
"Aah! Kamu pintar sekali Citra," desah Steven saat merasakan goyangan lincah dari istri kecilnya.
Posisi seperti itu mempermudahkannya melakukan sesuatu hal yang dia inginkan sesuka hati. Segera pria itu pun menyesap salah satu pucuk dada, lalu dada yang satunya dia remmas-remas.
"Apa lama-lama nanti air susunya akan keluar, Om? Kalau Om nyusu terus setiap hari?" Tiba-tiba Citra menghentikan goyangannya, lalu menatap Steven dengan mata sayu. Kabut gairah pada keduanya sama-sama menggebu, namun lebih mendominasi si Steven.
"Nggaklah, Cit," jawab Steven seraya melepaskan kul*mannya.
"Tapi aku 'kan lagi hamil, siapa tahu keluar."
"Ya kalau beneran keluar nggak masalah, lagian aku juga berhak minum susu biar tambah sehat. Sudah jangan banyak bicara, tanggung. Lagi enak-enaknya." Steven beralih menyesap yang satunya dan Citra kembali bergoyang. Namun kali ini sedikit kencang.
'Pintar sekali Citra, goyangannya makin jos,' batin Steven yang sudah merem melek.
*
*
Di kamar berbeda, Sindi telah memakai lingerie seksi berwarna hitam. Dia mengenakan pakaian kurang bahan itu atas permintaan Angga sejak pagi. Sekarang dia sedang menunggu suaminya di kamar. Akan tetapi sudah sejam menunggu, pria itu tak kunjung datang.
"Ke mana si Papa? Habis mandi bukannya langsung belah duren, tapi malah keluar." Sindi mendengkus kesal seraya menghempaskan bokongnya di atas kasur. "Jangan bilang dia lupa, dasar aki-aki. Sudah pikun!" gerutunya.
Sementara itu, Angga berada diluar rumah. Dia sedang sibuk menyiapkan sangkar besar dan rumah untuk bertelur, lalu memindahkan Kevin dan Janet ke sana. Hanya saja sangkar burung itu tidak dia gantung. Sepertinya terlalu besar. Dia letakkan saja di bawah, namun tetap di dekat pos satpam.
"Kenapa sangkarnya ganti lagi, Pa? Saya tidak mau!" tolak Kevin. "Sangkarnya jelek kaya Janet!"
Padahal sudah masuk ke dalam sana, namun burung jantan itu geleng-geleng kepala.
"Saya cantik!" sahut Janet lalu mematuk dada Kevin. Burung jantan itu langsung beringsut mundur.
"Sakit Janet! Kamu jahat sekali!"
"Kamu yang jahat! Saya cantik dibilang jelek!" oceh Janet marah.
"Janet cantik, Vin." Angga membela burung betina yang kini masuk ke dalam Glodok. Penasaran melihat isi rumah untuk bertelurnya itu. "Matamu itu banyak beleknya, besok Papa teteskan obat mata padamu."
"Yang cantik hanya Nona Cantik, titik!" seru Kevin.
"Cantik itu relatif. Jangan begitulah, nanti si Janet malah nggak betah."
"Biarin!"
Angga berdecak, lalu memperhatikan Glodok. "Eh, Janet! Kamu nanti bertelurnya di sana, ya? Enak nggak tempatnya?"
"Enak!" seru Janet di dalam sana.
"Sekarang kalian kawin dong, Papa mau lihat," pinta Angga.
"Tidak mau!" tolak Kevin seraya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kapan dong maunya?"
"Kami sudah kawin, Papa!" Janet berucap.
"Jangan dengarkan Janet! Dia berbohong."
"Kamu yang bohong, Vin!" Janet menimpali.
"Ah kalian ini kaya kucing sama anjing. Berdebat mulu," omel Angga.
"Papa, pindahkan sangkar ini ke halaman belakang rumah," pinta Kevin.
"Kenapa memangnya?"
"Saya mau di sana saja. Lebih enak di belakang rumah tidurnya, lebih nyaman."
"Apa bedanya?" Kening Angga mengerenyit. Bingung dengan arti nyaman yang Kevin maksud.
"Di sini kalau malam berisik! Om Dono sama Om Bejo sering bercanda, tertawanya menganggu tidur saya."
"Oh begitu. Tapi kenapa baru sekarang kamu ngomong? Harusnya bilang dari kemarin biar Papa omelin si Bejo sama Dono."
Kevin diam saja, hanya menatap Angga.
"Ya sudah, sangkar ini dipindahkan. Tapi kalau siang kamu dan Janet pindah ke sangkar ini, ya?" Angga menunjuk sangkar yang menggantung. Burung Kakatua itu langsung mengangguk patuh.
