
Hal yang pertama mereka lakukan adalah pergi ke pusat perbelanjaan yakni mall. Selain ingin membeli seragam, Tian juga sekalian ingin membeli anting untuk Silvi.
"Biar nanti semua perlengkapan Juna aku yang bayar ya, Ti," ucap Abi.
Sejak sampai mall pria itu langsung menggendong Juna, seolah membuatnya supaya lebih dekat dengannya. Padahal Juna sendiri terlihat tak nyaman, bahkan seperti tertekan. Sebab dia sendiri inginnya digendong sama Tian, bukan sama dia.
"Jangan Bapak semua, aku 'kan juga Papinya, jadi kita bagi dua saja," jawab Tian supaya adil.
"Nggak ah. Kamu 'kan hanya Papi tiri, nggak ada hubungan darah. Harusnya aku dong yang berhak ngasih semuanya." Abi menolak.
Menurutnya itu sama saja membuat Juna membagi kasih sayangnya. Karena yang dia inginkan, anaknya itu hanya sayang kepadanya saja. Tidak kepada Tian.
"Eemm ... ya sudah deh, terserah Bapak." Tian tidak mau mengajak ribut, jadi dia mengalah.
"Tapi Juna nggak mau, selera Papi Abi pasti jelek kayak orangnya!" cerocos Juna yang tampak tak setuju.
"Heh! Kamu ngomong apa tadi, Jun?!" Abi langsung melototinya. Tapi hanya sebentar saja sebab dia seketika teringat jika harus bersabar.
"Selera Papi jelek kayak orangnya yang jelek!" seru Juna menegaskan.
__ADS_1
"Kamu ini kalau ngomong suka asal ya, Jun." Abi tertawa hambar dengan rasa kesal di dadanya. "Kalau Papi jelek berarti kamu juga jelek dong."
"Enak saja. Juna ganteng!" Juna menepuk dadanya dengan bangga.
"Tapi wajah kita 'kan mirip. Ya kalau Papi jelek, kamu juga jelek."
"Dih, nggak usah kepedean deh Papi. Kata siapa kita mirip? Orang nggak!" bantah Juna. Meskipun memang benar mereka berdua mirip bagai pinang yang dibelah dua, tapi Juna sama sekali tak menganggap mereka mirip. Tak sudi rasanya, jika dimiripkan dengan orang yang telah menyakiti Maminya.
"Coba tanya Papi tirimu." Abi menatap ke arah Tian, lalu menempelkan pipinya ke pipi Juna. "Mirip 'kan, Ti?"
"Iy ...." Ucapan Tian langsung terhenti kala melihat Juna menatapnya sambil menggerakkan kedua tangannya yang menyilang. Seolah memintanya untuk mengatakan tidak mirip. "Tapi menurutku, Juna jauh lebih mirip dengan Nissa. Daripada dengan Bapak," jawabnya.
Entah apa maksudnya Abi berkata demikian. Tapi perkataannya itu benar-benar tidak pantas diucapkan di depan anak dibawah umur, dan sekaligus membuat dada Tian terasa sesak.
"Bapak ini bicara apa, sih! Kok nggak pakai filter ngomongnya?! Nggak baik tau!" geram Tian marah, wajahnya seketika masam dan merah padam. Segera, dia meriah tubuh Juna, kemudian melangkah lebih dulu untuk masuk ke dalam salah satu toko seragam sekolah.
"Haha, panas ya, Ti." Abi tertawa jahat. Dia merasa senang melihat kemarahan Tian tadi. Dan memang dia sengaja memancing emosi pria itu, demi menunjukkan jika Tian bukan pria yang lemah lembut. Seperti apa yang dikatakan anaknya. "Mangkanya jangan sok jadi pria yang paling sempurna untuk Nissa dan Juna. Karena sebelum kamu, ada aku di hati mereka. Kamu hanya mendapatkan bekas dariku, Ti." Tersenyum sinis, kemudian menyusul masuk ke dalam toko.
"Selamat siang dan selamat datang Bapak, Adek ... lagi cari apa? Bisa saya bantu?" Seorang pelayan toko perempuan langsung menyambut kedatangan mereka bertiga. Tak lupa dengan ukiran senyum ramah pada sudut bibirnya.
__ADS_1
Tian membuang napasnya dengan kasar. Kemudian bibirnya itu sudah menganga ingin berucap, tapi keduluan oleh Abi.
"Carikan semua perlengkapan sekolah SD untuk anak semata wayangku. Yang paling bagus dan tentunya mahal!" seru Abi seraya mengusap rambut Juna.
"Tapi kami hanya menjual seragamnya saja, Pak," sahut wanita itu sambil membungkuk sopan.
"Nggak masalah. Carikan yang bagus dan mahal."
"Baik, Pak. Tapi sekalian mau dicoba atau nggak? Biar cocok nggaknya." Pelayan toko itu menatap ke arah Juna. Sedangkan Juna sejak tadi memerhatikan wajah Tian yang masih tampak tegang dan menahan rasa kesal di dada.
"Papi nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Juna pelan seraya mengusap keringat di dahi Tian, yang baru saja mengalir.
"Nggak kok." Tian menggeleng dan langsung tersenyum menatapnya.
"Harus dicoba dulu dong, Bu. Masa nggak sih," ujar Abi yang menyahuti pertanyaan sang pelayan toko tadi. Perlahan dia pun meraih tubuh Juna, kemudian menggendongnya. "Kamu ikut Papi, ya, kita coba baju seragam di ruang ganti," katanya seraya melangkah, mengikuti kemana pelayan toko yang barusan mengajaknya.
Tian memerhatikan mereka sambil melangkah mengekorinya. Hatinya masih terasa sakit mendengar apa yang dikatakan Abi, tapi dia mencoba untuk melupakannya dan bersikap normal. 'Nggak perlu sakit hati, Ti. Nissa ngidam seperti itu 'kan memang dulunya Pak Abi suaminya, jadi wajar. Tapi ... apa sampai sekarang Nissa masih mencintai Pak Abi? Dan belum ada aku di hatinya?' batinnya bertanya-tanya.
...Nggak mungkinlah, Om 🤣 pria nggak guna kayak Om Abi mah udah terhempas kali di hatinya 😆...
__ADS_1