
Angga berdecak kesal. "Kamu bukannya tadi pas mau ke panti katanya mau mengadopsi bayi, ya? Kok sekarang mau nikahin bayi, sih?"
"Kan ngadopsi bayi nggak boleh kata Opa, jadi nikahin bayi saja kalau begitu. Biar Dedek Silvi ikut tinggal sama Juna," jawab Juna dengan polosnya.
"Kamu itu kenapa punya pikiran aneh-aneh sih, Jun? Kan kamu tahu, Om Dono dan Tante Della yang mau cari anak. Tapi kenapa malah kamu yang ribet sih?" Angga berdiri lalu meraih tubuh sang cucu. Kemudian mendudukkannya di atas pangkuan.
"Habisnya Dedek Silvi manis kayak buah apel. Udah gitu wajahnya mirip Papi Tian. Pasti kalau udah besar dia baiknya kayak Papi Tian juga. Kan cocok sama Juna. Sama-sama baik."
"Udah deh diem, kamu sebentar lagi punya Adik dari Mami dan Papimu. Jadi nggak usah berpikir atau meminta hal yang aneh-aneh," tegur Angga. Dia juga mencubit lembut bibir Juna yang banyak bicara itu.
"Assalamualaikum. Eh, ada tamu rupanya," ucap seorang wanita yang baru saja datang. Usianya sudah tak lagi muda, tetapi dia sangat cantik. Wanita itu adalah Andin, pemilik panti asuhan yang juga mengenal Sindi.
"Walaikum salam," ucap Angga dan yang lain.
Wiwik langsung keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi empat gelas teh manis hangat dan segelas susu putih. Kemudian dia letakkan di atas meja.
"Ini teh dan susu untuk Juna. Silahkan diminum semuanya," ucap Bu Wiwik. Juna yang duluan mengambil segelas susu. Hanya saja tidak langsung dia minum sebab baru menyentuh gelasnya saja sudah terasa panas. "Ini Bu Andin, Pak, Bu," tambahnya memperkenalkan Andin. Kemudian menatap ke arah Dono dan Della. Mereka pun akhirnya berjabat tangan, lalu Andin duduk di sofa single di samping Della.
"Niat kami datang untuk mengadopsi bayi ini, Bu, boleh, kan?" tanya Dono. Dia membuka tas istrinya untuk mengambil map coklat yang isinya sebuah syarat untuk mengadopsi bayi, kemudian memberikan kepada Andin.
Wanita itu menerima dan langsung membuka serta membacanya.
"Syaratnya sudah lengkap, ya, Bu, Pak. Sebentar ... saya akan buat perjanjian tertulis dulu." Andin langsung berdiri.
"Tunggu sebentar, Bu," tahan Della. Ucapannya itu seketika menghentikan langkah kaki Andin. "Boleh nggak, kalau nanti saya dan suami merubah nama Silvi? Setelah dia resmi jadi anak kami?"
"Kalau merubah nama nggak boleh, Bu." Andin menggeleng sambil tersenyum. "Itu memang sudah ketentuan dari pihak panti. Tapi kalau mau menambahkannya nggak masalah. Misalnya Silviana siapa, atau Siti Silviana dan apa ... itu baru boleh," jelasnya.
"Nggak perlu ganti nama juga nggak apa-apa kok, Ma," ucap Dono. "Nama Silviana 'kan cantik. Udah bagus dan cocok."
"Iya sih, Pa," sahut Della. "Ya Mama kira boleh. Tapi kalau nggak boleh juga nggak masalah." Della tersenyum, lalu mencium kening Silvi.
Andin melangkahkan kakinya masuk ke sebuah kamar, yang letaknya di samping kamar bayi. Kemudian menutup pintu.
__ADS_1
"Oh ya, Nur. Ngomong-ngomong di mana si Fira sekarang? Kamu sembunyikan di mana dia?" tanya Angga sembari menatap Nurul. Gatal sekali mulutnya, sejak baru datang ingin bertanya hal itu. Tetapi baru bisa sekarang dia katakan.
"Aku nggak tahu, Pak. Terakhir aku ketemu saat Fira mau dijemput polisi. Tapi dia kabur dan semenjak itu dia hilang tanpa kabar. Nomornya juga nggak aktif," jelas Nurul dengan bola mata yang berkaca-kaca. Sesungguhnya dia sangatlah sedih, atas kepergian Fira yang entah kemana. "Aku sebenarnya khawatir banget sama Fira, hampir setiap malam nggak bisa tidur karena terus memikirkannya, Pak."
