Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
137. Sakit apa dia?


__ADS_3

Pakaian mereka serba hitam. Kaos dan celana jeans beserta topi. Tetapi wajah keduanya tampak begitu berminyak dan bermata panda. Tian mampu menebak jika keduanya pasti belum mandi.


"Memangnya kalian siapanya Fira?" Bukannya menjawab pertanyaan Ali dan Aldi, Tian justru berbalik tanya.


Kakinya beringsut mundur beberapa langkah. Dia merasa ilfil dengan Ali dan Aldi. Sebab menurutnya, dia sangat wangi dan begitu rapih.


Dua pria berbadan besar itu langsung melayangkan pandangan. Kedua manik matanya beradu. Mereka seperti mencari ide bersama untuk dijadikan jawaban atas pertanyaan Tian barusan.


"Kita berdua Omnya Fira," jawab Aldi cepat sebelum diserobot oleh Ali.


Tian membelalakkan matanya, tetapi dia pun langsung memeluk tubuh keduanya dan mencium punggung tangan Ali dan Aldi bergantian.


"Oh, maafkan aku. Aku nggak tahu kalau Fira itu punya Om," ucap Tian dengan perasaan tak enak.


Berpacaran selama satu tahun dengan Fira, Tian tak pernah tahu kalau dia mempunyai Om. Yang Tian tahu—Fira hanya hidup bersama ibunya saja. Dan mungkin hanya punya Nurul satu-satunya di dunia ini.


"Nggak apa-apa. Santai ...," jawab Aldi seraya mengelus punggung Tian. Ali hanya tersenyum tipis.


'Kenapa Aldi bilang kita Omnya? Ah tapi idenya nggak buruk juga,' batin Ali.


"Jadi kamu siapanya Fira?" tanya Ali kemudian.


"Aku ...." Belum sempat Tian meneruskan jawaban atas pertanyaan kedua pria itu, namun tiba-tiba saja terdengar suara pintu ruang UGD terbuka. Ketiganya pun langsung menoleh dan ternyata seorang dokter yang keluar dari sana.


"Bagaimana ke adalah calon istri saya, Dok?" tanya Tian cepat seraya menghampiri.


Ali dan Aldi saling melayangkan pandangan. Pertanyaan mereka tadi sudah berhasil dijawab saat Tian berbicara dengan dokter.


"Calon istri Bapak yang bernama Safira Ayunda?"


"Iya." Tian mengangguk cepat. "Yang tadi saya bawa masuk."


"Beliau tidak sakit, Pak." Dokter itu tersenyum. "Tapi hamil."


Aldi dan Ali membulatkan matanya dengan lebar. Sedangkan bola mata Tian berbinar-binar. Seperti ada kupu-kupu yang masuk ke dalam hatinya saat ini juga. Dia begitu senang.


"Benarkah, Dok? Boleh saya masuk dan menemui Fira sekarang?" tanya Tian dengan girang.


"Boleh, silahkan masuk."


Tian langsung masuk ke dalam sana. Aldi yang baru saja ingin menyusul masuk terhalang oleh lengan Dokter.

__ADS_1


"Bapak dilarang masuk!" tegas Dokter itu.


"Tapi saya Omnya Fira, Dok."


"Oh Omnya. Oke deh, silahkan masuk." Dokter itu tersenyum dan membukakan pintu.


Aldi juga tersenyum, gegas dia pun masuk ke dalam.


Akan tetapi dia tak menghampiri Tian yang kini berdiri di depan Fira yang sedang berbaring dan baru saja membuka mata. Aldi lebih memilih untuk merekam percakapan mereka. Sebab mungkin saja itu sangat dibutuhkan untuk Angga.


Ponsel yang berada di kantong celana itu langsung dia ambil, kemudian mulai merekam video.


"Aku sakit apa, Mas, sebenarnya?" tanya Fira. Gadis itu tampak bingung apalagi melihat Tian yang tiba-tiba datang memeluknya.


"Kamu nggak sakit, tapi sebentar lagi kita akan jadi orang tua, Fir," ungkap Tian dengan penuh kebahagiaan. Lantas dia pun menangkup kedua pipi mulus gadis itu dan mengecupi seluruh wajahnya.


Dilihat wajah Fira seketika tegang, matanya pun melotot. Dia tampak kaget.


"Hamil? Apa maksud Mas Tian?"


"Ya kamu hamil. Itu maksudku."


"Tapi bagaimana bisa aku hamil, Mas?" tanyanya yang tak percaya.


Degh!


Jantung Fira seperti berhenti berdetak.


"Apa?! Tapi ini nggak mungkin, Mas!" Fira menggeleng cepat.


