Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
357. Membuat perhitungan


__ADS_3

"Halo, Om, assalamualaikum," ucap Citra saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.


"Walaikum salam, Cit. Tumben kamu telepon, Om, ada apa?" tanya Tian. Suaranya terdengar lembut sekali.


"Aku mau nanya ... Om, Mbak Nissa sama Juna tinggal di mana sekarang?"


"Sekalian juga tanyakan Mama sama Papa ada di sana atau nggak, Cit," titah Steven berbicara pelan. Tapi Citra dapat mendengarnya.


"Om, Mbak Nissa dan Juna ada di rumah Om, Cit," sahut Tian.


"Apa ada Mama dan Papa di sana?" tanya Citra lagi kemudian menglospeaker ponselnya. Supaya Steven dapat mendengarnya.


"Nggak ada. Kenapa memangnya?"


"Om pasti bohong!" seru Steven yang tiba-tiba menyahut dengan lantang.


"Nggak, Stev, ngapain Om bohong sama kamu," sahut Tian.


"Udah matiin, Cit, kita langsung saja ke sana," titah Steven. Sebelum melihat secara langsung, dia tak akan pernah percaya. Bisa saja Tian berbohong karena atas permintaan Angga. Itulah yang Steven pikirkan.


"Ya sudah ya, Om, nanti aku dan Aa Ganteng ke sana. Mau mengecek langsung soalnya," ucap Citra.


"Iya, ke sini saja, Cit."


Ucapan terakhir dari Tian memutuskan sambungan telepon itu.


*


"Yang, Citra telepon mau apa?" tanya Nissa saat melihat sang suami masuk lagi ke dalam kamarnya.


Sebelumnya dia memang pamit ingin mengangkat panggilan, sebab kalau menelepon di sana takutnya membangunkan Juna yang baru saja terlelap dari tidurnya.


"Mereka mau ke sini katanya, mau memastikan Mama dan Papa ada di sini atau nggak," sahut Tian.


Setelah menutup pintu, dia pun merangkak naik ke atas kasur. Kemudian duduk di antara Juna dan Nissa. Perlahan tangannya itu terulur untuk merangkul bahu Nissa, lalu tangan yang satunya mengelus perutnya.

__ADS_1


"Lho, apa mereka ada masalah?" tanya Nissa penasaran.


"Nggak tau, nanti kalau ke sini coba nanti aku tanyakan." Tian tersenyum, lalu mengelus pipi kanan Nissa dan seketika menjadi merona. "Oh ya, Yang. Aku ingin tanya sesuatu deh sama kamu."


"Tanya apa? Bicara saja." Nissa meraih tubuh Tian, lalu memeluknya. Mereka duduk selonjoran dengan posisi yang begitu menempel.


"Apa kamu masih ada rasa sama Pak Abi?" Sejak awal Abi mengatakan hal itu, rupanya sampai sekarang Tian masih memikirkannya. Khawatir juga, kalau memang benar—Nissa masih memiliki rasa kepada mantan suaminya.


"Rasa apa maksudnya? Suka?"


"Ya suka, cinta atau sebagainya gitu."


"Nggak," jawab Nissa tanpa banyak berpikir. Kepalanya pun menggeleng.


"Beneran?" tanya Tian yang tampak belum percaya.


"Benerlah. Ngapain juga aku masih menyimpan rasa. Dia 'kan penghianat dan lagian ... aku 'kan udah punya kamu, Yang," jawab Nissa jujur.


"Kamu sendiri, sekarang sudah cinta belum sama aku?"


"Memangnya salah, ya, sama pertanyaanku?" Alis mata Tian bertaut, dia pun memandangi wajah cantik sang istri.


"Nggak. Cuma aneh aja. Masa kamu nggak tau, sih, aku udah cinta apa belum sama kamu? Kita 'kan bukan ABG lagi, Yang, pasti ngertilah." Nissa kembali terkekeh.


"Aku bener-bener nggak tau, Yang. Bisa saja 'kan kamu belum cinta sama aku. Soalnya kamu belum pernah mengatakannya," ucap Tian.