"Lagian anakmu itu gila. Ngapain juga pakai acara kabur? Padahal di penjara juga nggak bakal seumur hidup," ketus Angga dengan kesal.
"Aku juga nggak mengerti sama jalan pikiran Fira, Pak. Dia semenjak nggak jadi menikah sama Steven ... pikirannya malah kacau. Sudah susah buat aku tegur, nggak masuk ke dalam hatinya," jelas Nurul sedih.
"Tante Fira itu bukannya mantan istrinya Papi Tian, kan, Opa?" tanya Juna penasaran.
"Iya." Angga mengangguk.
"Kok bisa, kepengen nikah sama Om Steven? Kan Om Steven sudah punya Tante Citra."
"Itu dulu, sebelum Tante Citra dan Om Steven menikah. Awalnya Omamu ingin Om Steven menikah sama Tante Fira," jelas Angga.
"Oh. Terus kenapa nggak jadi? Dan kenapa Om Steven malah menikahnya dengan Tante Citra?" tanya Juna penasaran.
"Tante Citra 'kan cantik, manis, imut-imut dan baik. Tergila-gila lah Ommu itu sama Tante Citra."
"Kan kamu tahu Mamimu nggak suka sama Papi Tian dulunya. Sekarang menikah saja kepaksa karena kamu."
"Masa sih kepaksa?" Alis mata Juna bertaut. "Tapi Juna lihat Mami seperti bahagia kok nikah sama Papi Tian."
"Ya iyalah bahagia. Kan udah dikencingin. Coba belum. Mana mungkin dia bahagia."
"Berarti musti rajin dikencingin ya, Opa. Biar bahagia."
"Iyalah. Mangkanya kamu jangan suka ganggu kalau mereka lagi berduaan di kamar." Angga mencubit lembut pipi kiri Juna. Merasa gemas pada kebawelannya.
***
Di tempat berbeda.
__ADS_1
Nissa menaiki mobilnya bersama sang sopir. Sebentar lagi jam makan siang dan niatnya sekarang ingin pergi ke kantor Tian. Mengajaknya makan siang bareng.
Dia juga sudah membawa rantang susun di dalam kantong merah. Yang isinya hasil masakannya yang dia buat di restoran.
Namun sebelum sampai tujuan, Nissa menghubungi Angga dulu. Sebab niatnya sekalian mengajak Juna. Pasti bocah itu akan senang jika bisa makan siang bareng dengan Papinya.
"Halo, Papa dan Juna ada di mana sekarang?" tanya Nissa saat sambungan telepon itu diangkat oleh seberang sana.
"Papa sama Juna lagi ada di rumah Dono."
"Lagi apa? Tolong Papa antarkan Juna ke kantornya Tian. Aku mau mengajaknya makan siang bareng."
"Si Juna lagi main sama anak barunya Dono, kamu kalau mau pergi, pergi saja. Mumpung Juna nggak inget sama Tian."
"Tapi nanti Juna marah nggak?"
"Nggak bakal. Kalau bisa nih, ya, habis makan siang kalian pergi ke hotel saja. Tian suruh pulang setengah hari," usul Angga.
"Ke hotel mau ngapain?" tanya Nissa.
"Ya menghabiskan waktu berdua lah, mumpung Juna lagi sama Papa. Habis ini rencananya Papa mau ajak Juna mengantar Jordan yang mau disunat. Dia juga tadi sempat ngomong kayak gitu."
"Tapi masa aku yang ngajak sih, Pa?" Wajah Nissa langsung bersemu merah. Belum apa-apa dia sudah merasa malu duluan. "Kan malu, masa cewek ngajak cowok ke hotel?"
"Lha, kan kamu sudah jadi istrinya. Masa malu."
"Tetap saja malu. Kesannya aku yang ngebet pengen berduaan. Aku nggak mau ah, Pa. Nanti Tian malah kayak Mas Abi, menyepelekan aku."
"Ya sudah, nanti biar Papa yang telepon Tian."
"Terima kasih ya, Pa. Papa dan Juna hati-hati di sana."
"Sama-sama, Sayang. Kamu dan Tian juga hati-hati. Yang semangat kencingnya, ya!"
__ADS_1
Nissa langsung mematikan sambungan telepon, lalu menyentuh dadanya yang sontak berdebar kencang. 'Ah aku jadi nggak sabar. Tapi kira-kira Tian mau nggak, ya, kalau pulang setengah hari?' batinnya.
...Atuh pasti mau, masa rezeki ditolak, Mbak 😂🤣...