Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
121. Bercinta sambil melihat bintang


__ADS_3

Fira meremmas ujung dressnya seraya menatap mobil Angga yang berlalu pergi. Sedangkan Steven dan Citra sudah pergi lebih dulu bahkan sebelum dia dan Angga bicara.


"Kurang ajar sekali! Semua ini gara-gara si Jelek Kakatua dan ...." Fira terdiam sesaat untuk mengingat nama istrinya Steven. "Citra!" serunya saat sudah ingat.


"Aku sudah berkorban banyak selama ini. Menjadi wanita sempurna dan baik hati di depan dia, Om Angga dan Mama Sindi. Tapi ... kenapa justru mereka semua lebih memilih Citra?"


Fira berteriak, meluapkan seluruh emosi di dadanya.


"Dan kenapa juga Pak Steven terlihat begitu mencintainya? Sedangkan selama ini jika denganku dia terlihat begitu susah untuk digapai?"


"Apa keistimewaan gadis itu? Wajahnya biasa saja, tubuhnya kecil dan masih bau kencur. Aku yakin dia nggak akan bisa memasak dan menjadi istri yang baik."


"Hanya aku, hanya aku yang cocok menjadi istri Pak Steven! Bukan dia! Aakkkhhhh!" teriak Fira sambil menjambak rambutnya sendiri. Emosinya meluap-luap.


Nurul yang sejak tadi berdiri di depan pintu, bahkan melihat juga adegan saat di mana Fira memeluk lutut Angga—kini berjalan menghampiri sang anak. Kemudian menarik lengannya hingga tubuhnya berdiri.


Fira menoleh ke arah Nurul, lantas memeluk tubuhnya. "Ma, bagaimana sekarang? Aku nggak bisa menikah dengan Pak Steven, aku juga sudah dipecat dan diancam sama Om Angga," keluhnya dengan sedih.


"Mama juga bingung." Nurul terdiam beberapa saat, lalu bertanya, "Itu bagaimana dengan Tian? Apa dia sudah kaya lagi seperti dulu?"


Yang Nurul tahu, Tian dulu memang kaya. Tetapi sekarang tidak. Itu juga semua dari Fira.


"Dia nggak perlu diharapkan. Orang kere tetap saja kere." Fira mendengkus kesal. Dia pun melepaskan pelukan ditubuh Nurul lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Sang Mama segera menyusul.


Nurul mengekori Fira menuju dapur. Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi lalu mencuci muka, sedangkan Nurul berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka.


Kamar mandi di rumah itu hanya satu dan berada di dekat dapur.


"Tapi 'kan kemarin dia sudah membelikanmu gelang, Fir." Nurul menatap pergelangan tangan kanan anaknya. Ada gelang model rantai melingkar dengan cantik. Di atasnya banyak beberapa batu berlian.


Entah dapat uang dari mana, tetapi memang Tian yang membelikannya. Ada suratnya juga yang mengatakan gelang itu asli dan Fira sempat mengeceknya langsung pada toko perhiasan untuk memastikannya.


Mungkin kalau tidak asli, gadis itu tak akan sudi untuk kembali berpacaran dengannya. Karena memang dia sudah terlanjur bosan.


"Iya, tapi aku nggak tahu uangnya dari mana. Bisa saja dia mencuri, Ma."

__ADS_1


"Masa mencuri? Nggak mungkinlah."


"Ya aku nggak yakin. Soalnya aku pernah lihat saldo di ATMnya saja sedikit." Fira menyeka wajahnya yang basah dengan handuk, kemudian keluar kamar mandi dan menghampiri Nurul. "Sekalinya punya perusahaan, tapi mau gulung tikar. Sedangkan Pak Steven ... perusahaannya begitu berjaya. Bahkan banyak sekali beberapa perusahaan lain yang mau kerjasama dengannya. Dia juga punya banyak beberapa unit apartemen yang berharga puluhan juta dalam sekali sewa. Deller mobil, beberapa toko hape dan kemarin dia berencana untuk membangun Mall. Banyak banget 'kan, Ma, duitnya? Aku ngiler banget. Aku kepengen jadi istrinya dan merasakan uangnya!" Fira mengepalkan kedua tangannya. Merasa gemas, tetapi bingung dengan keadaan. "Kenapa sih Tuhan nggak adil? Dari kecil aku miskin sampai besar pun aku tetap miskin! Aku mau jadi orang kaya, Ma!"


"Mama juga mau jadi orang kaya, Fir."