"Dulu memang belum, tapi sekarang-sekarang udah cinta," jawab Nissa dari lubuk hati terdalam.


Wajah Tian seketika merona. Dia pun mengulum senyum dan tiba-tiba saja miliknya pun berkedut, seperti ikut merespons. "Sejak kapan mulai cintanya?"


"Aku nggak inget." Nissa menggeleng. "Mungkin, saat kita menghabiskan waktu di hotel."


"Bicara tentang menghabiskan waktu ...." Tangan Tian yang sejak tadi mengelus perut Nissa kini berpindah, jadi mengelus kedua dadanya. Dengan sesekali remmasan lembut. "Kita udah lama deh kayaknya nggak bercinta. Bahkan aku udah lupa terakhir kapan."


"Maksudnya, kamu kepengen kita bercinta sekarang?"

__ADS_1


"Iyalah. Aku juga kangen sama goyangan kamu. Kamu memangnya nggak mau karaokean lagi?" Tian menarik tangan Nissa untuk meraba inti tubuhnya yang telah mengeras sempurna dibalik celana. Pelan-pelan dia pun mengelus-elusnya. "Apa mungkin sekarang belum siap, karena masih lemes habis sakit?"


"Siap kok. Malah sebenarnya aku dari siang udah kangen banget sama kamu. Tapi masalahnya ... kita bercinta di mana? Masa di kamar mandi lagi?" Nissa pun menoleh ke arah Juna. Bocah itu masih terlelap dengan memeluk guling.


"Nggak apa-apa di kamar mandi juga, Yang. Oh atau ... kita pindah ke kamar sebelah?" tawar Tian dengan salah satu kedipan mata. Nissa yang baru saja mendongakkan wajahnya langsung Tian kecup bibirnya dengan mesra.


"Di kamar mandi saja deh, biar enak dijadikan alasannya, Yang," sahut Nissa.


"Dijadikan alasan gimana maksudnya?"


"Kalau misalkan Juna kebangun dan nyari kita."


"Oh, oke deh. Tapi mau pakai karpet sama bantal nggak?" Tian sudah meraih tubuh Nissa, menggendongnya lalu turun dari tempat tidur.


"Nggak usah. Bercinta sambil berdiri malah lebih enak, Yang." Nissa menangkup kedua pipi Tian, kemudian langsung meraup bibirnya dengan mesra.


Pria itu pun segera melangkah menuju kamar mandi, lalu masuk dan menutup pintu dengan rapat. Tampaknya keduanya lupa, jika Citra sudah memberitahu jika akan datang ke rumah.


Sementara itu diluar rumah, Aulia yang baru saja turun dari mobil taksi langsung melangkah cepat menuju gerbang. Wajahnya tampak masam dan rahangnya mengeras. Kedatangannya di sana adalah untuk meminta pertanggung jawaban atas apa yang sudah dialami oleh suaminya. Tentu sebagai seorang istri, dia merasa tak terima jika suaminya ada yang berniat mencelakai.


"Panggilkan Mas Tian! Aku akan membuat perhitungan padanya!" teriak Aulia murka.


Seorang satpam yang berada di depan gerbang tengah berjaga seorang diri sontak terperanjat. Sebab dia sendiri memang sempat melamun.


"Nona siapa?" tanyanya saat sudah menoleh ke arah Aulia. Dia juga memerhatikan wajah perempuan yang terlihat asing itu dari celah pagar besi.


"Aku mantan istrinya Mas Tian! Cepat panggilkan dia, aku ingin membuat perhitungan padanya!" perintahnya dengan lantang. Kedua tangannya itu berkacak pinggang.


"Perhitungan apa yang Nona maksud?"


"Beritahukan saja dia sekarang! Cepat! Kalau dia nggak mau keluar ... aku akan menyeretnya ke penjara!" ancam Aulia dengan penuh emosi.


Satpam itu pun segera merogoh kantong celananya, lalu mencoba menelepon Tian.


...Om Tian lagi semedi sama bininya, ga boleh diganggu 🙈...

__ADS_1


__ADS_2