
"Halo, selamat siang, Pak. Maaf ganggu," ucap Steven sopan saat panggilan telepon itu diangkat dari seberang sana.
"Siang juga. Nggak kok, ada apa, Stev?"
"Pak, aku ingin minta tolong sama Bapak, bisa nggak?"
"Minta tolong apa? Bicara saja."
"Aku ingin Bapak mengeluarkan Udin dari kampus."
"Udin? Udin siapa? Dan kenapa harus dikeluarkan?"
"Udin Jamaluddin. Laki-laki berkulit hitam, tonggos dan berdaki. Dia salah satu temannya Citra."
"Alasannya dikeluarkan apa? Bukannya kamu pernah membiayainya kuliah, ya?"
"Dia ganjen selalu menggoda dan mengganggu istriku. Istriku sampai masuk rumah sakit gara-gara bau keteknya, dia sangat menyengat."
"Istrimu yang mana? Memang kamu punya istri?"
"Bapak masa nggak tau? Istriku Citra. Kan aku Minggu kemarin mengadakan pesta pernikahan."
"Kamu nggak ngundang Bapak lho, tega ya kamu."
"Aku nggak ngurusin undangan. Itu Papa dan Kak Sofyan. Mungkin mereka lupa, aku minta maaf."
"Oke deh, Bapak maafin. Tapi untuk mengeluarkan mahasiswa itu nggak bisa asal, Stev. Ya Bapak tahu kamu banyak uang, bisa saja, sih. Tapi gimana ya ...." Adam terdiam beberapa saat, lantas melanjutkan. "Harus ada kesalahan. Nanti Bapak tegur dia dulu deh, ya."
Mendadak Steven emosi lagi mendengar jawaban Adam yang tak memuaskan. Rahangnya tampak mengeras.
"Dia sudah pernah aku tegur, bahkan aku cekik dan tonjok. Tapi sampai sekarang belum juga kapok. Pokoknya aku nggak mau tahu ... Bapak harus keluarkan Udin dari kampus! Apa pun alasannya!" tegasnya.
Tut!
Panggilan itu langsung Steven matikan. Geram rasanya. Namun, dia langsung membuang napasnya secara perlahan. Mengusap dada kemudian tersenyum. Dia mencoba meredakan emosinya sebab ingin bertemu Citra.
Setelah dirasa cukup membaik, dia pun segera berdiri. Kemudian melangkah masuk ke dalam sana.
Ceklek~
"Citra ...," ucap Steven dengan lembut sambil tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat. Citra yang tengah minum obat dibantu Suster langsung menatapnya.
Tidak ada Sisil di sana, sebab gadis itu sudah pulang ketika Steven datang dan pergi bersama Dokter. Tidak enak rasanya, dia takut menganggu waktu istirahat Citra dan waktu bersama suaminya.
"Semoga Nona cepat sembuh. Jangan lupa perbanyak istirahat," ujar Suster.
"Iya, Sus. Terima kasih," sahut Citra seraya tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama." Dokter itu tersenyum pada Citra dan Steven. Kemudian melangkah keluar dari kamar itu sambil mendorong meja troli.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih mual dan sakit kepala? Atau sakit perut?" Steven mendekat, dia pun duduk di atas kasur lalu menangkup kedua pipi Citra. Setelahnya dia kecup seluruh wajahnya, dan bibir yang paling lama sebab sambil dilummat.
"Aku baik-baik saja. Kok Om ada di sini?"
"Memang kenapa kalau aku ada di sini? Kamu nggak seneng?" Steven langsung cemberut.
"Bukan nggak seneng, tapi aku nanya, kenapa Om bisa ada di sini? Om Jarwo yang ngasih tahu, Om?"
"Nggak." Steven menggeleng. "Aku ke sini karena aku merasa kamu memang ada di rumah sakit, naluri suami."
"Memang bisa, ya, kayak gitu? Sampai pas banget." Citra menatap tak percaya.
"Bener, aku juga sebenarnya punya indra keenam. Jadi bisa tahu kamu kemana dan di mana."
Ucapan Steven terdengar berbohong sekali. Citra tahu itu. Niat Steven sebenarnya ingin menggombal, sayangnya tidak berhasil.
Citra terkekeh. "Ah Om bohong banget. Kalau punya indra, Om pasti bisa cepat menemukanku saat aku pergi sama Om Gugun dan—"
"Ish!" Steven mendengkus kesal. "Jangan sebut nama itu lagi, aku nggak suka!"
"Maaf." Citra cepat-cepat menutup bibirnya. "Oh ya, di mana Sisil, Om?" tanya Citra seraya menatap sekeliling kamar itu.
"Sisil? Memang kapan Sisil ada di sini? Daritadi aku nggak lihat Sisil." Steven tak memperhatikan saat dia datang ke UGD. Sebab dia hanya fokus pada Dokter yang baru saja keluar dari pintu.
"Nggak, aku hanya nanya saja. Aku kira Sisil ikut ke rumah sakit."
