Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
150. Kepengen es krim


__ADS_3

"Kolor ijo juga bagus, Om. Ah lihat bahannya. Lembut." Citra meraba kain yang saat ini tengah diremas oleh Steven. Tidak lembut sebenarnya, biasa saja. Akan tetapi dia sengaja mengatakan hal itu supaya membuat hati Steven senang.


"Mana ada lembut. Ini kasar, Cit. Sekali pakai pasti langsung sobek." Steven berdecak. Dia benar-benar tak suka kado dari Angga. Juga merasa tak habis pikir, bisa-bisanya papanya itu hanya memberikannya kolor. Tidak adakah yang bagusan sedikit?


"Coba Om cobain. Sobek apa nggak."


"Ah malas amat. Kolor jelek," cibirnya.


"Bagus kok. Kata Ayah ... kalau kita dikasih sesuatu itu harus senang. Jangan dilihat dari harganya juga, tapi lihatlah ketulusan dalam dia memberikan," jelas Citra lembut. "Aku yakin ... Papa Angga pasti tulus membelikan kolor itu untuk kita. Kita harus menghargainya, Om."


"Sudah pintar kamu ya, Cit, ngajarin aku. Sekarang waktunya aku mengajarimu gaya baru." Steven mengangkat tubuh Citra sembari memegang bantal dari Sofyan. Kemudian membawanya menuju tempat tidur.


"Gaya baru apa, Om?"


"Bercinta."


Pelan-pelan Steven membaringkannya, lalu mengangkat bokong istrinya dan meletakkan bantal tersebut di bawah pinggang.


"Kok begini, Om?" Citra agak terkejut dengan posisinya yang cukup tinggi itu. Apalagi kedua pahanya sudah Steven buka lebar-lebar.


"Memang begini cara menggunakannya, kan? Pastinya ini akan lebih enak, Cit."


Steven bergegas melepaskan seluruh pakaiannya, membuangnya ke bawah. Setelah itu dia pun langsung membungkuk dengan menjajarkan wajahnya pada inti tubuh Citra yang merekah. Tidak perlu melepaskan pakaiannya, sebab memang sudah terbuka.


"Uuhh ...." Citra membulatkan matanya dengan lebar kala merasakan lidah dan bibir Steven bermain di bawah sana. Refleks tangannya meremmas rambut kepala Steven. Sensasi itu sungguh nikmat. "Enak banget, Om."


Steven makin memperdalam kulumannya hingga membuat Citra makin kuat menjambak rambutnya.


Setelah puas dan membuat Citra mencapai pelepasan, Steven pun mulai beraksi pada permainan yang sebenarnya. Yakni mengajari Citra gaya baru dalam bercinta. Namun mereka berpindah-pindah tempat, dari mulai di atas kasur, sofa, karpet sampai kini di depan gorden.


Keduanya berdiri, tetapi saling berhadapan dengan salah satu kaki Citra yang terangkat dan diletakkan ke atas bahu Steven. Suaminya itu terus goyang ngebor.


"Gaya begini enak nggak, Cit?" tanya Steven dengan napas yang terengah-engah. Kedua tangannya sibuk meremmas agar-agar. Seluruh tubuhnya dan tubuh Citra bermandikan keringat.


"Enak. Aku mau keluar lagi, Om," lirih Citra pelan.


"Ayok bareng." Steven menggerakkan pinggulnya lebih cepat, lebih dalam hingga benturan kedua kulit itu terdengar di telinga. Sampai akhirnya beberapa menit kemudian mereka pun mencapai pelepasan secara bersama.


***


Keesokan harinya.

__ADS_1


"Wah, pengantin barunya Mama sudah rapih. Cantik dan ganteng!" seru Sindi yang berada di ruang makan. Memuji dua insan yang baru saja menuruni anak tangga kemudian menghampirinya.


Citra menggenakan celana katun panjang berwarna hitam dan kemeja pendek berwarna pink. Di punggungnya ada tas ransel, juga dia mengenakan sepatu flatshoes berwarna hitam.


Sedangkan Steven mengenakan setelan jas berwarna biru denim. Sepatu kerja berwarna hitam.


"Pagi, Ma," sapa Steven dan Citra bersamaan.


"Pagi. Ayok sarapan bareng, Mama buat nasi goreng kemangi. Spesial buat kalian," ajak Sindi.


Keduanya pun langsung duduk, menarik kursi masing-masing. Citra segera mengambil piring dan menuangkan nasi goreng untuk Steven, setelah itu baru untuknya.


"Maaf ya, Ma, aku nggak bantuin Mama bikin sarapan. Aku kesiangan," ucap Citra dengan perasaan tak enak. "Besok-besok aku akan usahakan bangun lebih pagi, belajar bikin nasi goreng.