"Kata si Dono, Bapak menyuruh kami sekalian mengawasi Kevin kawin, lalu jangan lupa diabadikan. Terus kalau dipindahkan ke belakang ... bagaimana mengawasinya, Pak?" tanya Bejo. "Nggak kelihatan dari sini."
"Ya kamu awasi di belakang. Kamu ikut ke belakang, Dono biar menjaga gerbang."
"Sama Bapak?"
"Sendirian lah. Enak saja sama aku. Aku mau belah duren sama Sindi."
"Enak banget, saya semenjak keluar dari rumah sakit belum belah duren sama istri saya, Pak," keluh Bejo sedih.
"Kenapa nggak belah duren? Besok kamu boleh libur deh, biar bisa belah duren."
"Bukan masalah liburnya, tapi istri sayanya yang nggak mau. Saya suruh milih dulu."
"Istri yang mana yang ngomong kayak gitu? Tua atau muda?"
"Tua. Tapi si Yuna juga nggak mau saya ajak. Katanya suruh ceraikan Susi dulu."
Angga menghela napas, lalu menepuk-nepuk lembut pundak Bejo. "Sabar, ini resikonya punya istri dua. Nanti jangan lupa sholat minta petunjuk."
"Iya." Bejo mengangguk, lantas mengangkat sangkar itu dan membawanya menuju halaman rumah
Sedangkan Angga lebih memilih masuk ke dalam rumah. Kemudian menuju kamarnya dan membuka pintu.
__ADS_1
Mata Angga sontak membulat kala melihat Sindi yang tengah duduk selonjoran di kasur itu melototinya. Wajahnya tampak masam. Segera Angga menutup pintu dan menguncinya.
"Mama kenapa? Kok melototi Papa? Serem tahu." Angga melangkah cepat lalu naik ke atas kasur.
"Papa lupa? Katanya mau ngajain Mama belah duren? Mama karatan nih nungguin," omel Sindi sambil bersedekap.
"Inget dong. Tadi Papa keluar sebentar ngecek Kevin sama Janet." Cepat-cepat Angga melucuti pakaiannya sendiri, lalu menaruhnya di atas nakas.
"Ngecekin untuk apa? Oh, apa Papa ngintipin mereka kawin?"
"Itu dia masalahnya, mereka belum kawin. Padahal Papa mau lihat burung Kakatua bayi, Ma." Angga menarik tubuh Sindi hingga membuat wanita itu berbaring, lalu menyingkap selimutnya hingga tubuh seksinya itu terlihat jelas. Dia pun menelan salivanya dengan kelat.
"Mungkin obatnya nggak manjur."
"Ah nggak mungkin, si Steven saja sampai kena muntaber. Itu kayaknya si Kevinnya yang homo." Angga meremmas dada Sindi dengan gerakan memutar, hingga membuat wanita itu mendessah.
"Aah! Mana ada burung homo, Pa." Sindi mengigit bibir bawahnya.
"Ya itu, kayaknya si Kevin." Angga naik ke atas tubuh Sindi, menangkup kedua pipinya dan mengecupi seluruh wajahnya.
"Papa minum obat kuat nggak? Mama nggak mau, ya, langsung celup terus KO."
"Udah kok tadi, tenang saja. Mama mau berapa ronde?"
"Nggak musti beronde, asal Mama sudah keluar saja." Sindi tak yakin kalau Angga bisa beronde-ronde. Mampu bertahan sampai setengah jam saja sudah hebat menurut Sindi.
"Oke deh. Papa akan buat Mama lemas tak berdaya." Angga langsung meraup lembut bibir Sindi, begitu pun sebaliknya. Tangan kanan turun ke bawah, lalu membelai inti tubuh dan memasukkan jari tengahnya ke dalam sana. Pakaian yang dipakai Sindi juga bolong-bolong, jadi mudah untuk Angga menggerayanginya.
***
Hai 🤗 sebelumnya Author mau ngucapin terima kasih atas partisipasinya yang udah ngikutin GA. sekarang Author mau mengumumkan siapa aja pemenangnya. 👇
Juara 1 mommy dou zani : 30k pulsa
Juara 2 Fris@ : 20k pulsa
Juara 3 Rejevejar : 15k pulsa
dan ini adalah 2 orang yang berhasil mendapatkan 10k pulsa dari komentar.
Selamat buat Kakak-kakak Reader yang beruntung. Mohon untuk follback Author di NT, ya. Atau follow IG Author rossy_dildara
Author tunggu sampai jam 9 malam.
__ADS_1