Citra hanya tersenyum, dia memilih untuk tidak menceritakan Sisil. Sebab takutnya dia diminta untuk menjauhi gadis itu.
***
Di tempat berbeda, mobil hitam Ali berhenti di depan gerbang besi universitas. Kebetulan sekali, kedatangan mereka bertepatan dengan beberapa gerombolan mahasiswa dan mahasiswi yang keluar. Jam kuliah pagi sudah berakhir.
Cepat-cepat Ali turun dari mobil, begitu pun dengan Aldi. Mereka menghentikan seorang laki-laki yang memakai motor gede berwarna merah saat keluar dari gerbang. Dia adalah Arya.
"Maaf, tunggu sebentar ... ada yang ingin kami tanyakan," ucap Ali dengan sopan dan ramah. Dia tersenyum, begitu pun dengan Aldi.
"Tanya apa, Pak?" Arya memutar kunci, mematikan mesin motor. Juga membuka kaca helm.
"Apa kamu mengenal Udin Jamaluddin?" tanya Ali. Sedangkan Aldi, matanya sejak tadi menatap para gadis-gadis yang lewat. Entah apa maksudnya, namun yang jelas—itu membuat matanya segar.
"Memang Bapak siapanya?"
"Saya saudara jauh, Omnya Udin dari kampung. Sudah lama nggak bertemu dan sekarang kami berdua ingin bertemu," jawab Ali berbohong.
"Oh, tapi yang namanya Udin Jamaluddin di kampus ini ada dua, Pak." Arya menatap sekeliling, mencari-cari dua Udin yang dia maksud. Salah satu yang bernama Udin adalah teman sekelasnya, tapi yang satunya bukan, juniornya. Dan mereka berbeda. Dari wajah dan aroma.
__ADS_1
Ali menoleh ke samping, menatap temannya. Namun justru Aldi tengah berjabat tangan dengan seorang gadis. Mengajaknya berkenalan.
"Di! Kamu ngapain, sih? Kita 'kan lagi kerja!" Ali tampak kesal, segera dia pun menarik lengan temannya dan mendekati Arya lagi. "Seperti apa si Udin yang kita cari, Di? Bagaimana ciri-cirinya?"
"Aku nggak tahu." Aldi menggeleng.
"Kok nggak tahu? Memangnya Pak Steven nggak memberitahu ciri-cirinya?"
Aldi sudah mengatakan kalau Steven tak mempunyai foto Udin, namun setidaknya ciri-ciri juga tak masalah. Supaya mereka nggak salah orang.
Aldi menggeleng. "Nggak. Sebentar ... aku telepon Pak Steven dulu." Aldi segera menelepon Steven dan tak lama panggilan itu diangkat.
"Bagaimana?" tanya Steven datar.
"Pak, bagaimana ciri-ciri Udin? Bapak belum memberitahu saya."
"Rambutnya kuning, kulitnya hitam dan berdaki. Giginya tonggos dan berkawat berlian."
Saat Steven memberitahu ciri-ciri Udin, seorang laki-laki yang tengah mengendarai motor metik lewat. Aldi seketika membulatkan matanya, sebab rambut kepala laki-laki itu berwarna kuning. Kebetulan tidak memakai helm, helmnya mengalung pada lengan kanan.
Bukan hanya rambut, kulit hitam dan mulutnya yang tampak monyong saat bungkam itu membuat Aldi yakin—jika laki-laki yang mereka cari dia orangnya.
Cepat-cepat Aldi menarik Ali, membawanya sama-sama masuk ke dalam mobil.
"Itu si Udin! Yang pakai motor Mio putih, Al!" seru Aldi seraya menunjuk ke arah depan. Motor itu sudah tampak menjauh dari jalan raya.
Ali yang sempat melihatnya segera menyalakan mesin mobil, lalu menancapkan gas dengan kecepatan full. Mengejar pengendara motor itu.
"Siapkan sapu tangannya, Di. Saat dijalan sepi kita hadang dia dan bius!" titah Ali memberikan instruksi.
Aldi mengangguk, segera dia mengambil sapu tangan di dalam kantong celana juga sebotol obat bius. Kemudian menetaskan 5 tetes obat itu.
Setelah beberapa menit berkendara dan berada di belakang, akhirnya mobil Ali melintasi jalan raya yang sepi. Hanya jalan raya, tak ada rumah.
Saat itu pula mereka beraksi.
Ali menyalip pengendara motor di depan dan langsung mengerem mobilnya secara mendadak. Lelaki di belakang itu sontak kaget dengan mata melotot. Segera dia ikut mengerem motornya sebab takut menabrak badan mobil.
Ckiiitt!
Aldi dan Ali pun segera turun, kemudian melangkah cepat menghampirinya.
Namun, bukannya langsung membius, kedua pria berbadan itu malah seketika tumbang saat lelaki bermotor Mio itu melepaskan jaket kulitnya.
Bruk!!
Mereka jatuh. Terkapar tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Lho, kenapa mereka?" tanya lelaki itu dengan wajah bingung.
^^^Lha, yang dibius siapa yang pingsan siapa 😭🤣^^^