
Burung itu tak menggubris apa yang Steven katakan, dia hanya fokus makan sampai menghabiskan daging buah.
"Apa kamu haus?" tanya Citra. Burung itu pun langsung mengangguk. "Om, apa ada air mineral?" tanya Citra seraya menoleh ke arah Steven. Pria tampan itu hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Wajahnya memaling ke arah jendela, bibirnya mengerucut.
"Ini air, Nona, tuangkan ke dalam tutupnya saja biar dia bisa meminumnya." Jarwo memutar kepalanya seraya memberikan sebotol air mineral. Citra segera mengambilnya dan membuka segelnya.
"Terima kasih, Om."
"Sama-sama."
Dengan hati-hati Citra membuka tutup botol, lalu menuangkan. Segera dia pun menyodorkan ke arah paruh burung dan ia langsung meminumnya.
"Kok kamu ada di sini, sih?" tanya Citra sambil mengelus jambul kuning si Kakatua. Steven diam-diam melirik dan seketika matanya panas, dadanya terasa bergemuruh.
'Kenapa Citra dari tadi ngelus si Kakatua mulu? Elangku 'kan pengen dielus juga,' batin Steven kesal. Bibirnya makin monyong.
"Iya, saya kesasar!"
Steven berdecak kesal. 'Apa katanya? Kesasar? Memang ada burung kesasar? Alasan saja. Jangan bilang dia burung jadi-jadian?! Oh, apa mungkin dia jelmaan si Udin?'
"Apa kamu punya nama?" tanya Citra lembut.
"Punya dong!"
"Siapa namamu?"
"Steven!"
Mata Steven terbelalak, lantas dia pun menoleh dan langsung menoyor kepala burung yang masih berada dalam pangkuan Citra. "Jangan mengada-ada kau, ya! Itu namaku!" sentaknya marah.
"Sebenarnya namaku Kevin, tapi Fira terus menyebut nama Steven. Jadi namaku Steven!" jelasnya.
"Kurang ajar sekali si Fira, dia menyamakan aku seperti burung! Dasar perempuan gila!" geramnya emosi. Kedua tangan Steven yang berada di paha mengepal kuat.
Bukan, bukan seperti itu sebenarnya. Burung itu memang diberikan nama Kevin oleh Tian. Hanya saja sehari-hari Fira terus mengoceh dengan menyebutkan nama Steven. Jadi dia ingin dipanggil Steven.
*
*
*
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil Jarwo berhenti pada sebuah butik besar yang berada tepat di depan jalan raya. Keduanya pun langsung turun dan di halaman depan itu sudah ada Sindi yang berdiri bersama Santi.
Wajah wanita tua itu tampak masam. Dia merasa bete karena menunggu Steven dan Citra terlalu lama.
"Kenapa kalian lama sekali? Ini sudah malam tahu. Mama sampai berkarat nungguin!" omel Sindi sambil menatap wajah Steven dan Citra bergantian.
"Tadi macet," jawab Steven, lalu menatap Santi. "Malam Tante Santi," sapanya.
"Malam juga. Dia istrimu, Stev? Cantik dan masih muda," pujinya seraya tersenyum menatap Citra. Gadis itu membalas senyuman Santi.
"Maksud Tante aku tua?" tanya Steven. Dia tampak tersinggung.
"Tante nggak bilang." Santi menggeleng cepat. "Sudah ayok masuk Cantik. Kita akan mencoba gaun pengantin."
"Gaun pengantin?" Kening Citra mengerenyit. "Tapi aku dan Om Ganteng sudah menikah, Tante."
"Besok Mama mengadakan pesta untuk pernikahan kalian," sahut Sindi. Sebenarnya itu usul dari Angga, tetapi Sindi yang setuju tentunya ikut andil menyiapkan pesta yang diadakan secara mendadak itu. "Kalian pas menikah katanya dadakan. Mama yakin belum dipestain. Jadi Mama mau buat pesta. Kamu bisa undang teman-temanmu. Nanti tulis saja dibuku siapa-siapa yang mau kamu undang."
"Tapi kata Om Ganteng ... kalau masih kuliah nggak boleh menikah, Ma. Nanti dikeluarkan dari kampus."
"Maksudnya bagaimana?" Kening Sindi mengerenyit.
"Om Ganteng meminta aku merahasiakan—”
Citra menatap Steven, lalu mengangguk. Kemudian, mereka pun sama-sama masuk ke dalam butik.
***
Mobil taksi berhenti di depan rumah Angga. Sang pemilik rumah pun lantas turun dari mobil.
