Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
387. Minum susu


__ADS_3

Sementara itu di rumah mewah Abimana.


Pria itu terlihat melangkah lesu masuk ke dalam rumah mewahnya. Tubuhnya terasa pegal-pegal dan sakit, akibat lelahnya bekerja seharian.


Aulia yang melihat sang suami pulang langsung berlari menuju dapur untuk membuatkan kopi, setelah itu barulah dia menghampiri Abi yang sudah duduk di sofa ruang keluarga.


"Mas Abi sudah pulang, rupanya. Ini kopinya, Mas." Aulia menaruh secangkir kopi yang masih beruap di atas meja, lalu duduk di samping Abi dan meraih jas yang pria itu pakai. Hendak membantunya melepaskan.


"Aku nggak butuh kopi!" teriak Abi acuh tak acuh, bahkan sudah menghentakkan tangan Aulia yang sudah berhasil melepaskan jasnya. Alhasil benda itu terjatuh dan berhasil mengibaskan secangkir kopi hingga membuatnya jatuh ke lantai.


Prang!!


"Astaga!" Aulia terperanjat, kaget mendengarnya. "Kenapa sih, Mas, kok marah-marah?" tanyanya dengan lembut seraya mengelus dada yang terasa jantungnya berdebar kencang.


Abi merogoh kantong dalam jasnya untuk mengambil sesuatu. Dan setelah berhasil mendapatkannya, dia lemparkan ke wajah Aulia.


"Cepat tanda tangan dan segera angkat kaki dari rumahku!" berang Abi dengan napas yang memburu, kemudian bangkit dan berlalu pergi menuju lantai atas rumahnya.


Aulia langsung meraih amplop coklat yang tadi Abi lemparkan, benda itu tergeletak di lantai. Dan saat membaca tulisan yang tertera di depan amplop tersebut—kedua matanya sontak terbelalak, lantaran terkejut jika amplop itu dari pengadilan agama.


"Mas Abi ingin menceraikan aku?" Mulut Aulia menganga, tapi dia langsung menutupinya dan menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak! Aku nggak mau! Ini nggak boleh terjadi!"


Dia pun mengusap kasar wajahnya, lalu memijat dahi yang mendadak terasa sakit kepala. 'Ayok Aulia berpikirlah ... jangan sampai aku diceraikan Mas Abi hanya karena aku nggak punya anak dan Juna nggak mau ikut bersama kita. Aku nggak mau jadi janda miskin dan mandul, pastinya nggak akan ada pria yang mau denganku.'


Aulia terdiam sambil berpikir keras, memutar otaknya untuk mencari sebuah ide.


Dan beberapa menit kemudian, ide itu sudah naik kepermukaan. Kedua tangannya itu kini perlahan mengelus perutnya sendiri. 'Apa aku pura-pura hamil saja, ya, biar Mas Abi nggak menceraikan aku?'


***


Drrrtt ... Drrttt.


Ponsel yang berada dalam genggaman Steven seketika bergetar, dan tertera panggilan masuk dari Dhika asistennya. Segera, Steven pun mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Pak Steven," ucap Dhika dari seberang sana.


"Walaikum salam," jawab Steven.


"Alhamdulillah. Akhirnya saya bisa bicara lagi dengan Bapak."


"Kenapa memangnya?" Alis mata Steven tampak bertaut. Bingung mendengarnya.


"Jujur saya takut dan ikut sedih, saat mendengar Bapak meninggal. Terus saya menjadi senang lagi karena alhamdulilah Bapak hidup lagi. Tapi saya dengar dari Pak Sofyan ... kalau Bapak mengalami amnesia. Apa benar, itu, Pak?"


"Kata Dokter sih begitu."


"Kalau menurut Bapak sendiri gimana?"


"Menurutku sendiri masih bingung. Tapi ada banyak hal yang aku nggak tau, dan rasanya waktu begitu cepat berlalu."


"Maksudnya bagaimana, Pak?" Dhika tampaknya bingung dengan ucapan Steven. "Tapi Bapak masih mengenal saya, kan?"


"Iya kenal. Kamu Dhika, asistenku."


"Tentang aku yang kata semua orang sudah menikah dan punya anak. Jujur aku sendiri bingung, kenapa aku sudah menikah dan malah sudah punya dua anak."


"Bapak memang sudah menikah dan punya anak. Itu benar, ya alasan Bapak bingung mungkin karena memang ada memori ingatan Bapak yang hilang."


