
"Papa ini nanya apa, sih?" Nissa menepis tangan Angga dengan kasar. Baginya, pertanyaan semacam itu tak sepantasnya dia jawab. Selain itu, Nissa juga merasa malu sebab Dono dan Bejo ada di sana. Tentu ikut mendengar juga.
"Dih, Nis! Ditanyain bener-bener juga!" Angga berdiri dan melangkah mengejar Nissa. Saat anaknya itu lebih dulu melangkahkan kaki.
Sebelum membuka pintu utama rumahnya, kembali dia mencekal pergelangan tangan Nissa.
"Nissa, Papa tanya, kamu harus menjawabnya!" tekannya dengan penuh penasaran. "Papa akan membantu kalau memang benar, kamu belum dikencingin Tian."
Nissa menoleh. Lagi-lagi kata kencing. Tetapi dia juga tak bisa membohongi dirinya sendiri. Saat mendengar kata itu, pikiran Nissa langsung berkelana. Mengingat percintaannya dengan Tian saat itu.
"Tuh 'kan, malah bengong lagi? Kalau susah karena Juna, biar dia menginap di sini dan tidur sama Papa. Titipkan saja Juna, Nis." Angga tentu sangat menyayangi Nissa, apalagi dia anak perempuan satu-satunya dan pernah disakiti oleh mantan suami. Dia yakin—Nissa pasti merindukan belaian dari seorang laki-laki.
"Mana mau Juna menginap disini, Pa. Kalau pun mau pasti dia meminta sama Tian juga. Mereka 'kan seperti prangko. Nggak bisa dipisahkan," jawab Nissa. "Nggak apa-apa, Pa, kalau mereka begitu dekat. Aku justru bahagia, melihat Juna bahagia."
"Tapi kamu juga sepertinya butuh meraih kebahagiaan untuk dirimu sendiri, Nis." Angga perlahan mengelus rambut Nissa, lalu tersenyum. Dia mengerti maksud dari perkataan yang terlontar itu. "Nanti Papa akan merayu Juna, supaya kamu dan Tian bisa menghabiskan waktu berdua."
Nissa tak menjawab, kalau pun mengiyakan kalau benar dia ingin—rasanya malu. Pada akhirnya dia hanya tersenyum saja. Kemudian kakinya dan kaki Angga melangkah masuk ke dalam rumah.
*
Juna masuk ke dalam kamar Steven yang pintunya terbuka lebar. Dahinya tampak mengerenyit kala melihat Varo tengah digendong oleh seorang wanita dewasa yang memakai seragam mirip perawat. Berwarna pink.
"Tante siapa? Kok gendong Dedek Upin?" tanya Juna seraya mendekat. Sindi pun ikut masuk. Melangkah di belakangnya.
"Namanya Suster Dira, Jun. Dia pengasuhnya Dedek kembar." Yang menjawab Sindi lalu menatap wanita di depannya. "Dia cucuku, Dira. Namanya Juna."
"Hai, Jun. Kamu tampan sekali," sapanya sambil tersenyum. Dia bekerja baru kemarin dan Sindi mengambilnya dari yayasan karena katanya kalau dari sana jauh lebih berpengalaman.
Namun, tidak sepenuhnya si kembar dia yang mengurus. Dia hanya membantu-bantu meringankan pekerjaan Sindi dan Citra saja. Citra juga sudah mulai aktif kuliah lagi, pasti dia lebih gampang kelelahan kalau tidak dibantu.
"Juna memang tampan," jawab Juna dengan pede. "Tapi kenapa pakai pengasuh segala? Lebay banget. Juna saja pas dari bayi nggak pakai pengasuh." Juna mengangkat tangannya, lalu menoel-noel pipi Varo. Bayi mungil yang berusia 2 Minggu itu tampak terlelap dari tidurnya.
"Kata siapa? Kamu pakai pengasuh juga, Jun," jawab Sindi. Mendengar Vano menangis di dalam ranjang bayinya, segera dia mengendong dan menimang-nimang.
"Masa, sih? Juna kok nggak inget?"
"Ya 'kan kamu masih kecil. Mana inget kamu."
"Juna mau gendong dong, Oma!" Juna mengangkat kedua tangannya ke arah tubuh Vano yang dibedong.
"Kan kamu lihat Oma lagi gendong Vano. Kamu jangan minta gendong Oma dulu."
__ADS_1
"Juna bukan minta gendong. Tapi biar Juna yang gendong Dedek Ipinnya."
"Oh. Tapi dia masih terlalu kecil. Nanti kecetitit, Jun."
"Kecetitit itu apa?"
"Masa kamu nggak tahu kecetitit? Intinya badannya sakit, bisa diurut nanti si kembar." Sindi membaringkan tubuh kecil bayi itu di atas tempat tidur, sebab popoknya terasa penuh. Harus diganti.
"Memangnya kalau diurut kenapa? Ya nggak apa-apa, Oma."
