Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
155. Masalah sepele


__ADS_3

"Apa hubungan harta warisan dengan mereka menikah, Mas?" tanya Fira penasaran.


"Yang waktu itu aku ceritakan, soal harta warisan Kakakku. Citra itu anak semata wayangnya. Sebagai anak perempuan biasanya dia hanya mendapatkan ...." Tian menceritakan kembali tentang harta warisan, surat wasiat dan pernikahan dadakan yang Steven dan Citra lakukan.


Fira yang mendengarnya pun mendadak merasakan panas di dalam dada. Panasnya bukan lantaran cemburu Steven dan Citra sudah menikah sejak beberapa bulan yang lalu, akan tetapi dia merasa tak ikhlas mendengar sebuah kenyataan jika gadis itu anak orang kaya. Jauh dibanding dirinya.


"Memangnya, apa saja harta kekayaan Ayahnya Citra, Mas?"


"Banyak. Pertama kantor, kedua apartemen, ketiga cafe dan keempat toko furniture diberbagai kota. Jakarta, Karawang, Bandung dan Yogyakarta."


"Lalu sekarang siapa yang pegang? Kan dia belum cukup umur."


"Stevenlah, siapa lagi."


"Termasuk kantor ayahnya juga?"


Tian mengangguk. "Iya, tapi nggak sepenuhnya. Dia dibantu Gugun."


"Siapa Gugun?"


"Asisten Kak Danu."


Fira mengepalkan kedua tangannya, amarah menyelimuti jiwanya. 'Kenapa Tuhan nggak adil padaku? Citra terlahir dari keluarga kaya dan menikah pun dengan orang kaya. Sedangkan aku ....' Melirikkan matanya ke arah Tian dengan nanar. 'Apa yang aku dapatkan? Aku terlahir dari orang tua yang miskin. Mau menikah dengan orang kaya pun rasanya sulit. Ini semua gara-gara anak kurang ajar ini!' Fira meremmas perutnya, geram pada bayi yang ada didalam kandungan. 'Kalau saja aku nggak hamil, aku nggak akan menikah dengan Tian. Br*ngsek!'


"Pokoknya aku nggak mau tahu, Mas. Aku mau Mas kaya seperti dulu. Aku nggak mau hidup miskin!" tukasnya kesal.


"Iya, aku sedang berusaha."


"Mending uang hasil jual Kevin Mas pakai untuk sewa orang saja," sarannya.


"Sewa orang?" Kening Tian mengerenyit, dia menoleh pada Fira sekilas. "Sewa orang untuk apa?"


"Untuk bunuh Citra."


Sontak—mata Tian terbelalak, dia terkejut dengan apa yang Fira katakan. Namun, segera dia menggeleng cepat.


"Aku nggak mau. Ngapain membunuh Citra?"


"Lebih baik dia mati, supaya enak hartanya bisa Mas ambil."


Tian menggeleng lagi. "Nggak, Fir. Aku nggak mau membunuhnya, Kak Tegar melarangku."


"Kenapa?"


"Waktu itu kami berdua pernah berniat ingin membunuh Steven. Tapi semuanya gagal. Untungnya pihak polisi tak menemukan bukti kalau kami pelakunya. Jadi kami masih aman."


"Terus, apa masalahnya sekarang?"


"Aku dan Kak Tegar takut, takut jika nantinya kami ditangkap polisi kalau melakukan hal yang sama. Aku nggak mau masuk penjara, Fir."


Fira berdecih sebal. "Ah Cemen. Masa sama polisi saja takut, Mas nggak gentle banget."

__ADS_1


"Daripada aku masuk penjara, nggak maulah."


"Terus sekarang bagaimana? Dan mana uang dari jual Kevin? Aku minta, aku mau beli baju baru." Fira menadahkan tangan kanannya.


"Uangnya belum ada. Ini, sekarang aku baru mau minta." Tian menggerakkan kepalanya kemudian mematikan mesin mobil. Kendaraan roda empatnya sudah terparkir di depan gerbang rumah mewah. Rumah Angga.


Dika yang sudah menunjukkan alamat rumah itu lantas berlalu pergi.


"Ngapain ke rumah Om Angga, Mas?" tanya Fira dengan mimik wajah terkejut.


"Kan aku sudah bilang, mau minta uang jual Kevin. Kata Steven ... aku suruh minta ke Papanya." Tian melepaskan sabuk pengaman, kemudian turun dari mobil.


Melangkah menuju gerbang, di dalam sana ada seorang pria yang memakai baju sekuriti sedang berdiri.


"Permisi, aku mau bertemu Pak Angga," ucap Tian dengan sopan tetapi agak keras, sebab takut tak didengar.


"Kenapa mencariku?" tanya Angga yang baru saja turun dari mobil, kemudian menghampiri Tian. Mobil Bejo yang dia tunggani itu langsung masuk ke dalam halaman rumah saat gerbangnya dibuka.


