papa?" tanya Luki. Selain bisa terbang, mereka juga sudah lancar bicara meskipun belum terlalu jelas suaranya.
"Kalian masuk ke mobil," titah Kevin.
Tanpa banyak bertanya, Luna dan Luki langsung masuk ke dalam mobil lewat jendela, lalu duduk di kursi belakang.
"Ngapain kamu ikut segala? Pakai bawa anak dan istrimu lagi. Nggak usah ikut-ikutan lah, Vin!" omel Steven. Dia langsung menepis kasar pundaknya supaya Kevin menyingkir. Emosinya betul-betul meledak dan rasanya dia ingin makan orang.
Setelahnya, Steven langsung masuk ke dalam kursi kemudi, akan tetapi Kevin dan Janet justru ikut masuk juga dan duduk di atas dasbor.
"Kami harus ikut, saya juga tidak mau punya adik," sahut Kevin.
"Eh, Kevin, Janet, Luna, Luki, kalian jangan ikut!" seru Bejo melarang. Kedua tangannya terulur masuk ke dalam mobil dan perlahan meraih tubuh Kevin. Namun burung itu justru mematuknya. "Dih, Vin, nanti Pak Angga marah, masa kalian ikut-ikutan pindah?"
"Biarkan saja. Saya ingin ikut Kakak Steven dan Nona Cantik." Kevin melengos, lalu menggeserkannya tubuhnya supaya tak dapat Bejo sentuh. Janet juga melakukan hal yang sama.
Steven malas sekali berdebat, dadanya begitu panas dan emosinya mendidih. Dia pun memilih untuk diam, lalu mengemudikan mobilnya. Berlalu pergi dari sana.
__ADS_1
...Wah, dua calon pengais bungsu sama-sama pergi 🤣 mana bawa anak bini lagi. Kasihan Opa Angga dan Oma Sindi sih ini, ditinggalin 😂...