Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
354. Jatuh pingsan tak berdaya tanpa celana


__ADS_3

"Sudah selesai, Pak?" tanya sang sopir yang melihat kedatangan Juna dan Tian menuju mobil. Cepat-cepat dia pun membukakan pintu belakang mobil, lalu mengambil barang belanjaan yang berada di tangan Tian.


"Sudah, kita ke rumah Pak Dono ya, Pak," sahut Tian. Lantas dia pun mengajak Juna masuk ke dalam mobil.


"Baik, Pak." Seusai menaruh barang belanjaan Tian di dalam bagasi, sopir itu pun segera masuk ke dalam mobil pada kursi kemudi. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Eh, Pak, ngomong-ngomong Pak Abimana mana? Apa tertinggal di mall?" tanyanya saat sadar jika tak ada kehadiran Abi dikursi di sebelah Tian.


"Dia sudah pulang duluan, Pak," sahut Tian.


"Oh."


*


*


*


30 menit kemudian, mobil milik Tian pun akhirnya berhenti di depan rumah sederhana milik Dono.


Segera, Juna dan Tian turun dari mobil. Bocah itu membawa sekotak perhiasan dan menenteng kantong merah yang berisi susu formula. Sebelum sampai, mereka sempat berhenti pada salah satu minimarket.


"Assalamualaikum Bu Della!" seru Tian sambil mengetuk pintu. Sebab pintu itu memang tertutup rapat.


"Dedek Silvi yang manis, Kakak Juna main nih! Ayok buka pintunya, Sayang!" seru Juna yang ikut mengetuk pintu.


"Bapak cari Bu Della dan Pak Dono?" tanya seorang wanita berdaster, yang tak sengaja lewat rumah itu lalu menghentikan langkahnya ketika melihat Tian dan Juna.


Dua laki-laki berbeda generasi itu langsung berbalik badan dan menatap ke arahnya.


"Iya, Bu, Ibu ini siapa memangnya?" tanya Tian seraya memerhatikan wanita tersebut.


"Aku tetangganya di sini, Pak." Wanita itu menunjuk keseberang jalan, ada sebuah rumah sederhana bercat putih di sana. "Kebetulan Pak Dono sama Bu Della nggak ada di rumah, Pak," tambahnya.


"Ke mana?"


"Aku kurang tau. Tapi kayaknya sih perjalanan jauh, soalnya mereka pagi-pagi perginya dan naik mobil," jelas wanita itu.


"Bertiga sama Dedek Silvi?" tanya Juna.


"Iya." Wanita itu mengangguk.


"Ya sudah, terima kasih banyak, ya, Bu," ucap Tian.


"Sama-sama, Pak." Wanita itu mengangguk, kemudian meneruskan langkah kakinya dan berlalu pergi.


"Kita duduk dulu, Jun, Papi akan telepon Om Dono."


Tian mengajak Juna untuk sama-sama duduk di kursi yang berada di teras rumah. Bocah itu pun menurut, hanya saja dia memilih untuk duduk dipangkuan Tian. Meski ada dua kursi plastik yang kosong.

__ADS_1


"Assalamualaikum Pak Dono," sapa Tian saat panggilan yang dilakukannya sudah berhasil diangkat oleh seberang sana. Sebelumnya kemarin-kemarin dia sempat meminta nomor Dono secara langsung, maka dari itu Tian menyimpannya sekarang. "Ini aku, Tian."


"Walaikum salam Pak Tian," sahut Dono dari seberang sana.


"Aku sama Juna ada di depan rumah Bapak, tapi kata tetangga sini ... Bapak dan Bu Della pergi dengan membawa Silvi juga. Kalau boleh tau, Bapak ke mana, ya?"


"Oh. Saya pulang kampung, Pak."


Tian sontak terbelalak. "Pulang kampung?! Jadi Bapak nggak ke Jakarta lagi?"


"Ya ke Jakarta lagi dong, Pak. Ini paling cuma seminggu doang kok di kampung," jawab Dono.


"Seminggu lama, Pak, memangnya di kampung ada apa? Dan kok Bapak nggak bilang dulu, sih? Padahal aku 'kan rindu sama Silvi," ujar Tian dengan sedih.


"Juna juga rindu Dedek Silvi, Pi!" Juna ikut menyahut dengan lantang.


"Iya, Juna juga rindu Silvi, Pak," tambah Tian.


"Maaf, Pak, saya pulang ke kampung buru-buru, jadi lupa. Karena mendapat kabar kalau adik saya meninggal dunia," jelas Dono.


"Inalillahi. Kok bisa meninggal adik Bapak? Sakit apa gimana?" tanya Tian penasaran.


"Keracunan cicak dia, Pak."


"Kok bisa keracunan cicak?"


"Kemarin dia dan teman-temannya di sini berburu cicak. Terus setelah dapat mereka semua mengolahnya menjadi bakwan, terus dimakan tapiβ€”"


"Iya. Habis itu muntah-muntah eh langsung pingsan."


"Saya turut berdukacita ya, Pak."


"Iya, Pak."


