
"Halo, Rif," ucap Dika pada sambungan telepon. Setelah menghubungi Steven, dia langsung menghubungi Arif.
"Iya, Dik, ada apa?" tanya Arif dengan suara pelan.
"Lagi apa kamu? Aku ingin menyampaikan pesan dari Pak Steven."
"Aku lagi di rumah sakit, mau periksa bisulku."
"Memang parah banget, sampai dibawa ke rumah sakit?" tanya Dika penasaran.
"Iya, aku meriangin, Dik. Udah gitu mengigil seluruh tubuhku. Ini aja aku paksain berobat, supaya besok bisa kerja."
"Bagus itu, semoga cepat sembuh ya, Rif dan semoga saja nggak tumbuh lagi bisul yang baru."
"Amin, terima kasih. Tapi apa pesan dari Pak Steven? Dia marah nggak pas aku izin? Atau justru kangen sama aku gara-gara aku nggak masuk?" tanya Arif dengan pede.
"Kalau kangen nggak mungkin, ngaco aja kamu!" ketus Dika sembari memutar bola matanya dengan malas. Kebiasaan, Arif kalau membicarakan Steven suka lebay menurutnya. "Yang ada dia marah dan titip pesan. Katanya kalau kamu masih bisulan ... dia akan memecatmu!" Sengaja Dika menekan suaranya demi menakut-nakuti Arif. Mungkin dengan begitu, bisulnya akan segera sembuh.
"Apa hubungannya? Bisulkan jadi sendiri, bukan kemauanku, Dik." Suara Arif terdengar meringis ngilu. Mungkin menahan sakit pada bisulnya.
"Iya, sih. Ah nggak tahu deh, Pak Steven 'kan memang otaknya agak geser."
"Jangan begitu, Pak Steven itu ganteng dan berwibawa. Mana mungkin otaknya geser." Arif tampak tak terima, sang bosnya itu dicela.
"Ya habis begitu, agak aneh. Ya sudah, ya, aku cuma mau sampaikan itu saja. Aku harap ... kamu nggak bisulan lagi. Biar kamu nggak dipecat."
"Amin. Semoga saja, Dik. Aku juga nggak mau dipecat." Setelah itu, Dika mematikan sambungan telepon.
***
Sementara itu ditempat berbeda, Dua pria dept collektor berdiri di depan gerbang rumah Tian, keduanya saling menggoyangkan gerbang besi, demi meminta supaya gerbang itu dibukakan oleh sang pemilik rumah.
Tian sendiri tak menyewa satpam, sebab dia tak mampu untuk membayar.
"Tian! Buka gerbangnya!" teriak salah satu dari mereka dengan lantang. Mereka adalah dept collektor kemarin dan sekarang menagih sisa hutang Tian.
"Tian!" Sekarang temannya yang berteriak.
Merasa kesal sebab tak kunjung dibukakan pintu, salah seorang dari mereka mencoba menghubungi Tian. Meneleponnya.
*
*
Tian tengah duduk di depan kolam renang yang sudah diisi lele. Dia sedang menyantap mie instan sambil menyebarkan pelet, mengajak para ikannya itu sarapan bersama.
__ADS_1
Masih ada stok makanan dan beras sebenarnya, namun Tian sendiri malas dan tidak bisa masak. Jadi memilih makan mie saja, yang lebih praktis.
"Ayok makan yang banyak, biar cepat besar dan bisa aku jual. Nanti aku juga mau coba daging kalian," ujarnya sambil mengunyah.
Tiba-tiba, seekor burung Kakatua datang menghampirinya. Berdiri di atas meja.
"Selamat pagi Om Hidung Belang," sapanya yang ternyata dia adalah Kevin.
Tian mengerutkan keningnya, heran saja padanya. Sebab sudah lama Kevin tak berkunjung ke rumah.
"Kamu, Vin? Mau apa?" tanya Tian sambil kembali melahap mie dengan sumpit.
"Saya hanya ingin menyapa, memang tidak boleh?" Kevin memperhatikan Tian yang tengah menenggak kuah mie dengan wajah berkeringatnya. Namun, pria itu terlihat sudah mandi dan segar. Hanya saja pakaiannya terlihat santai. Stelan kaos panjang berwarna biru awan. "Om kok pagi-pagi makan mie? Tidak sehat tahu."
"Sehat, kata siapa nggak sehat?" balas Tian.
"Itu apa, Om?" Kevin menatap ke arah kolam renang.
"Itu ikan lele, aku memeliharanya."
"Setelah Om menjual saya, jadi Om memelihara ikan? Jahat sekali." Kevin langsung terbang ke pangkuan Tian, lalu merentangkan sayapnya memeluk perut. Tampaknya, kedatangannya itu lantaran rindu.
