Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
190. Seumur hidup pun aku rela


__ADS_3

"Tian, kamu ini kenapa, sih? Kok dari tadi bengong dan senyum-senyum sendiri? Lagi kasmaran kamu?" tebak Nissa. Namun ucapannya mengundang hati yang berbunga.


"Apa wajahku kelihatan banget kalau lagi kasmaran?" Tian justru berbalik tanya.


"Iya, apalagi pipinya tuh, merah-merah," tunjuknya. Tian langsung menangkup kedua pipi, makin kencang saja jantungnya berdetak.


"Aku nggak lagi kasmaran kok," bantah Tian. "Eemm ... jadi bagaimana? Apa aku boleh kerja jadi managermu?"


"Boleh aja, tapi pekerjaanmu bagaimana? Aku cari manager itu bukan untuk sehari dua hari, Ti. Kalau buat main-main sih mending nggak usah."


"Aku serius!" seru Tian. "Aku mau jadi manager di restoranmu, bahkan selamanya pun nggak masalah. Soal pekerjaanku di kantor ... sebenarnya aku sudah bosan menjadi CEO. Aku mau cari pengalaman baru." Tidak mungkin juga Tian jujur, malu rasanya. Nanti Nissa bisa ilfil kalau tahu dia kere.


"Kamu saja bisa bosan jadi CEO. Nanti jadi manager juga bisa bosan dong, sama saja berarti. Nggak serius."


Tian menggeleng cepat. "Nggak, Nis. Ini beda. Aku janji akan jadi managermu dalam waktu yang sangat lama. Seumur hidup pun aku rela."


"Ish, malah ngegombal kamu." Nissa berdecak.


"Nggak gombal, aku serius. Boleh, ya, aku jadi managermu," pinta Tian dengan mimik memohon. "Kamu nggak perlu mikirin kantorku, sudah ada CEO baru yang menggantikan aku. Jadi aku bisa fokus bekerja di sini."


Nissa termenung sebentar sembari memikirkan apa yang pria itu katakan. Namun tidak salahnya untuk menerima, kalau pun menolak tak enak juga. Walau bagaimanapun Tian adalah temannya meskipun tak terlalu dekat.


"Ya sudah, kamu boleh jadi managerku. Tapi seminggu masa observasi dulu, ya, aku mau lihat kualitas kerjamu. Ya meskipun kita teman ... aku harap kita bekerja secara profesional," jelas Nissa dengan ucapan yang cukup tegas.


Tian langsung mengulum senyum dengan mata yang berbinar, senang sekali rasanya. Dan dengan refleks tangannya menjulur ke atas meja, lalu menyentuh punggung tangan Nissa yang berada di sana. Terasa lembut sekali tangan itu.


"Terima kasih, Nis. Aku akan berusaha bekerja dengan baik dan nggak mengecewakanmu."


"Sama-sama." Nissa tersenyum manis.


"Aku boleh langsung kerja hari ini? Atau besok saja sekalian bawa surat lamarannya?"

__ADS_1


"Sekarang juga boleh, tentang lamaran kerja biar besok saja kamu bawanya. Sekarang habiskan dulu kopinya, nanti kamu ikut ke ruang manager."


Tian langsung meraih cangkir yang berisi vanilla latte, lalu segera dia tenggak sampai tandas. Tidak sabar rasanya ingin bekerja dengan Nissa.


'Pasti dia yang akan mengajariku, kan? Pasti tubuh kita makin dekat dan aku bisa lebih dekat memandanginya,' batin Tian.


"Panas nggak itu, sampai dihabiskan buru-buru?" tanya Nissa yang mana membuat Tian terperanjat dari duduknya.


"Aku serius, Nis. Aku akan bekerja dengan baik," jawabnya yang terdengar asal.


"Aku tanya apa kamu jawab apa. Kok di sini jadi kamu yang banyak pikiran sih?" Kening Nissa mengerenyit, menatap aneh Tian.


"Namanya orang hidup, Nis. Banyak pikiran itu wajar. Iya, kan?"


"Iya, sih. Ya sudah, ayok ikut." Nissa berdiri lalu menjinjing tasnya. Dia pun melangkahkan kaki.


Tian cepat-cepat menyusulnya, lalu memperhatikan wanita itu dari belakang. Tubuhnya ramping namun bagian bokongnya sintal. Ya meskipun tak sesemok Fira yang memiliki tubuh bak gitar spanyol—namun Nissa terlihat jauh lebih anggun.