"Ya sudah, ya, Pak, aku sama Juna mau pulang dulu dari rumah Bapak, assalamualaikum." Daripada perutnya kembali mual lantaran mendengar cerita Dono, lebih baik Tian memilih untuk mengakhiri saja.


"Walaikum salam."


Tian mematikan panggilan, lalu mengantongi benda pipih itu ke dalam kantong celana. "Jun, kita pulang dari sini saja. Soalnya Silvi dibawa Om Dono dan Bu Della ke kampung," jelas Tian dengan nada ajakan.


"Kampung mana, Pi?" tanya Juna.


"Papi nggak tau." Tian menggelengkan kepalanya. Dia sendiri lupa untuk bertanya tadi.


"Terus mereka kapan pulangnya? Besok?"


"Bilangnya sih seminggu."

__ADS_1


"Dih, lama banget. Juna keburu masuk SD dong," kesal Juna dengan bibir yang mengerucut. "Padahal Juna udah kangen banget sama Dedek Silvi, pengen jilat Pipinya, Pi."


"Nanti besok Papi tanya lagi sama Om Dono. Sekarang sebaiknya kita pulang, terus ke panti asuhan. Duit ngamen kita 'kan belum disumbangkan ke sana." Tian berdiri sembari mengangkat tubuh Juna, lalu mengendongnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Bocah itu mau tidak mau menurut, meskipun sejujurnya dia sangat sedih bercampur kecewa. Karena tidak bisa bertemu bayi kesayangan itu.


***


Kembali lagi ke mall.


Entah sudah berapa lama Abi duduk di atas kloset. Tapi yang jelas, itu berawal dari pisang goreng yang sulit untuk dikeluarkan, hingga akhirnya berhasil keluar meskipun dengan memberikan rasa perih pada bibir keriputnya.


Namun, setelah mengeluarkan pisang goreng sebesar kepalan tangan, nyatanya Abi masih tetap bertahan dalam semedinya. Itu dikarenakan sekarang ada pisang goreng baru yang sejak tadi keluar dan itu sangat encer.


Perut Abi sungguh sakit bukan kapalang, begitu pun dengan pinggang dan rasa panas yang begitu membara pada bibir keriputnya.


Ingin rasanya dia menyelesaikan semua itu, lalu keluar dari sana. Tapi rasanya itu sangat sulit sebab Abi tak bisa berhenti untuk mengejan.


"Ya ampun, makan apa sih aku tadi pagi?! Kok bisa ambrol begini p*ntatku," gerutunya kesal. Kemudian merogoh kantong jasnya untuk mengambil ponsel.


Setelah menyalakan benda pipih itu, sontak Abi dibuat terkejut dengan bola mata yang membulat, lantaran tertera pukul 18.00 di sana. Dan sebentar lagi akan memasuki waktu Magrib.


"Astaga! Yang benar saja. Aku nongkrong di toilet sampai mau Magrib," gumamnya tak menyangka sambil geleng-geleng kepala. "Ini sih otomatis aku ditinggal sama Juna dan Tian. Mereka pasti ... Eeuughh!" Ucapan Abi terhenti sebab lagi-lagi dia mengejan, lalu menggeluarkan pisang goreng encernya.


Drrrtt ... Drrrtt ... Drrrtt.


Tak lama berselang, ponselnya itu bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari Aulia.


Segera, Abi pun mengangkatnya, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan.


"Halo, Mas, Mas ada di mana sekarang? Kok udah mau Magrib belum pulang? Jangan bilang Mas keasikan ngobrol sama Nissa!" cecar Aulia yang terdengar marah-marah.


"Aku terjebak di toilet Aul. Kamu harus datang ke sini dan membantuku!" omel Abi sambil melotot.


"Kejebak di toilet?! Maksudnya Mas ke kunci di toilet?"


"Bukan. Aku kena diare," jawab Abi. "Cepat datang ke mall yang ada di Jakarta Barat. Sentral Park, Aul. Belikan juga aku obat diare dan salep untuk menyembuhkan lecet," pintanya.


"Kok Mas nyuruh aku? Kenapa nggak nyuruh Tian atau Juna saja? Kan Mas pergi sama mereka katanya."


"Aku minta tolong padamu karena nggak ada yang bisa aku mintain tolong Aulia!!" geram Abi sambil melotot. Istrinya itu memang terkadang banyak sekali bicara jika sedang disuruh.


Namun, seketika Abi merasakan kepalanya berkunang-kunang. Penglihatannya pun ikut kabur dan memutar, sehingga tanpa sadar dia pun menjatuhkan ponselnya. Kemudian disusul oleh tubuhnya sendiri dan membuatnya tersungkur di lantai.


Bruk!!


Perlahan matanya pun terpejam, Abi jatuh pingsan tak berdaya tanpa celana.

__ADS_1


"Mas! Kamu kenapa? Ada apa?!" teriak Aulia yang masih berada dalam sambungan telepon. Dia juga sempat mendengar sesuatu yang jatuh dari seberang sana.


...Jun ... durhaka kamu, Jun, noh Papimu udah nggak berdaya di toilet πŸ™ˆ...


__ADS_2