
...Sebelumnya Author mau ngasih tahu, kalau novel ini bukan bergenre Islami ya, Gays. Author juga masih banyak belajar. Tapi sengaja diselipkan adegan salat sebab para tokohnya beragam Islam 🙏 mohon dapat dimaklumi....
...****************...
"Ah maaf, Cit." Perasaan Steven langsung tak karuan, malu sekali. Ingin rasanya dia menggerutuki dirinya sendiri. "Aku nggak sadar kalau kamu sudah pakai mukenah. Ya sudah ... kamu ambil air wudhu lagi, terus tunggu aku di sini, ya? Aku mau mandi dulu sebentar."
"Iya, Om." Citra mengangguk patuh, dia pun langsung berjalan kembali menuju kamarnya.
"Ah kacau! Apa yang kamu pikirkan, Stev?!" Steven mengacak rambutnya kasar. Geram dengan tingkahnya sendiri. "Bisa-bisanya aku nyosor duluan, malu-maluin!" Dia mendengus kesal seraya berjalan menuju kamar mandi.
Sebelum memulai salat berjamaah, Citra membacakan bacaan salat itu terlebih dahulu dan didengar oleh Steven. Itu dilakukan untuk mengantisipasi takut jika ada kesalahan dan Steven bisa langsung membenarkannya.
Sesaat Steven merasa takjub dan tak menyangka, meskipun suara ayat itu tidak terlalu fasih dalam membacanya, tetapi semuanya benar menurut apa yang Steven tahu.
"Kamu bisa ngaji juga, nggak?" tanya Steven yang duduk bersila di atas sajadah sambil menatap Citra di depannya. Gadis itu juga duduk bersila dengan tubuh yang tertutup mukenah.
"Nggak, Om." Citra menggeleng.
"Itu hafal semua kamu menghafalnya pakai bahasa Indonesia, ya?" tebak Steven yang mana dianggukan oleh Citra. "Coba sekarang aku lihat gerakan salatnya, sudah benar atau belum."
Citra langsung berdiri, dia segera memperagakan takbiratul ihram, rukuk, sujud dan duduk di antara dua sujud sampai salam. Meskipun terlihat masih kaku, tetapi semuanya benar.
Kembali Steven merasa tak menyangka, ternyata meskipun Citra yang dia anggap oon itu bisa dengan mudah diajari. Citra juga tipe perempuan yang penurut, Steven akui itu walau kadang suka menyebalkan.
"Kapan mulai salatnya, Om? Aku takut kentut," tanya Citra dengan kening yang mengerenyit. Dia merasa sedikit heran sebab sadari tadi Steven tak mengatakan apa-apa dan hanya diam memandanginya.
"Ah maaf." Steven mengusap kasar wajahnya, sejujurnya alasan dia sejak tadi terus menatap wajahnya yaitu karena kagum, sebab bentuk wajah Citra tampak lebih imut dan manis memakai mukenah yang dia berikan itu. "Kamu mau kentut memangnya? Kalau kentut, kentut saja dulu. Biar nanti wudhu lagi dan kita mulai salatnya."
"Nggak." Citra menggeleng. "Maksudnya aku hanya takut kentut kalau kelamaan. Ayok mulai sekarang, Om."
"Oke." Steven langsung berdiri, lalu membenarkan posisinya. Dia pun membaca iqomah dan tak lama takbiratul ihram itu dimulai.
__ADS_1
Citra memandangi punggung lebar Steven sebentar sambil tersenyum manis. Dia juga merasakan debaran di dalam dadanya yang kian cepat, hari ini rasanya dia sangat bahagia. Bahagia karena bisa salat berjamaah dengan Steven.
Setelah itu dia pun segera mengikuti gerakan salat Steven dan mencoba untuk khusyu.
*
20 menit mereka pun akhirnya menyelesaikan salat itu, lalu setelah itu keduanya berdo'a yang dipimpin oleh Steven.
Do'a Steven terdengar hanya berfokus untuk Danu. Tetapi Citra, selain untuk Danu dia juga mendoakan untuk hubungan mereka.
