Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
146. Multitalenta


__ADS_3


"Bukan kangen, Om, tapi—"


"Dih, kamu nggak kangen sama aku, Cit? Kok tega kamu? Padahal aku kangen lho sama kamu. Setiap menit, setiap jam." Suara Steven seperti sedih.


"Bukan nggak kangen. Iya deh aku kangen, tapi masalahnya—"


"Kok pake 'deh'? Terpaksa ya, kamu?" sela Steven.


Citra membuang napasnya dengan berat. "Iya, aku kangen sama Om. Tapi aku telepon karena ingin meminta izin."


"Kamu nggak boleh ke mana-mana, Cit!" tegas Steven. Padahal Citra belum cerita, namun langsung tidak diizinkan.


"Mama mengajakku pergi ke restorannya Mbak Nissa, Om. Dan—"


"Kan aku sudah bilang nggak boleh," sela Steven lagi. "Kamu di rumah saja tunggu aku pulang. Kamu nanti pengen dibelikan apa? Titip apa?"


Citra hendak menjawabnya lagi, akan tetapi ponselnya direbut oleh Sindi.


"Biar Mama yang bicara," ucapnya. Sindi seakan tahu apa yang telah Steven ucapkan. Lantas, benda pipih itu pun menempel pada telinga kanannya. "Izinkan Citra keluar sebentar sama Mama, Stev! Mama mau mengenalkan lidahnya ke restoran Mbakmu!" oceh Sindi. Suara terdengar nyaring dan penuh penekanan.


"Mengenalkan lidah apaan, sih, maksud Mama?" Steven tak paham.


"Maksudnya supaya Citra merasakan makanan di restoran Nissa!"


"Citra sudah pernah ke sana, Ma."


"Kapan?"


"Dulu, coba tanya saja."


"Ya nggak apa-apa. Itu 'kan dulu sebelum menjadi menantu Mama. Sekarang Mama mau mengajak dia."


"Aku nggak izinin. Pokoknya Citra nggak boleh pergi sama Mama."


"Pelit banget sih, kamu, Stev!" barang Sindi marah. Salah satu tangannya berkacak pinggang. "Katanya Mama harus menganggap Citra seperti anak sendiri. Masa sebagai orang tua nggak boleh mengajak anaknya pergi? Lagian pergi juga ke restoran saudara sendiri dan itu sebentar doang!"

__ADS_1


"Tapi aku suaminya Citra, kalau aku nggak izinkan ya berarti nggak boleh. Dosa kalau melanggar, Ma."


"Kamu juga dosa sama Mama karena nggak membiarkan mertua dekat sama menantu! Mama nggak mau tahu, pokoknya Mama mau ajak Citra makan di restoran! Mama mau makan sama Citra!" tekan Sindi lalu mematikan sambungan telepon. Cepat-cepat dia mematikan ponsel itu sebelum Steven menelepon balik. 'Si Steven kenapa, sih? Pelit amat dia sama aku. Masa aku nggak boleh berduaan sama Citra? Citra juga bosen kali kalau berduaan-duaan mulu sama dia. Apa lagi si Steven 'kan omes sekarang. Capek dong Citra hajar mulu. Nggak punya otak dia emang.'


"Nggak boleh ya, Ma, sama Om Ganteng?" tanya Citra sambil menatap wajah masam Sindi. Wanita tua itu langsung tersenyum manis hingga ekspresi wajahnya berubah.


"Boleh kok, cuma sebentar ini. Kamu mandi dulu sana. Itu ada baju dari Mama. Nanti dipakai, ya?" Sindi menunjuk paperbag di atas meja.


"Mama yakin Om Ganteng ngizinin?" Citra ragu. Dari percakapan Sindi yang marah-marah itu sudah sangat jelas kalau suaminya pasti tak mengizinkan. "Aku takutnya dia marah kayak kemarin."


"Biar Mama yang marahin dia balik. Jadi suami nggak boleh mengekang juga. Nggak baik." Sindi mengelus puncak rambut Citra dengan penuh kasih sayang. "Mama tunggu di bawah, jangan nyalakan hapemu dulu. Nanti saja kalau sudah sampai resto." Sindi memberikan ponsel kepada Citra. Kemudian melangkahkan kaki keluar kamar.


***


Angga duduk di kursi, di depan Dokter Ikbal.


"Bagaimana, Dok? Steven beneran gila, kan? Apa sudah sangat parah?" tanyanya penasaran.


"Pak Steven tidak gila, Pak." Dokter Ikbal menggeleng sembari menatap catatan pada kertas yang sempat dia tulis saat sesi konseling dengan Steven berlangsung.


"Nggak gila? Maksudnya bagaimana?" Kening Angga mengerenyit.


"Maksudnya?" Kembali, Angga merasa tak paham dengan penjelasan singkat Dokter tampan di depannya.


