
Steven segera menyentuh rambutnya. Terasa lengket dan basah. Lantas setelah itu dia dekatkan pada hidung salah satu jarinya.
Dan seketika matanya membulat. Itu seperti bau eek, namun anehnya berwarna putih. Steven langsung teringat saat di mana dia bertemu Kevin. Dan dia yakin—jika itu adalah hasil karyanya.
Merasa panik dan mual, Steven lantas berlari pergi dari sana. Tentunya bersama Citra juga. Mereka masuk ke dalam ruangan CEO. Sofyan hanya berdecak melihat keduanya. Entahlah, rasanya ada yang aneh dengan adiknya.
"Kok si Steven aneh ya, Dik." Sofyan menoleh kepada Dika yang sejak tadi berdiri di sampingnya. "Bisa-bisanya eek burung ada di kepala Steven? Bukannya dia itu orangnya bersih dan wangi? Selalu menjaga penampilan?"
"Saya juga nggak tahu, Pak." Dika menggeleng cepat. Dia memang asistennya Steven, tetapi tidak tahu menahu bagaimana pria itu. Steven sendiri memang orang yang tertutup pada siapa pun.
"Ada apa lagi dengan Steven, Yan?" tanya Guntur yang masih duduk. Sofyan lantas berbalik badan dan kembali ke kursi.
"Rambutnya ada eek burung, Pak," jawab Sofyan. Sontak—semua orang yang duduk di sana langsung tertawa dan geleng-geleng kepala. Merasa lucu. "Mohon maaf sekali, ya. Rapatnya jadi berbelit-belit seperti ini. Kita tunggu Steven sebentar lagi, dia mungkin sedang di kamar mandi membersihkan rambut," ucapnya dengan perasaan tak enak. Mereka hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Sementara itu di dalam kamar mandi di ruangan CEO, sepasang suami istri itu terlihat heboh.
Steven meminta Citra untuk membantunya membersihkan kotoran itu. Mengguyurkan air dan memberikannya shampoo supaya baunya hilang. Namun justru—seluruh tubuh Stevenlah yang terguyur air. Semuanya basah akibat semprotan kran shower.
"Maaf, Om. Ini selangnya susah banget," ucap Citra yang masih sibuk dengan selang di tangannya. Saat ditekan begitu keras dan sekalinya ditekan lebih kuat justru airnya menyemprot sangat banyak. Membuat Steven basah kuyup.
"Aduh, Cit. Aku basah semua sampai ke sempaak-sempaak," keluh Steven seraya menyentuh celananya. Dadanya menyeruak. Tersulut emosi yang membara.
Namun, dia masih berusaha mengontrolnya. Tidak baik jika diluapkan ke Citra karena dia tak salah dan malah menjadi korban. Sekarang, yang musti disalahkan menurut dia adalah Kevin. Burung Kakaktua yang selalu bertingkah kurang ajar padanya.
'Awas saja kau, Kevin! Setelah aku rapat dan berhasil melepaskan borgol ini ... kau akan aku sate!' Steven menyeru dalam hati.
"Terus ini gimana dong, Om?" tanya Citra bingung, tetapi raut wajahnya begitu sendu. "Om juga nggak bisa ganti baju. Maafkan aku, Om."
"Kamu nggak perlu minta maaf." Steven mengecup bibir Citra dan mengelus pipinya yang tampak merona. "Ini bukan salahmu. Biarkan saja aku basah, yang penting aku nggak bau. Ayok kita ke ruang rapat lagi."
"Sebentar, Om." Citra menghentikan langkah Steven yang hendak mengajaknya keluar kamar mandi. Dia pun lantas menarik handuk pada gantungan, lalu membantu mengeringkan rambut dan tubuh suaminya. "Biar nggak terlalu basah nanti. Tapi ... kalau Om masuk angin bagaimana?"
Steven menggeleng cepat. "Nggak akan, aku 'kan orangnya kuat. Nggak mungkin masuk angin, Cit."
"Semoga saja ya, Om."
__ADS_1
"Iya."
Setelah dirasa cukup, mereka pun keluar sama-sama dari kamar mandi dan ruangan Steven. Kemudian menuju ruang rapat.
Steven benar-benar terlihat begitu konyol. Tidak karuan sekali dengan penampilannya. Mereka yang melihatnya pun hanya bisa menahan tawa, sebab takut jika nantinya pria itu marah.
Mungkin hanya tawa Sofyan saja yang terdengar renyah. Pria itu tak peduli mau Steven marah atau tidak.
