
Dia adalah Citra. Gadis itu tampak begitu cantik dan anggun memakai gaun putih menjulang panjang dengan payet mutiara. Mahkota di atas kepalanya menambah keindahan yang ada didiri Citra.
"Apa dia benar istriku, Ma?" Steven menatap takjub dengan mulut yang menganga. Sungguh, kecantikan gadis itu seperti berlipat-lipat. "Cantik sekali. Dia benar-benar seperti bidadari!" serunya lantang.
Steven cepat-cepat berlari menghampirinya. Jika menunggu Citra yang menghampiri duluan rasanya terlalu lama. Sebab langkah kaki gadis itu terlalu pelan karena gaunnya.
"Aku sangat mencintaimu, Cit!" seru Steven. Dia pun lantas menangkup kedua pipi istrinya, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu. Sedikit lagi sampai dan bibir Steven juga sudah menganga, tetapi semuanya tak terjadi lantaran punggung tangan Sindi menghalanginya.
"Kebiasaan! Kaya Soang aja kamu suka nyosor, Stev!" omel Sindi.
"Dih, Mama apaan, sih? Aku mau cium Citra!" protes Steven. Dia lantas menarik tangan sang Mama yang menempel di bibirnya.
"Boleh cium asal nempel doang. Jangan sampai ciuman!"
"Memang kenapa? Pelit amat."
"Belum waktunya, Stev. Dan lagian nanti make up-nya rusak."
"Kalau nunggu malam lama dong, Ma," keluh Steven.
"Nggak lama. Nanti pas kamu tuker cincin. Sekarang kalau mau cium, cium aja. Tapi tipis-tipis, jangan buat make up-nya luntur."
Sindi tak mau, jika semua yang telah dia urus di pesta itu hancur. Termasuk make up Citra juga. Mereka akan tersorot kamera sebab akan ada pembuatan video dan memotretan.
Memang akan ada adegan ciumannya nanti, tetapi tidak sekarang.
Steven memutar bola matanya dengan malas. Terpaksa dia menurut. "Iya, iya. Cium tipis dong." Steven mengerucutkan bibirnya. Perlahan Sindi melepaskan bibir Steven dan kemudian pria tampan itu segera mengecup bibir Citra.
Namun, ternyata bukan bibir saja, tapi kedua pipi, kening, dagu sampai turun ke leher. Dan parahnya kecupan Steven pada leher Citra dilakukan berulang kali. Gadis itu tampak tertekan sebab Steven cukup kencang mengecupinya.
"Udah! udah! Malah nafsu kamu tuh lama-lama!" tegur Sindi marah. Dia pun segera menarik lengan Steven hingga tubuhnya menjauh dari tubuh Citra. Anaknya itu benar-benar sudah tidak waras, menciumi istrinya di depannya dan begitu nafsu. "Jaga image, Stev! Mama tahu kamu dan Citra saling mencintai. Tapi jangan nyosor selama pesta, kecuali memang waktunya kalian berciuman!" tegas Sindi. "Jangan karena ini pestanya kacau! Banyak tamu penting yang datang!" tambah Sindi dengan mata yang berfokus melototi Steven. Anaknya itu hanya menganggukkan kepala.
'Semoga saja bisa, Ma. Tapi aku nggak tahan lihat Citra. Dia terlalu cantik dianggurin. Rasanya aku mau langsung bawa dia ke kamar dan mengajaknya uh ah uh ah,' batin Steven.
"Maaf, apa semuanya sudah siap?" tanya seorang perempuan yang datang menghampiri mereka. Dia adalah salah satu tim WO yang mengurus acara pernikahan Steven.
__ADS_1
"Sudah," jawab Sindi.
"Oke, nanti Bapak dan Nona berjalan dari sini sambil tersenyum dan senatural mungkin. Sesekali memandang, lalu ...." Petugas WO itu memberikan instruksi, supaya nantinya momen mereka diabadikan dengan baik.
Steven dan Citra mengangguk-ngangguk, tanda kalau mereka paham.
Lengan kiri Steven sudah bersiap untuk Citra gandeng, lalu dengan segera istrinya itu menggandengnya.
Lantas, mereka pun berjalan perlahan-lahan di atas altar karpet merah, menuju tempat pelaminan.
Jantung Citra seketika berdebar kencang. Ada perasaan grogi dan malu sebab banyak sekali beberapa tamu undangan yang menatap mereka. Juga di depan mereka ada beberapa orang yang memegang kamera untuk mengambil momen.
Namun, Citra berusaha untuk bersikap tenang dan senatural mungkin. Dia tak mau, jika sikapnya nanti akan mengacaukan pesta itu. Pastinya Sindi dan Angga bisa kecewa.
Perlahan Citra menoleh ke arah Steven, suaminya itu tengah tersenyum menatap beberapa tamu yang Citra sendiri tak kenal. Wajahnya begitu berseri, jelas sekali dari mimik eksperesinya Steven begitu bahagia.