Tian menoleh ke arahnya. Kemudian tersenyum. "Boleh kita bicara, Pak? Aku ingin membahas tentang Kevin."


"Kevin?" Kening Angga mengerenyit. "Kevin Kakatua maksudnya?"


Tian mengangguk cepat. "Iya, aku Tian. Pemilik burung itu."


"Apa buktinya?" tanya Angga tak percaya.


"Kita bicara dulu saja ke dalam, Pak. Di sini panas."


Tian masuk ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya di depan halaman Angga.


"Kamu mau ikut turun nggak, Fir?" tanya Tian seraya mengambil akta kelahiran di dalam dasbor.


"Nggak." Fira menggeleng cepat. Rasanya malu bertemu Angga. "Aku tunggu di sini saja dan jangan katakan pada Om Angga kalau Mas datang denganku, ya?" Fira menatap gelisah Angga yang sedang duduk di kursi pada teras rumah.


"Kenapa memangnya?"


"Nggak apa-apa. Pokoknya jangan. Sudah cepat sana! Aku mau belanja, Mas!" Fira mendorong tubuh Tian. Pria itu pun segera turun dari mobil kemudian menghampiri Angga.


"Kita bicara di sini saja, nggak usah masuk," ucap Angga.


Tian mengangguk, dia langsung duduk di kursi kosong di sebelahnya. Kemudian menaruh map plastik di atas meja.


"Itu akta kelahiran Kevin, Bapak bisa mengeceknya."


Angga membuka dan langsung membaca. Setelah itu dia melambaikan tangannya ke arah dua pria yang sedang berdiri di depan pos satpam. Bejo dan Dono temannya langsung berlari menghampiri Angga.


"Di mana Kevin?" tanyanya.


"Dia tadi pergi sama Bu Sindi, Pak." Yang menjawab Dono.


"Pergi ke mana?"

__ADS_1


"Bu Sindi bilang mau arisan."


"Ngapain arisan ngajak Kevin?"


"Bukan Bu Sindi yang mengajak, tapi Kevinnya yang ikut saat Bu Sindi masuk ke dalam taksi," jelasnya.


"Aku ke sini bukan mau mengambil Kevin, Pak," ucap Tian tiba-tiba.


"Terus?" Angga menoleh ke arah pria tersebut.


"Aku mau minta uang sama Bapak, anggap saja Bapak membeli Kevin padaku."


"Kamu mau menjual Kevin?"


"Iya." Tian mengangguk. "Aku memang sedang mencarinya. Dan kebetulan ... kemarin aku nggak sengaja bertemu Kevin. Aku mau mengajaknya pulang tapi dia nggak mau. Dia malah bilang mau tinggal di rumah Bapak selamanya," jelas Tian.


"Oh begitu." Angga mengangguk-ngangguk. "Tapi aku sama sekali nggak mengambil Kevin dari rumah Fira. Dia sendiri yang datang ikut Steven diam-diam." Angga tak mau dianggap mencuri Kevin, menjelaskan sesuatu fakta akan lebih baik.


"Memangnya Bapak dan Steven ke rumah Fira? Kapan?"


"Seminggu yang lalu mungkin. Aku juga lupa."


"Mau apa?"


"Ada urusan."


"Urusan apa?"


"Itu nggak penting." Angga menggeleng cepat. Itu urusan pribadi, rasanya tak pantas untuk menceritakan pada Tian yang menurutnya orang asing. "Jadi kamu pacarnya Fira, ya?"


"Aku sudah menikah dengannya, Pak."


"Oh. Alhamdulillah kalau begitu." Angga mengelus dada, merasa lega. Dengan mereka sudah menikah, Angga berharap Fira tak lagi mengharapkan Steven.


"Memang kenapa?"


"Nggak." Angga menggeleng cepat. "Namanya orang pacaran memang harus cepat menikah. Takutnya hamil duluan," tambahnya menyindir. Dia tahu Fira hamil, Aldi yang mengatakannya.


"Aku menikah justru karena dia hamil, kalau nggak hamil dia nggak akan mau aku nikahi, Pak."


"Oh benarkah? Memangnya kenapa? Apa dia nggak cinta padamu?" tanya Angga yang mendadak jiwa keponya meronta.


"Aku nggak tahu." Tian menggeleng samar. "Tapi memang saat itu dia mendadak berubah dan meminta putus, Pak."


"Memangnya kamu dan dia berapa lama pacaran? Dan alasan dia minta putus apa?"


"Satu tahun. Aku dan dia bahkan sudah bertunangan. Kemarin ... dia minta putus karena masalah sepele."


"Sepelenya apa?"


"Dia minta gelang tapi aku kasihnya lama. Terus dia ngambek dan minta putus."

__ADS_1


...Lha, gimana sih, Om, kok malah curhat? 😳 Urusan duitnya gimana aduuhhh. Nyonya Fira daritadi nungguin noh di mobil. Mau shopping katanya 🙈...


__ADS_2