"Tolong abaikan dengan penampilan dan apa yang telah terjadi padaku. Kita bisa mulai sekarang," ucap Steven saat sudah duduk di kursi di samping Citra. Mereka duduk paling depan.
Rapat itu pun berjalan sukses meskipun begitu menyiksa Steven. Pasalnya saat sesi rapat itu dimulai— dia merasa mual, kedinginan dan menahan sendawa yang hendak keluar. Dia merasakan perutnya begitu kembung dan sakit.
*
*
"Kamu mau Kakak panggilkan Dokter?" tanya Sofyan saat berjalan bersama Steven dan Citra menuju ruangan Steven.
Ketiganya pun masuk sama-sama dan duduk di sofa. Dilihat wajah Steven begitu pucat. Dia langsung bergelayut di bahu Citra.
"Kamu nggak minta bantuan satpam atau teknisi di kantormu?" tanya Sofyan yang duduk di sofa single.
"Belum, tadi datang mepet banget. Tolong aku ya, Kak. Sama belikan aku dan Citra bubur juga. Kami berdua lapar," kata Steven seraya mengelus perutnya sendiri dan perut Citra yang tiba-tiba berbunyi.
Sofyan membuang napasnya dengan berat. "Kalian lagian aneh. Bisa-bisanya diborgol, sih? Kasih tahu alasannya dulu. Baru Kakak bantu."
"Aku iseng beli borgol, Kak. Terus akulah yang memborgolnya," jawab Steven jujur.
"Ngapain?" Kening Sofyan mengerenyit. Dia merasa heran dan rasanya apa yang dilakukan Steven tidak masuk ke akal sehat.
"Supaya Citra nggak ilang. Soalnya kemarin dia ilang karena dibawa Mama. Kan Kakak tahu sendiri dulu dia ilang dibawa si Kumis Lele Gugun."
"Ya ampun. Segitunya banget kamu, Stev." Sofyan mengelus dada sambil geleng-geleng kepala, kemudian berdiri. "Ya sudah, Kakak cari bantuan dulu."
"Jangan lupa makanannya ya, Kak. Aku laper banget. Citra juga."
__ADS_1
"Iya." Sofyan mengangguk, lantas keluar dari ruangan itu dan menutup pintu.
"Om punya selimut nggak di kantor? Mau aku ambilkan?" tawar Citra seraya mengelus lengan Steven. Terasa dingin sekali dan Citra merasa tak tega, takut suaminya benar-benar masuk angin.
"Kalau kamu yang ambil, sama saja aku juga ikut. Nggak usah deh, Cit," tolak Steven seraya mengecupi pipi Citra. Kakinya terasa lemas untuk berjalan. "Kita duduk di sini saja sambil nunggu Kak Sofyan."
"Tapi Om kayaknya kedinginan."
"Iya, emang dingin."
"Memang kuat nunggunya?"
"Kuat aja. Tapi kayaknya aku pengen masuk ke sini deh, Cit." Disituasi seperti ini, Steven masih sempat-sempatnya berotak mesum. Tangannya kini tengah meraba-raba. Masuk ke dalam tanktop yang Citra kenakan dan menyusup ke dalam bra. "Masuk ke sini kayaknya anget, Cit. Eh, aku juga belum nyusu, kan?"
"Om bicara apa, sih?" Citra menarik tangan Steven saat pria itu sudah meremmas salah satu dadanya. "Ini 'kan di kantor, Om. Dan Om 'kan gede, masa masuk ke dada. Mana bisa."
"Wajahnya saja. Jangan semua." Steven mendorong secara perlahan tubuh Citra hingga membuatnya berbaring di sofa panjang. Lantas dia pun naik ke atas tubuhnya.
Namun, tangannya yang hendak menyingkap tanktop segera dicegah oleh Citra.
"Jangan, Om. Nanti kalau ada yang tiba-tiba masuk bagaimana?"
"Sebentar doang. Nggak akan lama."
"Tapi aku bau kecut. Kan belum mandi."
"Kamu wangi, kata siapa bau kecut?" Steven langsung menyingkap tanktop istrinya, berikut dengan bra juga. Setelah dua agar-agar yang menantang itu sudah tak ada lagi penghalang, segera dia menyerbunya.
Mungkin baru satu menit bayi tua itu menyusu, namun keduanya langsung terperanjat saat tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang.
Ceklek~
"Astaghfirullah! Steven!"
...Hadeehh, kelakuan 🙈...
__ADS_1