
"Ma ...," ucap pria itu yang menghampiri istrinya. Perlahan dia duduk lesehan, lalu memeluk tubuh Mbah Dijah. Wanita itu masih terisak dalam tangis.
"Kita bukan hanya kehilangan anak, tapi juga cucu, Pa," ringisnya tersedu-sedu.
"Iya. Mama yang sabar, jangan ditangisi mulu, nanti langkah dia berat di sana," tegur suaminya seraya mengusap punggung. "Oh ya, Ma, ada pria diluar menanyakan makam anaknya sama Mama."
"Memangnya Mama penjaga makam?" tanyanya sambil mengusap air mata. Akan tetapi kembali dia menangis sebab teringat anaknya.
Padahal, dia adalah seorang dukun beranak yang cukup terkenal dan berpengalaman. Tapi bisa-bisanya dia tak mampu membantu anaknya yang akan melahirkan.
"Papa juga nggak ngerti. Tapi orangnya nungguin diluar, dia juga Papa lihat tadi sempat membantu memakamkan anak dan cucu kita, Ma."
"Mana orangnya?" tanya Mbah Dijah kemudian melepaskan pelukan.
"Itu, dia orangnya." Sang suami menggerakkan dagunya ke arah Tian yang berdiri sambil tersenyum di ambang pintu. Pria itu seperti ingin masuk. Hanya saja dia tampak ragu.
"Mama nggak kenal sama dia." Mbah Dijah menggeleng, dia menatap asing Tian.
"Sama istrinya mungkin Mama kenal. Coba saja ngobrol sebentar, ya?" bujuk sang suami lalu mengusap air mata dipipi.
"Ya sudah, suruh masuk. Tapi ngobrolnya di dapur saja. Di sini banyak orang yang ngaji, nggak enak." Mbah Dijah menatap tiga orang pria yang tengah mengaji di sekitarnya. Mengirimkan do'a untuk anaknya.
"Iya. Ayok Papa antar ke dapur dulu, Papa juga akan buatkan Mama teh hangat biar agak baikan." Sang suami merangkul bahu Mbah Dijah, lalu menarik dan memapahnya sampai dapur.
__ADS_1
Wanita itu duduk di kursi dan segera, suaminya itu membuatkan teh manis hangat pada gelas, lalu meletakkan di atas meja.
"Minum dulu ya, Ma. Nanti Papa kembali," ucapnya lalu mengecup pipi kanan Mbah Dijah. Kemudian melangkah menemui Tian.
"Bagaimana, Pak?" tanya Tian sambil tersenyum. Wajahnya harap-harap cemas.
"Bapak bisa menemui istri saya, tapi sebentar dan bicaralah dengan lembut, ya, Pak," pintanya. Tian mengangguk cepat. "Oh ya, Bapak ke sini sama istri Bapak nggak? Soalnya istri saya nggak kenal Bapak katanya."
Tian menatap ke arah Nissa yang duduk di samping Nurul dan beberapa warga. Segera dia pun melambaikan tangan dan membuat kedua wanita berbeda generasi itu berdiri lalu melangkah menghampirinya.
"Bagaimana, Ti?" tanya Nurul.
"Ini, katanya aku boleh menemui Mbah Dijah, tapi sama Nissa. Barangkali dia kenal Nissa," ucap Tian yang tampak bingung. Nissa sendiri kelihatannya seperti tak mengenal Mbah Dijah atau suaminya.
"Bukan Nissa, Pak," ujar pria di depannya. "Tapi Fira, yang tadi Bapak katakan sebelumnya itu." Sepertinya dia salah tangkap tadi. Padahal Tian sudah mengatakan kalau mantan istri, tetapi yang dia sebutkan kepada Mbah Dijah hanya istri saja, tidak pakai istri.
"Oh. Kalau Fira nggak ada dan dia mantan istriku, Pak. Tapi memang makam yang ingin aku tanyakan adalah anak dari aku dan Fira." Tian menjelaskan supaya tak salah paham.
"Sama Mama saja menemuinya, Ti. Mbah Dijah pasti kenal Mama. Soalnya dia dulu dukun beranaknya Mama pas melahirkan Fira," ucap Nurul.
"Yang ...." Tian menatap istrinya lalu mengusap bahu. "Kamu tunggu di sini dulu sebentar nggak apa-apa, kan? Tapi jangan ke mana-mana, ya?" pintanya. Sebenarnya tak enak, tapi mau bagaimana lagi? Tian bingung.
"Nggak masalah, Yang." Nissa tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia menuju bale dan duduk lagi di sana. "Aku tunggu di sini," tambahnya.
__ADS_1
"Ayok, saya antarkan ke dapur," ajak pria itu yang melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya. Tian dan Nurul pun melangkah mengekorinya.
"Malam, Mbah, aku ikut prihatin dan berbela sungkawa atas meninggalnya anak dan cucu Mbah," ucap Nurul lalu mengulurkan tangannya kepada Mbah Dijah.
Sebelum membalas uluran tangan wanita itu, Mbah Dijah lebih dulu memperhatikan wajah Nurul dengan seksama.
"Terima kasih. Kamu Nurul, kan?" tebaknya. Sepertinya dia memang masih ingat dengan Mamanya Fira.
"Iya." Nurul tersenyum saat tangannya di sambut oleh tangan wanita itu.
"Kalian duduk saja dan ngobrol lah, tapi hanya 10 menit, ya!" tegur suami Mbah Dijah yang baru saja keluar dari kamar dengan membawa kursi plastik. Kemudian menaruhnya di dekat Tian dan Nurul.
"Iya, Pak." Tian mengangguk lalu duduk di sana, begitu pun dengan Nurul. Setelah itu, suaminya Mbah Dijah berlalu pergi.
"Sejak kapan aku memakamkan anakmu, Nur? Bukannya si Fira masih hidup, ya?" tanya Mbah Dijah menatap heran wanita di depannya.
"Bukan si Fira, Mbah. Tapi aku dengar dari Fira ... katanya pas dia melahirkan Mbah yang membantu, terus anaknya meninggal dan Mbah juga yang memakannya, kan?" jelas Nurul memberitahu.
"Oh, tapi anaknya si Fira itu nggak meninggal deh perasaan." Mbah Dijah terdiam dan mengingat-ngingat. Akan tetapi seketika dia terbelalak kala teringat ucapan Fira yang harusnya dia merahasiakan semua itu. Cepat-cepat Mbah Dijah menampar mulutnya, sebab sudah keceplosan.
"Nggak meninggal?" tanya Tian. Dia sebenernya kaget, tapi bercampur bingung juga. Ucapan Fira, Nurul dan Mbah Dijah banyak yang berbeda. Memiliki versi masing-masing.
...Yang jujur mah cuma Author Om 🤣...
__ADS_1