"Tapi alasanku menikahi Citra itu karena apa, Dhik?"


"Waduh ... kalau soal itu saya nggak tau, Pak. Mungkin karena Bapak mencintainya."


"Tapi yang aku ingat, aku masih pacaran sama Imel dan hanya dia yang aku cintai, Dhik," jawab Steven dengan sendu.


Citra yang hendak menurunkan handle pintu kamar mandi jadi urung dilakukan, ketika mendengar apa yang diucapkan Steven lewat sambungan telepon itu.


Dadanya begitu sesak, hatinya sakit dan matanya memanas. Namun berusaha dia tersenyum sambil mengatur napasnya naik turun.

__ADS_1


'Sabar, Cit, kamu nggak boleh sedih,' batinnya mencoba menguatkan diri sendiri, meskipun air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. 'Aa mengatakan hal itu karena dia nggak mengingatku. Kalau ingat pasti nggak akan seperti itu. Iya, kan?'


"Bapak dan Nona Imel sudah putus. Bapak malah pernah cerita sama saya kala Nona Imel selingkuh," sahut Dhika.


Steven mendengkus. Rasanya tak puas dengan jawaban Dhika, sebab sama seperti Angga dan yang lain. Yang terus menerus mengatakan jika mantannya itu berselingkuh. "Ah ya sudah deh. Aku mau istirahat. Besok kita ketemu di kantor, ya?"


"Baik, Pak." Suara Dhika terdengar begitu ceria. Tampaknya dia senang mendengar bosnya yang akan mulai bekerja lagi. "Alhamdulillah, akhirnya Bapak bisa masuk kantor lagi. Selamat malam dan selamat istirahat, Pak. Assalamu'alaikum."


"Walaikum salam." Steven hanya menjawab salam, kemudian mematikan sambungan telepon. 'Sepertinya besok aku musti pergi ke apartemen. kira-kira ... Imel masih tinggal di apartemenku nggak, ya?' batin Steven.


Ceklek~


Mendengar pintu kamar mandi dibuka, Steven pun langsung menoleh ke sumber suara. Perempuan itu tengah melangkah keluar, sambil tersenyum. Tapi kedua mata dan wajahnya terlihat memerah.


"Aa habis telepon sama siapa?" tanya Citra dengan lembut. Dia ikut duduk di sofa yang saat ini Steven duduki, dan tentunya membuat posisi pria itu menjadi sempit.


Steven membulatkan matanya kala belahan dada milik Citra terlihat begitu dekat, segera dia pun memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Dhi-Dhika," jawabannya tergagap. Lidahnya pun mendadak terasa kelu.


"Oh ...." Citra menganggukkan kepalanya. "Eemm ...." Perlahan dia pun meraih tangan Steven, lalu menggenggamnya. Pria tampan itu bahkan tersentak, karena kaget. "Apa sebelum tidur Aa nggak mau minum susu?" tanyanya. Tapi suaranya kali ini sedikit mendayu-dayu.


Steven menelan ludahnya. Ditawari susu entah mengapa tenggorokannya jadi kering kerontang, padahal tadi tidak sama sekali. "Boleh. Tapi susu putih sa-saja."


"Oke," jawab Citra. Namun tiba-tiba saja, dia malah naik ke atas sofa dan langsung duduk di atas pangkuan Steven.


Pria itu sontak terkejut, dia segera mengalihkan pandangannya untuk menatap Citra dan kedua matanya itu langsung melotot, kala dengan beraninya—perempuan itu membuka penutup dadanya hingga dua gunung kembar itu menyembul keluar.


Citra sengaja melakukan hal itu demi menggoda Steven, sebab dia ingat jika dulu diawal pria itu luluh karena sudah merasakan kedua asetnya. Kemudian merasa ketagihan, sampai-sampai suka iri jika harus berbagi dengan kedua anak kembarnya.


"Astaghfirullahallazim, apa yang kamu lakukan, Cit!" teriak Steven dengan mata yang langsung dia pejamkan. Kedua tangannya itu hendak mendorong tubuh Citra, tapi ternyata dia terjepit oleh dengkul perempuan itu.


"Lho, katanya tadi Aa bilang ingin minum susu? Ayok sekarang minum," tawarnya seraya menangkup kedua pipi Steven yang terasa begitu panas mengalahkan kompor.

__ADS_1


...----------------...


...Om Steven lebay 😝😝...


__ADS_2