
...'Semoga Om Ganteng cepat sembuh, selalu tersenyum dan selalu bahagia.'...
Hanya sebuah tulisan, tetapi terlihat begitu manis. Angga yakin orang yang menulis itu juga tak kalah manis. Namun, rasanya familiar sekali dengan sebutan nama 'Ganteng' Angga ingat, jika dia pernah dipanggil seperti itu oleh Dedek Gemesnya.
"Om Ganteng? Apa ini salah tulis? Harusnya Opa Ganteng, kan? Eh ... berarti Dedek Gemes dong. Tapi katanya datang untuk menjenguk Steven? Apa mungkin salah orang?"
"Bapak kenapa?" tanya Jarwo. Dia tampak heran pada Angga yang sejak tadi mengoceh menatap bunga sambil menggaruk rambut kepalanya. Pria tua itu juga seperti kebingungan.
"Gadis yang bawa ini siapa tadi?" tanyanya sambil menatap Jarwo.
"Saya nggak tahu, dia belum menyebutkan nama. Tapi dia nangis di depan pintu, Pak."
"Nangis?" Kening Angga mengerenyit. "Nangis kenapa?"
"Mungkin karena kita tadi melarangnya untuk masuk."
"Kenapa kalian larang? Orang mah suruh masuk saja. Mungkin dia ada keperluan sama Steven."
"Kan Bu Sindi yang melarang, lagian di dalam tadi masih ada Nona Fira. Nggak enak menganggu mereka."
Angga manggut-manggut, lantas dia pun berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamar Steven. Dilihat anak bungsunya itu tengah menatapnya, dia seorang diri.
"Si Fira sudah pergi?" tanya Angga seraya berjalan menghampiri.
Steven mengangguk pelan. "Iya, dia pergi ke kantor. Itu Papa bawa bunga untuk siapa? Aku?"
"Iya, untukmu. Tapi bukan dari Papa." Angga langsung memberikan buket bunga itu ke tangan Steven.
"Bukan dari Papa? Terus dari siapa?"
"Ini, ada kartu ucapannya." Angga memberikan kartu berbentuk hati itu. Dan setelah dibaca—Steven tampak begitu syok. Dia terkejut hingga matanya membulat sempurna.
'Citra? Pasti ini dari Citra. Apa dia ke sini tadi?' batin Steven.
"Kamu kenal siapa dia, Stev?" tanya Angga seraya duduk di kursi kecil di samping Steven.
"Papa lihat orangnya? Siapa dia?" Steven malah berbalik tanya. Dan dia juga masih berharap meskipun memang bunga itu dari Citra, tetapi kurirlah yang mengantarkannya.
"Papa sih nggak lihat orangnya, tapi kata Jarwo sih seorang gadis."
"Tapi Jarwo itu siapa, Pa?"
"Bodyguard di depan."
"Oh, terus ke mana sekarang orangnya? Apa masih ada di luar?" Mata Steven menatap pintu, entah mengapa tiba-tiba perasaannya tidak enak.
__ADS_1
"Siapa? Si Jarwo?"
"Bukan, tapi gadis yang membawa bunga ini." Steven perlahan menghirup aroma wangi bunga itu. Dan seketika aromanya itu mengingatkannya pada aroma tubuh Citra. Gadis itu suka sekali dengan mawar, bahkan setiap produk yang dia pakai di tubuhnya pasti berbahan dasar bunga mawar.
"Dia sudah pulang, lagian nggak diizinkan masuk juga dan kata Jarwo dia sempat menangis."
"Nangis?" Jantung Steven tiba-tiba berdebar kencang dan tak lama terasa sakit, sebab dadanya masih luka. 'Citra menangis? Apa jangan-jangan dia melihat Fira menyuapiku?'
"Eh ... mau ngapain kamu, Stev?" Angga terkejut melihat Steven yang hendak bangun, cepat-cepat dia pun menghalanginya. "Kamu masih sakit."
"Aku mau kejar gadis itu, Pa. Mungkin saja dia belum terlalu jauh." Kembali Steven menarik tubuhnya hingga bangun, tetapi lagi-lagi Angga menghalanginya.
"Kenapa harus dikejar? Memang apa hubunganmu dengannya?"
Pertanyaan dari Angga sukses membuat Steven membeku. Lidahnya begitu kelu hingga tak bisa berkata jujur.
"Kok diem? Dia siapamu? Apa pacar?" tebak Angga.
"Dia ...."
"Dia siapa?"
"Eemm ya, dia pacarku." Terpaksa Steven berbohong. Mungkin memang baginya, menganggap Citra sebagai pacar jauh lebih aman ketimbang istri.
