Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
55. Kalau Om nggak jujur


__ADS_3

"Namanya berbohong ya tetap dosa, Om. Nggak ada yang namanya berbohong demi kebaikan." Citra tampak tak percaya dengan apa yang diucapkan pria itu.


"Ada, mangkanya kamu sering nonton ceramah deh. Jangan drakor Mulu yang ditonton. Nggak berfaedah tahu!" cetus Tian.


"Kata siapa nggak berfaedah? Itu sangat berfaedah."


"Apa coba faedahnya?"


"Aku bisa berciuman gara-gara nonton itu dan rasanya enak."


Tian berdecak kesal lalu geleng-geleng kepala.


"Sudah ya, Om. Aku mau pulang dulu, masih ada urusan." Citra menaruh kembali tali tas pada bahunya, sebab tadi terlepas.


"Tentang uangnya bagaimana?"


"Nanti aku coba minta uang itu sama Om Ganteng, pasti dikasih. Dia 'kan orangnya baik hati." Citra tersenyum, lalu bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun berlalu pergi meninggalkan Tian.


Pria itu langsung mengusap kasar wajahnya, kedua tangannya mengepal kuat lalu menghentakkannya di atas meja.


Brak!


"Kalau izin sama si Perjaka Tua itu pasti nggak bakal dikasih lah! Ah menyebalkan sekali! Bagaimana caraku supaya bisa merebut harta itu menjadi milikku?!" pekiknya kesal yang mana membuat mereka semua menoleh ke arahnya.


Tian pun langsung bergegas pergi dari sana, sebab merasa tak enak. Kemudian masuk ke dalam mobilnya dan menelepon Tegar.


"Halo, Kak," ucapnya saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.


"Iya, kenapa, Tian?"


"Kak aku mau pinjam uang dong."


"Pinjam uang! pinjam uang! Hutangmu saja belum dibayar!" teriak Tegar marah. Suaranya terdengar begitu nyaring hingga membuat telinga Tian berdengung. Cepat-cepat dia pun menjauhkan benda pipih itu pada telinganya.


"Nanti aku bayarnya sekalian."


"Nggak pakai sekalian. Bayar dulu baru ngutang lagi!"


"Ah Kakak ini nggak sayang padaku. Aku butuh uang itu untuk membeli kado untuk pacarku, nanti dia marah," keluh Tian seraya mengacak rambutnya kasar.


"Kamu juga, sudah tahu kamu kere, ngapain pacaran sama cewek matre? Cowok kere ya harus cari cewek tajir. Banyak duit," terang Tegar memberitahu.

__ADS_1


"Kalau cewek tajir mah nggak bakal mau kali sama aku, Kak. Dia pasti nyarinya yang tajir lagi."


"Kamu carinya cewek yang lebih tua darimu. Janda-janda kaya yang ditinggal mati suaminya, kayak gitu, Ti."


"Dih, itu mah tua dong. Mana enak goanya, Kak."


"Jangan pikirkan masalah goa, nikahin dulu saja, nanti setelah itu disuntik mati. Tapi sebelum itu kamu pindahkan hartanya atas namamu."


"Ah kejauhan ini ngomongnya." Tian makin pusing. Dia menghubungi Tegar supaya pria itu dapat membantunya, tetapi sang kakak justru memberikan sebuah ide untuk manggaet janda kaya. Sedangkan dia sendiri lebih suka gadis-gadis yang masih muda dan bahenol. "Oh ya, Kak. Tadi aku ketemu Citra."


"Di mana?"


"Di restoran. Dia sedang mencari suaminya. Aku mau pinjam uang padanya susah banget. Uangnya dipegang sama Steven semua."


"Ah aku punya ide, Tian!" seru Tegar yang tampak begitu antusias.


"Ide apaan?"


"Kamu masih inget nggak waktu Kak Danu meninggal Harun bilang kalau harta warisan Citra itu dipegang sama Steven yang menjadi walinya?"


"Iya, aku ingat." Tian mengangguk.


"Caranya? Mereka saja seperti jatuh cinta begitu, Kak. Apa lagi si Citra."


"Yang jatuh cinta cuma si Oon Citra. Kalau Steven mah nggak. Aku baru dengar dari Citra kalau dia dan Steven belum pernah berhubungan badan. Kita rencanakan saja sesuatu supaya membuat Citra sakit hati dengan kelakuan Steven. Bagaimana, Tian?" Kembali Tegar memberikan ide.


"Ah bagus juga tuh. Tapi kira-kira berhasil nggak ya, Kak?"


"Berhasil, kapan sih rencana kita gagal? Buktinya Kak Danu saja sudah dikubur sekarang." Tegar pun langsung bergelak tawa dan tak lama Tian juga. Mereka sangat bahagia sekali mengetahui kakaknya telah tiada, meskipun hartanya belum mereka ambil semua.


