Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
189. Dahinya saja wangi


__ADS_3

"Ah sebentar ...." Fira mengambil ponselnya di dalam tas, lalu membuka galeri dan menunjukkan sebuah foto di sana. Wanita cantik dengan rambut panjang berwarna hitam legam, tengah tersenyum dengan mengenakan kemeja putih. "Namanya Nissa, Mas."


Nama itu terdengar familiar di telinga, dan setelah melihat foto itu dengan seksama—sontak Tian membulatkan matanya dengan lebar. Dia tentu kenal siapa wanita itu.


"Kenapa harus dia, Fir?"


"Lho, kenapa memangnya? Mas kenal dia?" Fira berbalik tanya.


"Dia itu teman SMAku."


"Benarkah?" Mata Fira seketika berbinar, tampak jelas kalau dia begitu antusias mendengar jawaban dari suaminya. "Tapi kalian saling mengenal, kan?"


"Iya." Tian mengangguk.


"Ya itu bagus, Mas. Jadi Mas lebih mudah mendekatinya."


"Masalahnya dulu aku sempat ...." Ucapan Tian mengantung, ragu untuk meneruskan. Namun itu membuat Fira penasaran.


"Sempat apa?"


"Ah nggak." Tian menggeleng cepat. "Aku nggak mau kalau Nissa temanku yang didekati, lalu dikuras uangnya."


"Kenapa?"


"Nissa wanita yang sangat baik, Fir. Aku nggak tega."


"Ngapain nggak tega? Dia 'kan cuma orang lain."


"Tapi aku nggak mau." Tian menggeleng cepat. Jangankan menguras harta, bertemu dengannya saja kemarin dia begitu canggung. Tian merasa misinya tidak mungkin bisa berhasil.


"Mas 'kan sudah setuju. Kok sekarang berubah pikiran? Ini namanya Mas nggak sayang sama aku." Fira menyentuh punggung tangan Tian, merematnya dengan lembut.


"Selain nggak tega, aku juga takut, Fir."


"Takut kenapa? Sama Pak Steven? Kan aku minta Mas main cantik."


"Bukan takut sama Steven." Tian menatap wajah Fira dengan lekat, lalu membelai lembut pipinya. "Aku takut nantinya berpaling darimu. Aku takut bisa suka sama Nissa."


"Itu nggak mungkin." Fira menggeleng cepat. Dia tampak begitu yakin dan percaya, bahwa cinta Tian begitu besar padanya. Tak akan semudah itu dia bisa berpaling, apa lagi pada wanita yang umurnya lebih tua dari Fira. Ya meskipun wajah Nissa sendiri awet muda, dan tak kalah cantik. "Mas nggak mungkin berpaling, kan Mas melakukan hal ini juga untukku. Demi menyenangkan aku."


Fira langsung mengecup bibir Tian sekilas, lalu mengelus dadanya. Mencoba merayunya kembali.


"Sudah, Mas. Ayok turun. Nanti keburu siang," pintanya lembut.


"Kalau dia tanya statusku bagaimana, Fir?"

__ADS_1


"Mas bilang saja duda."


"Dih, kok duda? Itu sama saja seperti mendoakan."


"Nggak, ini hanya pura-pura. Cepat sekarang turun, kalau bisa ajak jalan-jalan. Aku tunggu kabar baiknya di rumah."


Tian menelan saliva, lalu dengan berat hati dia pun turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran mewah itu. Fira juga ikut turun, kemudian menghentikan taksi yang baru saja lewat dan masuk ke dalam sana.


'Semoga saja rencana Mas Tian mendekati Mbak Nissa berjalan lancar, aku udah nggak sabar ingin makan duitnya,' batin Fira sambil tersenyum menyeringai.


*


*


"Silahkan, Bapak mau pesan apa?" tanya seorang pelayan wanita yang baru saja menghampiri Tian. Pria itu tengah duduk di kursi, lalu menatap buku menu.


"Aku mau vanilla latte."


"Dingin atau panas, Pak?"


"Panas."


"Sebentar, saya buatkan dulu ya, Pak."


"Eh tunggu dulu!" seru Tian saat melihat pelayan itu hendak pergi. Dan seketika wanita itu menghentikan langkahnya.


"Itu, Nissa pemilik restoran ini ada nggak? Aku ingin bertemu dengannya." Tian menatap suasana di dalam restoran itu. Tampak begitu ramai, hampir semua meja terisi dan beberapa pelayan bolak balik. Namun dia sama sekali tak melihat sosok Nissa.


"Bu Nissa—"


"Eh, Tian. Kok kamu ada di sini?" tanya seseorang yang baru saja datang menghampiri. Hingga pelayan itu menghentikan ucapannya. Kedua orang itu langsung menoleh, dan ternyata dia adalah Nissa.