"Wah ... benarkah? Biar Papa yang kejar dia." Angga terlihat kegirangan, dia pun berdiri dan berlari menuju pintu. "Eh, tapi ciri-cirinya bagaimana, Stev?" Ingin langsung keluar tetapi tak jadi, karena dia sendiri tak tahu pacar Steven seperti apa. Lantas dia pun berbalik badan dan kembali menatap anaknya.
"Papa nggak punya nomor Gugun." Angga menggeleng kepala.
"Kalau Mama?" tanya Steven dan tak lama orang yang dia tanya itu datang.
Sindi membuka pintu kamar itu, lalu berjalan masuk. Namun, sontak kedua bola matanya itu terbelalak kala melihat Steven memegang buket bunga. Cepat-cepat dia pun merebutnya.
"Dih, jangan dibuang, Ma!" tekan Angga. Dia menghalangi Sindi yang hendak memasukkan buket bunga itu ke dalam tong sampah. Lantas segera dia ambi bunga itu. "Bunga ini nggak beracun, sudah diperiksa dan ini ternyata dari calon menantu kita," tambahnya sembari memeluk bunga tersebut. Seketika wajah Angga merona. Jujur saja, dia sangat bahagia mendengar Steven mempunyai pacar.
"Kapan Fira kasih bunga itu?" tanya Sindi.
"Bukan dari Fira, tapi dari pacarnya Steven."
"Pacar?" Sindi menatap wajah anaknya. Raut wajahnya itu tampak gelisah, perasaan Steven tak tenang. "Kamu punya pacar? Sejak kapan?"
"Aku pinjam hape Mama dulu deh, aku mau telepon Gugun."
"Mau ngapain telepon Gugun?"
"Ada hal yang ingin aku tanyakan padanya."
__ADS_1
"Mama nggak punya nomornya."
Steven membuang napasnya kasar, perlahan dia pun menarik tubuhnya hingga duduk. Tetapi mendadak rasa ngilu itu menyeruak di dalam dadanya.
"Kamu jangan bangun, Stev. Istirahat dulu," cegah Sindi.
"Aku ingin minta tolong sama Mama atau Papa boleh nggak?" pinta Steven sambil meringis kesakitan. Tangan kirinya menyentuh dada dan perlahan dia pun kembali berbaring.
"Tolong apa?" Yang menjawab Sindi, sedangkan Angga sudah berpindah duduk di sofa sambil menciumi bunga. Wajahnya yang keriput itu bahkan masuk ke dalam buket, ingin mencium lebih dalam bunga itu.
'Romantis sekali pacarnya Steven. Apa dia sangat cantik? Kira-kira ... lebih cantikan siapa dari Dedek Gemesku, ya? Ah ... berarti dia nggak jadi aku kenalkan dong, sayang banget. Eh, tapi Dedek Gemes buatku saja deh,' batin Angga.
"Aku ingin bertemu Gugun, Ma. Tolong minta Gugun datang ke sini dan aku juga butuh hape untuk menghubungi seseorang."
"Hape barumu ada di nakas." Sindi berjalan menuju nakas, lalu memberikan sebuah ponsel keluaran terbaru ke tangan Steven. Sudah ada kontak nomornya, tetapi hanya nomor dia, Angga, Fira dan keluarganya saja. Selain itu tak ada lagi.
"Dih, nomor asistenku kok nggak ada sih, Ma?"
"Mama lupa ngisi, kemarin yang ngisi Fira soalnya."
"Duh, bagaimana ini?" Steven mengusap kasar wajahnya, lalu mengetik-ngetik ponsel itu.
"Katanya tadi minta nomor Gugun? Kok sekarang nomor Dika?" tanya Sindi yang tampak bingung dengan tingkah Steven yang gelisah tak karuan.
"Dika punya nomor Gugun, Ma."
"Terus hubungannya Gugun sama pacarmu itu apa? Dan sejak kapan kamu punya pacar? Kok Mama nggak dikasih tahu?"
"Aku baru kemarin jadian sama dia. Dan Gugun kenal sama dia."
"Terus maksudnya mau apa?"
"Ih, Mama diem dulu deh. Aku lagi pusing ini. Jangan ajak aku bicara dulu," gerutu Steven kesal. Kepalanya sudah terasa pusing, tetapi Sindi justru banyak memberikan pertanyaan dan makin membuatnya pusing.
...Nah, Lo. Pusing 'kan dia 😂...
...Author mau sekalian promo novel sendiri yang udah END, barangkali ada yang belum mampir dan mau mampir. Silahkan ... boleh banget 🤗 Ini kisah keponakannya Om Ganteng...
...Judulnya: Terjerat Cinta CEO Nakal...
Like
Komen
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan 🙏
Terima kasih ❤️