"Oke deh, aku mah nurut saja. Yang penting dapat bagian."


"Iya, sekarang kamu ke rumahku, ya? Kita rencanakan."


"Oke." Tian mematikan sambungan telepon itu, lalu menyalakan mobilnya.


***


Citra memutuskan untuk pulang ke apartemen, sebab Steven mengirim pesan yang mengatakan jika dirinya sudah pulang.


Baru saja Citra turun dari mobil taksi lalu membayar ongkos, tetapi seketika matanya membulat sempurna kala melihat dari kejauhan Steven tengah berdiri dengan seorang perempuan berambut pendek. Kemudian pria tampan itu mengulurkan tangannya memberikan sesuatu yang entah apa itu ke tangan si perempuan.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan dia yang bernama Safira?" gumamnya. Citra segera berlari kencang masuk ke dalam gerbang lalu menghampiri Steven yang berada di parkiran.


Saat sudah sampai, Citra pun langsung saja mendorong wanita itu dengan sekali hentakan. Tetapi dia tak berhasil jatuh sebab lengan Steven menahan punggungnya. Dan apa yang dilakukan suaminya itu membuat darah diubun-ubun Citra langsung mendidih.


"Citra, apa yang kamu lakukan?" tanya Steven dengan wajah terkejutnya. Bagaimana dia tidak kaget, karena Citra tiba-tiba datang dan langsung mendorong perempuan yang sama sekali tak mempunyai salah menurutnya.


"Om membelanya? Jadi Om suka padanya?" tanya Citra marah, kedua tangannya mengepal kuat dan tak lama buliran bening pada sudut matanya mengalir. Dia menangis. "Kemarin Om bilang aku ini tega karena Om ngira aku selingkuh. Padahal Om sendiri yang selingkuh! Aku benci Om!" teriak Citra kencang.


Dia pun langsung berlari keluar gerbang gedung apartemen itu. Steven terlihat mengerutkan keningnya. Dia bingung sekaligus kaget dengan apa yang Citra perbuat dan katakan, tetapi segera dia berlari mengejar. Menghentikan kaki gadis itu yang hendak naik ke dalam mobil taksi.


"Lepas! Om jahat padaku!" teriak Citra sambil memberontak. Namun dengan cepat Steven memeluk tubuhnya, lalu menggelengkan kepalanya ke arah sopir taksi supaya pria itu pergi.


"Kamu ini ada masalah apa, sih? Kenapa tiba-tiba mendorong seseorang dan mengatakan aku jahat?"


Citra menangis terisak-isak, tetapi dia membalas pelukan Steven begitu erat. "Wanita tadi itu Safira 'kan, Om?" tebak Citra. "Siapa Safira, Om? Apa dia pacar Om?"


"Safira?" ucap Steven mengulang kata itu. Nama yang begitu familiar. Dia terdiam beberapa saat, lalu berkata dalam hati setelah mengingatnya. 'Apa Safira yang Citra maksud adalah Fira? Fira sekertarisku?"


"Kenapa Om diam?" Citra melepaskan pelukan itu, lalu menjauhkan tubuhnya dengan Steven. "Apa Om bingung untuk jujur kalau dia pacar Om?"


"Kamu ini bicara apa, sih? Aku nggak ngerti." Steven menggeleng samar.


"Ayok ikut denganku. Setelah Om tahu ... Om pasti akan kelabakan karena bingung untuk jujur!" Citra berlari masuk lagi ke dalam halaman gedung apartemen itu. Steven pun ikut berlari mengejarnya.


*


*


"Itu kiriman dari Safira!" Citra menunjuk bolu brownies pandan di atas meja, kemudian menaruh kartu ucapan yang terlihat sudah lecek dari dalam tasnya ke atas meja. "Aku akan memberikan Om waktu sampai malam untuk jujur siapa itu Safira dan apa hubungan Om dengannya sampai dia begitu perhatian mengirim bolu!" Citra mengusut ingusnya yang baru saja mengalir dengan telapak tangan. Dia masih menangis.


"Kalau Om nggak jujur ... aku nggak mau kita bercinta lagi dan aku juga nggak mau kita ciuman!" tegasnya. Kemudian dia pun langsung menghentakkan kakinya berlari masuk ke dalam kamar. Pintu itu dibanting begitu keras hingga membuat Steven terperanjat.


...Ini mode ancaman ceritanya? Tapi kok kayak ngerasa aneh gitu, ya? 🤔...


...Tapi nggak apa lah namanya usaha ya, Cit. Mungkin aja emang Om pgn bercinta atau cium kamu lagi, kan 😂...


...###...


Mampir yok, di novel temanku. Ceritanya dijamin nggak kalah seru~


__ADS_1


__ADS_2