"Kasihan, nanti nangis. Kan diurut sakit." Sindi duduk di kasur, kemudian melepaskan kain bedong dan popoknya.
Juna ikut duduk juga, lalu perlahan mengecup pipi kiri Vano. "Dih, kok burung Dedek kecil banget, Oma. Kayak jari kelingking Juna?" kekehnya sambil menoel burung kecil bayi tersebut.
Dira membaringkan Varo pada ranjang bayi. Kemudian menuju kamar mandi untuk mengambil air untuk membasuh Vano.
"Ya namanya masih bayi. Kan tubuhnya saja masih kecil, Jun. Masa tubuh kecil burungnya gede? Kan aneh," kekeh Sindi.
"Terus kapan, si kembar disunat, Oma? Juna pengen lihat dong." Juna mengecup lagi pipi Vano. Bayi mungil itu membuka matanya sambil memperhatikan wajah Juna.
"Masih kecil, jangan dulu disunat. Eh tapi katanya si Jordan mau disunat besok, Jun. Kamu sudah tahu belum?"
Jordan anaknya Sofyan, sedangkan Johan anaknya Rizky.
"Nggak. Cuma Jordan."
"Kok nggak bareng? Mereka 'kan pas lahir bareng juga."
"Jordannya kepengen sunat, udah merengek sama Pakde Sofyan."
"Kok kepengen? Sunat 'kan sakit. Juna saja sebenernya nggak mau kalau nggak dulu Opa maksa." Juna kembali mencium pipi Vano. Mulutnya mengobrol tapi hampir seluruh wajah sepupunya itu berhasil Juna cium. Dia memang sangat menyukai aroma bayi.
"Anak laki-laki 'kan memang harus sunat, Jun. Di agama memang diharuskan."
"Tapi si Robert kok nggak sunat sih, Oma?" Robert adalah teman sekelas Juna yang non muslim.
"Robert itu yang mana?"
"Yang matanya sipit. Papanya orang Korea."
"Oh, kalau bukan orang Islam ya nggak apa-apa kalau nggak sunat."
__ADS_1
"Kenapa nggak apa-apa? Kan sama-sama manusia?"
"Ajaran kita sama mereka 'kan berbeda, Jun. Sama seperti kita sholat ke masjid atau musholla. Mereka 'kan nggak pergi ke sana, tapi tempat ibadah mereka beda. Begitu saja contohnya."
"Ooh ...." Juna manggut-manggut. "Tapi si Atta juga belum sunat. Padahal dia orang Islam."
"Kenapa belum disunat?"
"Katanya takut pipisnya perih. Ah lebay sih si Atta mah. Tapi enak, ya, Oma ... jadi perempuan. Nggak merasakan disunat. Nggak sakit."
"Tapi 'kan perempuan melahirkan. Itu jauh lebih sakit. Taruhannya nyawa."
"Kalau melahirkan itu keluarnya dari mana sih, Oma?"
"Dari—"
"Jun, malam ini kamu menginap di sini, ya?" ujar Angga yang baru saja masuk ke dalam kamar itu bersama Nissa. Lantas mengendong tubuh Juna sebab dilihat lidah Juna sudah menjulur seperti hendak menjilat Vano. Jika ditegur takutnya bocah itu marah.
"Juna tanya Papi dulu, Opa. Dia mau nggaknya menginap di sini."
"Nggak usah mengajak Papimu. Kamu saja sendirian. Nanti kamu tidurnya sama Opa ... Oma dan si kembar. Gimana?" tawar Angga yang mulai merayu.
"Berarti Mami juga nggak ikut?" Menatap ke arah Nissa. Wanita itu mengangguk. Juna pun beralih menatap Angga. "Tapi, Opa, masalahnya 'kan Juna dan Papi sudah berjanji kalau kita harus tidur bareng. Kata Opa janji itu adalah hutang, jadi nggak boleh diingkari."
"Bukan untuk diingkari. Tapi 'kan katanya tadi kamu pengen punya adik. Jadi biarkan Mami dan Papimu tidur berdua dulu."
"Kok hanya berdua? Juna 'kan mau lihat Mami dikencingin Papi."
"Nggak boleh itu." Angga menggeleng.
"Kenapa nggak boleh?"
"Ya memang nggak boleh. Kalau ada yang lihat justru Dedek bayinya nggak bakal jadi."
"Apa hubungannya?" Kening Juna mengerenyit. Dia tampak tak paham.
"Memang begitu dari sananya, Jun. Orang yang mau bikin anak itu nggak boleh dilihat orang, nanti nggak jadi. Opa sama Oma pas buat Mami saja nggak dilihat sama Pakdemu atau yang lain. Mangkanya Mami jadi dan secantik ini," jelas Angga sambil mengusap puncak rambut Nissa.
Juna terdiam sebentar, berusaha memahami apa yang Angga katakan. Lantas dia pun bertanya, "Kalau hanya mengintip bagaimana, Opa?"
...Mau bintitan matamu, Jun? 🤣...
__ADS_1