Sikapnya yang seperti itu juga Tian paham, bahwa itu tanda sayang dan manjanya Kevin.
"Tian!"
Terdengar suara bariton seseorang yang begitu lantang, namun suaranya terdengar jauh. Pria itu pun segera berdiri, lalu melangkah menuju samping rumahnya. Merasa penasaran.
Kevin juga terbang mengikuti kemana pria itu pergi. Terbang di sampingnya.
Mata Tian sontak melolot, cepat-cepat dia pun memundurkan langkah saat tahu siapa dua orang yang berdiri di depan gerbang.
'Astaga, mereka pasti ingin menagih sisa hutangku. Tapi ... bagaimana aku membayarnya?' batin Tian bingung. Dia terdiam lalu memikirkan isi dompet dan isi rekeningnya yang sudah kosong. Tian juga ingat, jika dua pria itu akan mengancam mobilnya diambil kalau dia tak bisa membayar.
Kalau Tian tak punya mobil, malah makin menderitalah hidupnya. Hartanya yang tersisa hanya mobil dan rumah. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Mereka siapa, Om?" tanya Kevin.
Mendadak, sebuah ide cemerlang muncul di otak Tian saat burung itu bertanya. Mungkin, hanya Kevin yang saat ini bisa membantunya.
"Vin, aku mau minta tolong padamu. Boleh nggak?" pinta Tian lembut.
"Tolong apa?"
"Tolong usir mereka berdua dari rumahku."
__ADS_1
Mungkin, akan lebih baik mereka berdua pergi dulu. Dan sementara itu Tian nanti akan memutar otak untuk mendapatkan uang 10 juta. Sebab kalau tidak diusir, Tian sendiri tak akan bisa keluar rumah.
"Kenapa diusir? Memang mereka siapa?"
"Mereka dept collektor. Penagih hutang."
"Penagih hutang itu apa?" Kevin tampak bingung.
"Aku sempat meminjam uang pada bosnya, tapi sekarang aku belum bisa bayar, jadi mereka menagihnya."
"Kenapa tidak Om temui saja? Kenapa harus diusir?"
"Kalau aku temui, mereka bisa menghajarku, Vin. Karena belum bisa bayar. Kemarin saja perutku sakit dan sarapanku keluar semua gara-gara mereka tonjok." Tian berekspresi sesedih mungkin, demi mendapat simpati Kevin. Dia juga tak mau mienya yang baru masuk lambung itu keluar dengan sia-sia.
"Memang kenapa Om tidak bisa membayar?"
"Aku nggak punya uang, Vin."
"Jangan bohong."
"Sumpah. Masa kamu nggak percaya?" Tian langsung mengambil dompetnya di dalam kantong celana, lalu memperlihatkan betapa kosongnya benda itu. Hanya ada KTP dan kartu ATM yang kosong. "Nih, kamu lihat sendiri. Kosong, Vin."
"Kenapa tidak pergi ke mesin ATM? Kan Om sering mengesek kartu, lalu keluar uang." Kevin sendiri sering diajak ke mana pun Tian pergi, ya salah satunya ke sana.
"Kartuku juga nggak ada isinya, semuanya kosong."
"Maksudnya Om sudah kere sekarang?"
Tian mengangguk cepat. "Iya, mangkanya kamu bantu aku sekarang. Nggak ngasih aku uang juga nggak apa-apa. Tapi minimal membantu itu saja." Tian masih berusaha untuk merayu.
"Kalau saya bantu, Om, saya dapat apa?"
Tian berdecak, lama-lama dia jengkel juga pada Kevin. Burung itu seolah menguji kesabarannya. "Ya elah, Vin. Perhitungan banget sih kamu sama aku. Kamu nggak ingat, ya, dari kecil siapa yang mengurusmu sampai sebesar ini? Memang kamu mau, aku mati ditangan mereka?" Tian menatap tajam wajah Kevin dan menuding-nudingnya.
"Kamu jangan jadi anak durhaka dong, nanti berubah jadi batu tahu rasa kamu, Vin!" tambah Tian lagi dengan nada sedikit mengancam.
Terlihat, bola mata Kevin langsung membulat sempurna.
...***...
Guys, tolong dong jangan pelit-pelit, kalau nggak ngasih vote atau hadiah, minimal perbabnya kalian like. like kan ga sulit dan ga bayar, jadi apa susahnya 🥲
sumpah, aku lihat ini miris banget 😠yg baca perhari sampai 7000an tapi yang like cuma 100 biji, paling byk 300. itu kalian baca nggak sih? kok nggak ada jejak, cuma like doang berasa sulit banget. Bikin aku ga semangat 😫
__ADS_1