
Tian seketika menghentikan aktivitasnya di dalam sana lantaran mendengar teriakan Juna. Padahal saat ini dia tengah bercinta dengan posisi berdiri di depan kasur. Sedangkan kedua paha Nissa terbuka lebar dan dia terlentang di bibir kasur.
Semalam, setelah bercinta di dalam kamar mandi, Tian dan Nissa melakukan ronde kedua di atas kasur. Cukup kokoh juga ternyata ranjang itu, sampai mereka berhasil mencapai tiga ronde dalam semalam.
Selanjutnya Tian memutuskan untuk mengakhiri. Selain sudah lelah dan capek, dia merasa tak tega pada Nissa. Takut jika wanita itu juga kelelahan dan merasakan perih pada miliknya.
Padahal, Nissa sendiri masih sanggup. Malah rasanya dia begitu kecanduan ingin terus dijamah.
Malah alasan mereka bercinta tadi lantaran Tian yang terbangun karena pipinya dikecup oleh Nissa. Memang sengaja, karena nalurinya menginginkan sesuatu. Hanya saja Nissa malu untuk jujur.
"Mau lagi nggak, Yang?" tawar Tian seraya meremmas dada istrinya yang menempel pada dadanya sendiri. Kedua tubuh mereka yang tanpa busana itu hanya tertutup selimut saja.
"Bentar lagi Subuh, Yang." Nissa menatap jam weker. Dia pura-pura menolak sebab malu. Tetapi wajahnya itu tidak dapat berbohong, tampak sangat merona.
"Baru jam 3. Sambil menunggu Subuh kita bercinta dulu saja," pinta Tian sambil mengecup bibir ranum Nissa. "Kapan lagi kita puas bercinta kayak gini, Yang. Mumpung Juna anteng di kamar Papa, kan?"
Nissa hanya mengangguk sambil tersipu malu. Tian pun bangun sembari menyibak selimut, lalu mengangkat tubuh Nissa untuk berbaring terlentang dibibir kasur. Sedangkan dirinya berdiri di depan.
"Nggak usah pemanasan, Yang. Langsung saja," ujar Nissa dengan malu-malu. Rasanya dia sudah tak sabar ketika melihat kejantanan suaminya yang begitu mengeras di depan mata.
"Lho kenapa? Padahal lebih enak pakai pemanasan lho." Tian membuka kedua paha di depannya dengan lebar. Saat diraba ternyata sudah basah. Seperti sudah siap untuk bertarung. "Ya sudah deh. Langsung saja, ya?" Tian meminta izin terlebih dahulu, kemudian mendorong miliknya pelan-pelan ke dalam sana hingga terbenam sempurna.
Nissa menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar. Sensasi penyatuan itu terasa sangat nikmat sekali. 'Baru masuk saja udah enak banget. Aku suka sekali,' batinnya.
"Ah!" Nissa mulai mengeluarkan dessahan pertamanya saat suaminya itu mulai bergerak di depannya.
Sayangnya sensasi mengigit yang baru saja terjadi itu seketika terhenti lantaran terdengar suara ketukan pintu.
Tok ... Tok ... Tok.
"Papi! Mami!" teriaknya kencang. Itu seperti suara Juna. "Papi! Juna mules banget! Pengen berak!"
Pintu itu kembali digedor bahkan handle pintunya dinaik turunkan.
"Juna, Yang," ucap Tian dengan panik. Dia langsung mengeluarkan miliknya dan seketika membuat Nissa kecewa.
Masih enak dan baru mulai, tetapi sudah gagal.
"Aku mau buka pintu, Yang." Tian yang sudah memakai kolor dan baju pendek itu berdiri di depan pintu sembari menoleh ke arahnya.
Nissa mengangguk dan beringsut ke atas lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Setelah itu barulah Tian membuka kunci dan pintu tersebut.
Ceklek~
__ADS_1
"Kamu kenapa, Jun?!" Tian langsung berjongkok sembari menangkup kedua pipi Juna yang tampak merah. Kedua tangan bocah itu menyentuh bokong dan seketika, Tian mengendus aroma tidak sedap.
"Juna berak dicelana, Pi!" serunya lalu menangis.
Tian dan Nissa membulatkan matanya. Cepat-cepat Tian meraih tubuh kecil anaknya, lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Papi lama banget buka pintu, Juna jadi nggak kuat. Ampasnya sampai keluar duluan," ucap Juna sambil menutup mulut dan hidungnya memakai baju. Dia melihat Tian yang tengah membuka celana kolor dan semvaknya, lalu tanpa melihat isinya Tian langsung membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Maafin Papi, Sayang. Tapi kamu masih mules, nggak?" tanya Tian sambil mengelus pucuk rambut Juna.
"Masih." Juna mengangguk.