"Ini Bu Nissa, Pak," kata sang pelayan seraya tersenyum kepada Nissa. "Tadi Bapak ini mencari Ibu, kalau begitu saya permisi dulu, ingin membuat pesanan." Dia membungkuk sopan, lantas melangkah pergi.


Nissa hanya tersenyum dan mengangguk kecil, lalu mendorong kursi dan duduk. Tepat di depan Tian. Wajah pria itu tampak berkeringat, apalagi di daerah dahi. Namun cepat-cepat dia mengusapnya, lalu menurunkan pandangan setelah sempat memperhatikan wanita itu sebentar.


'Kenapa dia sangat cantik? Nis, nggak bosen apa kamu dari dulu cantik terus?' batin Tian.


"Kok kamu bisa ada di restoranku? Dan mau apa mencariku?" tanya Nissa.


"Aku awalnya nggak sengaja mampir, terus aku baru tahu kalau ini restoranmu. Jadi sekalian aku ingin bertemu denganmu." Tian tersenyum dengan pipi yang merona. Mendadak jantungnya terasa berdebar kencang. Perlahan dia pun menyentuh dadanya. 'Jantung tenanglah, berhenti berdebar. Iya, dia memang cantik. Tapi nggak usah lebay begini dong.'


"Oh, lagi-lagi kebetulan, ya. Mau bertemu saja apa ada hal yang penting yang mau dibahas?"


"Ya mau ngobrol saja, kita 'kan sudah lama nggak ngobrol. Eeemm ... tapi kalau kamu sibuk, nggak masalah sih. Aku bisa memaklumi."

__ADS_1


Tak lama pelayan itu kembali dengan membawa pesanan Tian, lalu menyajikannya di atas meja. Nissa pun memintanya untuk membuatkan jus alpukat untuknya.


"Aku nggak sibuk, cuma aku lagi pusing saja," keluh Nissa.


Tian langsung mengangkat wajahnya, lalu menatap Nissa yang tengah memijat dahinya. Refleks dia pun ikut menyentuh dahi putih itu.


"Kamu sakit? Mau aku antar ke Dokter?" tawarnya dengan wajah cemas.


"Ah nggak, aku baik-baik saja." Nissa menarik tangan di dahinya. Cepat-cepat Tian juga menarik tangannya, namun anehnya dia malah mengendus ujung jarinya. Seolah ingin menghirup aroma dahi wanita itu.


"Maafkan aku, aku refleks saja. Nggak bermaksud kurang ajar."


'Dahinya saja wangi, apa lagi pipinya? Ah bagaimana dengan bibir? Lehernya? Ah bicara apa aku ini.' Tian langsung menampar wajahnya sendiri, sebab otaknya tiba-tiba konslet. Bisa-bisanya dia memikirkan ke arah sana. Seakan lupa maksud tujuannya untuk merayu Nissa. Tapi sekarang justru dialah yang terlena sendiri.


"Kamu kenapa Tian?" Nissa menatap aneh temannya. Dan wajah Tian sekarang terlihat merah seperti udang rebus.


"Aku nggak apa-apa. Justru kamu yang kenapa? Katanya tadi pusing. Sudah minum obat?"


"Pusingku bukan penyakit, Ti. Aku itu pusing karena banyak pikiran."


"Pikiran apa? Percintaan?"


"Bukan." Nissa menggeleng. "Aku sedang mencari manager restoran. Tapi belum ada yang cocok."


"Oh, memangnya kenapa manager yang dulu berhenti?"


"Dia mau fokus kuliah."


"Memangnya boleh manager restoran belum lulus kuliah?"


"Sebenernya syarat dariku minimal punya ijazah S1 dan berpengalaman kerja, tapi berhubung kemarin sama orang terdekat dan dia juga sangat pintar ... jadi nggak masalah walau belum lulus kuliah."


"Oh begitu. Selain itu syaratnya apa lagi?"


"Memang kenapa? Kamu mau bantuin aku nyari manager baru?"


"Bukan mencari, tapi kalau boleh ... aku saja yang jadi manager di restoranmu."


Ini sebuah kesempatan emas menurut Tian. Dengan bekerja menjadi manager, otomatis mereka bisa sering bertemu. Dan pastinya akan mempermudahnya untuk lebih dekat.


"Kok kamu? Bukannya kamu jadi CEO di perusahaanmu sendiri, ya? Lagian, gaji manager itu kecil."


"Memang berapa?"


"7 juta, tapi bisa naik tergantung kinerja."

__ADS_1


'Kok lebih gedean jadi manager daripada karyawan biasa di perusahaannya Kak Tegar? Kalau begitu mah mending aku kerja di bawah Nissa saja. Lumayan juga bisa ketemu dia setiap hari,' batin Tian sambil senyum-senyum sendiri.


...semoga diterima ya, Om ☺️ dan misi pengurasan hartanya berhasil 😆...


__ADS_2