"Nggak apa-apa, santai saja." Sindi mencubit gemas hidung mancung Citra. "Oh ya, bagaimana kado-kadonya? Udah dibuka? Kamu seneng nggak kado dari Mama?" Padahal Sindi sudah melihat sendiri Citra memakai kalung dan anting, tetapi dia ingin mendengar sendiri pendapat dari menantunya.


"Seneng banget. Apa pun yang Mama kasih selalu indah," jawab Citra dengan pipi merona.


"Manis banget sih, Cit, jawabannya. Bikin hati Mama berbunga-bunga." Sindi tersenyum lalu mengelus rambut Citra dan beralih mengelus perutnya.


"Papa ke mana?" tanya Steven dengan mata yang melirik ke sana ke mari. Mencari keberadaan Angga. Sebetulnya, dia mencari karena ingin protes masalah kado.


"Lagi mandiin si Kevin di depan."


"Kayaknya Papamu itu mau memelihara dia deh. Buktinya kemarin saja minta Bejo buat nyari sangkar burung."


"Ngapain dipelihara? Apa manfaatnya memelihara burung? Kan sendirinya juga punya burung."


"Burung di celana mana bisa terbang, Stev. Dan lagian nempel. Aneh-aneh saja kamu."


"Tapi si Kevin punyanya Tian, Ma. Ngapain pelihara punya orang. Dikembalikan saja." Steven mendengkus kesal sembari mengunyah nasi goreng.


"Yang punyanya juga nggak nyariin ini." Sindi sama sekali tak keberatan akan kehadiran Kevin. Tak masalah. "Dan lagian ... mendingan Papa pelihara Kevin. Ada kerjaan dia. Daripada makan tidur doang, terus main game. Mama bosen lihatnya. Dia juga terlihat happy, Stev. Biarkan saja."


"Papa happy, akunya yang sengsara! Burung itu kurang ajar sama aku, Ma!"


"Kurang ajarnya gimana?"


"Dia sering meledekku, songgong lagi. Masa kemarin rambutku dia berakin. Ditambah semalam masuk kamar tanpa permisi!"


"Masa sih?" Sindi menatap tak percaya. "Tapi setahu Mama Kevin itu termasuk burung penurut, sopan juga."

__ADS_1


"Mana ada! Dia songgong!" bantahnya.


"Sama kamu songgong juga, Cit?" tanya Sindi ke arah Citra.


"Enggak, Ma." Citra menggeleng.


"Nggak apanya?" Steven menoleh pada Citra dengan wajah masam. "Semalam bukannya dia minta dimandiin sama kamu, ya? Itu namanya songgong, Cit!" tandasnya kesal.


"Tapi itu bukan—“


"Ah sudahlah, jangan ngomongin Kevin!" sela Steven marah. "Bikin nggak berselera makan!"


Sindi dan Citra saling memandang. Kemudian Sindi geleng-geleng kepala sambil terkekeh. Dia merasa lucu dengan sikap Steven.


'Jahat banget Citra, masa dia belain si Kevin bau ketimbang aku? Aku 'kan suaminya,' batin Steven kesal.


"Lho, kok nasi gorengnya nggak dimakan? Apa nggak enak?" tanya Sindi sembari menatap piring nasi goreng yang masih utuh milik menantunya.


Bukan tidak dimakan sebenarnya, Citra sudah memakannya satu suap. Hanya saja lidahnya kini menginginkan sesuatu.


"Enak kok, Ma." Citra langsung menyuap satu sendok ke mulutnya, lalu mengunyahnya pelan-pelan. Perlahan dia pun menoleh ke arah Steven sembari menyentuh punggung tangannya. Seketika pria itu pun menoleh. Wajahnya tampak merengut. "Om ... aku kepengen es krim."


"Ini masih pagi, nanti kamu sakit perut."


"Tapi aku pengen."


"Belikan saja, Stev. Nggak apa-apa, mungkin Citra ngidam," ujar Sindi sambil mengelus perut Citra. "Istri ngidam itu musti dituruti, nanti anakmu ileran pas lahir, mau kamu?"


"Tapi ini masih pagi, Ma."


"Yang penting sudah sarapan."


Steven membuang napasnya kasar. "Ya sudah deh, ayok kita beli, sekalian berangkat ke kampus." Steven menenggak air minum pada gelas, lalu berdiri seraya merangkul bahu Citra. Keduanya pun segera mencium punggung tangan Sindi.


"Tapi, Om. Aku pengen beli es krimnya nggak sama Om."


Ucapan Citra membuat langkah Steven terhenti, pria itu pun menoleh dengan kening yang mengerenyit. Menatap Citra penuh tanya.


"Maksudnya?"


"Kalau boleh, aku mau pergi beli es krimnya sama Papa, Om."

__ADS_1


...Waduh ... cari penyakit nih Citra. Bentar lagi Bapak sama anak perang kayaknya 🤣...


__ADS_2