
30 menit kemudian, Tian menghentikan mobilnya di depan rumah panti. Lantas dia turun dan kebetulan ada Wiwik yang tengah menyapu halaman.
"Assalamualaikum, Bu," ucap Tian dengan ramah dan tersenyum manis.
"Walaikum salam." Wanita berhijab merah senada dengan gamisnya itu lantas mengangkat wajah, lalu menatap Tian. "Eh, Pak, Tian. Bapak cari siapa? Bu Nurul?"
"Aku ingin mengobrol sama Ibu dan Bu Andin. Beliau ada di sini nggak ya, Bu?" tanya Tian.
Nurul yang berada di dalam rumah tak sengaja melihatnya. Wanita itu baru saja selesai membuat nasi goreng untuk anak-anak panti. 'Pagi-pagi Tian sudah ke sini, pasti mau tanyain masalah Tina.' Dia pun melangkah masuk lagi ke dapur, ingin membuatkan kopi untuk pria itu.
Semenjak mengetahui jika Tina belum meninggal dan Fira menipunya, Nurul jadi merasa simpati terhadap Tian. Ada rasa sayang juga kepada pria itu.
Saat kopi hitamnya sudah jadi, Nurul pun mengantarkannya menuju ruang tamu. Kebetulan Tian dan Wiwik sudah duduk di sana.
"Ma ...," sapa Tian. Dia langsung berdiri ketika mantan mertuanya itu meletakkan kopi di atas meja. Kemudian setelah itu dia mencium punggung tangannya.
"Kamu pagi-pagi sekali datangnya. Itu Mama buatkan kopi." Nurul menggerakkan dagunya ke arah meja. "Sudah sarapan belum kamu, Ti? Mau nasi goreng nggak?" tawar Nurul yang tampak begitu perhatian.
"Aku sudah sarapan kok, Ma. Sebelum sampai, tapi terima kasih kopinya." Tian tersenyum, lalu duduk lagi di sofa single. Nurul juga ikut duduk pada sofa di sampingnya.
"Sama-sama," jawab Nurul.
"Bagaimana, Bu?" Tian menatap Wiwik yang baru saja menurunkan ponsel yang tadinya berada di telinga. Wanita itu sempat mengatakan jika dia akan telepon Andin, memintanya untuk datang sebab Tian mengatakan akan mengobrol masalah yang penting.
"Dia lagi dijalan, Pak. Kebetulan mau ke sini," jawab Wiwik.
"Syukurlah." Tian menghela napasnya dengan lega. Tangan perlahan merogoh kantong celana untuk mengambil sebuah ponsel. Dia membuka galeri lalu memperlihatkan foto Tina kepada Wiwik.
Sebelum Andin datang, tak ada salahnya sambil menunggu Tian tanya-tanya dulu kepada Wiwik. Mungkin, wanita itu dapat membantunya.
"Ibu kenal foto bayi ini, nggak?" tanya Tian.
Wiwik mengambil ponsel Tian, lalu menilik foto tersebut. "Ini kayak fotonya Silvi. Tapi kok, Bapak bisa punya fotonya?" tanyanya heran.
'Ternyata ... bukan cuma aku, Mama dan Nissa saja yang beranggapan Tina adalah Silvi, tapi Bu Wiwik juga,' batin Tian.
__ADS_1
"Itu foto anakku yang bernama Tina, Bu. Aku dibohongi istriku. Dia bilang ... Tina itu sudah meninggal, tapi ternyata kata dukun beranaknya dia masih hidup," jelas Tian. "Terakhir bertemu, dia bilang mantan istriku membawa Tina entah kemana."
"Terus, maksud Bapak ... Bapak berpikir Tina itu adalah Silvi?" tebak Wiwik.
"Iya." Tian mengangguk cepat. "Silvi sendiri, apa ada tanda lahir di perutnya?"
Belum sempat Wiwik menjawab, akan tetapi tiba-tiba saja terdengar suara wanita yang mengucapkan salam. Dia adalah Andin.
"Assalamualaikum," ucapnya lalu melangkah masuk.
"Walaikum salam." Mereka bertiga menyahut bareng lalu menoleh.
Wanita berumur yang masih cantik itu langsung duduk di samping Wiwik, pada sofa panjang. "Bapak ini siapa? Mau mengadopsi bayi?" tanya Andin yang menatap asing Tian.
"Aku Tian, Bu. aku datang mau ngambil Silvi, dia adalah anakku." Tian langsung to the poin.
"Silvi anak Bapak?" Andin mengulang pernyataan Tian, keningnya tampak mengernyit heran. "Oh, jadi Bapak yang tega membuang Silvi di gerbang pas hujan-hujan?!" tanyanya setengah marah. Wajahnya merah dan terlihat jelas jika Andin tak terima dengan perlakuan yang dia anggap Tian melakukannya.