'Aku jadi penasaran, kenapa dia bisa bercerai dengan suaminya? Nissa 'kan wanita sempurna,' batin Tian.


Ceklek~


Nissa membukakan sebuah pintu ruangan, yang letaknya di samping ruangan pribadinya. Lalu masuk ke dalam sana. Tian langsung menyusul dan memperhatikan sekeliling.


Ruangan itu lebih kecil dari ruangan CEO-nya dulu, namun lebih besar jika dibanding dengan ruangan sebagai karyawan biasa di kantornya Tegar.


"Mohon dimaklumi kalau ruangannya nggak seluas ruangan kantormu, Tian," ucap Nissa yang seolah tahu tentang apa yang pria itu pikirkan. "Tapi aku harap, kamu nyaman."


"Nggak masalah. Menurutku ini cukup, ruangannya juga bagus dan wangi." Tian tersenyum lalu duduk di kursi putar. Itu akan menjadi kursi kerjanya.


Di samping kursi dan meja kerja, ada sofa panjang dan meja lagi.

__ADS_1


Nissa berdiri di samping Tian yang duduk, lalu membuka laptop yang terlipat dan mengetik keyboardnya.


"Tugas jadi manager itu banyak, Tian. Jadi aku harap kamu serius."


"Apa saja kira-kira?" tanya Tian sembari melirikkan matanya, mencuri-curi kesempatan untuk bisa memperhatikan wajah wanita itu lebih dekat di sampingnya. Tian juga mengendus aroma vanili di tubuh Nissa, entah itu minyak wangi atau body lotion. Namun yang jelas dia menyukai aromanya.


'Wangi banget si Nissa, sehari mandi berapa kali dia kira-kira?' batin Tian.


"Merekrut dan mengelola karyawan secara efektif, mengawasi operasional, menangani keluhan pelanggan, dan membuat laporan keuangan," jelas Nissa. "Aspek penting lainnya dari tugas manajer restoran adalah memastikan peraturan kesehatan dan keselamatan serta mengelola inventaris." Nissa menjelaskan sembari membuka beberapa dokumen di laptop itu, juga memberitahu beberapa menu yanga ada di restorannya.


"Oh ya, kamu juga harus selalu mengecek makanan dan minuman perminggunya. Dan memperhatikan konsumen. Kepuasan pelanggan itu nomor satu," tambah Nissa lalu menoleh ke wajah Tian yang sejak tadi memperhatikannya tanpa berkedip. Mata mereka pun seketika bertemu, namun Nissa langsung membulatkan mata sebab melihat air liur Tian menetes dari bibirnya yang menganga.


"Dih, jorok banget kamu, Ti! Sampai ngeces segala!" pekik Nissa seraya menjauhkan tubuhnya dari pria itu. Sebelah sudut bibirnya terangkat dan menatap jijik temannya yang saat ini tengah mengulas bibir.


"Maaf, maaf, Nis. Bukan maksud jorok," kata Tian dengan wajah merah. Dia pun menurunkan pandangannya lantaran malu sendiri.


"Sana cuci muka dulu deh, baru kita lanjutkan lagi!" titah Nissa yang terlihat marah.


Tian pun langsung bangkit dari duduk, lalu menatap Nissa dengan perasaan tak enak. "Maaf Nis, aku akan cuci muka dan segera kembali." Dengan langkah cepat Tian keluar dan sana, Nissa yang melihatnya hanya bisa membuang napasnya dengan berat.


'Dari awal ketemu lagi kok aku merasa si Tian seperti aneh. Dia kayak punya banyak masalah, tadi juga ngomong nggak nyambung. Apa kira-kira dia bisa jadi manager yang baik untukku?' batin Nissa ragu.


*


*


Di dalam toilet.


"Ah si*lan! Kenapa pakai acara ngeces segala! Jadi ilfil 'kan si Nissanya!" umpat Tian di depan cermin wastafel, sembari membasuh wajahnya berkali-kali. Perlahan dia pun membuang napasnya, lalu mengusap dada yang terus berdebar kencang. "Ini juga jantung, kenapa berdebar mulu dari tadi? Bisa diem nggak sih?!" sentaknya marah. "Kayak ABG saja! Nggak malu sama umur apa!"


...Lha, Om. kalau tu jantung berhenti tandanya kamu koit. Gimana kali 🤣...

__ADS_1


__ADS_2