"Ya sudah duduk, Papi tungguin kamu di sini." Tian membukakan penutup kloset, lalu membantu bocah itu untuk duduk. Juna pun langsung mengejan sebab memang masih mulas.
Aromanya bau, tetapi Tian menahannya. Saat Juna menatapnya saja dia masih bisa tersenyum manis.
"Udah?" tanya Tian. Juna menggeleng. Matanya merah dan kembali dia mengejan.
Sebenarnya Juna mengingat berak bareng, tetapi akibat begitu mulas dia sampai lupa untuk mengajak Tian. Sampai akhirnya sesi pengeluaran pisang goreng itu usai dan Tian lah yang membantunya membersihkan bokong.
"Papi kok nggak muntah-muntah pas Juna berak?" tanya Juna.
"Memang Papi musti muntah-muntah?" Tian berbalik tanya.
"Nggak." Tian menggeleng.
Ceklek~
Pintu kamar mandi itu dibuka oleh Nissa yang sudah memakai kembali pakaiannya. Lalu dia melangkah menghampiri.
"Dih, Ti. Juna nggak perlu kamu cebokin. Biar aku saja." Nissa meraih selang yang Tian pegang.
"Nggak apa-apa. Ini sudah selesai kok," jawab Tian seraya melepaskan tangan Nissa.
"Besok-besok jangan, ya. Biar aku saja. Aku 'kan Maminya." Nissa tak enak karena kalah cepat untuk datang.
"Aku 'kan Papinya juga, Yang." Tian tersenyum lalu mengecup pipi kiri Nissa.
Perlahan tangan Juna terulur, lalu menyentuh perut rata Nissa. "Apa semalam Papi sudah kencingin Mami?" tanyanya penasaran.
"Sudah," jawab Nissa.
"Berarti sudah ada Dedek bayi di dalam perut Mami dong?" Mengelus perut Nissa. Kemudian terdengar suara cacing. "Itu pasti suara Dedek bayi 'kan, Mi?"
__ADS_1
"Itu cacing, Jun," kekeh Nissa. "Dedek bayinya belum ada, masih diproses di dalam perut."
"Lho, masa belum ada? Kan sudah dikencingin."
"Ya nggak bisa langsung jadi. Musti ditunggu dulu."
"Berapa lama?"
"Sebulan dua bulan."
"Dih kok lama? Juna 'kan sudah nggak sabar pengen kasih nama."
"Kasih nama saja mulai dari sekarang, nggak masalah kok." Nissa mengelus rambut Juna.
"Ya sudah deh, nanti Juna tulisin daftar nama yang cocok buat Dedek bayi."
"Katanya kalau cewek Memei? Udah ganti sekarang?"
"Maunya sih Meimei, tapi Meimei 'kan China, Mi. Sedangkan Dedek bayi Juna Islam."
"Kok bisa China?" Tian tampak bingung dan tak mengerti maksud yang anaknya itu katakan.
"Itu film kartun Upin Ipin, Yang," ujar Nissa. "Kan ada tuh temannya yang namanya Meimei. Si Juna memang suka nonton film itu."
"Oh film kartun. Jadi dia kepengen nama adiknya mirip sama nama tokoh kartun itu?"
"Kayaknya sih," kekeh Nissa. "Nggak apa-apa, kan, Yang?"
"Nggak masalah. Yang penting sehat adiknya Juna." Tian ikut meraba perut Nissa dan mengelusnya.
"Kalau Melati bagaimana, Pi, namanya?" tanya Juna setelah dia sempat berpikir mencari nama.
"Memang ada temannya si Upin dan Ipin namanya Melati?" tanya Nissa dengan kening yang mengerenyit. "Bukannya nama teman ceweknya Meimei sama Susanti doang, ya? Kenapa nggak Susanti saja?"
"Susanti 'kan Omanya Bayu, Mi. Nggak mau lah Juna. Masa namanya samaan." Bayu adalah adik kelasnya. Yang duduk di bangku TK A. Kebetulan Nissa juga mengenal Oma dan Bundanya Bayu.
"Terus yang namanya Melati itu siapanya?"
"Guru TK Upin Ipin. Kan namanya Melati. Cekgu Melati."
"Guru mereka 'kan namanya Jasmine."
"Kan sekarang sudah ganti. Cekgu Melati itu guru baru, Mi. Ketahuan nih Mami nggak pernah nonton." Juna mengerucutkan bibirnya. "Ah Juna mau kasih nama itu saja buat Dedek bayi. Dan Juna juga mau pas dia besar nanti jadi guru TK, Mi."
__ADS_1
...Amin 😇 asal jadi gurunya jangan kayak gurumu yang tukang gosip ya, Jun 🤣 eh, kamu nggak tahu pasti dia abis disembur di novel sebelah, kan? ðŸ¤...