"Aku nggak membuang Silvi, Bu!" bantah Tian dengan gelengan cepat. "Aku malah baru tahu kalau Silvi itu dibuang di gerbang panti. Pasti yang melakukannya adalah mantan istriku."
"Silvi itu memang anakku. Dia perempuan, cantik dan wajahnya mirip denganku," ucap Tian yang sudah sangat yakin. "Selain itu, Tina yang menjadi Silvi mempunyai tanda lahir berwarna hitam di perutnya, benar, kan?"
"Kalau Bu Wiwik dan Bu Andin nggak percaya ... Tian dan Silvi bisa melakukan tes DNA," saran Nurul. Dia membuka suara demi membantu Tian.
"Ya sudah, coba dulu saja tes DNA, biar terbukti," tantang Wiwik.
"Tapi kalau pun Bapak benar Ayah kandungnya, Bapak tetap nggak bisa mengambil Silvi dari tangan Pak Dono dan Bu Della," tegas Andin.
"Lho, kenapa? Aku 'kan Ayah kandungnya, aku berhak merawatnya." Tian menepuk dadanya.
"Itu memang benar. Tapi apa pun alasannya ... Silvi sudah menjadi anak panti di sini. Pak Dono dan Bu Della mengadopsinya secara resmi dan sudah ada peraturan tersendiri, orang tua kandung yang menelantarkan anaknya tidak berhak untuk mengambilnya," jelas Andin.
"Tapi yang menelantarkan itu mantan istriku, Bu, bukan aku,” ungkap Tian membela diri.
"Tetap saja Bapak salah, karena tindakan mantan istri Bapak tidak dapat Bapak cegah."
__ADS_1
"Tapi, Bu, aku—"
"Sebaiknya kita langsung ke rumah Pak Dono dan Bu Della, Ti," sela Nurul cepat. "Kita lakukan tes DNA dulu, baru setelah itu kita pikirkan langkah selanjutnya," sarannya.
"Iya." Tian mengangguk, lalu berdiri. Nurul pun ikut berdiri.
"Bu Nurul nggak boleh ke mana-mana," ucap Andin menatap Nurul dengan serius "Ibu selesaikan pekerjaan di dapur," titahnya.
"Biar aku sendiri saja, Ma. Aku juga bisa," ucap Tian. Dilihat Nurul sejak tadi menatap ke arahnya, wanita itu seperti ingin ikut. Akan tetapi tak diizinkan.
"Ya sudah. Tapi nanti kalau ada apa-apa dan butuh bantuan ... kamu telepon Mama saja, Ti," pinta Nurul berbaik hati. Setelah itu dia melangkah menuju dapur.
"Kalau begitu aku pamit, Bu." Tian menatap Andin dan Wiwik bergantian sembari tersenyum. "Assalamualaikum."
"Walaikum salam," jawab Andin dan Wiwik bersamaan. Keduanya lantas menatap punggung Tian yang menghilang dari balik pintu.
"Kalau misalkan Pak Tian datang ke sini lagi, lalu meminta tolong Ibu untuk membantunya mengambil Silvi dari tangan Pak Dono dan Bu Della ... Ibu jangan mau, ya?!" tegur Andin menatap Wiwik dengan serius.
"Iya, Bu." Wiwik mengangguk patuh.
"Bagus, biarkan saja dia yang membujuk mereka. Aku paling nggak suka dengan orang tua yang begitu tega terhadap anaknya." Andin perlahan membuang napasnya dengan berat.
"Iya, Bu." Wiwik mengangguk. "Sebenarnya, saya juga sempat mendengar cerita tentang Pak Tian dari Bu Nurul. Dia dibohongi mantan istrinya. Saya merasa kasihan, tapi walau bagaimana pun memang sudah begitu peraturannya. Jadi ... saya bingung sendiri."
***
30 menit kemudian, mobil Tian sampai di depan rumah Dono. Kebetulan sekali, Della tengah duduk bersama Silvi yang hanya memakai popok di halaman depan rumah. Mereka tengah berjemur dan Della duduk pada kursi plastik.
"Assalamualaikum." Tian turun dari mobil dengan bola mata yang berkaca-kaca, kakinya melangkah mendekat dan bibirnya tersenyum manis Silvi.
"Walaikum salam." Della mengangkat wajahnya, lalu menatap Tian. "Eh, Pak Tian. Ngapain Bapak ke sini?"
Bukannya menjawab, Tian justru secara tiba-tiba meraih tubuh Silvi lalu menggendongnya. Bayi yang tengah tertidur itu langsung mengerjapkan mata. Apalagi Tian sudah memberikan kecupan yang bertubi-tubi pada seluruh wajahnya.
Della yang melihatnya sontak terkejut dengan bola mata yang membulat. Dia langsung berdiri dan mengambil Silvi dari tangan Tian. Tindakan pria itu menurutnya kurang etis dan membuatnya tak terima. "Apa yang Bapak lakukan?! Kenapa Bapak menciumi anakku tanpa izinku?!" tanyanya marah.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^