"Ini semua gara-gara Mama! Harusnya Mama dulu menikah dengan orang kaya, jangan dengan Papa yang miskin dan sakit-sakitan terus mati!" protesnya.


"Kamu ini gila, ya? Kalau Mama nggak nikah sama Papamu ya nggak ada kamulah, Fir!" sentak Nurul marah.


Fira berdecak kesal seraya melipat tangannya di atas dada. "Ya sekarang kan Mama janda, Mama carilah om-om kaya. Supaya dia mau menikahi Mama dan kita bisa hidup enak."


"Harusnya jangan Mama. Mama 'kan sudah tua, ya kamulah, Fir."


"Aku nggak suka om-om." Fira menggeleng cepat.


"Steven dan Tian juga Om-om tahu."


"Tapi mereka ganteng. Apa lagi Pak Steven, mirip Oppa Korea."


"Ya kamu cari om-om ganteng seperti mereka. Masa nggak dapat? Oh ... malam ini 'kan malam Minggu, lebih baik nanti kamu ke bar saja," saran Nurul.


"Cari Om-om tajir."


"Nggak maulah! Bar 'kan tempat orang-orang nggak benar. Nanti yang ada aku diperkosa dan dikira jual diri. Aku 'kan masih perawan, Ma."


Nurul membuang napasnya dengan berat, lalu memijat dahinya. Terasa pusing sekali. Dia terdiam beberapa saat untuk mencari ide, lalu bertanya, "Kamu punya fotonya Steven nggak?"


"Punya, memang mau buat apa?"


"Besok kita pergi ke dukun. Kita pelet Steven supaya dia suka padamu dan meninggalkan istrinya."


"Bukannya pelet itu bohongan, ya?" Fira sering menonton acara gosip dan banyak sekali beberapa tayangan tentang dukun baru-baru ini. Itu semua membuatnya tak yakin.


"Kata siapa bohongan? Itu asli. Coba kita buktikan saja besok."

__ADS_1


"Ya sudah, terserah Mama. Aku nurut saja yang penting bisa nikah sama Pak Steven."


"Bagus, itu baru anaknya Mama." Nurul tersenyum lebar lalu mengelus puncak rambut Fira.


...****************...


Mobil Jarwo berhenti di depan hotel bintang lima yang berlokasi di Jakarta Pusat. Lantas, Steven pun mengajak Citra untuk turun dari mobil bersama-sama.


"Kita mau ngapain ke hotel, Om?" tanya Citra bingung. Tangannya digenggam oleh Steven lalu melangkah mengikuti suaminya masuk ke dalam gedung itu.


"Dih, kan aku sudah bilang kalau mau check in hotel. Kamu lupa, ya?" Langkah kaki Steven berhenti di depan resepsionis. Banyak beberapa orang yang ingin check in juga, jadi dia mengantre. "Kebetulan ini malam Minggu, Cit. Bagaimana kalau nanti kita bercinta sambil melihat bintang dari jendela. Pasti romantis banget. Kamu mau, kan?"


"Memang bisa, ya, bercinta sambil melihat bintang?" Alis mata Citra bertaut. Tak yakin dengan ajakan Steven.


"Ya bisa, masa nggak bisa."


"Tapi nanti nggak fokus dong Om bercintanya."


"Fokus kok."


"Tapi aku maunya Om melihatku saat bercinta, bukan melihat bintang."


"Ya sudah, mending bintangnya saja yang melihat kita. Kalau begitu bagaimana?"


"Boleh juga." Citra terkekeh, begitu pun dengan Steven. "Tapi nanti dia iri nggak, Om?"


"Biarkan saja iri. Namanya juga ...." Ucapan Steven menggantung kala ponselnya berdering di dalam saku jas. Cepat-cepat dia pun merogoh dan mengambil ponsel itu, lalu menjawab telepon yang ternyata dari Sindi. "Halo, Ma?"


"Kamu dan Citra ada di mana, Stev?"


"Ada di hotel."


"Ngapain di hotel?"


"Mau ngapain kek, bukan urusan Mama." Steven mendengkus kesal sembari memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Cih! kurang ajar kamu ya, Stev!" teriak Sindi marah. Jawaban Steven terdengar menjengkelkan menurutnya. "Pokoknya kamu dan Citra harus datang ke butiknya Bu Santi! Mama tunggu kalian sekarang juga!" tegas Sindi. Suaranya begitu nyaring hingga membuat telinga Steven sakit.


...Kasihan deh, nggak jadi bercinta sambil lihat bintang. Emang enak 😆...


__ADS_2