
Sementara itu di apartemen.
"Sus, titip si kembar, ya, aku sama Citra mau ke rumah sakit sekalian ada urusan," ucap Steven pada Suster Dira yang baru saja lewatinya dengan membawa termos air panas.
"Iya, Pak." Suster Dira mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamar. Sedangkan Steven melangkah menuju balkon, ingin menghampiri Citra dan si kembar di sana. Mereka tengah berjemur.
"Cit, ayok mandi terus ke rumah sakit," titah Steven seraya mengecup kening istrinya. Dia juga menoel-noel pipi si kembar. Dua bayi mungil itu tengah berbaring di sofa sambil memakai penutup mata.
"Mau jenguk Mbak Nissa ya, A?" Citra menoleh lalu tersenyum. Dilihat suaminya itu tampak begitu tampan dengan memakai stelan jas berwarna hijau army.
"Iya, selain itu kamu ini juga 'kan musti diKB. Aku mau kita bercinta tanpa k*ndom. Kulit ketemu kulit jauh lebih nikmat, Cit." Mengusap rambut kepala Citra dengan lembut.
"Ya sudah, Aa duduk dulu disini temani si kembar berjemur. Aku mau mandi." Citra menepuk sofa yang dia duduki, kemudian berdiri dan langsung berjinjit untuk bisa mengecup pipi kiri Steven.
"Jangan lama-lama dan dandan yang cantik, ya, Cit."
"Oke." Citra mengangguk, lantas berlalu dari sana.
***
Di rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Nissa, Dok?" tanya Tian pada seorang dokter wanita yang telah selesai memeriksa keadaan Nissa.
Tian berdiri didekat ranjang sambil menggendong Juna. Di sana bukan hanya ada Dokter saja, tapi ada Suster juga yang tengah mengecek tensi darah Nissa.
"Kondisinya sudah membaik, Pak. Hari ini Bu Nissa bisa langsung pulang," jawab Dokter lalu tersenyum menatap Tian. "Tapi harus tetap jaga kondisinya, jangan capek-capek."
__ADS_1
"Iya, Dok. Terima kasih." Tian mengangguk patuh, lalu membungkuk untuk mengecup pipi kiri sang istri.
"Sama-sama," sahut Dokter. "Obat vitaminnya jangan lupa ambil di apotek, ya, Pak. Kalau begitu saya pamit, selamat pagi."
"Pagi." Tian dan Nissa berucap secara bersama, kemudian Dokter itu melangkah pergi.
"Pak Tian dan anaknya bisa keluar dulu? Saya akan membantu Bu Nissa untuk mengganti pakaian," ucap Suster seraya meletakkan tensimeter di atas nakas.
"Bisa." Tian mengangguk kemudian mengelus rambut istrinya. "Aku mau bayar administrasi sama ngambil obat ya, Yang. Nanti kalau sudah selesai ke sini lagi."
"Iya." Nissa mengangguk.
"Juna ikut, Pi!" seru Juna. Bocah laki-laki terlihat begitu antusias karena mendengar Nissa pulang.
"Iya, kamu ikut." Tian mencium kening anaknya, kemudian mereka melangkah keluar dari kamar inap Nissa.
Suster pun segera menutup gorden kamar, lalu mengunci pintunya dengan rapat. Sebelum membantu menganti pakaian, dia lebih dulu melepaskan jarum infus yang masih terpasang dipunggung tangan Nissa.
*
*
Bukan hanya sekedar mengganti pakaian, tadi juga membantunya mengelap tubuh di kamar mandi.
Sekarang, Nissa memakai dress bunga-bunga berwarna lavender. Panjangnya selutut. Selain itu rambutnya pun dikuncir kuda dan wajahnya diberi polesan make sedikit supaya tidak terlalu pucat.
"Terima kasih, ya, Sus," ucap Nissa sambil memandangi wajah cantiknya pada cermin yang berada ditangannya.
__ADS_1
"Sama-sama."
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, Suster yang mendengarnya langsung melangkah menuju pintu.
"Itu pasti suami dan anak Ibu, kalau begitu saya sekalian permisi ya, Bu," pamit Suster lalu membuka kunci dan menurunkan handle pintu.
"Iya, Sus." Nissa mengangguk kemudian tersenyum. Namun, seketika senyumannya itu memudar ketika Suster membuka pintu tersebut.
Ceklek~
"Pagi, Nis. Wah ... kamu sudah baikan dan mau pulang sekarang, ya?" tanya seorang pria yang berdiri di ambang pintu. Dia membawa parsel buah dan paper bag besar di tangannya.
Memudarnya senyuman Nissa lantaran bukan Tian dan Juna yang masuk, melainkan Abi.
"Ngapain Mas ke sini dan mau apa?!" tanya Nissa dengan ketus.
Abi langsung tersenyum, kemudian melangkah masuk ke dalam dan suster akhirnya tidak jadi meninggalkan Nissa. Dia memilih untuk berdiri di dekat pintu.
"Aku mau jenguk kamu. Aku dengar kamu masuk rumah sakit," ucapnya dengan lembut. Abi mendekat ke arah Nissa, lalu menaruh apa yang dibawanya di atas kasur, didekat Nissa yang duduk.
"Dengar dari siapa dan di mana istrimu?!" Nissa menatap ke arah pintu, mencari-cari keberadaan Aulia.
"Aku datang sendiri, Nis, dan aku tau kamu dari Aulia." Abi menarik kursi kecil di dekat ranjang, lalu mendudukkan bokongnya di sana.
"Terus mau apa? Juna sama Tian lagi bayar admistrasi." Nissa menatap tajam Abi sambil merengut.
__ADS_1
"Kan udah aku bilang tadi, aku mau jenguk. Selain itu ada hal juga yang ingin aku bicarakan padamu, Nis."
^^^Bersambung....^^^