Bola mata Citra langsung berkaca-kaca dan dia pun mengulum senyum. Sama halnya seperti Steven, dia juga bahagia. Bahkan sangat bahagia.
Citra tak menyangka, jika rumah tangganya dengan Steven menjadi lebih baik seperti sekarang. Dan keinginannya untuk dicintai sudah tercapai.
Gumaman di hati Citra sungguh berbeda sekali dengan gumaman di hati Steven. Ibarat tubuhnya memang ada di sini sekarang, tetapi pikirannya sudah melayang di dalam kamar hotel.
Steven sendiri tak tahu bagaimana penampakan kamarnya, tetapi yang jelas—dia sudah membayangkan bagaimana momennya yang akan dilakukannya nanti.
'Semoga saja pesta ini cepat berakhir. Aku ingin cepat-cepat masuk kamar, lalu melihat Citra memakai baju seksi dan kita bercinta sambil melihat bintang,' batin Steven.
Tiba-tiba, entah datangnya dari mana, seekor burung Kakatua terbang mendekati mereka. Ia pun langsung terbang memutar-mutar di tubuh mereka.
Rasa senang dihati Steven seolah sirna seketika kala mengetahui burung tersebut adalah Steven alias Kevin. Ingin rasanya dia memaki dan meraih burung Kakatua itu, tetapi Steven berusaha menahan diri sebab di depan mereka ada Sindi yang melototinya. Wanita tua itu sejak tadi mengawasi mereka.
'Kurang ajar banget si Kevin! Tahu dari mana dia? Kok bisa sampai ke sini?' gerutu Steven dalam hati.
Namun, yang dilakukan Kevin saat ini tidak merusak acara sama sekali. Malah dengan dirinya terbang memutar-mutar di tubuh mereka—justru membuat momen yang tertangkap kamera itu menjadi sangat bagus.
Setelah dilihat-lihat, ternyata Kevin juga memakai dasi kupu-kupu berwarna hitam. Aneh sekali rasanya. Siapa yang memakaikannya? Tidak mungkin kalau sendiri, kan?
__ADS_1
Setelah Steven dan Citra sampai di tempat pelaminan, Kevin pun terbang meninggalkan mereka, kemudian menghampiri seorang pria yang memakai setelan jas berwarna putih. Dia adalah Angga.
Pria tua itu pun langsung memberikan kotak perhiasan berwarna merah dengan model love kepadanya. Kevin mencengkeramnya dengan kedua kaki, lalu terbang lagi menuju Steven.
"Ini cincin untuk kalian, silahkan pakai!" serunya. Steven tampak bingung tetapi salah satu tangannya menadah untuk menerima cincin dari Kevin.
'Kok dia yang ngasih cincin? Katanya tadi Papa.' Steven ingat dengan apa yang dikatakan tim WO tadi, dia bilang mereka akan bertukar cincin saat Angga memberikannya. Tetapi sangat jelas sekali, tadi Angga yang menyuruh Kevin.
Tak ingin banyak berpikir, Steven segera membuka kotak perhiasan itu. Sepasang cincin dengan berlian di tengahnya tersemat rapih pada kotak itu. Kemudian, mereka pun melakukan proses pertukaran cincin
"Sekarang ayok ciuman!" seru Kevin lagi. Dia seolah memberikan instruksi.
Steven langsung menatap ke arah Sindi dengan kening yang mengerenyit. Wanita tua itu mengangguk cepat. Sepertinya, ini adalah momen dimana mereka sudah boleh ciuman.
Perlahan Steven mendekatkan ke arah Citra, bahkan menempelkan tubuh keduanya. Kemudian, perlahan dia pun menangkup kedua pipinya. Wajah keduanya sudah merona sekali dan melihat bibir merah itu, si Elang yang berada di dalam celana langsung berkedut.
Entah apa artinya, tetapi yang jelas—Steven sangat ingin berciuman.
"Ayok ciuman, Cit. Lakukan dengan benar," ucapnya pelan. Citra mengangguk samar dan tak lama bibir keduanya pun bertaut dengan begitu mesra.
Cup~
'Manis, uh. Enak,' batin Steven seraya melummat kasar bibir Citra.
...****************...
Di tempat berbeda.
"Uueekk! Uuueekk!"
Sejak bangun tidur sampai sekarang, Fira belum keluar dari kamar mandi. Dia terus muntah-muntah di depan wastafel, mengeluarkan isi makanan yang dia makan semalam.
Perutnya bagaikan diremas-remas. Sakit dan begitu mual. Kepalanya juga terasa berkunang-kunang.
"Kamu kenapa muntah-muntah dari tadi, Fir? Sakit?" tanya Nurul yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Perlahan dia pun memijat tengkuk anaknya.
...Hayo lho, Ma. Anak perawan biasanya kalau muntah-muntah tuh bikin cemas 😬...
__ADS_1
...Ini edit maksa, mohon dimaklumi. Soalnya nyari visual Om Ganteng pakai dasi kupu-kupu agak susah. Dan pas Nemu hanya foto ini 😁🤭...