'Ya Allah ... jaga Ayah di sana, semoga Ayah bahagia dan ditempatkan di surgamu. Dan aku ... aku mau minta supaya Om Ganteng bisa menjadi suamiku hingga aku mati, begitu pun sebaliknya. Aku mau dia mencintaiku sebagaimana aku sangat mencintainya. Jaga dia dalam setiap langkahnya ya Allah ... dan aku mohon, jangan sampai Om tergoda dengan perempuan lain, siapa pun itu apa lagi dengan perempuan yang bernama Safira. Pertemukan juga aku dengan Mama Om Ganteng ya Allah ... sama keluarganya juga. Aku mau bertemu dengan mereka. Amin ... amin ya robbal allamin." Citra mengusap wajahnya setelah mengakhiri do'a itu. Steven pun menggeserkan tubuhnya hingga berbalik ke belakang, lalu mengulurkan tangannya tetapi Citra terlihat bingung dengan maksudnya itu. "Mau apa, Om?"
"Cium tangan, kan aku suamimu."
"Oh iya." Citra mendekat lalu meraih tangan Steven, kemudian mengecup punggung tangannya. "Aku senang bisa salat bareng sama Om."
"Aku juga senang." Steven tiba-tiba memeluk tubuh Citra lalu mencium kepalanya. Perlahan tangannya menyentuh lembut dagu gadis itu, lalu menaikkannya hingga wajah Citra mendongak ke arahnya. Ibu jari Steven mengelus perlahan bibir merah muda itu, atas bawah. Terasa lembut dan begitu kenyal. Susah payah dia pun menelan ludah.
Pelan-pelan Steven membungkukkan badannya sembari mendekatkan wajahnya ke sana, bibirnya sudah terbuka hendak meraup bibir Citra. Tetapi semuanya itu urung dilakukan lantaran terdengar suara nyaring yang berasal dari bibir keriput di dalam celana Citra.
Dut!
Citra dan Steven sontak terbelalak. Gadis itu pun segera menjauhkan tubuhnya dari Steven lalu berdiri.
"Maaf aku kentut, Om. Aku mules mau berak," kata Citra kemudian berlari cepat keluar dari kamar.
Pria itu pun langsung menonjok lantai dengan tangan kanannya yang mengepal kuat, emosinya memuncak. Dia sungguh amat kesal sebab momen itu berakhir begitu saja, padahal jarak mereka tadi sudah beberapa inci.
"Padahal sedikit lagi aku dapat menciumnya! Tapi kenapa perutnya malah mules? Menyebalkan sekali!" berang Steven dengan penuh amarah yang menggebu.
***
__ADS_1
"Pulang kuliah nanti aku akan menjemputmu, Cit. Aku juga sudah daftarin kamu ke tempat kursus," kata Steven saat mematikan mesin mobilnya. Kini mobil hitam itu berada di halaman kampus.
"Jam berapa kursus memasaknya?"
"Jam 3."
"Tapi pulang kuliah Om nggak usah menjemputku deh."
Dada Steven langsung terasa sesak mendengar itu. "Kenapa? Kamu nggak seneng aku jemput? Gugun hari ini sibuk mangkanya aku yang menjemputmu nanti," ujar Steven beralasan, padahal aslinya dia memang yang ingin menjemput Citra.
"Bukan nggak seneng, aku pulang kuliah mau ke mall dulu."
"Mau ngapain ke mall? Nanti aku yang mengantarmu."
"Mau beli kado buat Rosa, tapi aku sudah ada janji sama Lusi. Dia mengajakku. Memang nggak apa-apa kalau ajak Lusi juga?"
"Kamu batalin janjimu sama si Lusi, perginya denganku saja."
"Nggak enak, Om. Nanti Lusi marah."
"Nggak akan, aku yang bilang padanya nanti."
"Ya sudah. Om kerjanya hati-hati." Citra tersenyum manis lalu membuka pintu mobil, Steven hanya mengangguk dan tersenyum melihat dia turun. Gadis itu pun lambaikan tangannya pada Steven dan entah mengapa kembali pria itu dirundung rasa kesal di dalam dada. Kesal sebab Citra tak menciumnya.
'Citra kenapa, sih? Kok tumben dia nggak nyosor? Menyebalkan sekali!' gerutu Steven dalam hati sambil menonjok stir, kemudian dia pun menarik gas mobilnya dan berlalu pergi dari sana.
Melihat mobil Steven sudah melaju, Citra pun gegas berlari menuju jalan raya lalu melambaikan tangannya pada taksi yang baru saja lewat.
Setelah mobil berwarna telor asin itu berhenti, Citra langsung naik ke dalam.
"Pak, tolong ikuti mobil hitam di depan, ya!" titah Citra pada sang sopir yang mana dianggukan olehnya. Mobil itu langsung mengikuti di mana mobil Steven pergi.
__ADS_1
...Ngapain ngikutin Steven, Cit? 🤔...