"Pak Steven memang pernah mengalami gejala Psikosis atau biasa disebut gangguan mental. Tapi yang saya lihat ... sekarang Pak Steven tidak mengalami gejala itu lagi. Bisa dikatakan Pak Steven waras, tidak gila," jelas Dokter Ikbal.


"Masa, sih, Dok? Apa Dokter nggak salah? Jelas kelakuan Steven seperti orang gila. Dia itu konyol. Masa kemarin nih, ya, dia memborgol tangannya dengan tangan istrinya. kan aneh." Angga bercerita sembari mengerakkan tangannya. Seolah-olah memberi reka adegan.


Dokter Ikbal justru terkekeh. Merasa lucu dengan ekspresi dan ucapan pria tua di depannya itu. "Seperti yang tadi saya sebutkan. Kalau Pak Steven ini memang tidak gila, Pak. Tapi hanya tergila-gila. Ini beda kasus. Yang saya maksud tergila-gila adalah ... dia tergila-gila kepada istrinya. Begitu mencintai dengan berlebihan dan takut kehilangan. Dia juga mengalami trauma karena dulu pernah ditinggalkan," jelasnya.


Alis mata Angga bertaut, dia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal.


"Memangnya orang mencintai bisa seperti orang gila?"


"Bisa, sangat bisa, Pak. Ah Bapak seperti tidak pernah muda saja." Dokter Ikbal tersenyum, mencoba menggoda Angga yang menurutnya pura-pura polos. "Pasti Bapak juga pernah tergila-gila pada wanita yang saat ini menjadi istri Bapak, kan?"


"Nggak," bantah Angga.

__ADS_1


"Jadi Bapak nggak mencintai istri Bapak?"


"Ya mencintailah, Dok. Kalau nggak cinta ngapain aku bertahan sama Sindi sampai setua ini? Mending cari yang lain, yang lebih kenceng."


Dokter Ikbal kembali terkekeh.


"Tapi aku memang nggak seperti Steven tuh yang sampai tergila-gila. Yang sampai memborgol istrinya, menciumi behhanya, mencabuti rumput saat mencari nggak ketemu, hampir tertabrak mobil dan berhalusinasi," imbuh Angga lagi. "Dan sampai cemburu pada Papa mertua sendiri."


"Masa ya, Dok. Aku pegang tangan istrinya saja nggak boleh. Meluk nggak boleh apalagi nyium kali." Angga geleng-geleng kepala sambil mengelus dada. Sepertinya benar, Angga juga butuh konseling. Sebab secara tidak langsung saat ini dia sudah curhat. "Parah banget sih itu namanya. Padahal disini aku yang ditikung, tapi dia seolah-olah takut kalau ditikung balik."


"Bapak suka sama istrinya Pak Steven? Siapa namanya ... Citra, ya?" tanya Dokter Ikbal seraya mengingat nama yang sempat disebut oleh Steven. Tangannya sibuk mencatat apa yang Angga ucapkan barusan.


"Ya jelas suka, Dok. Dia itu anaknya cantik, manis, unyu-unyu. Dan baik tentunya." Angga mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu memperlihatkan foto Citra kepada Dokter Ikbal. "Bagaimana, Dok?"


"Iya, dia gadis yang sempurna. Jadi Bapak awalnya ingin menikah dengan dia tapi direbut oleh Pak Steven?" tebak Dokter itu. "Lalu, bagaimana dengan Sindi? Dia istri Bapak, kan?"


"Sindi memang istriku. Ya awal bertemu dengan Dedek Gemes sih niatnya mau aku kenalkan kepada Steven. Karena dia perjaka tua. Nggak kawin-kawin padahal sudah karatan. Beda denganku yang menikah muda."


"Kok jadi Dedek Gemes? Bukannya tadi Citra?" Dokter jadi bingung.


"Namanya memang Citra, itu panggilan kesayanganku saja, Dok."


"Oh. Terus, Pak." Dokter itu kembali mencatat.


"Si Steven awalnya bilang nggak mau. Jadi ya sudah ... aku bilang pada Bejo kalau mau menjadikannya istri keduaku. Tapi—"


"Tunggu dulu, Bejo itu siapa?" sela Dokter itu.


"Bejo pria yang kurus kering, yang datang sama aku tadi, membawa Steven masuk." Kurus saja sebenarnya, tidak pakai kering. Angga mengungkapkannya terlalu berlebihan.


"Oh. Dia siapanya Bapak?"


"Satpam rumah sekaligus asisten pribadiku. Tapi dia kadang jadi sopir, tukang pijat, tukang cukur. Macem-macem. Dia punya banyak keahlian, Dok."


"Multitalenta ya, Pak Bejo ini. Gajinya gede kayaknya."


"Ya cukuplah membiayai dua istri sama empat anak, Dok."

__ADS_1


"Wah, hebat banget Pak Bejo. Sampai punya istri dua. Saya saja masih jomblo."


...Sebenarnya ini sesi konseling apa apa sih 🤔 kok geli sendiri aku bacanya 😂...


__ADS_2