"Dokter sendiri yang mengatakannya, Fir."


'Nggak! Aku nggak mau hamil anak Mas Tian. Aku juga nggak mau gara-gara hamil harus menikah dengannya,' batin Fira seraya meraba perutnya. Tian juga ikut meraba, bahkan menciumnya.


"Tapi ini bukan anakmu, Mas."


"Bukan anakku?" Kening Tian mengerenyit, matanya agak mendelik. "Apa maksudmu? Apa kamu bercinta dengan orang lain selain aku?" tanyanya yang tiba-tiba saja marah. Rahang di wajahnya tampak mengeras.


"Iya, aku pernah bercinta dengan orang lain," jawabnya berbohong.


"Siapa? Siapa itu?" Tian mencengkeram kedua lengan Fira dan agak menggoyangkannya.

__ADS_1


"Dia Pak ...." Mulut Fira sudah menganga, ingin menyebut nama Steven. Tetapi entah mengapa tiba-tiba lidahnya terasa kelu hingga dia tak berhasil mengucapkan nama itu.


"Pak siapa?" tanya Tian lagi.


"Pak Sss ...." Kali ini Fira seperti mendesis bagaikan ular. Susah sekali menyebut nama Steven. Aneh. "Pak Sss ...." Kembali Fira mencoba mengulang nama itu, tetapi sekarang justru tenggorokannya sakit dan tiba-tiba dia pun batuk.


"Uhuk! Uhuk!"


"Beritahu aku siapa orangnya, Fir!" tekan Tian. Dia tampak begitu penasaran. Dadanya terasa bergemuruh dan hatinya sangat sakit, kala mendengar kalau pujaan hatinya itu bercinta dengan orang lain.


"Pak Sss ...."


"Kenapa kamu justru mendesis?" Tian menatap Fira yang tengah nyengir. Wajah gadis itu sudah merah dan urat di wajahnya terlihat. Tampak jelas jika dia berusaha ingin menyebutkan nama Steven, tetapi susahnya minta ampun. "Kamu kenapa? Apa mau berak?" Sekarang yang Tian lihat Fira sudah melotot. Dia juga agak mengejen, masih berusaha membuka suara.


Mimik wajah yang Fira tampilkan begitu mirip dengan orang yang sedang nongkrong di WC.


Dut!


Bukannya berhasil, justru bibir keriput Firalah yang mengeluarkan suara. Kemudian tak lama tercium gas beracun. Segera Tian menutup hidung, sedangkan Aldi memilih keluar dari sana sebab merasa tak tahan.


Aromanya seperti telur busuk yang dipadukan jengkol dan sambel terasi. Begitu mengocok perut Aldi dan ingin muntah rasanya.


'Sial! Kenapa menyebutkan nama Pak Steven saja susah banget! Malah jadinya kentut lagi! Malu-maluin!' gerutu Fira dalam hati. Perlahan dia pun mengatur napasnya, hampir saja dia kehabisan suara dan oksigen karena terus mengejen.


"Kenapa wajahmu merah begitu, Di?" tanya Ali saat melihat temannya baru saja keluar sambil menutup hidung.


"Aku mencium bom. Rasanya bau sekali."


"Di mana ada bom?" tanya seorang wanita yang baru saja menghampiri mereka. Keduanya pun langsung menoleh dan seketika keningnya mengerenyit.


"Lho, kok Bu Sindi yang ke sini? Bukan Pak Angga?" tanya Aldi bingung. Dia tentu ingat jika saat datang ke rumah sakit menghubungi Angga, bukan Sindi. Dan dia juga tak mempunyai nomor wanita itu.


Namun, kedatangan Sindi di sini tidak ada hubungannya dengan Fira. Dia memang sengaja datang ke rumah sakit karena ingin mengajak Citra periksa, sekalian mampir sebelum sampai ke hotel.


Gadis itu ada di sampingnya. Dia juga heran mengapa Sindi mengajaknya periksa untuk mengetahui kondisinya. Sedangkan dia sendiri merasa sudah sehat sekarang.


"Memang kenapa kalau aku ada di sini? Masalah buatmu? Memang ini rumah sakit milikmu?" protes Sindi yang tiba-tiba saja marah.


"Bukan, Bu. Bukan itu maksud saya." Aldi menggeleng cepat. "Tapi saya sempat menghubungi Pak Angga, memberitahu kalau Fira masuk rumah sakit," jelasnya.


Sindi membelalakkan matanya, dia tampak kaget. "Fira? Sakit apa dia?"

__ADS_1


"Dia ...."


...Gantung lagi deh 🤣🤣...


__ADS_2