
"Karena dia mau meremmas dadamu!" seru Steven dengan lantang yang mana membuat Citra membulatkan matanya.
"Meremmas dada?" Kening Citra mengerenyit. "Kak Arya nggak meremmas dadaku kok."
"Tapi mau! Aku jelas melihatnya dan kamu sendiri kenapa diam saja, hah?!" bentak Steven kesal lalu merasakan sesak di dada. Dia tak mengerti akan apa yang terjadi, tetapi yang jelas—kejadian tadi sungguh merusak mood dan selera makannya.
"Tapi Kak Arya nggak berniat meremmas dada, Om. Dia hanya mencoba membersihkan sisa jus pada dressku." Citra menundukkan wajahnya, pandangnya itu langsung tertuju pada noda hijau yang masih ada di dadanya. Hanya saja sudah kering.
"Itu hanya alasan dia, yang sebenernya itu dia mau meremmas dadamu! Harusnya kamu itu menghindar! Kenapa malah diam saja? Kamu ini punya harga diri nggak sih?!" sentak Steven penuh dengan emosi, dia mengepalkan kedua tangannya lalu menonjok stir. Entah mengapa tiba-tiba dia jadi mengingat akan kejadian di masa lalu, dimana tunangannya itu diraba-raba oleh pria lain yang bahkan dia sendiri tak berani merabanya.
"Enak saja Om kalau bicara, tentu aku punya harga dirilah." Citra terlihat ikut marah.
"Terus kenapa malah diam saja? Harusnya menghindar!" tekan Steven.
"Kan aku sudah bilang kalau—"
"Aku bilang menghindar ya menghindar! Pokoknya jauhi semua laki-laki yang ada disekitarmu!" tegas Steven.
"Termasuk Om juga?"
"Aku pengecualian."
"Tapi Om sendiri selalu menghindariku? Kenapa?"
"Aku nggak pernah menghindarimu."
"Kalau nggak, coba cium aku. Apa Om berani?" tantang Citra.
"Ngapain aku cium kamu." Steven memalingkan wajahnya lalu membuka botol air mineral. Dia pun menenggaknya sampai habis.
"Om itu nggak rela kalau aku dekat dengan laki-laki lain, kan? Om cemburu. Tapi Om sendiri selalu menjaga jarak padaku. Dasar aneh!" ketus Citra kesal.
Steven membuang napasnya kasar, wajahnya tampak cemberut. "Mana ada aku cemburu, nggak sama sekali."
__ADS_1
Citra berdecak, dia pun ikut memalingkan wajahnya ke arah lain. Mereka saling membuang muka. "Oh begitu, ya? Kalau dekat saja nggak cemburu berarti kalau aku ciuman dengan Kak Arya Om juga nggak cemburu?"
"Kalau kamu berani berciuman dengan Arya dan aku pun mengetahuinya ... aku akan mencekik leher Arya sampai dia mati!" tukas Steven.
"Kalau tahu doang, berarti kalau nggak tahu nggak masalah berarti."
"Masalah! Kamu nggak boleh berciuman dengan orang lain selain ...." Steven langsung menghentikan ucapannya sembari melipat bibirnya dengan rapat.
"Selain siapa?"
"Intinya nggak boleh, aku nggak suka padanya!"
"Jujur doang sulit amat sih, Om. Menyebalkan sekali!" Citra mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Ingin rasanya dia menonjok Steven karena sangking kesalnya, apa pun itu entah dada atau lengan. Tetapi dia sendiri tak berani dan kini hanya menonjok-nonjok kursi saja sebagai pelampiasan.
Steven melirik ke arah Citra sebentar, gadis itu masih menatap jendela dengan wajah cemberut. Lantas dia pun kembali menyalakan mesin mobilnya lalu mengemudi.
'Padahal udah kelihatan banget dia cemburu, tapi tetap nggak ngaku. Itu juga bulunya ... apa dia belum terbakar di dalam sana?' Citra seketika mengingat akan ucapannya, dia pun kini melirik ke arah inti tubuh Steven yang mengembung.
'Eh, tapi tadi Om bukannya pegangin anunya terus 'kan pas ke wc? Apa jangan-jangan sudah terbakar?' Citra tersenyum miring. 'Kalau beneran bagus deh, tapi kayaknya aku masih kurang puas. Sebelum Om ngaku kalau dia benar-benar cemburu.'
Di kamar Steven.
Sejak sampai apartemen Steven terus menerus minum air putih, menuangkan isi dispenser pada gelas lalu menenggaknya. Entah karena apa Steven melakukannya, tetapi yang pastinya itu semua dilakukan bukan karena haus, melainkan untuk menghilang rasa panas dan sakit di dada.