Sehabis dari rumah Fira, Angga dan Sindi berpisah. Sindi ke butik, sedangkan Angga pergi ke rumah anak pertamanya. Memberitahu kalau dirinya akan mengadakan pesta juga meminta bantuan untuk mengurus siapa-siapa saja yang akan menjadi tamu undangan.
Gerbang rumahnya terbuka dengan lebar oleh satpam. Baru saja Angga hendak masuk, tetapi tiba-tiba ada dua orang yang turun dari mobil lalu menghampirinya.
"Selamat malam Pak Angga," sapanya yang mana membuat Angga menghentikan langkahnya seraya menoleh. Ternyata dua orang itu adalah Ali dan Aldi.
Dua pria berbadan besar itu tampak begitu kusut, wajahnya berminyak seperti belum mandi.
Mereka memang sejak tadi siang ada di sekitar rumah Angga. Menunggu siapa saja penghuni rumah itu pulang, sebab ingin menagih perihal uang.
"Ngapain kalian ada di sini? Steven yang meminta?" tanya Angga.
__ADS_1
"Nggak, Pak." Aldi menggelengkan kepalanya. "Tapi kami mau meminta uang bayaran kemarin, Bu Sindi sudah mengerjai kami."
"Mengerjai apa maksudmu?" Kening Angga mengerenyit.
"Kami dibayar biasanya perorang 100 juta, tapi Bu Sindi justru membayar kita 1 juta perorang."
"Tapi kenapa Sindi yang bayar? Memangnya Steven nggak membayar kalian?"
"Bu Sindi sendiri yang bilang ingin membayarkannya. Kami sebenarnya ingin menunggu Pak Steven atau Bapak pulang saat itu ... sambil numpang makan atau ngopi. Tapi Bu Sindi melarang dan meminta kami pulang. Lalu dia mentransfer uang tapi setelah dicek, ternyata hanya 1 juta," jelasnya kemudian.
Aldi dan Ali langsung memberikan buku tabungannya kepada Angga, supaya pria itu percaya.
"Ya sudah, biar aku yang bayar." Angga mengambil ponselnya di dalam kantong celana. Lalu mengirimkan uang yang mereka sebutkan tadi.
Mata kedua pria berbadan besar itu langsung berbinar-binar, meraka begitu senang apalagi Angga memperlihatkan bukti pembayarannya. Jelas, kalau Angga tidak menipunya.
"Besok kalian nganggur nggak?" tanya Angga.
"Hanya menjadi sopir saja kok, Pak." Ali mewakili untuk menjawab.
"Aku ada tugas untuk kalian. Kalian bisa atau nggak?"
"Tugas apa itu, Pak?"
Kembali, mata dua pria itu berbinar. Tugas itu berarti pekerjaan, pekerjaan berarti uang. Dan siapa yang nggak butuh uang?
"Kalian awasi perempuan ini." Angga memberikan ponselnya ke tangan Aldi. Di dalam sana ada sebuah foto perempuan berambut pendek, yakni adalah Fira.
"Mau kita apakan? Culik?" tanya Ali yang ikut melihat foto itu.
"Nggak perlu, kalian hanya cukup awasi saja. Setiap gerak-geriknya, pergi ke mana dan dengan siapa. Pokoknya kalian laporkan semua hal itu padaku," perintah Angga dengan serius. "Tapi jangan sampai kalian salah orang seperti apa yang pernah kalian lakukan. Dan yang terpenting ... besok dia jangan sampai datang ke pestanya Steven dan Dedek Gemes."
"Pesta? Pak Steven mengadakan pesta apa memangnya, Pak?" tanya Aldi penasaran.
"Pernikahan." Angga mengambil ponselnya di tangan Aldi. "Nanti aku kirim foto dan alamat rumahnya, aku juga akan berikan kalian DP."
"Baik, Pak!" Mereka berdua menyahut secara bersamaan. "Kami akan menjalankan sesuai perintah Bapak dan nggak akan salah lagi."
"Aku tunggu kabar dari kalian besok," kata Angga seraya melangkah masuk ke dalam gerbang. Meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri menatap punggungnya.
"Wih, hebat banget Pak Steven ya, Di. Habis menyuruh kita menculik pacarnya ... dia bisa langsung dinikahin," ujar Ali. "Apa kita juga harus menculik seorang gadis dulu supaya kita nggak jomblo lagi, Di?"
__ADS_1
...Eh, gimana-gimana maksudnya? 🤔...