Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
154. Tanggung jawab?


__ADS_3

Tian langsung menarik kursi yang berada di depan meja Steven. Tanpa diminta dia pun lantas duduk.


"Aku punya dua urusan denganmu, Stev," ucapnya.


"Katakan."


Tian menaruh map di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Steven. "Aku dengar kau lagi membutuhkan sekertaris karena Fira sudah dipecat. Jadi aku mau melamar pekerjaan."


Kening Steven mengerenyit. Dia mengambil map tersebut dan membukanya. Ternyata isinya adalah surat lamaran pekerjaan beserta syarat-syarat menjadi sekertaris.


"Om nggak salah mau ngelamar jadi sekertarisku?" Steven menatap aneh. Jelas sekali, rasanya tak mungkin.


"Nggaklah. Aku memang berniat ingin jadi sekertarismu."


"Tapi kenapa? Kantor Om bagaimana? Oh ... maaf, sudah bangkrut, ya?" celetuk Steven sambil terkekeh kecil.


"Nggak kok." Tian menggeleng cepat. "Kantorku masih aman dan malah makin berjaya," ucapnya yang entah mengapa terlihat seperti berbohong dalam penglihatan Steven. "Aku mau cari pengalaman saja."


Steven tersenyum miring. "Aku menolak lamaran Om," ujarnya tanpa basa-basi.


"Kenapa? Coba cek dulu." Wajah Tian tampak kecewa, dia lantas menunjuk map yang baru saja diletakkan kembali di atas meja. "Semua aku masuk kriteria. Dan kau juga jangan lupa ... kalau aku adalah CEO. Harusnya kau senang ada seorang bos yang baik hati datang ingin menjadi sekertarismu, Stev. Kantormu pasti makin berjaya."


"Terima kasih tawaran. Tapi aku nggak mau. Kak Sofyan sedang mencari sekertaris baru untukku." Steven tersenyum mengejek, lalu memperhatikan pakaian yang ada di tubuh pria di depannya. Setelan jasnya rapih, hanya saja kusut seperti tak disetrika.


Tian berdecak sebal sembari mengepalkan kedua tangannya. Perlahan dia membuang napas dengan kasar. Dia kesal ditambah malu, mendapat penolakan itu. Akan tetapi dia berusaha untuk tenang.


"Sombong," cetusnya bergumam, namun dapat Steven dengar.


"Apa urusan kedua?" tanya Steven. Kedua tangannya di atas meja dan saling menggenggam.


"Ini tentang Kevin." Tian mengambil sesuatu di saku dalam jasnya. Ternyata itu sebuah map juga, hanya saja ukurannya lebih kecil dan itu map plastik kancing. Dia meletakkan di atas meja dan sedikit mendorongnya ke arah Steven.


"Kevin?" Kening Steven mengerenyit. Nama itu tak asing di telinga.


"Iya, Kevin si burung Kakatua. Aku tahu dia sekarang tinggal di rumahmu, Stev."


"Lalu?" Steven mengambil map plastik itu, lalu membukanya. Ada selembar kertas yang ternyata itu adalah sebuah akta kelahiran. Keningnya mengerenyit.


Itu adalah akta kelahiran Kevin. Di sana tertera namanya Kevin Kakatua berjenis kelamin jantan. Seketika Steven menatap aneh pada tanggal lahirnya, sebab tanggal lahirnya itu sama dengannya. Berikut dengan bulan. Hanya saja tidak dengan tahun.


2 Februari 2002. Yang artinya Kevin berusia 20 tahun.

__ADS_1


"Jadi Kevin itu burung Om?" tanya Steven menatap Tian. Dia juga ingat jika burung itu memang milik Tian, hanya saja dia kira bukan Tian Omnya Citra.


"Iya." Tian mengangguk. "Aku kemarin nggak sengaja ketemu Kevin di jalan. Aku selama ini mencarinya, dan setelah ketemu dia mengatakan kalau dia akan tinggal di rumahmu selamanya."


"Aku nggak punya rumah, aku hanya punya apartemen."


"Mungkin rumah orang tuamu. Soalnya dia mengatakan kalau di rumah itu ada Papa Angga, Om Tua Steven, Nona Cantik dan Tante Sindi," jelas Tian. Nama-nama yang Kevin sebutkan kemarin langsung membuat Tian percaya kalau itu adalah Steven dan keluarganya.


"Lalu, apa urusannya denganku?" Steven menaruh kembali akta itu ke dalam map, lalu meletakkan di atas meja. "Kalau Om mau mengambilnya, ambil saja. Lagian dia hanya jadi hama di rumah dan aku membencinya."


"Dia nggak mau. Dia menolak tinggal lagi denganku. Dan sekarang aku minta pertanggung jawabanmu, Stev."


Alis mata Steven bertaut. "Tanggung jawab? Tanggung jawab apa? Memang aku menghamili Kevin?" katanya dengan bingung. "Om gila, ya? Dia itu burung dan lagian jantan. Aku normal dan punya istri!"