"Lho, ternyata habis." Steven menekan tombol dispenser itu dan tak keluar air, ternyata memang galonnya habis. "Padahal dadaku masih panas tapi ...."
Steven meringis ngilu saat menyentuh perutnya, terasa buncit akibat kembung. Dia tak sadar, jika dirinya sudah menghabiskan satu galon. Dan makan malam pun tak dia sentuh sebab kekenyangan minum air.
Sorotan mata Steven menatap pintu kamarnya dengan wajah cemberut.
"Sedang apa Citra? Kok nggak ketuk pintu? Menyebalkan sekali dia!" sungutnya emosi. Dia tentu ingat saat dirinya mengajak pergi nonton, Steven sendiri memang tidak ada mood untuk pergi. Tetapi setidaknya dia ingin Citra bertanya.
"Oh ... aku tahu, pasti Citra sekarang sedang mikirin Arya. Apa bagusnya sih dia? Menang putih dan masih ingusan. Kencing juga masih bengkok kali."
__ADS_1
Padahal hanya baru menebak, tetapi dadanya justru makin panas dan emosi. Rasanya ingin memaki.
"Aakkkhhhh!" Steven berteriak sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Dia benar-benar merasa jengkel, tapi bingung ingin melampiaskannya ke siapa. Perlahan dia pun membuang napasnya dengan kasar. "Ayah ... kenapa aku sangat benci melihat Citra dekat dengan laki-laki lain? Entah siapa pun itu, aku hanya ingin Citra dekat denganku saja. Tapi ... apakah itu salah?"
Mendadak Steven teringat pada sebuah lintasan kejadian dua bulan yang lalu, saat dimana Danu memintanya untuk menikahi Citra.
...(Flashback On)...
Ceklek~
Steven membuka pintu kamar inap Danu, dan terlihat pria itu tengah berbaring tak berdaya di atas ranjang. Sunggingan senyum tercetak jelas pada sudut bibirnya, dia tampak begitu senang melihat kedatangan Steven yang memang sudah ditunggu-tunggu sejak tiga hari yang lalu.
"Selamat siang, Om," sapa Steven seraya tersenyum. Dia masuk ke dalam lalu menutup pintu. Buah tangan yang dia bawa ditaruh di atas nakas, yakni bubur dan parsel buah.
"Siang. Kamu kemana saja, Stev? Om kangen sama kamu."
Tak lama terdengar pintu kamar itu diketuk, kemudian handle pintunya dibuka. Datanglah dua orang pria, dia adalah Gugun dan Harun.
"Selamat siang. Ah maaf, apa kami menganggu?" tanya Harun dengan langkah terhenti saat melihat ada Steven di sana. Tangannya menenteng tas jinjing.
"Nggak, kalian duduk saja di sofa," ujar Danu. Kedua pria itu pun mengangguk lalu duduk di sofa secara bersamaan.
"Maaf kalau tiga hari ini aku nggak ke sini, Om. Aku sibuk di kantor." Steven menarik kursi kecil di dekat ranjang, lalu duduk.
Hampir setiap hari Steven sering datang mengunjungi Danu bahkan menyempatkan untuk bertemu meski dijam-jam sibuk sekali pun. Tetapi kemarin-kemarin dia terpaksa tak datang sebab merasa risih atas permintaan Danu yang memintanya untuk menikah dengan anaknya.
Bukan hanya sekali, tapi berulang kali, setiap kali dia datang mengunjungi.
"Oh begitu, Om kira kamu sengaja nggak pernah datang karena menghindari Om, Stev." Bola mata Danu terlihat berkaca-kaca, tatapannya kini menjadi sendu. "Padahal ... hanya kamu harapan Om, Om nggak tahu lagi musti gimana." Buliran air bening itu langsung melintas pada kedua sudut mata dan dengan cepat Steven menyekanya.
"Maafin aku, Om. Tapi aku nggak bisa." Steven menggeleng dengan perasaan tak enak. "Pernikahan itu sesuatu yang suci, aku hanya mau menikah dengan orang yang aku cintai. Aku sudah menganggap Om seperti Omku sendiri, dan aku tentu harus menganggap anak Om sebagai keponakanku, kan?" Napas Steven berhembus dengan panjang, lalu dia pun tersenyum tipis.
"Kamu nggak perlu mencintainya. Kamu hanya cukup menjaganya saja, Stev," pinta Danu pelan.
__ADS_1
...Lha?😟 Sedangkan anaknya minta dicintai 🥲...