"Bukan bertanggung jawab karena menghamilinya, tapi bertanggung jawab untuk memberikanku uang. Secara tidak langsung kau mengambilnya dariku. Dan sebagai gantinya kau harus membayar."


"Mengambil apanya? Aku nggak mengambil Kevin sama sekali. Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba ada di rumah. Om jangan mengada-ada, ya!" Mata Steven sudah mulai melolot, emosinya tiba-tiba naik ke ubun-ubun.


"Tapi Kevin itu hewan peliharaan, dan aku memeliharanya sejak masih bayi. Aku mau kau memberikanku uang. Anggap saja aku menjual Kevin!"


"Aku nggak mau!" teriak Steven dengan rahang mengeras. Dadanya bergemuruh. "Aku nggak berniat dan nggak sudi membeli burung songgong seperti dia! Ambil saja sana di rumah! Urusanmu dengan Papa, bukan aku!"


"Tapi aku membencinya!" teriak Steven lebih marah, matanya melotot. Kemudian melirik ke arah satpam dan Dika yang sejak tadi masih ada di sana. "Usir Bapaknya Kevin dari sini!" perintahnya dengan gerakan kepala.


"Sebentar!" Tian menahan kakinya saat di seret oleh satpam dan Dika. Segera dia mengambil dua map itu di atas meja. "Beritahu aku di mana rumah orang tuamu. Aku ingin bernegosiasi dengan Pak Angga!"


"Antarkan dia ke rumah Papa, Dik," pinta Steven pada asistennya. Pria itu mengangguk, lalu menarik lengan Tian untuk keluar dari ruangan Steven.


"Dasar gila, apa sebegitu pentingnya Kevin? Sampai dia nggak tahu malu meminta uang?! Dasar pria kere!" umpat Steven dengan emosi yang meledak-ledak.


Tiba-tiba, terdengar suara deringan ponselnya di atas meja. Itu sebuah panggilan video call dari Citra.


"Eh, si Mahmud video call."


Bola mata pria itu langsung berbinar dan emosinya seketika luluh. Cepat-cepat dia pun membereskan rambut, jas dan juga dasi. Supaya selalu terlihat ganteng.


Dia usap layar ponsel itu, lalu mengulum senyum dengan jantung yang berdebar.


"Halo Mahmud," ucap Steven seraya menatap Citra. Gadis itu seperti ada di kantin.


"Siapa Mahmud?"

__ADS_1


"Kamu."


"Namaku 'kan Citra, Om."


"Iya, Citra. Tapi kan kamu Mahmud, alias Mamah Muda."


"Oh ... he he he." Citra terkekeh. "Om juga Pahmud dong, ya? Papah Muda. Eh, tapi Om 'kan sudah tua."


"Dih, kok tega kamu bilang aku tua? Aku masih muda, Cit!" Steven langsung mengerucutkan bibirnya. Kesal rasanya.


"Aku bercanda, Om. Om memang masih muda, kan masih bayi dan doyan nyusu."


"Nah, itu baru benar." Raut wajah Steven langsung berubah ceria.


*


*


Tian masuk ke dalam mobil, lantas memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya.


"Bagaimana, Mas? Apa diterima?" tanya Fira yang duduk di kursi di sampingnya. Memang kedatangan Tian bersama Fira dan atas kemauannya juga.


Perempuan itu memaksa Tian untuk melamar pekerjaan sebagai sekertaris dan meminta uang untuk menjual Kevin. Sejujurnya Tian tidak mau, hanya saja dia tak punya nyali untuk menolak.


Setelah mereka menikah, benar dugaan Fira sebelumnya yang mengira kalau perusahaan Tian bangkrut. Kantor pria itu bahkan sudah disita pihak bank lantaran tidak bisa membayar hutang.


Sekarang Tian bekerja di kantornya Tegar, hanya menjadi karyawan biasa. Awalnya dia menolak, akan tetapi tak ada posisi lagi di sana. Bahkan ada beberapa karyawan yang diPHK. Semuanya terjadi disebabkan perusahaan Tegar juga tengah diambang kehancuran.


Kemudian, Fira memberikan ide dan sekarang dia menurutinya. Hanya saja semuanya tak berjalan mulus.


"Nggak, Steven itu terlalu sombong." Tian mengerang kesal lalu mengemudi. Di depan mobilnya ada mobil Dika, pria itu akan menunjukkan di mana rumah Angga.


"Kok nggak, bukannya kata Mas ... Citra itu keponakan Mas, ya? Berarti Pak Steven juga keponakan ipar dong."


"Memang iya. Tapi aku dan Steven nggak akrab. Bahkan kita seperti musuh."


"Kenapa?"


"Karena gara-gara dia ... aku nggak dapat warisan! Harusnya sekarang aku kaya raya. Ini semua gara-gara Citra menikah dengan Steven!" Tian menonjol stir mobilnya. Meluapkan kekesalan dan emosi yang mendidih.


...Itu namanya garis takdir, Om. 🤣 emang begitu alurnya. Nikmati aja 🤭...

__ADS_1


__ADS_2